Senin, 28 Februari 2011

Mush'ab bin Umair : Duta Islam yang Pertama..!!


Salam Sahabat!
Pemuda adalah sosok yang selalu menjadi tolak ukur kekuatan suatu kaum. Bahkan hingga hari ini, hitam-putih suatu bangsa sangat ditentukan oleh semangat pemudanya. Islam juga sangat mengetahui potensi dan kekuatan dari seorang pemuda.
Salah satu sosok yang menunjukkan wibawa serta kedahsyatan seorang pemuda bagi islam tiada lain adalah Mush’ab bin Umair. Dia adalah sosok pemuda tampan nan rupawan serta hartawan dari Mekkah yang menjadi kekuatan besar islam hingga gugurnya di medan Uhud. Yuk, kita kenal dia lebih jauh!

Mush’ab bin Umair adalah anak remaja dari kalangan keluarga kelas atas di Mekkah. Ayahnya adalah Umair, dan ibunya bernama Khunas. Mush’ab pada masa jahiliyyah terkenal sebagai sosok pemuda paling tampan di Mekkah. Penampilannya selalu necis. Wanginya semerbak menyebar ke seluruh penjuru kota. Bahkan katanya dari jarak seratus meter pun, wangi tubuh Mush’ab bin Umair sudah bisa terkenali. Dan orang-orang menjadi segan dan terkagum terhadapnya. Pokoknya perfect, deh! Dia menjadi bunga bagi gadis-gadis Mekkah yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya.
Orangtuanya selalu memfasilitasinya dengan beragam fasilitas. Ya, meskipun dia belum memiliki komputer, handphone, dan televisi, tapi dia tidak pernah kekurangan suatu apapun dalam masanya. Makanan empat sehat lima sempurna selalu dia dapatkan. Dia hidup dengan penuh kecukupan dan penuh kebahagiaan sejati seorang manusia pada masa jahiliyyah dahulu.
Dia juga sosok yang cerdas. Meskipun berlimpah banyak kekayaan dan kebahagiaan hidup, dia tidak segan untuk mengikuti beragam aktivitas sosial. Retorikanya selalu mempesona dan menjadi bintang dalam setiap pertemuan. Tidak heran, dia menjadi seorang bintang muda Mekkah pada zamannya.
Hingga suatu hari, anak muda yang tampan nan cerdas ini mendengar berita yang telah tersebar luas seantero Mekkah. Sosok Muhammad Ibn’ Abdullah menjadi buah bibir baru di Mekkah. Mulai dari pasar, hingga masuk ke majelis-majelis, Mekkah geger oleh berita kepercayaan baru yang disyiarkan oleh Muhammad bin Abdullah. Kabar itu masuk ke setiap lubang telinga orang-orang Mekkah. Termasuk telinga Mush’ab bin Umair.
Mush’ab Ibnu Umair tertarik. Dia mencari beragam informasi mengenai pergerakan Muhammad bin Abdullah beserta umatnya di Mekkah. Kecerdasannya membawanya pada sebuah informasi yang top secret, bahwa umat Muhammad yang bernama umat muslim ini sering mengadakan majelis di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di rumah Arqam bin Abil Arqam, bukit Shafa.
Tanpa ragu dia segera datang ke tempat Arqam bin Abil Arqam, di bukit Shafa. Saat itu umat muslim sedang mengadakan majelis di sana. Mereka yang tengah menikmati kalam Illahi yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. terkagetkan oleh kedatangan seorang pemuda yang menjadi buah bibir di Mekkah. Ya, Mush’ab bin Umair dengan segala pesona yang terpancar dalam dirinya muncul di kalangan para sahabat. Para sahabat sebenarnya segan melihat Mush’ab. Namun mereka bangkit dan bersiap untuk melakukan sesuatu. Tapi Rasulullah menghalanginya dan mempersilahkan Mush’ab untuk bergabung dengan mereka. Bahkan beliau menyambut Mush’ab dengan sangat ramah. Mush’ab menyambut keramahan beliau dengan sikap hormatnya kepada beliau.
Baru saja Mush’ab bin Umair duduk bergabung di majelis tersebut, ayat-ayat indah Al-Qur’an menggema dengan indah masuk ke telinganya. Ayat-ayat dengan keagungan tutur bahasa tersebut menyentakkan hatinya dan membuatnya bergetar dahsyat. Senja itu mempesona Mush’ab bin Umair dan hatinya yang langsung jatuh cinta terhadap keagungan kata-kata dalam Al-Qur’an.
Tanpa ragu, Mush’ab bin Umair bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri Rasulullah. Matanya berkaca-kaca. Senyumnya yang indah tampak tak mampu mengeluarkan kata-kata. Rasulullah kemudian mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak tersebut. Tiba-tiba Mush’ab merasa hatinya menjadi tenang, layaknya lautan yang teduh dan dalam. “Asyhadu anlaa ilaaha Illallah, wa Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah!” ucapnya dengan bibir yang gemetar. Umat islam bertakbir.
Berita tentang islamnya Mush’ab bin Umair langsung tersebar dengan cepat. Bagai air yang membasahi sebuah kertas, berita tersebut dengan cepat membasahi Mekkah. Berita tersebut sampai ke telinga Khunas binti Malik, ibunda Mush’ab bin Umair yang terkenal memiliki karakter kuat dan kepercayaan yang kaffah terhadap ajaran nenek moyangnya. Ia adalah wanita yang sangat disegani dan ditakuti pada zamannya.
Inilah yang sangat Mush’ab khawatirkan. Inilah tantangan terbesar dalam karir keislamannya. Dia samasekali tidak takut terhadap seluruh kaum kafir Mekkah. Padahal jika mereka mau, mereka dapat dengan mudah membunuh Mush’ab dan menjadi teror yang dahsyat baginya. Tapi itu samasekali tidak dia hiraukan. Dia bahkan berani untuk melawan mereka hingga syahid menjemputnya. Namun yang paling dia hiraukan adalah ibundanya. Sempat dia berniat untuk menyembunyikan keislamannya, hingga akhirnya bocor juga. Maklum, di Mekkah kala itu tidak ada rahasia yang tersembunyi. Mata-mata ada di mana-mana.
Akhirnya Mush’ab berdiri di hadapan ibundanya yang telah melahirkannya. Dia akan disidang bersama dengan para pemuka kaum Quraisy di rumahnya yang biasa menjadi tempat majelis mereka. Ibundanya menatapnya dengan penuh amarah. Mush’ab berusaha menenangkan hatinya dari tatapan benci para pemuka Quraisy kepadanya. Seolah mereka siap memakannya hidup-hidup.
Tapi inilah Mush’ab! Dia dengan ajaib mengubah keadaan dengan kecerdasan diplomasinya. Jangankan menghindar dari mereka dengan meminta maaf kepada semuanya, Mush’ab bin Umair malah dengan PeDe melantunkan ayat-ayat suci kalam Illahi di hadapan mereka. Subhanallah.
Banyak para pemuka Quraisy terpesona dengan tutur kata Mush’ab sebagaimana mereka terpesona dengan retorikanya pada masa Jahiliyyah dulu. Hal ini membuat ibundanya menjadi panik. Dengan cepat dia bangkit dan hendak menampar Mush’ab. Namun dengan cepat juga dia tiba-tiba merasa lemah, dan muncul rasa sayangnya kepada buah hatinya itu. Mush’ab tidak ditamparnya. Namun dia dibawa ke sebuah penjara dan Mush’ab dikurung di dalamnya.
Sekali lagi, inilah Mush’ab! Dengan tenang dia mencoba berdialog dengan penjaga penjara ibunya, dan berhasil melarikan diri menuju ke Habsyi. Kala itu, beberapa sahabat hijrah ke Habsyi. Ibunya mengancam akan menyuruh orang-orang untuk segera menangkap Mush’ab kembali ke rumah. Namun dengan lantang Mush’ab bersumpah bahwa dia tidak akan segan untuk membunuh semua orang-orang suruhan ibunya bilamana rencana itu dilakukan. Akhirnya ibunda Mush’ab hanya bisa melepas Mush’ab bin Umair dengan cucuran air mata. Mush’ab pun mengucapkan selamat tinggal kepada ibundanya dengan penuh air mata yang bermuara.
Semenjak memutuskan kabur dari rumahnya, Mush’ab bin Umair praktis tidak mendapatkan harta apapun dari orangtuanya. Ibunya dengan air mata menghentikan semua bantuan untuk Mush’ab bin Umair dari kekayaannya. Mulai dari baju, makanan, tempat berlindung, unta, ATM, hingga kartu kreditnya (Uups.. Dua yang terakhir mah nggak deng..) diblokir oleh kedua orangtuanya.
Praktis, semenjak memasuki dunia islam Mush’ab bin Umair hidup dalam kesederhanaan. Bajunya dipenuhi dengan jahitan-jahitan, sekedar menutup auratnya saja. Keadaannya tampak lusuh, meski selalu dalam keadaan bersih. Bagaikan langit dan sumur, jika dibandingkan dengan segala kemewahan yang dia dapatkan ketika masa Jahiliyyahnya dahulu.
Bahkan pada suatu majelis, ketika itu Rasulullah tengah mengadakan suatu pertemuan dan kajian keislaman. Dari kejauhan, tampak sesosok pemuda yang lusuh. Pemuda itu mengenakan baju yang ditambal dan wajahnya tampak amat kepanasan. Dia adalah Mush’ab bin Umair. Para sahabat tertunduk malu melihat Mush’ab. Tidak ada rasa jijik samasekali. Bahkan mereka terkagum dengan kegigihan pemuda cerdas ini. Beberapa di antara mereka basah matanya oleh air mata yang bermuara.
Tapi apa kata Mush’ab? Apakah dia menyesal telah masuk ke dalam islam?
Kalau itu sempat kita tanyakan kepada Mush’ab, tentu dengan lantang dia akan menjawab TIDAK. Mush’ab bin Umair samasekali tidak menyesal telah meninggalkan segala kemewahan yang dia dapatkan ketika dia belum menjadi muslim. Dia bahkan tidak menyesal telah memilih Rasulullah Muhammad saw. ketimbang ibunya sendiri. Tidak ada segurat pun penyesalan dalam hatinya, karena dengan memasuki islam dia mendapatkan kebahagiaan dan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta yang seindah-indahnya cinta.
Hari-harinya di Mekkah dia lewati dengan indah dan penuh makna. Samasekali tiada kerinduan terhadap kehidupan bermewahannya dahulu. Dia melewati hidup dengan sangat sederhana dalam indah keislamannya.
Hingga pada suatu hari, umat islam yang berada di Mekkah terus mendapatkan teror yang gencar dari kafir Quraisy. Akhirnya Rasulullah dengan bimbingan Illahiyah memutuskan untuk segera melaksanakan hijrah. Rencana ini belum terdengar oleh telinga-telinga kafir Quraisy. Rasulullah masih mencari tempat yang tepat untuk umatnya hidup dalam kedamaian.
Akhirnya, Rasulullah memilih Mush’ab bin Umair untuk melakukan tugas yang maha penting : menjadi duta Rasulullah saw. untuk mensyiarkan seluk beluk agama islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Mush’ab bin Umair juga ditugaskan untuk mengajak orang-orang lain untuk masuk ke dalam islam, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrahnya Rasul beserta umatnya ke tempat itu.
Sebenarnya kala itu masih banyak sahabat-sahabat yang lebih tua dan berpengalaman ketimbang dia. Tapi karena Rasulullah telah memilihnya, tiada alasan baginya untuk mundur. Akhirnya, Mush’ab bin Umair berangkat meninggalkan kota kelahirannya menuju Madinah, dan menjadi duta pertama bagi umat Islam.
Dan tugas pertama tersebut sukses dilaksanakan Mush’ab dengan baik. Dia sukses membawa banyak masyarakat Madinah menjadi seorang muslim dan beriman kepada Rasulullah. Hingga akhirnya Rasulullah saw. beserta umatnya hijrah dari Mekkah ke Madinah. Suatu strategi yang terbukti tepat, dan membawa Islam ke puncak kejayaannya.
Pada saat perang Uhud, Mush’ab meraih gelar syuhada. Syahidnya Mush’ab sungguh memiliki kisah yang sangat menggetarkan jiwa. Tentu kalau kita merenunginya.
Pada perang Uhud, pasukan Islam kewalahan karena lalainya pasukan pemanah dari instruksi yang telah Rasulullah saw. berikan. Saat itu, Mush’ab adalah pembawa panji Islam. Bendera Islam disematkan dalam genggamannya. Dalam umurnya yang masih sangat belia, Mush’ab bin Umair menjadi pembawa panji Islam dalam perang Uhud.
Melihat situasi yang semakin kritis dalam perang tersebut, Mush’ab bin Umair berdiri lantang seraya mengacungkan bendera islam tinggi-tinggi. Dengan suara yang berani, dia meneriakkan takbir. Dia mencoba mengambil perhatian para tentara musuh agar tidak tertuju kepada Rasulullah.
Ketika musuh-musuh mulai mendekatinya, dia berlaga dengan gagah berani dan tangguh. Tangan kirinya memegang bendera dengan tegak, dan tangan kanannya mengibaskan pedang dengan matanya yang tajam. Dia bertarung dengan kesungguhan hatinya.
Meskipun begitu, musuh kian banyak. Hingga akhirnya, tiba seorang musuh bernama Ibnu Qumaiah. Dengan kudanya yang berlari kencang, dia berhasil menebas tangan kiri Mush’ab hingga putus. Darah segar mengalir dari tubuh Mush’ab.
Namun apa yang Mush’ab lakukan? Dengan penuh semangat, tangan kanannya menanggalkan pedangnya seraya mengambil bendera Islam. Dia berkata : “Sesungguhnya Muhammad itu tiada lain adalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului beberapa Rasul!”
Ibnu Qumaiah terkaget melihat pengorbanan Mush’ab dan perkataannya. Kemudian dia kembali dan menebas tangan kanan Mush’ab hingga putus. Mush’ab kemudian membungkuk dan meraih bendera tersebut dengan mengapitnya di antara lehernya. Dia berteriak dengan lantang : “Sesungguhnya Muhammad itu tiada lain adalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului beberapa Rasul!”
Lalu Ibnu Qumaiah kembali menyerangnya dengan menusukkan tombak hingga tombak tersebut patah. Mush’ab runtuh. Dan bendera islam yang dipegangnya pun terjatuh.
Akhir yang indah untuk duta pertama Rasulullah bagi Islam. Kalimat terakhir yang dia terus ulangi kini dikukuhkan menjadi wahyu dan ayat Al-Qur’an yang selalu dibaca orang. Subhanallah!
Wallahu’alam bish shawab.
Muhfat Ali, dari berbagai sumber

0 comments:

Posting Komentar