Selasa, 12 Juli 2011

Chapter 10 - Jum'at Bahagia



Jum’at, 2 Juli 2010. Hari ini adalah kegiatan terakhir dari rangkaian kegiatan penelitian kami di negeri Laskar Pelangi. Sungguh pemadatan yang luar biasa. Aku sendiri tidak percaya bisa menyelesaikan satu penelitian hanya dalam kurun waktu kurang dari satu pekan saja.

Hari pertama masih kuingat kami mendapatkan pemadatan materi dari Pak Karni. Hanya sekitar dua jam saja. Malamnya langsung menentukan tema. Esok harinya, langsung menyusun kuesioner dan langsung pula mengumpulkan data. Dua hari selanjutnya digunakan untuk penafsiran data kuesioner dan penyusunan laporan, serta membuat tayangan presentasi. Dan hari ini, adalah rangkaian terakhir dari kegiatan sebuah penelitian : presentasi. Setelah melakukan presentasi, penelitian-penelitian yang berguna dan baik akan dipublikasikan agar bisa berguna bagi masyarakat atau lingkungan sosial.


Itu sebenarnya salah satu tujuan dari diadakannya kegiatan penelitian remaja ini. Terkadang ide-ide segar lebih mudah datang dari otak-otak segar para remaja. Untuk itulah, diadakan kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional ini. Selain mengembangkan minat dan bakat para remaja di dunia penelitian, kegiatan ini juga bertujuan menyaring potensi-potensi yang mungkin belum mereka gali sebelumnya. Jadi, tuan rumah bisa mendapatkan manfaat yang besar dari kegiatan ini.

Hari ini presentasi hasil penelitian dilaksanakan dengan sistem diskusi. Setelah satu kelompok menyelesaikan hasil penelitiannya, para peneliti dari kelompok lain berhak untuk mengajukan pertanyaan seputar penelitian tersebut.

Kelompok Herodotus kami kebagian presentasi nomor tiga. Dan aku menjadi satu-satunya pembicara yang mewakili kelompok kami. Ah, dasar memang teman-temanku. Mereka langsung saja menunjukku untuk menjadi pembicara dalam presentasi penelitian ini. “Kan presentasinya juga kamu yang buat.. Jadi kamu yang lebih paham.. Hehehe..” ucap mereka.

Sebenarnya yang lebih menguasai konteks penelitian adalah Akbar dan Siti. Tapi mereka tidak mau menjadi pembicara. Alasannya, aku dianggap lebih mahir berkomunikasi di depan umum. Mereka memang agak pemalu.

Aku sendiri masih merasa waswas. Memang aku pernah beberapa kali tampil di depan publik. Berbicara di depan mereka. Bahkan di sekolah, aku sering sekali tampil. Baik itu menjadi MC, maupun memberi sedikit tausyah pendek. Tapi ini berbeda. Yang aku hadapi sekarang adalah anak-anak perwakilan daerah di seluruh Indonesia. Wah wah.

Tapi dengan membaca basmalah, aku kuatkan hatiku untuk terus melaju. Gimana nanti mau jadi trainer yang baik kalau begini aja takut?, tegasku dalam hati. Aku memang berharap menjadi seorang trainer. Karena aku senang mengikuti training dan melihat gaya-gaya trainer berbicara.

Saatnya tiba. Kelompok kedua telah selesai mempresentasikan hasil penelitian mereka. Kelompok Herodotus dipanggil. Kami semua beranjak dari tempat duduk kami menuju ke tempat presentasi. Teman-temanku duduk siap di belakangku. Aku sendiri mengambil mikrofon, seraya membuka tayangan presentasi buatanku.

“Bismillahirrahmanirrahim..”

“Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh..” sapaku. Seluruh peserta menjawab salamku.

“Insya Allah pada kesempatan kali ini kami akan mempresentasikan hasil penelitian kami tentang prilaku sosial masyarakat Kampung Jawa di Desa Aer Duren, terkait dengan pemanfaatan kolong-kolong di daerah tersebut sebagai sumber budidaya ikan..

Sebelumnya, kami akan memperkenalkan kelompok kami dulu, yaitu kelompok Herodotus..” ucapku seraya memperkenalkan anggota Herodotus satu persatu.

“Baik, kita lanjut ke penelitian. Dasar dari kami mengadakan penelitian ini adalah kami menemukan fakta bahwa kolong-kolong di Bangka Belitung, khususnya di Daerah Desa Aer Duren, memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan daripada sekedar menjadi limbah setelah penambangan timah. Hanya saja potensi tersebut tidak dimanfaatkan dengan optimal baik oleh masyarakat setempat maupun pemerintah..”

Presentasiku berlanjut dengan cukup ramai. Aku sengaja tidak membuat suasana menjadi baku dan beku, tapi cair dan mengalir. Beberapa gelak tawa menghiasi presentasi kelompokku.

“Baik, sekian presentasi yang bisa kami berikan hingga saat ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Sesi selanjutnya, seperti biasa, kami menerima dua pertanyaan dari teman-teman. Silahkan…” ucapku. Banyak sekali tangan yang mengacung. Hampir dua puluh, mungkin. Entahlah, mungkin karena aku yang terlalu ramai sehingga menjadi perhatian mereka, atau mungkin karena kelemahan dari penelitian kami ini. Tapi yang pasti, aku senang jika ditanya.

“Wow.. Wow.. Banyak sekali ya yang ingin bertanya.. Ini bagaimana, Pak..?” tanyaku kepada Pak Karni yang berlaku sebagai pemimpin presentasi secara keseluruhan.

“Dua saja.. Yang lain nanti tidak kebagian..” ucapnya seraya tersenyum.

Akhirnya kami menerima dua pertanyaan. Dan kami menjawabnya dengan cukup memuaskan. Aku sengaja tidak menjawab satupun pertanyaan mereka. Aku membiarkan teman-teman sekelompokku yang menjawabnya.

Akhirnya presentasi selesai. Total ada sepuluh kelompok yang melakukan presentasi di kelas IPSK hari ini. Kami selesai melakukan semua presentasi sebelum Dzuhur.

“Terimakasih kepada kawan-kawan atas semua kerjasamanya selama ini.. Hasil pengumuman penelitian terbaik akan diumumkan pada malam hari nanti, di upacara penutupan kegiatan.. Tidak terasa waktu sudah memaksa kita untuk mengakhiri pertemuan kita.. Dalam kegiatan presentasi ini, maupun kegiatan PIRN secara keseluruhan.. Kami memohon maaf jika ternyata dalam pelaksanaannya masih terdapat keterbatasan kami.. Kami senang bertemu kalian, teruslah berkarya! Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh..” ucap Pak Karni di ujung acara presentasi hari itu.

Aku gemetar mendengarnya. Merinding. Tak terasa telah menghabiskan waktu selama satu pekan di Bangka ini. Satu pekan yang sungguh tidak akan terlupakan. Lebih merinding lagi ketika aku harus menutup pertemuan terakhir secara formal di kelompokku. Herodotus yang menyenangkan.

“Teman-teman.. Terimakasih buat semuanya.. Alhamdulillah tadi kita sukses presentasinya.. Semoga kita tetap bisa terus berkarya, dan terus mengingat satu dengan yang lainnya.. Semangat, Herodotus..!” ucapku.

“Hebat, Proaktif, Dominan, Seratus Persen..!! Hahaha…” kami tersentuh dengan tawa kami yang menyenangkan. Sungguh satu pekan yang indah bersama Herodotus.

“Oh iya, terimakasih juga buat Sischa, yang sabar menjadi pendamping kita.. Kamu juga bagian Herodotus, Sis..!” lanjutku.

“Ya.. Sama-sama.. Aku senang bertemu kalian semua.. Tetap semangat, ya..!” jawabnya.

Kami mengabadikan momen tersebut dengan mengambil gambar bersama. Sangat menyentuh. Terimakasih, Herodotus!

***

 Malam ini akan diadakan upacara perpisahan dan penutupan kegiatan PIRN IX Bangka-Belitung ini. Setelah satu pekan indah, satu pekan penuh petualangan, satu pekan penuh ilmu, satu pekan penuh kebahagiaan, kami berada di penghujung kegiatan. Sungguh sangat sedih menghadapinya.

Upacara penutupan akan dilaksanakan di rumah dinas Bupati Kabupaten Bangka, untuk kemudian kembali ke aula SMA 1 Pemali untuk kegiatan perpisahan. Perpisahan yang tentu sangat tidak akan terlupakan.
Ba’da Magrib, kami berangkat. Beberapa bus berkumpul di daerah lintasan parkir asrama SMA 1 Pemali. Bus-bus tersebut akan membawa seluruh peserta PIRN ke rumah dinas Bupati Kabupaten Bangka malam ini.
Aku menaiki bus bersama teman-teman Astra Satu-ku. Awalnya astra satu akan ada beberapa orang yang pindah ke bus lain, karena tidak cukup. Tapi kami dengan ngotot memaksa agar kami tetap pada satu bus. Akhirnya beberapa orang, termasuk aku, terpaksa berdiri selama perjalanan. Tapi dasar anak-anak itu. Melihat kami bernasib harus berdiri, mereka ikut-ikutan berdiri sepanjang perjalanan. “Biar solid..!!” ucap Miguel. Ckckck.

Dengan mereka, suasana bus mini tersebut menjadi sangat ramai. Sangat menyenangkan. Bahkan supir kami ajak bercanda. Ricuh pokoknya.

“Rumah dinas bupati itu sangat dekat dengan rumah pamanku, lho Fath..” ucap Mario kepadaku.

“Oh gitu, kamu pulang dulu dong Mar..?” balasku.

“Gak tau deh.. Mungkin orangtuaku yang akan datang ke Rumah Dinas itu.. Rumah pamanku hanya sekitar 50 meter dari Rumah Dinas Bupati itu..”

“Wah, kapan-kapan boleh dong main.. Hehehe..” ucapku.

“Boleh banget laa.. Apa sih yang enggak buat kalian..? hehehe..” jawabnya. Ah, aku sangat bersyukur bisa bergabung bersama teman-teman Astra Satu! Terima kasih, ya Allah..!

Rute perjalanan kami hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja. Jam setengah tujuh kami sudah berada di lokasi Rumah Dinas Bupati. Cukup megah. Aku dan teman-teman Astra Satu berjalan bersama-sama.

Acara penutupan dimulai secara formal. Sambutan demi sambutan hadir dari tuan rumah, penyelenggara, serta perwakilan peserta. Acara itu tidak terlalu khusyuk kami ikuti. Aku dan anak-anak Astra Satu malah asyik bercanda sendiri, seraya menahan tawa kami. Ah, lucunya.

Setelah acara resmi, kami memenuhi kebutuhan perut kami dulu. Makanan yang tersaji dengan cepat disantap anak-anak kelaparan ini (hehe). Kami menyantap sajian tersebut seraya menonton pertandingan Piala Dunia, pada laga Brazil versus Belanda. Kebersamaan yang indah.

Handphoneku berdering. Ada SMS dari Pak Shalih.

Amq Pak Shalih
“Fath, sekarang kita coba wawancara Sekretaris LIPI.. Oke..?”

Aku kemudian meninggalkan teman-teman Astra Satu dan mencari Dea, Fifi, Nuri, Ratna, dan Fiena. Mungkin Pak Shalih belum memberitahu mereka. Akhirnya aku bertemu dengan mereka di salah satu sudut panggung. Mereka sedang asik mendokumentasikan kegiatan-kegiatan penutupan tersebut dengan kamera Dea.

Hei barudak.. Hehe.. Kalian dapat SMS dari Pak Shalih..?” ucapku.

“Nggak.. SMS apaan..?” ucap Fifi.

“Dapet aku.. Kita disuruh wawancara Sekretaris LIPI sekarang kan ya..?” ucap Fiena.

“Iya.. Pak Shalihnya dimana ya..?” jawabku.

Pandangan kami menyapu seluruh ruangan. Dan akhirnya kami menangkap sosok Pak Shalih di sebelah timur layar. Kami mengikutinya.

Kami bertemu dengan Sekretaris Utama LIPI dan berbincang sejenak dengan beliau. Suasana agak santai, sehingga kami bisa leluasa mewawancarai beliau. Kami banyak bertanya kepada beliau. Mulai dari sejarah-sejarah PIRN, tujuan diadakan PIRN, langkah lanjutan setelah PIRN, hingga cara mengajukan tempat diselenggarakannya PIRN.

Topik terakhir paling banyak kami tanyakan. Pengajuan tempat diselenggarakannya PIRN. Sebenarnya hal itu biasanya menjadi urusan tim LIPI. Hingga tahun ini, Bangka mengajukan diri sebagai tempat diselenggarakannya PIRN ini. hal ini berkorelasi dengan program Pemerintah Provinsi Bangka untuk menyukseskan Visit Bangka 2010. Juga untuk mempromosikan Universitas Negeri Bangka, yang baru saja menjadi Perguruan Tinggi Negeri.

Keasyikan ngobrol, kami sampai lupa pulang. Kami tertinggal beberapa bus. Rombongan kami masing-masing sudah berangkat duluan. Untung saja masih ada bus terakhir yang akan menjemput beberapa peserta lainnya.

Kami kembali ke kompleks asrama SMA 1 Pemali. Rasa letih sudah menyergap diri ini. Tapi ternyata rangkaian kegiatan belum berakhir. Ada acara informal untuk perpisahan seluruh peserta PIRN. Dengan langkah yang berat aku berjalan menuju ruangan Aula.

Namun agaknya rasa letihku itu terobati. Sangat terobati dengan suasana yang aku lihat ketika masuk ke gedung aula. Anak-anak Indonesia berkumpul berpadu dalam sebuah ruangan. Tempat sudah diatur agar seluruh peserta duduk lesehan. Menyenangkan!

Acara perpisahan di malam penutupan yang sangat berkesan. Berkumpul bersama dalam satu ruangan, menjadi satu identitas : anak Indonesia. Dibuka dengan sebuah lagu bertema Indonesia, suasana meriah dan hangat tercipta. Terlebih ketika mulai dinyanyikan lagu daerah masing-masing.

Mulai dari Aceh hingga Papua, kami menyanyikan lagu daerah masing-masing provinsi. Setiap delegasi provinsi bersangkutan maju ke depan dan menjadi pemimpin yang lain dalam menyanyikan lagu daerah tersebut. Meskipun aku banyak tidak mengetahui dan mengerti lagu-lagu daerah tersebut, tapi suasana hangat dan meriah itu membuat aku menerima semua itu dengan sangat menyenangkan. Penerimaan yang indah.

Meskipun aku tidak mengerti bahasa-bahasa daerah masing-masing, tetapi aku tetap menyanyi bersama yang lainnya. Dan nyanyian itu memberikan rasa yang indah di dalam hati. Aku seolah mengerti bahwa inilah Indonesiaku. Inilah kebersamaan itu. Pengertian yang tulus.

Provinsi demi provinsi menyanyikan lagu-lagu daerahnya masing-masing. Ketika lagu diputar lagu daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, lebih dari separuh dari keseluruhan peserta berdiri. Memang, peserta PIRN ke IX ini paling banyak dari Provinsi Bangka Belitung. Maklum, tuan rumah.

“Jawa Barat..!!!”

Tiba akhirnya MC memanggil Provinsi Jawa Barat. Aku kira akan diputar lagu ‘Manuk Dadali’. Aku cukup hafal lagu itu. Tapi ternyata lagu yang diputar adalah lagu ‘Tokecang’. Waduh… Aku belum begitu hafal lagu Tokecang itu. Paling-paling hanya reff-nya saja. Akhirnya aku urungkan niatku untuk mengambil mikrofon. Yang bernyanyi adalah Fifi, dan seorang MC yang ternyata berasal dari tanah Pasundan. Dia tampak lebih hafal dariku. Aku malu sendiri jadinya. Hehehe.

Saat lagu daerah Provinsi Papua dinyanyikan, seluruh peserta berdiri. Ya, kami sangat kagum dan menghormati delegasi terjauh tersebut. Semua berdiri dan bernyanyi. Kami terlarut dalam kebahagiaan dan kebersamaan itu.

Aku teringat bahwa aku belum shalat Isya. Lantas aku beranjak dari ruangan aula menuju ke arah mushala yang tidak terlampau jauh. Kemudian aku mendirikan Shalat Isya dengan syahdu. Setelah menyelesaikan shalat Isya-ku, aku beranjak kembali ke gedung aula.

Setibanya aku di aula, keramaian masih berlanjut. Kabarnya selama aku shalat tadi seluruh anak-anak PIRN memberi hadiah kejutan Ulang Tahun untuk salah seorang peserta. Wah, sangat hebat. Ulang tahun yang pasti tidak akan pernah dia lupakan. Sebagaimana aku tidak akan pernah melupakan ‘Ulang Tahun’-ku di Bangka.

Setelah kegiatan bernyanyi lagu daerah bersama-sama, acara kegiatan diserahkan kepada pentas kreasi para peserta. Ada yang menyanyikan lagu seraya memainkan gitar, ada yang memainkan lagu acapella, ada juga yang membacakan puisi. Ya, memang kualitas yang ada tidak terlampau baik seperti seorang professional. Namun kebersamaan yang kami rasakan kala itu yang sangat berharga. Suara-suara cempreng terdengar, disertai suara-suara fals dan dilengkapi dengan tawa dari teman-teman lainnya. Itulah yang sangat berharga. Sangat teringat, takkan terlupa.

Puncak pertama kebahagiaanku dalam acara itu tiba, ketika Miguel berinsiatif mengajak seluruh member Astra Satu untuk bernyanyi bersama-sama di depan semuanya. Sontak anak-anak ricuh, ramai, dan menyenangkan itu menguasai panggung. Aku terlarut bersama kebahagiaan yang sangat jelas dari wajah mereka. Memberiku sebuah pemahaman tentang arti kebersamaan, arti toleransi, dan arti kebahagiaan. Pemahaman yang benar.

“Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga.. Bersyukurlah pada Yang Kuasa.. Cinta kita di dunia, Selamanya..!”

Sorak sorai peserta lainnya terdengar ketika kami selesai menyanyikan lagu ‘Laskar Pelangi’-nya Nidji bersama-sama. Suara kami tidak bagus. Tapi kebersamaan kami, itu yang aku jamin sangat menyenangkan. Dan kebersamaan itulah yang kami ingin bagikan pada penampilan kami kala itu. Kami ingin berbagi tentang rasa kebersamaan ini, tentang kebahagiaan ini, tentang indahnya takdir ini kepada semua peserta. Dan agaknya itu berkorelasi dengan apa yang semua tangkap. Entahlah, aku sendiri merasakan sangat merinding ketika itu. Bulu romaku berdiri, seiring dengan senyumku yang lebar dan air mataku yang hampir bermuara. Sungguh sangat indah.

Kebahagiaan itu terulang ketika seluruh peserta PIRN menyanyikan lagu yang sama, seraya membuka lagi memoar indah itu melalui frame. Gambar-gambar ajaib yang merangkum kegiatan seluruh peserta selama satu pekan itu diperlihatkan. Tawa dan canda mengiringinya, bersama dengan suara-suara yang mengumandangkan lagu Laskar Pelangi.

Sulit menggambarkan perasaanku kala itu. Antara kebahagiaan dan tangisan. Antara air mata yang bermuara bersama dengan tawa. Dan akhirnya air mata itu benar turun, di penghujung acara. Renungan bersama sekaligus do’a dengan pilihan kata yang sangat menyentuh. Kami berangkulan tangan, seraya memejamkan mata mendengarkan seorang panitia memimpin pembacaan doa yang indah itu. Sungguh air mata itu tak dapat tertahankan ketika di akhir doa, aku dan rekan-rekan Astra Satu saling berpelukan. Memohon maaf, berharap kesetiaan persahabatan itu benar ada selamanya.

Baru saja berakhir hujan di sore ini..
Menyisakan keajaiban, kilauan indahnya pelangi..
Tak pernah terlewatkan, dan tetap mengaguminya..
Kesempatan seperti ini tak akan bisa dibeli..

Bersamamu, kuhabiskan waktu..
Senang bisa mengenal dirimu..
Rasanya semua begitu sempurna..
Sayang untuk mengakhirinya..

Melawan keterbatasan..
Walau sedikit kemungkinan..
Takkan menyerah, untuk hadapi..
Hingga sedih tak mau datang lagi…

Janganlah berganti..
Tetaplah seperti ini…....
Janganlah Berganti..
Tetaplah Seperti ini..!!

***
--End--
Terimakasih bagi agan-agan yang bersedia membaca cerita ini hingga tamat. Cerita ini berdasarkan pengalaman ane selama satu pekan di Negeri Laskar Pelangi, Bangka Belitung, dalam rangka mengikuti kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional ke IX. Cerita ini nyata, meskipun ada beberapa nama pelakunya yang diganti, dan ditambahkan beberapa bumbu kejadian tambahan agar lebih asik dibaca. Hehe..

Jazakallahu Khairan Katsira..!
Semoga saran yang antum berikan semua bisa menjadi pemicu bagi ana untuk berkarya lebih produktif dan berkualitas lagi..!

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.. ^^

0 comments:

Posting Komentar