Rabu, 03 November 2010

Chapter 4 - Bangka, I'm Coming..!!!


 Teman-teman yang lain belum juga datang. Kami melihat ke sekitar, masih sepi. Masih belum ada siapa-siapa. Akhirnya, kami meneruskan nostalgia kami dengan foto-foto perjalanan ke Bangka. Menelusuri masa lalu memang sangat menyenangkan. Terlebih jika mengingatnya bersama dengan orang-orang yang berkaitan langsung dengan masa lalu. Suasana menjadi hangat.
- - -
Hari ini adalah hari pembagian Rapor Akhir Semester. Semester kedua ini, aku sulit berkonsentrasi di bidang akademik sekolah. Pada semester ganjil kemarin, aku berhasil mendapatkan tempat pertama di ranking IPS SMA Al-Muttaqin. Namun pada semester ini, entahlah. Sebenarnya kalau penilaiannya diorientasikan kepada keseharian di kelas, aku optimis dan siap bersaing. Namun kalau diorientasikan pada Ujian Akhir Semester kemarin, aku agak pesimis. Pasalnya, pada ujian semester kemarin nilaiku berada di bawah nilai teman-teman kebanyakan. Entahlah, aku terlalu senang dengan keikutsertaanku dalam PIRN ini, sehingga aku lupa berkonsentrasi terhadap pelajaran.
Pada pembagian raport kali ini, aku akan langsung berangkat menuju Bandung untuk mempersiapkan keberangkatanku ke Bangka Belitung dua hari setelah pembagian raport. Ibuku datang ke Tasikmalaya untuk mengambil raport akhirku sekaligus menjemputku pulang menuju ke Bandung.
Sebelum pembagian raport, aku dan teman-teman sekelasku menampilkan dramatisasi puisi. Puisi yang kami bawakan adalah puisi terakhir dari kami bagi kakak-kakak kelas kami tercinta. Tak terasa, tahun depan kami-lah yang akan berada di posisi mereka. Berada di atas panggung, menerima ijazah kelulusan. Sesak dadaku jika membayangkannya. Belum genap dua tahun berada di SMA Al-Muttaqin, aku telah merasakan beragam rasa yang membuatku sulit untuk melepaskan momen-momen indah tersebut.
Setelah tampil, aku segera mengubah kostumku dengan pakaian resmi batik dengan celana jeans hitam milik adikku. Necis. Aku mencari-cari ibuku di dalam aula. Ternyata beliau tengah duduk di barisan tengah. Akupun menghampirinya dan mencium tangan lembutnya. Lalu aku menemaninya beberapa saat sebelum aku dipanggil oleh Bu Nur untuk membantu panitia.
Pada saat pembagian raport, namaku beberapa kali disebutkan saat penyebutan siswa berprestasi. Salah satunya adalah ketika penjelasan mengenai PIRN. Juga ketika aku berhasil meraih Peringkat Harapan III di Lomba Kreativitas Siswa Berprestasi di Kota Tasikmalaya. Itu merupakan hadiah luar biasa bagiku. Hanya itu yang bisa aku perbuat untuk membuat Ibuku yang datang jauh-jauh dari Bandung bisa tersenyum.
Sayang sekali, pada kesempatan kali ini aku hanya mendapatkan ranking ke tiga di SMA Al-Muttaqin. Di kelas IPS, aku berada di bawah peringkat Ali dan Yusan. Mereka mendapatkan nilai Ujian Akhir Semester yang lebih baik daripada nilaiku. Aku sebenarnya agak drop. Agak kecewa. Terlebih mengetahui bahwa beasiswa yang diberikan kepadaku semenjak semester genap kemarin dicabut. Tajam rasanya tusukan itu masuk ke lubuk hatiku.
Tapi Ibuku yang luar biasa itu menghiburku. Dalam hati, aku merasa malu. Seharusnya aku yang menghibur Ibu, pikirku. Beliau memang wanita paling luar biasa di dunia. Ibu juara satu di dunia!
“Fathir ini, terlalu banyak keluar bu..! Mungkin dia tidak bisa konsentrasi di akademik karena terlalu banyak aktif di organisasi atau ekstrakurikuler.. Tapi, Alhamdulillah.. Dia tetap konsisten menjadi yang terbaik di Try Out kami bu..” ucap Pak Abid, wali kelasku, kepada Ibuku ketika beliau mengambil raportku.
“Ooh.. Iya.. Alhamdulillah.. Kelas tiga mah Insya Allah ya, Bang..!” jawab ibuku seraya melirikku. Aku hanya mengangguk.
Kami pun pergi meninggalkan ruangan kelas. Aku meraih tempat ketiga. Tapi tak apalah. Itu adalah gambaran kemampuanku dalam masalah membagi waktu, serta konsisten dengan prinsip kejujuranku. Toh, aku mendapatkan hiburan yang luar biasa dari Allah swt. Dia memang Maha Adil. Aku akan berangkat ke Bangka Belitung bersama dengan sahabat-sahabatku beserta guru favoritku untuk bertemu dengan para peneliti muda se-Indonesia. Sungguh tak tergambarkan bahagiaku saat itu, meski agak bercampur pilu setelah kehilangan tempat pertama.
Setelah mengambil rapor yang agak mengecewakan, aku segera bergegas mempersiapkan barang-barang di asrama untuk dibawa ke Bandung bersama dengan Ibuku. Kebetulan, Azzam hendak ikut bersama kami untuk ke Bandung. Azzam adalah adik laki-laki dari Fiena, dan juga rekan asramaku. Azhet adikku juga ikut pulang bersama kami. Kami berangkat ke Bandung dengan menggunakan transportasi angkutan umum.
Aku merasa agak kecewa, memang. Namun semua itu akan segera terbayarkan oleh keberangkatanku ke Bangka Belitung. Aku sangat tidak sabar untuk segera berangkat ke sana. Dalam benakku kini terbayang persiapan-persiapan untuk berangkat ke negeri Laskar Pelangi tersebut. Aku agak menyesal tidak bisa turut serta dalam hunting ke Walikota bersama teman-temanku di Tasik. Tapi bagaimanapun juga, aku harus pulang terlebih dahulu.
Kami akan berangkat 2 hari lagi. Teknisnya, pada H-1 teman-teman menginap dulu di rumahku di Bandung. Barulah pada hari H, kami berangkat pagi hari ke Bandara Soekarno-Hatta dari Bandung. Ah, sudah tidak sabar rasanya ingin segera sampai pada hari H.
- - -
Tuut.. Tuut..
Ringtone-ku bordering. Ada SMS masuk. Segera aku melihat Handphoneku. Ternyata dari Dea.
From : Amq Dea Hilyatunnisa
Asslmlykum. Than, doain kt y.. skrg mau k kntor Wlikota.. Tpi kta dtg agk trlmbt.. P Shalih kyk yg mrah lho.. Kt jdi g enk.. Heu..”
Waduh. Aku bingung membalasnya.
Wlykmsalam.. Iya, Insy Allah.. Skses y..! Pk Shalih knpa..? Marah..? Eleuh… Cba aj diajak ngbrol atuh..?”
Dalam hati aku berdoa agar semua lancar-lancar saja. Rencananya  hari ini mereka akan berangkat menuju rumahku. Mungkin setelah hunting bercakap dengan Pak Walikota, mereka akan berangkat pada sore harinya.
Sedangkan aku saat itu tengah mencari beragam informasi mengenai Bangka Belitung. Aku cari di mbah Google. Aku menemukan beragam artikel mengenai Bangka Belitung, tanah timah yang kaya raya. Yang menjadi hot topic ketika aku mengetikkan nama ‘Bangka Belitung’ tentu saja artikel mengenai eksploitasi timah di Bangka. Eksploitasi timah di pulau Bangka Belitung ternyata telah dilakukan semenjak ratusan tahun lamanya. Hingga hari ini, timah di Bangka Belitung masih ada dan menjadi sumber pendapatan utama para masyarakat di kepulauan tersebut.
Tapi sayangnya, dampak dari penambangan timah di kepulauan Bangka Belitung ini sangat terasa. Jika kita melihat dari langit, akan tampak bentuk pulau Bangka yang sangat penuh dengan lubang-lubang. Lubang-lubang tersebut adalah ‘danau’ ciptaan manusia dampak dari penggalian tanah untuk menambang timah. Aku melihat salah satu foto di salah satu artikelnya. Ternyata benar, lubang-lubang tersebut sangat jelas terlihat. Seolah pulau Bangka sudah akan tenggelam dengan lubang-lubang tersebut.
Dan ternyata tidak sedikit artikel-artikel yang memprediksi tenggelamnya pulau Bangka. Mereka mengatakan bahwa manusia telah membuat lubang-lubang besar di pulau Bangka sehingga pulau ini layaknya perahu. Yang dilubangi oleh rayap. Lama-kelamaan, lubang tersebut akan membawa air masuk ke dalam perahu dan perahu tersebut akhirnya tenggelam. Na’udzubillahi min dzalik.
Kemudian aku mencari beragam informasi tentang kebudayaan Bangka. Aku menemukan beragam situs yang menceritakan tentang daya tarik Bangka. Sangat banyak. Ternyata ini merupakan langkah dari pemerintah Bangka Belitung dalam rangka menyukseskan program mereka, Visit Bangka Belitung 2010 Archipelago. Mungkin mereka juga mengajukan pelaksanaan PIRN IX di Bangka Belitung ini juga dalam rangka menyukseskan program tersebut.
Bangka Belitung adalah kepulauan yang terdiri dari kebudayaan darah Melayu, Tionghoa, dan sebagian dari daerah-daerah lainnya. Mayoritasnya adalah warga keturunan Melayu. Tetapi ternyata ada di Pulau Bangka, suatu derah bernama ‘Kampung Jawa’. Daerah tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang keturunan Jawa yang pindah ke daerah Bangka tersebut. Mereka lebih nyaman membentuk satu komunitas dengan identitas yang sama, yaitu keturunan Jawa. Hal ini juga terjadi pada keturunan Tionghoa.
Karena terdiri dari beragam kultur, maka budaya khas Bangka memiliki warna yang beragam. Tapi warna yang paling kuat adalah warna khas aroma Melayu. Karena memang, mayoritas warga di sana merupakan warga keturunan Melayu.
Rasanya semakin tidak sabar aku untuk segera berangkat ke pulau Laskar Pelangi tersebut. Bertemu dengan rekan-rekan se-Indonesia. Para peneliti muda dengan spirit yang luar biasa. Semakin membuncah semangatku yang ingin banyak belajar di sana.
- - -
“Bang.. Ayo bangun.. Tanya temen-temennya udah dimana…” ucap Ibuku membuyarkan cerita di alam mimpiku. Aku terbangun. Setelah Shalat Isya tadi, aku langsung tidur. Aku takut kelelahan esok hari. Dan malam ini juga, aku harus menjemput teman-temanku di tempat janjian. Mereka belum mengetahui rumahku.
“Oh.. Euh…. Iya Bu….” Jawabku setengah ngelindur. Segera aku menyambar telepon genggamku. Ada 3 SMS dan 4 Missed Call. Semuanya dari Fifi.
Amq Fifi – 22:15 WIB
Asslm.. Fath, kta udh di Nagreg.. Jangan tidur ya.. Hehehe..”
“Amq Fifi – 23:11 WIB
Fath, udah di Cileunyi nih.. Rumah kamu teh dimana..?”
“Amq Fifi – 23:21 WIB
Fath ih, udah dket Cbiru nih.. Dmana rmah kmu?”
Segera aku menelpon Fifi. Khawatir mereka melewati jalur arah rumahku. Kalau sudah melewati UIN, berarti sudah agak jauh. Sebenarnya bisa saja lewat gang UIN, tapi  gang tersebut sedang diperbaiki jalannya.
“Assalamu’alaykum, Fi.. Udah pada dimana..?” tanyaku.
Wa’alaykumsalam.. Ih, kita udah ada di bundaran Cibiru.. Kamu dari tadi di sms ih..Gak dibales aja..” jawabnya. Suaranya agak terganggu suara mobil.
“Iya.. Tadi ane ketiduran..Uhm, kalau udah di bundaran, kalian putar balik ke arah Cileunyi lagi.. Tapi jangan kejauhan..” balasku.
Hah..?? Apa..?? Gak kedengeran…”
“Hmm.. Gini deh.. Kasih ke Pak Shalih HPnya..!”
Assalamu’alaykum Fath.. Kita udah di Cibiru nih..” terdengar suara Pak Shalih di seberang sana.
“Wa’alaykumsalam Pak.. Nah, Bapak muter lagi kea rah Cileunyi.. Tapi, jangan kejauhan.. Liat di gang, ada plang ‘SMA Cempaka Warna’.. Masuk aja Pak… Nanti saya jemput dari sini naik motor..” jawabku.
Oh.. Oke-oke.. Kita udah masuk gang-nya, Fath..
Aku kemudian bersiap-siap mengenakan pakaian yang tebal dan dilengkapi jaket ayahku yang juga sangat tebal. Maklum, suasana di Bandung sangat dingin. Terlebih di daerah rumahku yang menanjak seolah mendekati gunung. Tidak kalah dinginnya dari Panjalu, kampungku dulu.
Kemudian aku meraih sepeda motor ayahku. Kutancap gas dan wussh.. Aku melaju menembus dinginnya suasana Bandung malam itu.
Di tengah jalan, aku melihat sebuah mobil Xenia berwarna silver. Aku kira itu mereka. Aku memperlambat laju motorku dan membunyikan klakson pada mobil itu. Namun mobil itu terus melaju. Mungkin itu bukan mereka, pikirku. Kemudian aku melaju lagi membelah dinginnya malam itu. Aku agak menggigil kala itu.
Baru beberapa detik, aku kemudian melihat sebuah mobil APV berwarna biru. Aku kembali memperlambat laju motorku dan membunyikan klakson kepada mobil itu. Mobil itu ternyata membalas dengan klakson juga. Mobil itu agak memperlambat lajunya. Aku melihatnya, dan ternyata itu mereka. Akhirnya sampai juga, batinku lega. Aku kemudian memberi isyarat untuk mengikutiku pada mereka.
Cukup 5 menit, mereka telah berada di depan rumahku yang sederhana. Para akhwat turun dan membereskan pakaian mereka untuk ditaruh di kamar mereka masing-masing. Sedangkan para ikhwan, termasuk aku, naik lagi ke mobil untuk menginap di rumah nenekku di dekat sana.
- - -
Kukuruyuuuuk…
Pagi indah ini akhirnya tiba. Alam tampak sangat mendukung rencana kami untuk segera menuju tanah Laskar Pelangi. Sang Pemimpi ini kini siap mewujudkan mozaik-mozaik kehidupannya. Aku terbangun agak telat pagi ini. Sekitar pukul 04:55, aku baru menyujudkan kepalaku di Bumi Cinta-Nya. Setelah memenuhi kebutuhan shalatku, aku sedikit membaca Ayat-Ayat Cinta-Nya. Memang harus kubiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari. Minimal selepas Shalat Subuh, lah.
Aku segera membersihkan diriku selepas tilawah. Kamar mandi di rumah nenekku ada 2 buah. Jadi, aku tidak perlu menunggu Pak Shalih yang mandi di kamar mandi satunya untuk dapat segera mandi. Sedangkan Pak Supir kulihat masih terduduk di halaman rumah, menatap mobil sewaan itu.
Kemudian aku menyantap lengko buatan nenekku untuk sarapan kami. Aku mempersilahkan Pak Shalih dan Pak supir untuk turut menyantap sarapan spesial tersebut. Setelah menghabiskan sarapan kami, kami berangkat ke tempat akhwat. Aku juga akan berpamitan kepada ibuku dan ayahku. Bangka Belitung bukanlah tempat yang dekat. Aku pasti merindukan mereka.
Tiba di rumahku, para akhwat telah siap. Mereka segera membereskan barang-barang mereka ke dalam mobil. Aku turut membantu mereka membereskannya. Kemudian, aku memohon restu dan doa kepada kedua orangtuaku. Berat rasanya meninggalkan rumah. Tapi, Bangka Belitung telah menantiku. Aku harus berangkat. Kucium tangan kedua orang tuaku. Lalu dengan basmallah, aku melangkahkan kaki menuju mobil. Bismillah.
Perlahan, mobil kami beranjak menjauhi rumahku. Kutatap rumah itu dalam-dalam. Aku bayangkan wajah kedua orangtuaku. Kemudian aku berpaling menghadap ke depan, menatap langit yang terang benderang. Bangka, I’m Coming..!!!
***

0 comments:

Posting Komentar