Sabtu, 23 Oktober 2010

Dufan Mengasyikkan..!!

Yaph, inilah saat-saat yang paling dinanti seluruh siswa dan siswi SMA Al-Muttaqin dalam rangkaian Wisata Ilmiah tahun ini. Dunia Fantasi..!!! Yes..!! Persiapan dilakukan dengan matang. Namun tampaknya seluruh siswa sudah tidak sabar menyambut Dunia Fantasi. Hhhh… Jadi nggak sabar nih..


Namun sayangnya, Dufan pada hari itu hanya buka sampai pukul 18.00 WIB. Dan kami baru datang pada pukul 15.30 WIB. Huh, 2,5 jam bukanlah waktu yang cukup untuk mencoba wahan-wahan di Dufan yang memang sangat banyak. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai membuat ‘skala prioritas’ wahana yang akan kita naiki.

Wahana pertama yang saya naiki adalah kora-kora. Wahana ini adalah salah satu wahana yang membuat mual. Di sejenis perahu, kita diayunkan sampai kemiringan 180 derajat. Wuiihh… Disini saya naik bersama beberapa rekan x2 bersama rekan-rekan lainnya. Wahana selanjutnya adalah tornado. Katanya, wahana ini adalah yang paling ekstrem diantara wahana-wahana lainnya. Kita dibawa terbang dan dijungkir-balikkan di ketinggian maksimal sekitar 5-7 meter. Sayang sekali, disini beberapa rekan akhwat x2 saya tidak mau ikut. Yah, pada payah nih.. Hehe..

Wahana selanjutnya setelah Tornado yang menjadi sasaran saya adalah Halilintar. Wahana ini adalah sejenis kereta yang memiliki trek yang ekstrem. Tadinya saya ingin mengabadikan saat menaiki Halilintar dalam bentuk video. Tapi, ternyata saya salah format dan yang terabadikan hanyalah sebuah foto. Arghh.. Dasar..

Setelah naik naik halilintar, saya dan teman-teman ingin refreshing dulu setelah naik 3 wahan ekstrim berturut-turut. Kami masuk ke wahana Perang Bintang. Yah, disana saya menjadi yang terbaik dengan nilai 12800 kalau tidak salah. Hehe.. Setelah itu, kami ingin naik wahana ekstrem lainnya. Niagara. Namun, tampaknya dewi fortuna belum memihak pada kami. Wahana tersebut tutup karena dalam perbaikan. Walhasil, kami masuk ke rumah kaca yang ada di dekatnya. Rumah kaca cukup menghibur, kjarena itu mengasah insting kita mendapat jalan yang benar.

Setelah 2 kali naik wahana yang membosankan (hehe.. Maksudnya nggak ekstrem..), kami naik lagi wahana ekstrem lainnya. Kicir-kicir. Wahana ini yang paling membuat saya capek. Lebih enak naik tornado daripada Kicir-kicir. Disini kita diputar terus-menerus tanpa henti. Huuh… Capek deh.. Setelah naik kicir-kicir, saya cenderung lebih banyak jalan-jalan. Akhirnya saya ditinggal teman-teman yang naik Arung jeram dan wahana lainnya.

Karena waktu yang mepet, dan saya menargetkan mendapat foto sunset yang menarik dan untuk mendapatkan itu yang potensial adalah naik bianglala, saya menunggu teman-teman yang mau naik itu. Soalnya, kalau naik bianglala nggak ada yang kenal dalam satu bianglalanya, nggak akan asik. Akhirnya saya menemukan teman-teman yang mau naik bianglala. Tapi sayangnya tidak ada ikhwan. Biarin deh, daripada nggak ada yang kenal samasekali. Waktu itu saya naik bianglala bersama 5 rekan akhwat saya. Hhh…. Namun perjuangan melawan rasa malu karena menjadi satu-satunya ikhwan disana tidak sia-sia. Saya mendapat beberapa foto sunset yang bagus. Hehe.. Nih dia..

Yah, demikian petualangan saya di Dunia Fantasi Ancol, Jakarta Selatan. Meskipun menyesal karena waktu yang diberikan sangat sebentar, tapi saya cukup bersyukur juga karena banyak kejadian menyenangkan disini. Bersama teman, dan… (tuuuuttt….). Bukan bagian disini dijelasinnya. Hehe.. :)

Setelah puas bermain dan menguji adrenalin di wahana-wahana ekstrem Dufan, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju Masjid kebanggaan umat muslim di Indonesia, yaitu Masjid Istiqlal. Ya, di Masjid ini kami hanya numpang lewat dan melaksanakan kewajiban Shalat Maghrib dan Isya. Sekilas info, Masjid kebanggaan umat muslim Indonesia yang ternyata arsitekturnya dibuat oleh orang nasrani ini adalah masjid terbesar dan termegah di Asia Tenggara. So, memang pantaas Indonesia bangga terhadapnya. Tapi kok desainernya orang nasrani ya..?? Yapz, untuk itulah kita sebagai remaja muslim harus sadar bahwa kita harus bisa meraih ilmu setinggi-tingginya agar kita tidak perlu mengandalkan orang Nasrani lagi. Setelah Shalat Maghrib digabung dengan Shalat Isya di Masjid Istiqlal, kami dipersilahkan menikmati suasana Istiqlal terlebih dahulu sebelum berangkat menuju penginapan Puspitek Serpong.

0 comments:

Posting Komentar