Selasa, 12 Juli 2011

Birthday Before the Day




“Fi, kamu tuh se-Fakultas sama Sischa kan..?” ucapku. Fifi adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Seingatku Sischa juga masuk ke Fakultas yang sama, di Universitas yang sama.

“Iya.. Waktu Ospek Fakultas dia menyapa waktu aku pakai baju PIRN.. Aku kira gak ada anak PIRN di Fakultasku.. Ternyata banyak.. Yang aku kenal saja hampir ada sepuluh orang.. Wah.. Wah..” jawabnya.

“Mario juga di sana, khan..?” ucap Ratna.


“Iya.. Mario, di Teknik Metalurgi.. Pas banget tuh.. Lulusnya langsung ke Bangka.. Hehe..” jawabnya.
Kami termenung sejenak. Teringat kenangan-kenangan menyenangkan itu. Selama satu pekan, kami tenggelam bersama kebersamaan anak-anak terbaik agen peneliti Indonesia. Kebersamaan dalam kamping memang selalu menyenangkan.

“Aku jadi ingat, waktu pertama kali bertemu sama teman-teman sekelompok waktu di GSG.. Waktu itu benar-benar merinding, karena akan berpetualang bersama teman-teman baru dari Indonesia..” ucap Dea. 

“Itu yang paling berkesan buat aku..” lanjutnya.

“Iya, aku juga seneng waktu pertama ketemu temen-temen kelompok di GSG waktu itu.. Kerasa banget aura semangatnya..” sambung Fifi.

“Kalau di kelompokku, aku biasa disebut ‘Ninja Assasin’..!” ucap Nuri. “Soalnya aku sering banget menghilang tanpa jejak.. Padahal shalat aku teh..” jelasnya. Kami tertawa.

“Gak ada salahnya bilang-bilang dulu, tho..?” ucapku.

“Kalau yang paling berkesan buatku, waktu lagi nyusun makalah di tenda depan GSG..” ucap Ratna. “Waktu itu tiba-tiba hujan besar.. Kita panik, soalnya laptopnya pada gak pake baju.. Langsung aja reflek karpet tenda tuh dipake paying buat kita ke GSG.. Eh, waktu lari-lari sendalku ketinggalan.. Jadi we aku ditinggal dan kebasahan sendiri..” lanjutnya. Kami tergelak.

“Polos tu da.. Kamu mah.. Hahaha..” ucap Fifi. Kami tertawa. Huft. Rasanya momen kala itu jadi sangat jelas terekam.

“Kalau kamu yang paling berkesan apa, Fath..?” tanya Fiena. Aku tersenyum. Teringat momen yang sangat indah kala aku dikerjai oleh teman-teman sekelompokku.

“Fathir mah waktu dibanjur sama temen-temennya ya..!” potong Fifi. Tepat, pikirku.

---

Hari itu adalah hari ketiga kegiatan kami. Kemarin kelompok IPSK baru saja menyelesaikan survey lapangan ke Kampung Jawa. Kemarin kami baru saja menyelesaikan pengumpulan data melalui kuesioner yang telah kami susun. Hasilnya cukup menarik.

Di Kampung Jawa tersebut ada sekitar 20 kolong bekas penambangan timah. Hanya dua kolong saja yang sudah dimanfaatkan sebagai kolam ikan oleh pemiliknya. Setelah melakukan survey terhadap para pemilik kolong, ternyata kendala utama mereka bukanlah pengetahuan, kemampuan mengelola kolong, atau jenis air pada kolong yang tidak cocok. Tapi yang menjadi permasalahan utama bagi mereka tidak mengelola kolong tersebut adalah ketersediaan modal.

Kami telah mewawancarai sekitar delapan belas pemilik kolong di desa tersebut. Hari ini kami akan berangkat lagi untuk melengkapi data kami. Kami akan mewawancarai dua orang lagi.

Sebenarnya tidak diagendakan untuk ke lokasi penelitian hari ini. Hari ini jadwalnya anak-anak IPA untuk meneliti ke lokasi penelitian. Tapi karena survey kelompok kami belum selesai, akhirnya kami diizinkan untuk ikut ke lokasi penelitian bersama anak-anak IPA. Tapi hanya boleh dua orang saja yang ikut.

“Ya sudah, biar aku saja yang ke tempat penelitian lagi.. Kalian di sini kerjakan saja yang sesuai dengan tugas kalian kemarin ya..” ucapku. Kemarin kami telah membagi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan kami. Dalam makalah, ada tiga Bab. Nah, ketiga Bab itu aku serahkan kepada sepuluh orang teman-temanku. Mulai dari kata pengantar hingga daftar pustaka. Sedangkan aku bertugas mengurusi data presentasi sendirian.

“Ya Kak, biar aku temani.. Siapa tau nanti kakak bingung dengan bahasa Bangka.. Hehe..” ucap Pram.
Akhirnya aku dan Pram berangkat bersama teman-teman peneliti IPA ke lokasi penelitian, Desa Kampung Jawa.

Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja untuk menyelesaikan tugas ini. Setelah melengkapi data yang kami butuhkan, kami berdua beristirahat. Walaupun kami sudah selesai, kami harus menunggu teman-teman IPA selesai untuk kembali ke lokasi asrama. Kami berangkat dengan bis satu rombongan. Jadi harus menunggu yang lain juga.

“Kak, aku punya satu tempat bagus.. Ke sana yuk..! Sambil menunggu teman-teman IPA.. Ayo..!” ucap Pram.

Aku dibawa Pram ke sebuah tempat yang penuh dengan pohon rindang. Dan di hadapan kami ada pasir-pasir putih bekas penambangan timah yang sangat indah. Dilengkapi dengan anak-anak kecil yang bermain bola di atas pasir putih tersebut, di bawah langit Bangka yang membiru indah dan sangat cerah. Suasana yang menyenangkan. Aku dan Pram duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Terik matahari tak terlalu banyak menembus pohon tersebut, sehingga sejuk tetap terasa.

“Pram, di Bangka ini indah sekali ya..” ucapku seraya merebahkan diriku di atas tumpukan pasir putih yang hangat.

“Iya dong Kak.. Di sini tu la ade yang namanya gedung-gedung bertingkat gede-gede kayak yang di Jakarte tu.. Asri tenan.. Hehe..” jawabnya polos.

“Ah, kamu juga akan terpesona kalau datang ke Tasikmalaya.. Di Tasikmalaya banyak spot yang tak kalah indah dengan di sini..” ucapku. Tapi Bangka memang memberikan kesan yang mendalam, pikirku.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Menikmati pemandangan sambil menonton anak-anak Bangka bermain bola membuat kami nyaman berada di tempat tersebut. Hingga akhirnya Sischa mengirimkan SMS kepada kami untuk segera kembali ke tempat awal kami berkumpul. Sebentar lagi rombongan akan kembali ke asrama.

Tiba di asrama, aku dan Pram beranjak ke mushala. Kami melaksanakan Shalat Dzuhur yang terlewat ketika berada di perjalanan. Setelah Shalat, kami langsung beranjak ke tenda di depan GSG. Katanya teman-teman kelompok kami sedang bekerja di sana.

“Halo semua.. Ini, datanya sudah selesai kami kumpulkan..” ucapku kepada semuanya.

“Okee.. Sekarang kita kumpulin semua data.. Lengkapi dengan menafsirkan data yang ini..” ucap Akbar.

“Tapi data yang kemarin dimana..?” tanya Vinny.

“Dipegang Fadilla kan..?”

Semua terdiam dan menatap Fadilla.

“Aduuh.. Lupa..! Aku taruh dimana ya..? mungkin di kamar.. Aku cari dulu deh ya..” ucapnya.

Kami terdiam. Teman-teman sepertinya sedang tidak mood untuk mengerjakan tugas ini. Tias dan Vinny asik dengan kipas USB-nya. Akbar dan Febri asik dengan game di laptop mereka. Siti mencari-cari dokumen yang entah apa. Tajnaz malah telpon-telponan dengan entah siapa. Tari membaca buku kisah-kisah legenda Bangka Belitung.

“Eh, si kecil Yohanna dimana..?” ucapku. Tidak ada yang menjawab.

“Hee.. Ditanya tu.. mana si Yohanna..?” ulang Pram.

“Aduuh.. Pram nanya-nanya Yohana.. Kenapa Pram..? Kangen ya..? Hahaha..” ucap Tari yang disambut gelak tawa semuanya. Aku hanya tersenyum geli. Ah, teman-teman ini ada-ada saja.

“Aduh-aduh.. Eenak aja.. Aku ma ngulang ape Kak Fathir tanya la…” tapi semua tetap tertawa geli. “Ah, gara-gara kau nih Kak.. Aku ke WC dulu..!” ucapnya kepadaku. Apa hubungannya dia mau ke WC – gara gara aku – ..?

“Si Yohanna itu gak tau lagi kemana.. Aku cari dulu deh ya..” ucap Siti. Dia pun pergi.

Kini hanya tinggal aku, Akbar, Febri, Tias, Vinny, Tari, dan… Nah lho! Tajnaz yang tengah menelpon seseorang semakin lama semakin jauh jalan-jalan. Aduuh..

Aku menghela nafas. Ada yang tidak beres, nih, pikirku. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan tugasku : materi presentasi.

“Aku ke kamar ya.. Kalian selesaikan saja tugas kalian masing-masing.. Aku mau membuat slide buat presentasi nanti.. Oke..! Assalamu’alaykum..” ucapku seraya beranjak meninggalkan mereka. Aku masuk ke kamar dan fokus untuk membuat slide presentasi.

Belum lama aku bekerja di kamar, sebuah SMS masuk. Dari Siti.

PIRN Siti
Fathir, kesini dong! Yohana gak ada.. Gak tau ke mana.. Data-data yang kemarin juga hilang kata Fadilla. Kita bingung nih. Makalah belum satupun selesai kita kerjakan. Kita butuh kamu. Kamu kan ketuanya.. Gimana sih?

Aku merengut. Kan kemarin sudah bagi-bagi tugas. Gimana sih? Lalu aku mengirim SMS balasan.

Iya sebentar, ak lagi ngerjain tugasku yang presentasi itu. Lagipula knapa mkalah blum satu pun dikerjain? Kan kmarin udah dibagi-bagi tugasnya..
Kirim.

Sejenak kemudian Siti malah menelponku. Mereka terus memaksaku untuk datang ke tempat tadi. Bahkan Pram datang ke kamarku untuk mengajakku ke tempat tadi. Akhirnya, aku kembali ke tempat kelompokku.

“Ayo.. Kenapa belum selesai datanya..? Kenapa belum dikerjain..?” tanyaku.

“Iya, datanya baru ketemu tadi.. Aku kira hilang.. Maaf ya Pak Ketu….” Ucap Fadilla.

“Tapi kan bisa kerjain yang lain dulu.. Bab satu misalnya.. Itu kan gak butuh data-data tadi..” lanjutku.

“Eh, Fath.. Aku pinjam dulu laptopmu.. Aku mau mencari data buat di latar belakang.. Itu kan tugasku? Laptopku mati dari tadi dipakai main game..” ucap Akbar. Polos banget nih orang. Bukannya dari tadi!, batinku. Akhirnya aku meminjamkan netbook-ku kepada Akbar.

“Yohanna belum ada..?” ucapku.

“Belum Fath.. Coba aku pinjam Handphone-mu deh.. Aku gak punya nomornya Yohanna..” ucap Siti. “Aku mau menelponnya..” lanjutnya. Aku pun memberikan handphoneku kepada Siti. Dan……

Byuurr..!!

Tias membanjurku dengan air yang tadi (kayaknya) sedang dia minum. Diikuti dengan teman-teman yang lain yang sudah menyiapkan amunisi mereka. Akbar dan Siti agak menjauh karena membawa barang elektronikku. Segera aku beranjak mundur menjauh dari tempat dudukku. Ternyata di belakang sudah ada Yohanna dengan tiga buah plastik berisi air. Plastik-plastik itu dilemparkannya kepadaku. Habislah aku.

Setelah mereka puas membanjurku dengan air, mereka bernyanyi :
 
Slamat ulang tahuun.. Slamat ulang tahun.. Slamat ulang tahun Fathir.. Slamat ulang tahun..!”
Ulang tahun? Siapa yang ulang tahun?, pikirku. Sejenak kemudian terlintas kata-kata Sarah, peserta dari Jakarta. Wah, bisa-bisa kamu dikerjain sebelum ulang tahun sebenarnya nih.

Aku teringat buku data peserta dari panitia PIRN. 30 Juni 2010. Salah cetak yang membuatku harus dibanjur oleh teman-temanku.

“Bukan hari ini, cuy..! Aduuuh.. Yang di buku PIRN itu salah cetak..! Harusnya 30-07-2010, malah ditulis 30-06-2010.. Aduuh.. Kalian salah waktuu….” Ucapku kepada mereka.

“Ah.. Yang bener, Fath..? Bohong kau..” ucap Akbar.

“Beuuh.. Kagak percaya lagi.. Nih, lihat aja kartu pelajarku…” ucapku seraya menyodorkan kartu pelajarku kepada mereka. Mereka hanya tersenyum nakal. Seperti seorang anak yang ingin meminta maaf kepada orangtuanya karena kekonyolannya.

“Eh.. Eumm.. Hehehehe.. Maaf, Fath..” ucap Siti.

“Tt.. Tap.. Tapi.. Bulan depan kan kita gak bisa banjur dia..! Jadi sekarang aja..! Ayoo..!!” sengit Tajnaz. Akhirnya aku dibanjurnya lagi. Ah, meskipun salah waktu, tapi itulah yang menjadi kenangan terindah di Bangka bagiku. Birthday before the day…

***

2 comments:

Posting Komentar