Sabtu, 23 Oktober 2010

Chapter 3 - 6 for 6th Generation..!!



“Ah jadi ingat.. Dulu khan awalnya hanya aku dan Fathir yang akan ikut serta..” ucap Nuri.
“Iya.. Sampai-sampai Pak Shalih selalu bilang, ‘Fathir menyesal, yang ikut jadi ramai ke Bangka’.. Tadinya kalian hanya bertiga yang akan kesana, khan?” ejek Fifi. Aku hanya tersenyum.
“Tapi bagaimanapun juga, aku harus berterimakasih kepada Fathir ini.. Asalnya aku samasekali tidak kepikiran bakalan ikut ke Bangka.. Eh, dia malah ‘nyulik’ aku waktu di ruang Pak Shalih..” lanjutnya.

Kali ini aku tertawa. Aku teringat kejadian lucu itu. Sistem tunjuk dan ternyata langsung dikabulkan Pak Shalih. Memoarku kembali terlempar ke masa beberapa tahun lalu.
- - -
Saat itu aku sudah dipastikan akan mengikuti kegiatan PIRN IX di Bangka Belitung. Hatiku senang, sekaligus waswas. Aku mengira-ngira seperti apa teman-teman yang akan aku temui di Bangka Belitung nanti. Orang-orang jenius. Orang-orang pekerja keras seperti di Papua, ataukah orang-orang trendy ala Jakarta yang akan aku temui? Orang-orang low profile, ataukah berwibawa yang akan aku temui. Aku masih waswas. Tapi tak dapat kupungkiri, aku sangat bahagia.
Sore hari setelah kami mengirimkan formulir kami ke LIPI, aku dan Nuri dipanggil oleh Pak Shalih untuk bertemu di kantornya. Mungkin akan ada beberapa pengarahan yang akan kami dapatkan. Setelah Shalat Ashar, kami langsung menuju kantornya.
“Fath, Nur.. Gimana..?” sapa Pak Shalih sambil tersenyum ketika kami tiba di kantornya. Beliau memang suka bertanya seperti itu. Jika dijawab, tentu akan sangat panjang jawabannya. Kata ‘gimana’ itu bisa diartikan bagaimana kehidupan kami. Kami mengerti itu hanya sapaan saja.
Sejurus kemudian, dia mengeluarkan 10 buah proposal. “Fath, Nur, ini Proposal Permohonan Bantuan.. Kita bisa menggunakan ini untuk memperoleh dana bantuan agar beban kalian tidak terlalu besar.. Dari sekolah juga Insya Allah akan membantu..” ucap Pak Shalih menjelaskan. Kami berdua hanya mengangguk-angguk menunggu penjelasan berikutnya.
Dan aku baru mengerti. Rupanya, Pak Shalih membuat proposal sehingga waktu penyeleksian sangat mepet. Dan akhirnya beliau berinovasi dengan menyerahkan pendelegasian kepada siswa, sehingga seleksi tidak perlu ada.
“Nah, sekarang kita bagi-bagi tugas.. Untuk pemerintahan, kita targetkan meminta bantuan kepada Pemkot, Dinas Pendidikan, serta DPRD Kota.. Sedangkan target lainnya adalah Perbankan.. Bank Jabar-Banten, Bank Muamalat, kita coba saja masuki.. Ada usulan lain..?” jelasnya.
“Dicoba saja Pak, ke Indosat.. Kita bisa meminta seragam dengan emblem Indosat..” ucapku. OSIS pada Masa Jihad kami memang seringkali bekerjasama dengan Indosat. Kali ini aku berharap bisa bekerjasama lagi dengan Indosat.
“Oh iya.. Bisa-bisa…” ucap Pak Shalih kemudian mencatat hal tersebut. “Ya sudah, sekarang kamu coba saja datang dulu ke Indosat, Fath.. Kalau kantor pemerintahan sudah pulang jam segini.. Dan untuk perbankan, kita kasih ke Nuri ya.. Nuri khan ada link melalui orang-tuanya.. Iya khan..?” lanjutnya. Nuri mengangguk. Dia tampak lesu. Entah kenapa, dia menunjukkan sikap nggak mood belakangan ini. Entah kenapa. Mungkin dia juga merasa tidak enak kepada teman-teman KIR-nya karena dia yang terpilih menjadi delegasi Al-Muttaqin ke Bangka.
Akhirnya, aku segera berangkat ke gedung Indosat. Gedung tersebut terletak di sebelah Plaza Asia, Plaza terbesar di Priangan Timur. Sebelumnya, aku telah membuat janji untuk bertemu dengan Pak Eko, seorang yang sering bekerjasama dengan OSIS SMA Al-Muttaqin.
10 menit cukup bagiku untuk sampai di Gedung Indosat. Letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Perjuangan pertama. Aku bertemu dengan Pak Eko di gedung tersebut. Seperti biasa, dia menyapaku dengan ramah.
“Weish.. weish.. Ada peneliti muda nih.. Ayo, ayo.. Duduk..!” ucap beliau dengan ramah ketika melihatku. Aku membalas senyumnya. Kami pun duduk di ruang tamu. Kemudian aku menjelaskan maksud kedatanganku. Sederhana, hanya meminta 3 buah jaket yang seragam.
“Ya, kalau datang ke kita pasti kita bantu, Fath..! Tapi ya seperti biasa, kita bisa cair uang dari atas kalau ada benefit yang sesuai.. Kalau kamu nawarinnya ke saya, berarti berkaitan dengan pemasaran.. Penjualan kartu.. Seperti yang biasanya, Fath..” jawab beliau.
“Oh, oke deh Pak.. Nanti saya bicarakan lagi dengan pihak sekolah.. Semoga saja bisa ya, Pak..” jawabku.
“Oke.. Oke.. Santai saja.. Kapan saja, kamu boleh datang ke sini, Fath..!” balas beliau.
“Baiklah kalau begitu.. Saya permisi dulu ya, Pak..!”
“Oke.. Oke.. Hati-hati ya.. Pokoknya nanti, dibicarakan saja dulu.. Siapa tau ada event lagi, bisa masuk lagi kerjasama.. Oke..?” jawabnya.
“Insya Allah, Pak.. Assalamu’alaykum..!” ucapku seraya melangkah meninggalkan sejuknya gedung Indosat. Wushh. Ternyata udara di luar juga sejuk. Bahkan cenderung dingin. Angin besar silih berganti berdansa di depan mataku. Pohon tinggi di seberang jalan tampak sudah miring, sekitar 15 derajat ke kiri. Langit juga sudah agak gelap. Tampaknya malam ini akan hujan besar, pikirku.
Akhirnya aku memutuskan untuk segera ke sekolah setelah selesai memberikan satu proposal di Indosat. Kantor Pemerintahan Kota, esok sajalah. Lagipula tampaknya mereka sudah pulang. Jam kerja mereka kalau tidak salah hanya sampai setelah Ashar.
Aku tinggal di asrama sekolah. Jadi tidak perlu khawatir kalau malam nanti hujan. Toh, aku tidak akan pergi kemana-mana malam ini.
Kuraih motor biru milik Pak Shalih. Aku tidak ingin kehujanan. Segera aku berangkat dengan kecepatan yang agak cepat. Aku memang tidak terlalu suka ngebut. Dulu, aku pernah menabrak seorang anak kecil yang sedang menyebrang. Anak itu mengeluarkan darah yang lumayan banyak dari telinganya. Mungkin aku trauma karena itu. Tapi jika dikejar waktu, aku tidak segan melaju dengan kecepatan yang agak tinggi.
Delapan menit, aku sudah berada di depan kantor sekolah. Aku agak ngebut kali ini. Tadi hampir saja aku bersenggolan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba belok tanpa menyalakan lampunya. Alhamdulillah, aku sempat mengerem. Kalau tidak, mungkin sudah jadi kasus. Pemilik mobil tersebut marah-marah ketika aku hampir menabraknya. Aku tidak peduli saat itu. Aku langsung pergi.
Bukan apa-apa, aku tidak ingin kehujanan. Saat itu aku tidak memakai jaket. Pernah aku kecelakaan saat tidak memakai jaket, dan situasi sedang hujan. Aku tengah memakai motor temanku saat itu. Kecelakaan itu terjadi ketika aku menjadi panitia Java Student Competition tahun lalu. Akibatnya, aku vakum beberapa hari dari kegiatan kepanitiaan.
Sampai di kantor, aku menyampaikan hasil pertemuanku dengan Pak Eko kepada Pak Shalih. “Wah, kalau begitu, kita harus pikir-pikir lagi.. Soalnya waktu kita mendesak, dan tidak ada juga event buat membagikan kartunya.. Oke deh.. Nuhun, Fath..” ucap Pak Shalih. Tampaknya meminta jaket dari indosat akan dibatalkan.
Hari itu pun berakhir. Nuri memberikan proposal kepada Bank Jabar-Banten melalui orangtuanya. Mungkin lusa sudah ada kabar. Sedangkan aku, harus menaruh proposal di 3 kantor pemerintahan esok hari. Kantor Dinas Pendidikan, Kantor Walikota, dan Kantor DPRD Kota. Semoga saja dari mereka bisa meringankan beban kami. Ongkos perjalanan tentu sangat tinggi. Bismillah.
- - -
Sudah 2 hari ini aku tidak lagi mendapatkan kabar tentang PIRN. Aku kembali disibukkan dengan persiapan pelaksanaan MOS 2010. Para tim panitia inti sedang mempersiapkan susunan kepanitiaan. Wawancara panitia sudah selesai dilaksanakan. Aku merekomendasikan beberapa nama untuk masuk ke jajaran panitia divisi Kesekretariatan yang aku pimpin. Aku juga berusaha membantu memberikan rekomendasi kepada divisi lain, berdasarkan hasil wawancara terhadap para calon panitia.
3 hari lalu, aku telah menaruh proposal PIRN di ketiga kantor pemerintahan itu. Seorang diri. Aku hanya sempat menaruhnya saja. Aku menerima Surat Tanda Terima Proposal dan waktu follow-up yang dijanjikan.
Hari ini, Pak Shalih memanggilku ke kantor. Aku tengah menuju ke Masjid untuk melaksanakan Shalat Dhuha. Saat itu adalah waktu istirahat pertama. Mendengar panggilan itu, aku mengurungkan niatku shalat Dhuha. Siapa tau penting, pikirku. Akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju ruang kantor.
Pak Shalih telah menunggu disana. Wajahnya ceria. “Fath, ayo duduk dulu..” ucap Pak Shalih.
“Oh.. Iya Pak.. Terimakasih..” jawabku.
“Nuri dimana, Fath..?” tanyanya.
“Oh.. Katanya lagi sakit pak.. Flu biasa.. Insya Allah besok sembuh, katanya..”
“Oh...” ucapnya singkat. Seperti biasa, beliau mencari sesuatu di lemarinya. Dia mengeluarkan 4 lembar kertas formulir pendaftaran PIRN. Aku yang meng-copy kertas itu. Dulu, ketika Pak Shalih menyuruhku untuk meng-copy formulir itu 2 lembar untukku dan Nuri, aku meng-copy lebih banyak.
“Fath.. Kemarin saya dapat telepon dari LIPI.. Katanya……” ucap beliau menggantung. Aku degdeg-an. Perasaan tidak karuan. Takut-takut ada kabar buruk seperti pembatalan atau yang sebagainya.
“Gimana Pak..?” tanyaku tidak sabar.
“Katanya….. Kita bisa menambah 4 orang rekan kita lagi untuk menjadi delegasi Jawa Barat di kegiatan PIRN ini.. Beberapa sekolah yang diundang di Jawa Barat tidak mengkonfirmasi.. Sehingga kursi mereka kosong hingga saat ini…”
Wussh. Hatiku berdesir. Subhanallah. Berita yang sangat menggembirakan. 4 orang lagi dari SMA Al-Muttaqin untuk ke Bangka. Artinya 6 orang dari kami akan menjadi delegasi Jawa Barat. Ya. 6 untuk Generasi ke-6 kami. 6 untuk Jawa Barat.
Aku sangat senang sekaligus terkejut. 6 orang perwakilan SMA Al-Muttaqin akan mewakili Jawa Barat dalam kegiatan berskala Nasional. Dahsyat!
“Wah..?? Emmhh.. Jawa Barat, Pak..? Memang dari kota lain gak ada perwakilannya Pak?” tanyaku sembari menyembunyikan kesenanganku.
“Katanya gak ada.. Mereka mental di dana.. Mentok.. Da memang Pemerintah Jawa Barat mah kurang memfasilitasi..” ucapnya. Agak sesak juga mendengarnya. Terlintas sejenak pikiran, kenapa aku harus tinggal di Jawa Barat ya? Namun segera aku hilangkan pikiran itu. Kalau tidak di Jawa Barat, mungkin saja aku tidak memiliki kesempatan berangkat ke Bangka Belitung, pikirku kemudian.
“Makanya Fath.. Untuk yang 6 orang dari SMA Al-Muttaqin, harus siap fisiknya, pesaknya, dan tentu saja otaknya..” lanjutnya. Sejenak aku tertegun. Apakah dana yang aku miliki sudah mencukupi? Belum lagi aku tidak memiliki laptop. Sedangkan benda kecil itu harus dibawa setiap peserta PIRN. Artinya, aku harus meminjam laptop. Aku terdiam.
“Nah… Fath.. Bapak memanggil kamu kesini untuk menentukan siapa saja 4 orang lagi yang akan ikut bersama kita ke Bangka Belitung..” lanjut Pak Shalih. Lagi-lagi aku disuruh memilih orang. Berat. Tentu akan sangat berat.
“Ooh… Siapa atuh ya Pak..?” tanyaku kepada beliau yang tengah melihat-lihat laptopnya.
Ketika kami sedang berpikir menentukan siapa orang-orang yang akan ikut bersama kami di PIRN IX Bangka Belitung ini, tiba-tiba Fifi datang. Agaknya dia tengah mencari seorang guru di kantor. Melihatnya nongol ke ruang kantor Pak Shalih, aku reflek bercanda.
“Nah, ini aja Pak..!” ucapku setengah bercanda. Fifi terbengong. Wajahnya menunjukkan kepolosan dan ketidakmengertian atas apa yang aku ucapkan.
“Oh.. Ada apa Pak..??” ucapnya kemudian. Masih menunjukkan wajah tidak mengerti.
“Fi, kamu mau ke Bangka..??” tanyaku.
“Bangka..??”
“Iya.. Bangka Belitung..”
ngapain..??”
“Ngegali Timah..!!” jawabku sambil cengegesan. Agaknya dia masih bingung. Sambil menunjukkan wajah serius tapi polos, dia bertanya-tanya. “Mau gak..??” lanjutku.
“Apaan ih, Fath..??”
“Eeh.. Dibilangin.. Serius nih.. Mau gak ke Bangka..??” lanjutku. Masih bercanda.
“Yang PIRN itu..??” jawabnya. Agaknya dia telah sedikit paham tentang apa yang aku maksudkan.
“Iya.. Hehehe.. Mau gak..??”
“Itu mah khan kamu sama Nuri..??” jawabnya.
“Mau nggak..??” ucapku. Sengaja aku tidak menjawab pertanyaannya. Bercanda. Hehehe.
“eemm.. Ya… Mau atuuh…” jawabnya.
“Nah tuh.. Satuu ceunah..” ucapku. Fifi masih tampak tidak mengerti. Wajahnya masih menunjukkan kebingungan. Aku cengegesan. Kemudian Pak Shalih menjelaskan semuanya kepada Fifi. Barulah Fifi mengerti.
“Iya atuh, nanti saya ngomong dulu sama Ayah ya Pak..” jawabnya setelah mengerti. Dalam hati aku berdoa semoga dia diizinkan. Dia-pun pergi dari Kantor Pak Shalih.
“Nah.. Siapa lagi, Fath..?” lanjut Pak Shalih.
“Hmmm… Gimana kalau dari yang kemarin aja, Pak..? Fiena, Dea, Fajri, Ratna… Hmm.. Kelebihan tapi…” jawabku. Agak bingung juga aku kalau disuruh memilih orang.
“Tapi, Fajri sama Dea khan katanya tidak diberi izin sama orangtuanya..?” tanya Pak Shalih. “Jadi, untuk KIR khan pasti Fiena sama Dea.. Kalau Dea tidak bisa, sebaiknya ajak anak kelas 10 saja.. Sedangkan untuk Jurnalistik, kita harus menentukan antara Ratna atau Fajri.. Ya.. Kalau Fajri gak boleh, berarti Ratna yang masuk.. Soalnya udah ada kamu dan Fifi..” lanjutnya.
Degg. Ada sedikit rasa tidak setuju di hatiku. Kelas 10? Bukannya apa-apa. Bukannya tidak menginginkan kelas 10 ikut kegiatan PIRN tahun ini. Apalagi tidak mempercayai kemampuan mereka. Bukan. Aku bahkan sangat yakin diantara kelas 10 itu banyak yang lebih baik daripada aku. Tapi.. Kesempatan ini sangat berharga. Kelas 10 tentu masih memiliki kesempatan pada tahun depan. Sedangkan kelas 11?
Dalam hati aku berdoa semoga Dea bisa mengikuti kegiatan ini. Tapi jikapun tidak, aku tidak bisa memaksa. Mungkin memang satu tempat telah ditakdirkan milik kelas 10 saat itu. Segera aku SMS Dea. Aku memberitahukan kabar gembira tadi sekaligus menawarkan kepadanya untuk ikut ke Bangka Belitung bersama kami. Ya. Semoga dia bisa.
Kini tinggal Ratna dan Fajri. Keduanya memiliki keinginan yang kuat serta kemampuan untuk belajar yang sangat baik. Aku bingung. Terlebih Pak Shalih. Siapa pada akhirnya akan ikut serta dalam kegiatan Perkemahan Akbar tingkat Nasional ini..? Hmm..
- - -
Keesokan harinya, aku dipanggil oleh Pak Shalih ke ruangannya. Pak Shalih memberitahukan bahwa Fajri tidak bisa mengikuti kegiatan PIRN karena dia masih tidak diizinkan oleh orangtuanya. Artinya, Ratna otomatis menjadi pemilik kursi selanjutnya setelah aku, Nuri, Fiena, dan Fifi. Fiena sendiri telah diberitahu. Tadinya, dia tidak akan mengikuti kegiatan PIRN ini karena dia akan mengunjungi saudaranya pada tanggal yang sama di Medan. Tapi mendengar kabar baru itu, dia berubah pikiran dan mengambil kesempatan emas itu. Sementara Fifi, dia belum memberikan kabar terbaru setelah meminta izin dari orangtuanya.
Kini tinggal Dea. Dia menjadi kandidat terakhir peserta PIRN IX 2010 dari SMA Al-Muttaqin. Jika dia tidak siap, kelas 10 siap bersaing untuk mendapatkan kursi itu. Banyak anak KIR dari kelas 10 tahun ini. Tidak seperti tahun kemarin.
Pak Shalih menyuruhku untuk mencari informasi tentang Dea. Kita harus segera memastikan nama-nama yang akan berangkat ke Bangka Belitung sesegera mungkin. Pihak LIPI telah mendesak untuk segera memastikan nama-nama tersebut.
“Fath, coba dipanggil Dea..” ucap Pak Shalih.
“Iya Pak..” jawabku singkat seraya meninggalkan ruangan Pak Shalih. Akupun memanggil nama Dea Hilyatunnisa di speaker pengumuman. Saat aku kembali ke ruangan Pak Shalih, dia sudah berada di sana. Dia bersama Fiena dan Nuri.
“Iya Pak, Alhamdulillah saya diizinkan sama orangtua buat ke Bangka nanti…” jawab Dea singkat.
Alhamdulillah. Akhirnya nama-nama untuk dikirimkan ke Bangka Belitung telah lengkap. Fathir, Nuri, Fiena, Ratna, Fifi dan Dea. Ya, kita berenam yang akan menjadi perwakilan Jawa Barat dalam meramaikan kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional IX yang akan dilaksanakan pertama kalinya di daerah Sumatera.
Tunggu dulu. Hmmm. Aku, Nuri, Fiena, Ratna, Fifi, dan Dea. Subhanallah..! Tanpa disadari, kami berenam berasal dari satu almamater kelas yang sama waktu kelas 10. Kelas 10-2 tercinta. Kami dipilih oleh takdir bersama mewakili Jawa Barat di event akbar tingkat nasional ini.
***
see also next chapter..!!

0 comments:

Posting Komentar