Sabtu, 06 November 2010

Indonesia Merdeka..!! (?)

  
Setiap tanggal 17 Agustus, semua komponen masyarakat di Negara Indonesia tumpah ruah, bersuka cita dalam rangka merayakan Hari Jadi bangsa Indonesia. Memang secara simbolis, tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari bersejarah dan tak terlupakan bagi bangsa kita bangsa Indonesia. Hari itu menjadi momen dimana bangsa kita – diwakili oleh Bung Karno dan Bung Hatta –  memproklamirkan kemerdekaan dan keterbebasan bangsa kita dari jajahan Jepang. Ya, hari itu menjadi momen dimana bangsa kita lepas dari jajahan para penjajah, setelah sekian lama tidak merasakan segarnya menghirup nafas dengan status yang tidak terjajah.



Kini, pada era globalisasi dan modernisasi, kita masih merayakan momen kemerdekaan yang sudah terjadi pada momen itu. Namun, apakah kita sudah benar-benar mendapatkan esensi dari kemerdekaan itu sendiri? Apakah negara kita dan bangsa kita sudah mendapatkan esensi sebenarnya dari arti kebebasan itu?



Deddy Mizwar, salah seorang seniman dan budayawan hebat di negara kita, pernah berkata dalam salah satu pertemuannya dengan tim Q-Smart mengatakan bahwa pada esensinya bangsa kita masih dijajah. Kenapa itu bisa terjadi..? Ya, karena kita masih terlena dengan suatu kemerdekaan fisik saja. Kemerdekaan yang hanya menjadi simbol bagi penjajahan yang lebih lanjut. Kemerdekaan yang kita rasakan, ternyata hanyalah suatu fatamorgana yang menjadi gerbang bagi penjajahan yang fana dan tidak kita rasakan. Mari kita telusuri bersama.



Satu penjajahan yang mungkin sekarang tengah kita lihat dengan jelas adalah penjajahan budaya bangsa Indonesia kita. Bangsa Indonesia, adalah suatu bangsa yang memiliki identitas budaya yang kuat dan sangat beragam. Seperti kita ketahui, Indonesia merupakan suatu bangsa dengan masyarakat multikultural. Yaitu masyarakat yang memiliki beragam kultur. Masyarakat yang memiliki beragam budaya. Dan keberagaman itu merupakan suatu identitas bangsa. Menjadi suatu ciri yang dileburkan dengan suatu prinsip bhineka tunggal ika.



Kita lihat saja. Mulai dari Provinsi NAD, hingga Provinsi Papua di Timur sana memiliki berbagai macam budaya. Mereka memiliki banyak identitas yang kuat di dalam benak mereka. Mereka merupakan ciri dari keberagaman budaya di Bangsa Indonesia.



Namun belakangan, identitas kita menghilang. Identitas budaya kita perlahan tergerus oleh modernisasi dan kemajuan teknologi yang tak terhindarkan. Coba saja kita perhatikan. Perlahan tapi pasti, masyarakat kita mulai membanggakan suatu sistem budaya dari luar. Seiring dengan luasnya interaksi sosial baik antarkelompok maupun antarindividu masyarakat kita dengan masyarakat luar, budaya dari luar masuk ke dalam identitas bangsa. Perlahan tapi pasti. Interdepedensi yang kuat semakin menjadi suatu dorongan bangsa kita menjadi suatu bangsa yang membanggakan produk dan budaya dari luar.



Kita ambil contoh, masyarakat perkotaan. Mereka bahkan tampak sudah kehilangan budaya daerah mereka. Kita lihat di Jakarta, Bandung, Lampung, dan beberapa daerah perkotaan Indonesia lainnya. Mereka sudah tersuntik oleh imun budaya barat yang kuat. Bahkan di beberapa daerah juga terjadi seperti demikian. Di Tasikmalaya saja, banyak sekali remaja yang mulai melupakan identitas budaya daerahnya. Bahkan mungkin, mereka sudah melupakannya dan mulai beralih menuju pembaharuan budaya. Yaitu pembaharuan suatu identitas dengan mengikuti budaya kota yang sudah terkontaminasi budaya barat yang mewah. Itu menjadi suatu rangkaian perubahan. Ketika masyarakat kota sudah terkontaminasi suatu identitas budaya yang jauh dari budaya daerah mereka, lambat laun pasti akan mempengaruhi perubahan identitas budaya di daerah-daerah yang kurang terjamah. Karena, selama interaksi masih ada, maka perbauran dan pembaharuan budaya akan selalu ada juga. Itu terkait dengan interaksi interrelationship dari lapisan-lapisan masyarakat. Maka pembaharuan identitas budaya bangsa pun akan selalu ada.



Penjajahan lainnya terjadi di sektor Perekonomian bangsa kita. Seperti kita ketahui, bangsa kita tengah digerogoti permasalahan-permasalahan pelik dari sektor perekonomian. Mungkin, jika kita menelisik ke atas maupun ke bawah dan kemudian merenunginya, akan terlihat suatu kegagalan sistem perekonomian. Lihatlah ke atas. Mereka para wakil rakyat semakin sulit dibendung. Setiap hari, mereka semakin giat untuk memperkaya diri mereka. Mereka semakin rajin untuk membuat diri mereka memiliki harta yang lebih dan selalu lebih, untuk anak cucu mereka. Sedangkan ketika kita melihat ke bawah, kita akan melihat suatu kondisi memprihatinkan. Dimana banyak anak-anak mengalami busung lapar. Gizi mereka tidak terpenuhi karena kondisi ekonomi orang tuanya yang kurang dari suatu standar kecukupan. Anak-anak terlantar dengan pendidikan yang ‘katanya’ murah, tapi sangat pas-pasan kualitasnya. How can?



Adapun secara kenegaraan, defisit dari devisa yang terjadi semakin membuat nilai mata uang rupiah kita menurun di mata dunia. Bagaimana bisa kita maju, ketika hutang negara saja sudah mencapai jutaan trilyun. Sedangkan para wakil rakyat semakin dimanja dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan negara. Ada apa dengan sistem kenegaraan kita..?



Dan satu penjajahan yang sangat berbahaya – mungkin yang paling berbahaya – adalah penjajahan mental bangsa kita. Mereka menyerang siapa saja. Mereka menyerang orang-orang kaya untuk bertindak konsumtif dan memenuhi hasrat mereka. Tanpa memperdulikan nasib dan keadaan masyarakat di sekitar mereka yang merana. Penjajahan itu menyerang mental dari orang-orang miskin, yang dituntut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka dipaksa menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sifat-sifat yang tidak sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku terpaksa mereka terobos untuk memenuhi kebutuhan ekonomis mereka. Mereka menyerang para remaja dengan sifat-sifat tidak berguna. Ya. Mereka menyerang para remaja juga.



Remaja, merupakan suatu masa dimana manusia dikenalkan kepada dunia. Suatu masa dimana identitas diri manusia tengah mengalami kegoyahan-kegoyahan prinsip untuk mengetahui kemana sebenarnya tujuan mereka kelak. Suatu masa dimana manusia mengalami banyak input-input informasi, input-input budaya, kebiasaan, cara dan berbagai aspek sosial lainnya yang akan sangat mempengaruhi kehidupan mereka kelak. Masa remaja ini merupakan masa yang sangat penting untuk kehidupan manusia di masa yang akan datang.



Bangsa barat mengetahui secara pasti, bahwa mental seorang remaja adalah sangat mudah untuk dipengaruhi. Dan pemuda yang notabene merupakan generasi penerus semangat bangsa adalah faktor kuat yang akan mempengaruhi keberadaan suatu bangsa itu sendiri. Ketika remaja dan pemuda bangsa Indonesia dibuat terlena dan dimanja dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh bangsa barat sehingga menyebabkan perilaku konsumer tercipta di benak dan di mental remaja dan pemuda Indonesia, maka akan sangat mudah untuk menguasai bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Karena mental berjuang, rasa cinta terhadap bangsa Indonesia telah memudar seiring dengan proses modernisasi yang difasilitasi bangsa barat.



Sebenarnya, bangsa kita masih terjajah. Bahkan mungkin penjajahan di masa yang akan datang akan semakin berat dan luar biasa, ketika penjajahan yang tidak kita rasakan sekarang kita biarkan merajalela. Lantas bagaimana bangsa Barat ‘menjajah’ mental remaja dan pemuda bangsa Indonesia kita?



Mungkin sering kita ketahui dan kita dengar tentang 5F. Strategi bangsa barat yang sering kita ketahui untuk menjajah bangsa Indonesia kita ini. Fun, Food, Fashion, Fund dan Film. Mereka menyerang kita lewat berbagai aspek tersebut. Mereka menjajah kita, para remaja dan pemuda bangsa, lewat kesenangan. Lewat makanan siap saji yang membentuk mental konsumer pada remaja kita. Lewat style berpakaian yang memancing hawa nafsu sehingga terjadi banyak penyimpangan sosial. Lewat uang yang semakin didewakan. Namun kita tidak sadar, bahwa esensi dari penjajahan yang mereka lakukan bukanlah semata-mata untuk menyerang mental duniawi saja. Mereka menjajah remaja Indonesia dengan manjaan-manjaan dengan tujuan untuk mengalihkan remaja Indonesia dari Al-Quran dan Islam.



Ya. Fasilitas-fasilitas yang membuat para remaja dan pemuda bangsa terlena adalah suatu senjata untuk tujuan utama mereka : mengalihkan kita dari pedoman kehidupan Al-Quran dan dari Islam. Karena mereka tahu, Al-Qur’an dan Islam merupakan suatu pedoman yang sempurna untuk menguasai dunia.



Nah, kini semua dikembalikan lagi kepada kita. Mereka, yang notabene bukanlah kaum yang dianugerahi mukjizat Al-Qur’an, justru mengaplikasikan Al-Qur’an itu di dalam kehiduan mereka. Sedangkan kita..? Kita adalah umat yang jelas-jelas menjadi tujuan dari penurunan Al-Qur’an ke dunia melalui Nabi Muhammad SAW, siapkah kita mengaplikasikan Al-Qur’an dalam kehidupan kita..? Bangunlah, wahai remaja..! Mari bersama membuat Indonesia benar-benar Merdeka...! Harapan Itu Masih Ada..!!



Muhammad Fathan Mubina - Q-Smart


0 comments:

Posting Komentar