Selasa, 08 Februari 2011

Subhanallah, Indah ya..!!



“Subhanallah.. Indah ya..?”
Kata-kata itu seringkali terlontar dari mulut adikku, Fitri. Adikku yang paling besar ini seringkali membuatku tersenyum. Ayah dan ibu kami telah tiada semenjak aku masih kelas 6 SD. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakakku, Farhan, tidak menyelesaikan sarjananya dan kini bekerja di Jakarta sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Dia yang bertanggungjawab menghidupi kami berlima. Dia pemuda yang sangat tangguh. Umurnya baru 23 tahun.
Aku, tinggal di Depok bersama bibiku dan ketiga adikku. Mereka adalah Fitri, Fikri, dan Fauzi. Aku hampir menyelesaikan pendidikan SMA sambil bekerja di sebuah lembaga kursus di Depok. Kursus kecil-kecilan, untuk siswa SMP dan SD. Penghasilanku hanya Rp. 500.000 per bulan. Hanya untuk membiayai sekolah Fikri dan Fauzi. Alhamdulillah, aku dan Fitri mendapatkan beasiswa di sekolah kami, SMA IT Al-Falah. Fitri baru memasuki kelas 10, dan aku berada dua tingkat di atasnya. Fikri dan Fauzi masing masing masih kelas 7 dan 9 SMP.

Adikku yang satu ini memang yang paling dekat denganku. Dia adalah satu-satunya anak perempuan dari keempat saudaraku. Aku sangat menyayanginya. Dia juga sangat dewasa. Dengannya aku merasa bahwa cinta yang halal itu sangat indah. Mencintai saudara, tentu lebih baik daripada mencintai yang belum berhak dicintai.
Fitri adalah aktivis dakwah semenjak SMP. Jilbabnya panjang dan lebar. Alhamdulillah, bibi kami memberikan pendidikan dan contoh yang baik untuk kami. Suaminya telah meninggal, tapi dia tetap tegar menghadapi kehidupan. Dia satu-satunya keluarga kami yang tersisa. Dia membantu kakak menghidupi kami. Entahlah, meskipun hidup dengan penuh keterbatasan, aku merasa keluarga ini sangat dicintai Allah. Aku selalu bersyukur atas itu.
“Kakak sayaang, ada telepon niih.. Dari Ukht Dena..” ucap Fitri pada sore itu. Kami baru saja pulang dan aku tengah membereskan barang-barang di kamar kami seraya mempersiapkan mengajar les malam ini. Jam mengajarku di lembaga kursus itu mulai bada Isya hingga pukul 20.00 WIB.
“Oh.. Iya Fit.. Bentar ya..” jawabku kemudian. Aku bersegera turun dan mengambil ganggang telepon rumah kami itu.
“Awas lho, jangan macem-macem!” ucapnya sambil memberikan telepon itu padaku. Tapi dia mendekatkan telinganya ke ganggang telepon itu.
“Idiih.. Iya-iya.. Dasar nih ya..” ucapku sambil mencubit hidungnya yang mancung. “Auw..! Diem ah..!” jawabnya sambil tetap mendekatkan telinganya ke ganggang telepon itu.
“Assalamu’alaykum, Akh..” terdengar suara dari seberang telepon.
“Wa’alaykumsalam Warahmatullah.. Ada apa, Ukht..?” jawabku.
Afwan Akh, untuk proposal kegiatan Rohis kemarin temen-temen belum punya rangkaian kata yang pas untuk tema. Antum sebagai mas’ul ikhwan ada usulan untuk ini?”
Aku berpikir sejenak. Kutatap wajah Fitri yang menunjukkan ekspresi bingung dan ingin menangkap apa yang kami bicarakan. Tanpa sengaja aku menjawab. “Bagaimana kalau Indah KaruniaNya..?”
“Kegiatan ini kan bertujuan untuk menyambut tahun baru Islam, bagaimana kalau mengangkat tema syukur atas nikmat Allah yang telah bertebaran di muka bumi. Betapa Maha Pemurahnya Allah, sehingga berjuta nikmat tetap Dia berikan meski terkadang kita melupakannya. Ana rasa, tema syukur ini tepat, mengingat SMA Al Falah kemarin juga baru saja mendapat gelar baru sebagai sekolah terakreditasi A. Ya, kita sekaligus mensyukuri itu.. Bagaimana Ukht?” lanjutku menjelaskan.
“Oh.. Iya, Insya Allah akh.. Jazakallah Khairan Katsira ya.. Nanti ana bicarakan sama Panitianya..” jawabnya.
“Wa Iyyakum, Ukht.. Kalau masih ada permasalahan, nanti kontak ana aja sekitar jam delapan.. Oke?”
“Insya Allah.. Jadwal les ya..?”
“Iya nih.. Alhamdulillah..”
“Oke.. Syukran ya Akh.. Assalamu’alaykum.. Salam buat semuanya..”
“Wa’alaykumussalam Warahmatullah Wabarakatuh..”
Fitri memandangku dengan tatapan curiga. Pipinya dikembungkan. Sangat lucu.
“Apa atuh Fit..?? Cemburu yaa..??” ucapku seraya tersenyum.
“Idiih.. Kakak mah suka gitu.. Ayo, tadi ngobrolin apa aja?” ucapnya menginterogasi. Aku tersenyum. “Mau tauuu aja..! Hehe..” ucapku seraya meninggalkannya ke atas.
***
Hari ini adalah hari kegiatan Rohis. Aku sudah ‘pensiun’ dari kegiatan keorganisasian di sekolah. Dulu aku sempat memegang peran sebagai wakil Ketua Rohis saat kelas 10 dan menjadi Presiden OSIS ketika kelas 11. Sekarang aku hanya tercatat di satu organisasi lagi, yaitu Jurnalistik Pelajar Cerdas Depok. Aku menjadi salah satu kontributor berita di salah satu rubrik di media masa pelajar ternama di Depok. Lumayan, sambil menambah-nambah uang saku. Tapi meskipun tidak  terlibat organisasi apa-apa lagi di sekolah, terkadang aku masih gatal dan ikut mengurusi beragam kegiatan sekolah, terutama Rohis.
Fitri juga terlibat dalam kegiatan Rohis kali ini. Ini adalah kali ketiga dia ditunjuk menjadi Sekretaris Kegiatan Rohis. Pertama, ketika kegiatan Pesantren Ramadhan kemarin. Selanjutnya, saat ada kunjungan pengurus Rohis ke LDK Salam UI. Dan kali ini dia menjadi Sekretaris II kegiatan akhir tahun Hijriyah.
Dia seringkali bercakap dengan Ukhti Dena, Sekretaris OSIS pada masa jihad yang sama denganku semenjak SMP. Tidak sia-sia tampaknya. Ilmu kesekretariatan tampaknya telah banyak dia kuasai. Hanya yang terkadang membuatku agak sebal adalah ketika dia seringkali mengejekku dengan Dena. Tentu saja ketika Dena tidak bersama kami.
“Kak.. Teh Dena itu baik lhoo.. Cantik lagi.. Udah gitu jilbabnya panjang.. Aku setuju kalau nanti kakak menikah sama dia..! Hehehe..” ucapnya suatu ketika. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.
“Ah, kamu ya Fit.. Jangan ngaco deh.. Emang abangmu ini siapa, berani-beraninya mengganggu akhwat se-Shaleha dia..” balasku reflek.
“Ih.. Siapa juga yang suruh ngeganggu Teh Dena? Fitri jitak duluan nanti..! Maksud Fitri khan, suatu saat Fitri mau melihat kakak sama Teh Dena di pelaminan.. Pasti asyik tuh.. Hehehe..” jawabnya kemudian. Lagi-lagi aku tersenyum. Aku turun dari kamarku, kemudian memegang kepala adikku itu.
“Iya, bidadariku.. Nanti, kakak akan menikah kalau kamu sudah menikah duluan, kemudian bahagia sama suami kamu kelak..” ucapku sambil menatap matanya dan tersenyum. Dia tersipu. Aku tersenyum melihatnya. Sangat manis.
Tapi jujur, aku akui. Aku memiliki perasaan yang berbeda terhadap Dena, partnerku semasa di OSIS dulu. Dia memang berbeda dengan akhwat kebanyakan di sekolah. Dia mas’ul dakwah di akhwat. Posisi yang sama denganku di bagian ikhwan. Meskipun ada rasa yang berbeda terhadap Dena, cintaku saat ini akan aku penuhkan untuk bibiku dan Fitri adikku. Itu yang menjadi prioritasku saat ini.
“Fit, administrasi udah beres khan?” tanyaku kepada Fitri yang tampak tengah membersihkan surat-surat tugas yang berserakan di meja piket. Aku membantunya.
“Iya kak, tinggal minta dikasih tanda tangan aja.. Terus di stamp deh ini surat-suratnya..” jawabnya.
“Oooh.. Gampang atuh kalau tinggal itu sih.. Tapi secara keseluruhan ada kesulitan gak di kesekretariatan?” lanjutku.
“Ya.. Alhamdulillah nggak ada kok.. Khan ada Teh Dena yang terus ngebantuin.. Hehehe..”
“Ooh.. Iya deh.. Alhamdulillah…” jawabku sambil terus membersihkan meja piket. Fitri tiba-tiba melihat ke arah jaketku.
“Subhanallah kak.. Indah ya..?” ucapnya. Ternyata ada kupu-kupu hinggap di jaketku.
“Ah, kebiasaan deh.. Semuanya dikomentari.. Fitrii, Fitri..” jawabku. Bukannya kenapa-kenapa, Fitri sering sekali mengeluarkan kata-kata andalannya itu. Ketika melihat hujan, dia mengucapkan itu. Saat melihat taman di rumah nenek pun dia mengucapkan itu. Bahkan ketika ada ayam sedang mematuk makanan di desa, dia mengucapkan itu juga.
Pernah pada suatu hari, dia menelponku dan meminta di jemput. Katanya dia ingin ke Rumah Sakit. Akhirnya, aku meminjam motor temanku dan mengantarkannya ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, dia bergegas menuju ke ruang bayi dan melihat bayi-bayi yang ada di inkubator. Dia menghela nafas panjang, dan berkata : “Subhanallah, indah ya Kak..!!”. Aku hanya bisa tersenyum sambil dan menghela nafas panjang mendengarnya. Padahal aku kira ada suatu kejadian atau kecelakaan. Ternyata Fitri hanya ingin melihat lucunya bayi-bayi di Rumah Sakit.
“Ih, emangnya kenapa? Khan emang indah, Kak..! Lihat deh.. Itu khan karunia Allah juga, Kak..” jawabnya.
“Iya deh, bidadariku…” jawabku sambil mencubit hidungnya. Kupu-kupu itu terbang.
“Auuw..! Ah, tuh khan.. Kakak siih.. Jadi aja kupu-kupunya terbang..” ucapnya. “Tapi subhanallah.. Indah ya kak..!” lanjutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya, seraya terus membersihkan meja piket. “Suatu saat Fitri ingin terbang seperti kupu-kupu itu, Kak.. Terbang bebas menuju taman yang indah..” lanjutnya menerawang langit. Tatapannya tampak suci dan tegas. Entah kenapa hatiku bergetar melihatnya. Dengan segera aku menetralkan perasaanku. Entah kenapa aku merasa aneh. Tapi tidak bisa aku ungkapkan.
“Afwan akh, teman-teman di atas sudah menunggu..” terdengar sebuah suara memanggil. Dena. Aku dimintai tolong untuk menjadi moderator pembuka acara di kegiatan ini. Peserta kegiatannya adalah seluruh siswa kelas 10 dan kelas 11 SMA Al Falah. Untuk akhwat, Dena menjadi moderator pembukanya. Dan di ikhwan aku yang ditugaskan untuk membuka acara.
“Oh, iya Ukht.. Jazakillah, sebentar lagi ana kesana..” jawabku. “Fit, kakak ke atas dulu ya..” ucapku kepada Fitri.
“Iya kaak..” jawabnya.
Aku pun berlalu.
***
Selesai aku menjadi moderator di salah satu materi, segera aku menuju tempat Fitri. Kulihat dia sudah tidak ada di tempat. Mungkin dia telah menyelesaikan tugasnya. Namun entah kenapa ada perasaan tidak nyaman di dalam hatiku. Entah apa.
“Kak, Jazakallah ya sudah membantu..! Tadi itu pembukaan yang sangat menarik..! Mudah-mudahan semua pesertanya juga jadi lebih tertarik ya sama materinya..!” ucap seorang Ikhwan sambil menepuk pundakku. Meleburkan lamunanku. Ternyata dia adalah Adi, ketua Rohis angkatan adik kelasku.
“Oh.. Iya Akh.. Wa iyyakum.. Gak usah dipikirkan, lah.. Ana juga senang kok kalau memang kenyataannya begitu.. Alhamdulillah..” jawabku kepadanya.
“Oke kak.. Sip.. Lain kali boleh dong jadi pematerinya..? Kayaknya memang kakak sudah pantas, kok..” lanjutnya.
“Hoo.. Insya Allah, Akh.. Ana merasa masih harus memperbaiki diri.. Tapi, selama itu untuk kebaikan dan dakwah, kenapa tidak..? Iya kan..?” jawabku.
“Sip..! Ana kagum sama kakak..! Semangka, ya…!” ucapnya.
“Apaan tuh Semangka..?”
“Semangat Karena Allah..! Hehehe..”
“Ah, Antum bisa aja..” ucapku seraya menepuk pundaknya. Kemudian mataku menerawang lapangan yang terlihat tampak sepi. Datang seekor kupu-kupu terbang di atas kepalaku. Aku jadi teringat Fitri. “Ngomong-ngomong Akh, antum lihat adik ana gak..? Dimana dia..?” tanyaku.
“Wah, ana kurang tau ya.. Sedari tadi kan ana di atas..” jawabnya. Kemudian tampak seorang akhwat lewat. “Ah, coba tanya ini Akh.. Ini PJ akhwat..” kemudian Adi memanggilnya.
“Rani, antum lihat Fitri gak..?” ucap Adi.
“Fitri adiknya Kak Fahri..?”
“Iya.. Lihat..?”
“Ooh.. Tadi pemateri akhwat minta perlengkapan barang.. Tapi yang ikhwan lagi pada gak ada.. Barangnya butuh cepat disediakan.. Jadi Fitri yang beli barang itu.. Sekarang dia mungkin lagi di jalan..” ucapnya.
“Beli barang di mana memang..?” tanyaku.
“Di sebelah pasar, Kak..” jawabnya. Aku agak kaget. Tempat itu lumayan jauh.
“Naik motor..? Sama siapa..?” lanjutku.
“Iya kak.. Sendiri..”
Degg. Aku agak tersentak kaget. Seingatku Fitri belum sepenuhnya mampu mengendarai sepeda motor. Hatiku berdebar, khawatir terjadi apa-apa dengan adikku itu.
“Kenapa tidak ada yang nemenin..? Memangnya Fitri sudah bisa naik motor..?” tanyaku dengan nada yang agak naik.
“Aduh.. emm.. Saya gak tahu kak.. Tadi samasekali gak ada siapa-siapa.. Itu juga Fitri yang nawarin kok..”
Aku hanya bisa terdiam. Dalam hatiku aku berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan kepada adikku itu. Tiba-tiba handphoneku berdering. Dari Fitri.
“Assalamu’alaykum..” ucapku.
Halo.. Halo..!” terdengar suara bapak-bapak. Aku tergugup.
“I… Iya.. Ini siapa..?” jawabku.
Ini benar kakaknya… Hei, siapa tadi namanya..?” terdengar ia tengah bicara dengan orang lain. “Kakaknya Fitri..?” lanjutnya.
“I.. Iya benar, Pak.. Anda siapa..?” jawabku.
Fitri kecelakaan, nak..! Sekarang kami tengah membawanya menuju Rumah Sakit Umum.. Tampaknya dia butuh perawaa……….” tiba-tiba suaranya putus. Tampaknya handphone Fitri mati.
“Pakk.. Pak..?! Halo..?!” ucapku setengah berteriak. Aku sangat kaget. Hatiku bingung. Apakah tadi itu informasi yang benar, atau tidak. Aku masih bingung. Seperti tersambar petir.
“Adi..! Antum bawa motor..?” tanyaku sejenak kemudian.
“Ba.. Bawa.. Kak..” jawab Adi. Dia tampak bingung.
“Ana pinjam sebentar..! Fitri kecelakaan..!” ucapku.
“Astagfirullah..!!” ucap Adi dan Rani bersamaan. “Dii.. Dimana, kak..?” ucap Adi seraya memberikan kunci motornya.
“Di Rumah Sakit Umum.. Jazakallah ya..!” ucapku seraya berlari menuju motor Adi. Sejurus kemudian aku melaju menembus angin sore hari ini. Hari yang sangat membingungkanku. Sangat mengagetkan.
Aku melaju dengan kecepatan tinggi. Kulewati mobil-mobil yang memenuhi jalan raya. Tiba-tiba sebuah motor yang juga melaju dengan kecepatan tinggi berpapasan denganku. Hampir terjadi tabrakan. Aku terjatuh. Sedangkan motor yang hampir menabrakku tidak. Orang yang mengendarai motor itu malah melaju dengan lebih kencang meninggalkanku. Tangan kiriku mengucurkan darah segar yang sangat banyak. Tanpa memperdulikannya, segera aku meraih motor Adi itu kemudian melanjutkan perjalananku. Aku tidak perduli dengan saran orang-orang untuk tidak berangkat dulu.
Setibanya aku di Rumah Sakit Umum, aku segera menuju ruang resepsionis. Aku bertanya tentang data seorang perempuan yang baru kecelakaan.
“Ada tidak, Mbak..? Ayo cepat..” ucapku.
“Ada, mas.. Ini, atas nama… Fitri..?” ucap petugas resepsionis kepadaku. Aku lemas. Ternyata yang tadi itu benar.
“Iya, mbak..! Fitri..! Di mana ruangannya..?” ucapku.
“Di ruang UGD nomor 22, Mas..”
Segera aku berlari menuju ruangan tersebut. Aku sudah beberapa kali mengunjungi temanku yang di rawat di Rumah Sakit ini. Sehingga aku agak hafal ruang-ruang yang ada di Rumah Sakit ini.
Aku sampai di ruang nomor 22. Kubuka pintu, dan....
“Maaf, pak.. Anda jangan dulu masuk ke ruangan.. Pasien tengah dalam perawatan khusus..” ucap seorang perawat kepadaku. Aku berontak.
“Saya kakaknya, Mbak..! Saya Kakaknya..!!!!” ucapku.
“Iya, mas.. kami paham.. Tolong tunggu di luar, agar perawatan bisa berjalan dengan baik..!” ucapnya lebih tegas.
Aku menyadari kekeliruanku. Segera aku beranjak menuju ke luar ruangan. Terduduk di ruang tunggu. Aku terus berdoa. Semoga Fitri baik-baik saja.
Tidak lama, datang Dena bersama dengan Rani. Mereka berlari ke arahku.
“Fahri..!! Bagaimana keadaan Fitri..?!” ucap Dena dengan nada yang agak tinggi.
Aku mencoba berdiri. Namun tiba-tiba ruangan gelap. Aku pingsan. Entahlah, mungkin darah yang keluar dari tanganku cukup banyak. Aku pingsan.
***
“Kakak… Kakak… Bangun, Kak.. Ini Fitri…” terdengar sebuah suara lembut yang memberiku kekuatan untuk bangun dari lelapku. Tak berapa lama, aku mencoba perlahan membuka mataku.
“Kakak.. Alhamdulillah, kakak sudah bangun.. Tadi kakak kecapean.. Darah kakak juga banyak keluar.. Alhamdulillah sekarang sudah sadar..” ucap Fitri. Di sekitarnya bercahaya. Wajahnya juga tampak agak tidak jelas. Aku tidak mampu berkata apa-apa.
“Kakak.. Fitri hanya ingin mengucapkan terima kasih, Kak.. Kakak udah menjadi kakak terbaik yang Fitri punya.. Kakak tidak letih membina Fitri hingga hari ini Fitri bisa jadi seperti ini..” ucapnya.
“Kak, Fitri cinta sama Kakak..!!” ucapnya. Aku menangis. Entah kenapa.
***
Aku terbangun. Aku melihat di sekitarku, semua tampak asing. Namun rasanya aku pernah melihat suasana seperti ini. Oh. Aku baru mengingatnya. Ini adalah ruang tunggu pribadi yang ada di ruang rawat UGD. Aku pernah melihat tempat ini ketika guruku sakit beberapa bulan yang lalu. Aku menjenguknya.
Aku coba gerakkan tubuhku. Tanganku yang sebelah kiri terasa sakit. Sangat sulit aku gerakkan. Aku coba angkat tubuhku dengan menopang pada tangan kananku. Aku merasa sangat lemas. Aku terbaring lagi di sofa tempat aku tertidur tadi.
“Eh, antum jangan dulu terlalu banyak gerak, Akh..” ucap seseorang. Ternyata ada Idris. Dia sahabatku.
“Tadi antum kecapean.. Darah antum banyak yang keluar.. Tuh, tangan kiri antum ada luka sobek yang cukup besar.. Nekat sih..” ucapnya mendekat. Tangannya meraba pelipisku. Aku hanya bisa terdiam. Rasanya, masih agak lemas.
“Udah mendingan.. Tadi tubuh antum panas banget.. Sampai-sampai nangis.. Sekarang udah agak turun kayaknya Akh..” lanjutnya.
Aku mencoba meraba tangan kiriku. Memang terasa sangat sakit. Sangat sulit untuk digerakkan. Aku raba juga tubuhku. Ada jaket.
“Itu jaket Ukht Dena.. Tadi waktu antum pingsan, dia langsung obati.. Dibantu sama suster.. Nah, setelah beres, dia kasih jaketnya.. Tapi tenang, Akh.. Ana yang pakein kok.. Bukan dia..” jawabnya seolah mengerti apa yang akan aku tanyakan.
“Ris.. Fit.. Fitri gimana..?” ucapku agak tersendat.
Idris terdiam. Sejenak kemudian dia menghela nafasnya. “Dia belum sadar, kawan.. Sabar ya.. Tapi dokter bilang dia hanya sedang beristirahat.. Darahnya juga banyak keluar..” ucapnya.
Aku menghela nafasku. Kemudian aku mencoba bangkit dari posisi tidurku. Meski agak terasa sakit, aku memaksakan diriku untuk berdiri. Idris menopang tubuhku. Seolah dia tahu bahwa aku ingin bertemu dengan Fitri, dia mengantarku ke ruang rawat Fitri.
Ruangannya masih satu ruangan dengan ruanganku. Di tempat itu, aku melilhat Fitri tengah terbaring tidak berdaya. Jilbab tetap membalur tubuhnya. Di sampingnya tertidur sosok Dena. Wajahnya tampak letih. Agaknya dia telah lama menemani Fitri dalam istirahatnya.
“Hari ini hari apa, Akh..?” tanyaku setengah berbisik pada Idris.
“Hari Jum’at Akh.. Antum tertidur satu hari penuh.. Ukhti Dena menemani Fitri juga sudah seharian penuh.. Tampaknya dia keletihan..” ucapnya.
“Bibi ana di mana..?” tanyaku.
“Beliau tengah keluar, Akh.. Tenang saja.. Motor yang dikendarai antum sama Fitri sudah ana perbaiki.. Biaya rumah sakit juga tidak usah antum khawatirkan..” ucapnya. Lagi-lagi seolah dia telah paham apa yang tengah aku khawatirkan. Dia memang sahabat yang baik. “Sekarang antum cukup beristirahat, Akh.. Itu cukup buat ana.. Asal antum dan Fitri bisa sehat lagi..” lanjutnya.
“Jazakallah, Akh.. Insya Allah ana usahakan nanti ana ganti, ya..”
“Akh, antum tidak usah berpikir seperti itu dulu.. Itu urusan nanti saja.. Gampang.. Sekarang antum sehat dulu..” ucapnya.
“Jazakallah, Akh…” ucapku tersendat. Aku merasa kesulitan berbicara. Masih terasa lemas. Aku kemudian melangkahkan kakiku kemudian duduk di sebelah tempat tidur Fitri. Aku elus lembut tangannya.
“Fitri.. Kamu harus bangun, Fit..” ucapku. Aku terus membisikkan kata-kata itu di dekat telinganya.
***
Hari telah menunjukkan rona merah senjanya. Sekitar 10 menit lagi waktu Maghrib tiba. Aku bersiap untuk melaksanakan Shalat Maghrib. Aku rasa aku sudah kuat untuk melaksanakan Shalat.
Saat aku hendak berdiri, aku melihat tangan Fitri menunjukkan suatu gerakan.
“Fitri.. Fitri… Kamu sadar, Fitri..?” ucapku berbisik di telinganya.
Sejurus kemudian matanya terbuka. Aku merasa sangat bahagia. Akhirnya adikku ini mampu membuka matanya dan sadarkan diri.
“Kak.. Kakak….”
“Iya Fitri.. Alhamdulillah, kamu sudah bangun..!” ucapku setengah berteriak. Langsung mendapat respon dari Dena dan Idris yang segera datang menghampiri kami.
“Iya… Fitri udah tidur lama ya, Kak..?” ucap Fitri dengan suara yang serak.
“Iya Fit.. Kamu istirahat lama sekali.. Kakak khawatir…” ucapku. “Tapi sekarang kamu udah bangun.. Alhamdulillah..!”
Suasana hening. Air mataku tak terasa terjatuh dari mataku. Dena tersenyum haru melihatnya. Idris memegang pundakku erat. Fitri tersenyum melihat kami.
“Kak…” suara Fitri tiba-tiba memecahkan suasana.
“Ya, Fit.. Ada apa..?” jawabku.
“Subhanallah… Kakak lihat gak..? Taman itu indah sekali..” ucapnya seraya menghadap ke langit-langit ruangan tersebut. Aku menatap langit-langit dengan bingung. Tidak ada apa-apa.
“Subhanallah… Indah ya Kak..! Ada kupu-kupunya juga…” lanjutnya. Aku semakin bingung. Tidak ada apa-apa di langit-langit ruangan ini.
“Fitri senang kak… Fitri diajak terbang… Subhanallah…… Indah ya…!” ucapnya seraya terpejam.
Tiba-tiba dia berhenti berbicara. Nafasnya tidak terasa lagi. Aku gemetar. Hatiku tersentuh. Aku takut. Aku segera memeriksa denyut di lehernya. Tidak ada. Hatiku tersentak. Aku sangat kaget.
“Innalillahi…..” ucap Idris seraya menguatkan tangannya di pundakku. Aku hanya terdiam. Air mataku bermuara di ujung kelopak mataku. Dena berlinang air mata melihat sosok adik kelasnya itu. Entahlah, semua terasa sangat berat bagiku.
Aku hanya mampu merundukkan kepalaku di samping tangan Fitri. Aku sangat terpukul. Tangisku meledak di sprai kasur tempat Fitri menghembuskan nafas terakhirnya. Kini aku paham. Fitri begitu sering menyebut kalimat tasbih dalam setiap kesempatan. Aku sangat mengingat itu. Kalimat favoritnya, ‘Subhanallah… Indah ya..!’ menjadi kalimat terakhir yang dia ucapkan dalam hidupnya. Dia meninggal dalam keadaan memuji Tuhannya. Fitri.. Semoga kita mampu bertemu bersama di kerajaan syurgaNya kelak..!
(Muhfat Ali)

3 comments:

The Power Of Dreams mengatakan...

nice

Anonim mengatakan...

ini kisah nyata?

Muhfat Ali mengatakan...

bukan.. ini fiksi, tapi terinpirasi dari cerita nyata temannya kakak..

Posting Komentar