Minggu, 27 Februari 2011

Humaira



Kamran Pasha (Atria Books)
Los Angeles, 2010
Aisyah binti Abu Bakar. Sosoknya berdiri teguh ketika waktu merenggutnya dari masa kanak-kanaknya menuju sebuah amanah berat menjadi seorang Ibunda Kaum Mukminin. Sebuah anugerah sekaligus amanah yang sangat berat yang diberikan Allah kepadanya.
Semenjak kecil, Aisyah hidup dalam bimbingan Abu Bakar sang pembenar. Sosok sahabat yang paling dicintai oleh Rasul tersebut adalah ayahnya. Sehingga Aisyah kecil berkembang menjadi sosok gadis cerdas dengan akhlak yang mulia. Aisyah kecil juga harus menghadapi kerasnya kehidupan di Mekkah, di masa awal perkembangan Islam yang sangat ditentang oleh para pemuka-pemuka sekaligus pemimpin-pemimpin Mekkah.
Di depan mata kepalanya, dia harus melihat syuhada pertama dibunuh secara tragis. Sumayyah, adalah sosok yang dekat dengannya. Sedangkan hari itu dia harus syahid sebagai seorang yang mempertahankan Allah dan Rasul-Nya dengan sangat mengerikan. Abu Al-Hakam atau Abu Jahal menusukkan tombak yang tajam melalui lubang kemaluannya. Hingga terus menusuk merobek perutnya. Kejadian itu tidak akan pernah terlupakan oleh Aisyah.
Aisyah tumbuh menjadi sosok gadis kecil yang cantik. Pada saat umurnya masih belia, Abu Bakar membawakan kabar dari Rasulullah kepada istrinya Ummu Ruman. Kabar yang membuat mereka berdua menyiratkan kebahagiaan sekaligus rasa khawatir yang mendalam. Rasulullah bermimpi bahwa malaikat Jibril membawa sehelai selendang hijau yang di dalamnya tertidur sesosok manusia. Ketika Rasulullah bertanya, Malaikat Jibril menjawab bahwa itu adalah pengganti Khadijah. Dan sosok wanita tersebut adalah Aisyah.
Aisyah kecil merasa bingung. Dia sebenarnya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang didiskusikan orangtuanya tersebut. Tapi dia berbeda. Aisyah paham, bahwa sebentar lagi dia akan memegang amanah yang besar. Menjadi Ummul Mukminin. Tapi dia tetap bingung bagaimana seharusnya dia bertindak.
Hingga akhirnya Rasulullah menikahinya di Madinah, setelah hijrah. Di situlah, Aisyah menemukan cahaya cinta yang takkan pernah hilang dalam hidupnya. Dia benar-benar jatuh cinta pada suaminya, yang tak lain adalah utusan Allah untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.
Masa-masa menjadi Ummul Mukminin terus berlalu. Dia harus menahan perasaan berbagi kasih dengan para Ummul Mukminin lainnya. Hingga pada suatu hari, dia tertimpa bencana yang dahsyat. Terlalu dahsyat bagi seorang perempuan berumur belasan tahun untuk diselesaikan. Dia terkena bencana fitnah yang kejam. Dia dituduh berselingkuh dengan seorang prajurit tampan bernama Safwan, karena kesalahpahaman.
Saat itulah, Aisyah diasingkan. Bahkan oleh orangtuanya. Mereka seakan ingin percaya pada Aisyah, namun masih menyiratkan keraguan padanya. Hingga akhirnya turun wahyu dari Allah akan pembebasan fitnah kepada Aisyah. Disanalah, Aisyah memahami bahwa itu adalah proses pendewasaan dirinya menjadi sosok yang pantas menjadi Ummul Mukminin.
Kisah haru dan menarik dijelaskan dalam buku ini. Buku yang diterjemahkan dari buku Kamran Pasha yang berjudul Mother of the Believers, a Novel of the Birth of Islam ini menggambarkan perkembangan masa awal Islam dari sudut pandang seorang Ummul Mukminin, Aisyah binti Abu Bakar. Berbagai kisah menegangkan dan penuh makna tentunya tersirat dari gaya bahasa Kamran yang sangat mendukung kisah-kisah tersebut. Dalam buku ini, Kamran menggunakan sosok ‘aku’ sebagai sosok Humaira, panggilan sayang bagi Aisyah binti Abu Bakar.
Menarik diungkap, bahwa novel ini menceritakan catatan buku yang ditulis sendiri oleh Aisyah binti Abu Bakar yang kemudian disempurnakan oleh kemenakannya, Muhammad bin Abu Bakar. Wallahu ‘alam bishshawab.
(Muhfat Ali)

0 comments:

Posting Komentar