Sabtu, 22 Agustus 2009

Ramadhan = "Mati Suri" Pasar Minggu Dadaha


Ahad pagi, seperti sudah menjadi kebiasaan atau bahkan mungkin panggilan jiwa bagi sebagian masyarakat Tasikmalaya untuk berwisata, berolahraga sekaligus berbelanja di pasar Minggu Dadaha. Ya, komplek olahraga Dadaha seolah memang selalu “disulap” setiap hari Minggu menjadi sebuah pasar Tradisional. Tentu tanpa menghilangkan esensi komplek olahraga dari tempat ini.
Tentu sudah tidak aneh lagi melihat kerumunan keramaian di komplek olahraga Dadaha pada setiap Ahad pagi. Para pedagang turut ambil keuntungan dari keramaian ini. Mereka berlomba-lomba menjajakan barang dagangan mereka dan meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dagangan mereka beragam. Mulai dari perabotan rumah tangga, buah-buahan, hingga jajanan-jajanan ringan yang siap di makan selama di perjalanan.
Jalan-jalan ke Dadaha pada Ahad pagi sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Tasikmalaya. Para pengunjung, umumnya berangkat dengan modus untuk berolahraga, berwisata dan berbelanja jajanan-jajanan yang ada di sana. Namun apa jadinya pasar Minggu Dadaha saat Ramadhan tiba..?
Komplek olahraga Dadaha pada Ahad pagi yang biasanya selalu terbanjiri oleh sebagian masyarakat Tasikmalaya dengan beragam modus, pada bulan suci Ramadhan tampak agak sepi. Memang, di bagian dekat stadium sepakbola, beberapa pedagang dan pelanggan masih terlihat setia mondar-mandir berkeliling Dadaha. Namun tidak sebanyak biasanya. Tentu ini dipengaruhi datangnya bulan Ramadhan.
Hal ini diakui oleh para pedagang di sana. Mereka mengakui, omset hasil berjualan mereka menurun semenjak Ramadhan tiba. Khususnya pada hari Ahad tersebut. Menurut mereka, masyarakat saat bulan Ramadhan cenderung lebih memprioritaskan waktunya untuk beristirahat ataupun beribadah. Jadi dagangan mereka yang pada Ahad pagi biasanya selalu ludes diserbu para masyarakat menjadi menurun penjualannya, karena berkurangnya pelanggan yang datang ke pasar Dadaha tersebut. Ini, mereka akui, sedikit banyak berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi mereka. Jika pada biasanya mereka cukup menghabiskan waktu Ahad di pagi hari di Dadaha untuk menghabiskan barang dagangan mereka, kini mereka harus menghabiskan waktu hingga sore hari untuk menghabiskan barang dagangan mereka.
Selain para pedagang, para tukang parkir di Dadaha mengakui turunnya omset mereka. Ahad pagi yang biasanya kendaraan-kendaraan parkir di tempat mereka sampai sekitar 40 kendaraan, kini menurun drastis menjadi sekitar 4-5 kendaraan saja. Tentu ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi mereka.
Lantas, pantas sekiranya jika Ramadhan ini di sebut “mati suri”-nya Pasar Minggu Dadaha. Omset para pengusaha yang berusaha menafkahi keluarganya di Dadaha menurun. Lantas apakah mereka menyesal dengan adanya fenomena ini..? Ternyata tidak. Dari beberapa sumber yang kami temui, semua mengaku tetap ikhlas dan bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan ini. Walaupun penghasilan agak berkurang, tapi mereka tetap ikhlas menjalaninya. Ramadhan, meskipun bulan cobaan, tapi kita umat islam tetap mencintaimu. (than-QSmart)

0 comments:

Posting Komentar