Selasa, 03 Februari 2015

Masjid Peradaban: Sebuah Cerita dari Jogokariyan

[Tulisan ini diterbitkan oleh portal Selasar.com]


“Islam beribadah dibiarkan. Islam berekonomi diawasi. Islam berpolitik, disingkirkan sampai ke akar-akarnya!” – Muhammad Natsir
Snouck Hurgronje adalah seorang peneliti asal Belanda yang cukup dikenal di Indonesia. Salah satu sumbangan ilmu pengetahuan terbesar sepanjang hidupnya adalah penelitian tentang komunitas Islam yang ada di Indonesia. Snouck sempat masuk Islam dan menikahi dua orang muslim di Hindia-Belanda untuk menyempurnakan penelitiannya. Snouck kemudian bekerja untuk pemerintahan Hindia-Belanda sebagai penasihat kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan umat Muslim di Indonesia. Snouck menghasilkan beragam konsep yang kemudian diimplementasikan secara kebijakan oleh Pemerintahan Hindia-Belanda untuk menghadapi masyarakat Muslim ketika itu.

Selasa, 15 Juli 2014

Merapikan Kembali Hati Kita



“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang (berjuang) di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
QS As-Shaff: 4

Saya selalu senang membuka sebuah renungan dengan merefleksikan kebersamaan kita bersama waktu. Allah sendiri beberapa kali bersumpah atas nama waktu dalam Al-Quran, untuk menunjukkan betapa pentingnya kita memaknai kebersamaan kita bersama sang waktu. Kalau coba kita refleksikan kembali perjalanan kita, mungkin sudah berapa banyak nikmat yang kita dapatkan di jalan dakwah ini bersama dengan waktu yang mengiringi kita. Betapa kita bersyukur diperkenalkan dengan konsepsi kebahagiaan abadi. Betapa kita bersyukur diperkenalkan dengan murabbi/ah yang nampaknya sangat anggun dalam membina kita. Betapa kita bersyukur dipertemukan dengan saudara-saudara yang senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan dakwah. Betapa banyak yang kita dapatkan, sebanyak apa kita memberi?

Kamis, 17 Januari 2013

Natsir dan Gagasannya Tentang Negara


(dipublikasikan di website fimadani.com)
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/19218_4284443065699_1482487370_n.jpg
Pada tahun 1957 Mohammad Natsir menyampaikan pidato tentang Islam sebagai dasar negara di Majelis Konstituante. Pidato Natsir tersebut bertentangan dengan gagasannya sebelumnya tentang Pancasila. Di Iran, Natsir menegaskan bahwa Islam dan Pancasila akan harmonis bersama. Pancasila akan subur di atas pangkuan Al Quran. Tapi kemudian kali ini dengan tegas Natsir menjelaskan bahwa Pancasila tidak sepenuhnya layak menjadi dasar bagi Negara Indonesia ini. Justru Islam, yang menurutnya pantas untuk menjadi dasar Negara. Karena peristiwa ini, nama Natsir lekat distigmakan dengan cita-cita negara Islam, dan tokoh yang anti-pancasila [1].

Memiliki Nurani Setajam Abu Bakar

(dipublikasikan di website fimadani.com)

http://sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/74304_4309346568271_1410980681_n.jpg

Panggung langit di hari itu terpesona pada satu nama. Hari itu, Rasulullah yang tengah sakit mengajak seluruh ummatnya untuk berkumpul di sebuah lapangan yang luas terbuka. Ia menatap ummatnya yang sudah berjumlah puluhan kali lipat dibanding saat sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu saat baru menerima amanah dakwah. Entah seperti apa kondisi yang ada di dalam hatinya, tetapi wajahnya tetap menunjukkan semangat dan senyum cerah kepada ummatnya.
“Hari ini…” ucapnya dengan suara yang agak parau. “..telah Kusempurnakan bagimu agamamu. Dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai agamamu..”

Senin, 14 Januari 2013

Perlukah PREMAN untuk Menghadapi Kami, Pak?

Hari ini, ya tragedi itu terjadi lagi. Hari ini saya menjadi saksi atas ketidakadilan yang terjadi di bangsa yang besar ini. Bangsa besar yang mementingkan diri sendiri. Bangsa besar yang tidak peduli dengan penindasan rakyat kecil. Bangsa besar, yang aparatnya menyewa preman untuk memukuli rakyatnya. Bangsa besar? Cuih!

http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/20119_4775755523220_702259006_n.jpg

Hari ini, seperti biasa, saya berangkat ke kampus untuk bertemu dengan teman-teman di Fakultas. Ya, ada beberapa hal yang hari ini harus saya selesaikan dengan teman-teman. Saya mendapatkan kabar, rekan-rekan mahasiswa, dompet dhuafa, serta paguyuban pedagang Jabodetabek tengah melakukan aksi ke Istana negara. Beberapa waktu ke belakang ini, memang isu tentang penggusuran kios pedagang ekonomi kecil di stasiun Jabodetabek tengah menjadi isu sentral mahasiswa UI. Saya sendiri pernah ikut menyaksikan betapa pedihnya melihat setiap tetes air mata jatuh dari mata para pedagang yang ladang nafkahnya dihancurkan oleh egoisme keji tersebut.

Kamis, 10 Januari 2013

Novel Kemi : Cinta Kebebasan yang Tersesat

"... Islam ya Islam, jangan ditambahi kata liberal!"

http://3.bp.blogspot.com/-aQOkVND-v9A/UINnGluTAYI/AAAAAAAAAOs/LH6cM4MhcPo/s1600/Kemi.jpg

Kemi adalah nama panggilan seorang santri di pesantren ternama di daerah Jawa. Nama lengkapnya Ahmad Sukaimi. Pada suatu ketika, Kemi memohon izin kepada kyai-nya untuk dapat berkelana di daerah kota. Kemi ingin mendapatkan ilmu yang lebih luas, katanya. Ia ingin mengembangkan dirinya agar dapat bisa lebih mengembangkan pesantren, demikian dalih yang diberikannya kepada Kyai. Sang Kyai sebenarnya tidak begitu rela melepaskan Kemi. Ia adalah salah seorang santri terbaik di Pesantren tersebut. Tapi sang Kyai tidak bisa memaksa. Akhirnya, Kemi diizinkan untuk berkelana ke Jakarta.