Minggu, 07 November 2010

Marah? Sabar deh Kawan....


 Teman – teman, pasti pernah merasakan amarah atau kekecewaan kan? Perasaan yang membuat kita merasa tidak enak pada saat itu. Atau sering dikatakan nggak mood. Saat kita marah, biasanya kita ingin melampiaskan kekesalan kepada sesuatu, yang biasanya negatif. Seperti membanting pintu, memusuhi seseorang, dll. Apapun yang ada di hadapan kita mungkin saja dijadikan pelampiasan kekesalan kita. Pada saat kita kecewa atau gagal, tak jarang kita mencerca diri kita sendiri, seperti mengatakan bahwa kita ini bodoh, tidak berguna, dan merasa tidak pede lagi.


Sebenernya itu gak bagus lho. Setiap orang di dunia ini pasti pernah mangalami suatu gejala emosi seperti marah. Itu wajar. Masalahnya, bagaimana caranya supaya kita bisa melampiaskannya kepada hal yang positif, bukannya melakukan hal yang negatif. Biasanya kita mendapat amarah karena hal yang mengesalkan kita. Seperti, karena dimarahi guru, hilang uang, dsb.

Daripada melakukan hal negatif seperti marah – marah kepada orang tidak berdosa, lebih baik kita melampiaskan kekesalan itu kepada hal yang positif. Bagusnya sih, kita melampiaskan kemarahan kita untuk lebi giat beribadah. Jadikan kemarahan itu menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Jika kita dimarahi guru, artinya ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Mungkin, kita harus lebih giat lagi dalam menuntut ilmu. Kalo kita kehilangan dompet, mungkin kita kurang berhati – hati dalam menjaga barang kita. Itu bisa jadi pelajaran untuk lebih teliti ke depannya.

Lebih khusus, ada solusi yang lebih sesuai dengan sifat kamu. Jika kamu perempuan, coba aja tulis kejadian tidak mengenakan kamu itu kedalam sebuah karya tulis, seperti diary. Siapa tau, kalo kamu doyan nulis diary, kamu bisa jadi penulis hebat dan terkenal macam Helvy Tiana Rossa, Izzatul Jannah, dll. Siapa tau diary itu juga yang akan mengangkat nama kamu jadi terkenal. Selain itu, kamu juga bisa meringankan beban kamu karena udah berbagi sama ‘teman’ kamu. Coba deh! Dan buat kamu – kamu yang laki – laki, coba aja buat energy kemarahan itu ke hal yang baik. Seperti berlatih tinju (bukan dengan mahluk hidup tentunya), dan tentunya masih banyak lagi hal berguna yang bisa kita buat dari energy kemarahan.

Nah, kalo kita nggak bisa melampiaskan rasa marah buat melakukan hal yang positif, lebih baik kita coba untuk meredamnya. Nggak rugi lho! Allah SWT berfirman:

“Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. “ (QS Asy-Syuura ; 36-37)

Dan juga ingat saran Rasulullah. Jikalau kita sedang merasakan amarah berdebar dalam dada kita, hendaklah beristigfar segera. Jikalau kita sedang berdiri, duduklah. Jikalau kita sedang duduk, segeralah berwudhu. Shalat itu menenangkan jiwa, seandainya kita benar-benar menikmatinya. Gak percaya? Coba aja..! Hehehe..

Ingat juga nih, bahwa syaitan itu kendaraannya Syaitan. Masih ingat khan kisahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq..?

Suatu hari, Abu Bakar dan Rasulullah saw tengah duduk berdua di pasar. Seorang Yahudi datang dan segera menghina mereka berdua dengan membabi buta. Kebetulan dia sangat membenci Abu Bakar karena komitmennya berbisnis dengan jujur. Dia segera mengalihkan hinaannya kepada Abu Bakar. Abu Bakar malah senyum-senyum sambil bercakap-cakap dengan Rasulullah. Rasulullah juga tersenyum dan meneruskan percakapannya dengan Abu Bakar.

Namun semakin lama, orang Yahudi itu semakin menghina dengan membabi buta. Hingga puncaknya, dia menghina orangtua Abu Bakar sehingga membuat Abu Bakar marah dan balik menghinakan orang Yahudi itu. Melihat itu, Rasulullah saw. beranjak meninggalkan Abu Bakar sendirian di pasar. Setelah puas membalas orang Yahudi itu, Abu Bakar melihat sekitarnya dan tidak menemukan Rasulullah. Dia bingung dan segera mencarinya.

Ketika bertemu Rasulullah, dia meminta maaf dan bertanya kenapa Rasulullah meninggalkannya. "Apakah engkau merasa benci kepadaku setelah kejadian tadi, ya Rasul..?? Sungguh celaka diriku jika demikian adanya.." ucap Abu Bakar.

Rasulullah segera menjawab, "Sungguh tidak, Wahai Abu Bakar..! Hanya saja, ketika kau dihina dan kau bersabar tadi sesungguhnya Malaikat Rahmat datang dan mendustakan hinaan bagimu tadi.. Sedangkan ketika kau marah, kau menjadi kendaraan syaitan.. Dan aku tidak bisa duduk di dekat Syaitan, wahai Sahabatku..."

Nah lho. Abu Bakar, sosok sahabat yang sangat dicintai Rasulullah Muhammad SAW saja beliau tinggalkan ketika dia tengah marah. Lha kita? Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Rasulullah ketika melihat kita marah? Jadi guyz, marahnya ditahan ya..!!

Fathan - QSmart

0 comments:

Posting Komentar