Selasa, 19 Oktober 2010

Muhammad the Messenger



Abdurrahman Asy Syarqawi (Sygma Publishing)
Bandung, 2010
“Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau membinasakan yang lain..”
Muhammad. Nama itu menggetarkan dua kekuatan adidaya dunia, Persia dan Romawi. Siapakah gerangan lelaki Arab yang mampu membangun kekuatan luar biasa itu? Siapakah kiranya Raja yang mampu meningkatkan rasa cinta rakyatnya kepadanya dengan sangat luar biasa? Siapakah kiranya komandan yang mampu membuat pasukannya merindukan kematian di medan perang itu?
Akhlaknya adalah Al-Qur’an. Pribadinya terbimbing wahyu Illahi. Dialah manusia yang sempurna. Sempurna akhlaknya, sempurna fisiknya. Ditunjuk oleh yang Maha Sempurna untuk menyempurnakan akhlak manusia hingga akhir zaman. Dialah Muhammad saw., the Messenger.
Abdurrahman Asy Syarqawi dalam novelnya ini menggambarkan sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. dengan gaya bahasa novelnya yang khas. Penulis yang satu ini memang dikenal sebagai penulis sejarah gaya novel.
Cerita bermula ketika lahir seorang bayi dari rahim seorang janda yang ditinggal mati suaminya karena berdagang. Aminah binti Wahab, adalah pemilik rahim yang melahirkan sesosok manusia yang paling sempurna di muka bumi. Yang dilahirkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Muhammad saw. lahir dalam keadaan Yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, meninggal ketika dia tengah berjuang menafkahi keluarganya. Dia meninggal dalam perjalanan sepulang berdagang. Tak lama kemudian, Ibunya meninggal. Ibunya yang sangat menyayanginya meninggal ketika perjalanan pulang setelah melihat makam ayahnya.
Muhammad kecil pun dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Namun tak lama, beliau juga meninggal. Dia pun dibesarkan oleh pimpinan Bani Hasyim setelah Abdul Muthalib meninggal, Abu Thalib. Abu Thalib adalah anak Abdul Muthalib yang miskin, dan tidak memiliki kekayaan yang melimpah. Tapi dia sangat disegani di kalangan masyarakat Mekkah. Abu Thalib sering mengajak Muhammad kecil ikut berdagang. Dia menganggap Muhammad sebagai anaknya sendiri.
Muhammad melewatkan masa remajanya tanpa hura-hura, tanpa kesenangan seperti layaknya para remaja lainnya. Dia menghabiskan masa remajanya dengan kegiatan berdagang, menggembala, dan membantu perang. Beranjak dewasa, dia menjadi seorang yang sangat beruntung dengan menikahi seorang janda cantik jelita nan kaya raya, Khadijah binti Khuwailid. Beliau tidak layaknya wanita lain di Mekkah. Beliau wanita cerdas, yang tidak mempercayai patung-patung Kakbah sebagai Tuhannya.
Muhammad menjadi sosok pemuda yang cerdas dan pekerjakeras. Dia berdagang dengan sistem jujur dan menolak kecurangan-kecurangan pasar yang umumnya dilakukan di Mekkah. Dia bersahabat dengan Abu Bakar, seorang pemuda yang sangat disegani di Mekkah. Dia adalah saudagar kaya yang berdagang dengan sistem kejujuran layaknya Muhammad.
Pada umur 40 tahun, Muhammad semakin tenggelam dalam pemikirannya. Dia benar-benar merindukan sosok Tuhannya Ibrahim, yang membawa keadilan. Membawa kebenaran. Dia sering beruzlah di Gua Hira.
Suatu hari, datanglah sesosok makhluk putih bercahaya mengajaknya untuk membaca. Muhammad menolak. Dia tidak bisa membaca. Namun makhluk itu tetap mengajaknya untuk membaca, hingga akhirnya dua menyanggupi untuk membaca. “Apa yang harus kubaca?” tanyanya.
Turunlah Surah Al-Alaq ayat 1-5 pada malam itu. Itu menjadi indikasi awal pengangkatannya sebagai seorang penyempurna di muka bumi ini. Menjadi seorang penyambung antara manusia dengan Rabbnya yang sesungguhnya.
Dakwahnya di Mekkah mengalami liku-liku. Abu Bakar sahabatnya, bersama Khadijah istrinya dan Ali bin Abi Thalib kemenakannya serta Zaid bin Haritsah anak angkatnya menjadi orang-orang pertama yang mengakui islam. Abu Bakar membawa ajaran ini ke kalangan bangsawan. Utsman bin Affan menjadi seorang muslim setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar.
Dengan begini, umat islam sudah agak disegani karena memiliki pasukan para saudagar kaya. Namun islam menjadi lebih kuat seiring dengan bergabungnya dua singa Mekkah, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Tapi mereka harus berhijrah ke Madinah setelah Ja’far bin Abi Thalib berhasil mengajak masyarakat Madinah menjadi muslim. Kaum pendatang dan kaum penerima pun diberikan instruksi oleh nabi Muhammad SAW.
Seiring dengan bertambahnya pasukan muslim , persaingan dengan kaum Quraisy kuliah sangat memanas. Tidak jarang, terjadi perang-perang dalam rangka menegakkan islam.
Dalam perang Badar, kemenangan telak diterima oleh umat Muslim. Perang selanjutnya, Perang Uhud, menjadi tragedi bagi umat muslim. Namun pada perang Khandaq, umat muslim memenangkan perang tersebut dengan bantuan Allah swt.
Itulah sekilas tentang perjalanan sosok mulia Nabi Muhammad saw. . Novel ini menceritakan tentang seorang akhlakul karimah yang dalam setiap hembus nafasnya. Sejarah tentang sosok pembaharu terbesar di dunia. Sosok yang memberikan pengaruh yang dahsyat bagi dunia hingga akhir zaman. Novel ini menjadi salah satu alternatif pembelajaran sejarah yang tidak menjemukan untuk dibaca. Dahsyat!

0 comments:

Posting Komentar