Selasa, 12 Juli 2011

Chapter 5 - Awal Sebuah Petualangan




Momen-momen yang diabadikan dalam gambar ajaib tersebut membawa angan kami kembali pada masa itu. Itulah ajaibnya kamera. Ajaibnya memori. Ajaibnya otak kita. Semua yang telah berlalu seakan terulang lagi. Kenangan-kenangan indah seminggu di pulau Laskar Pelangi bersama anak-anak Indonesia seolah tersiar ulang di memoar kami.

Kami masih menunggu kedatangan teman-teman kami yang lainnya. Mereka masih belum tampak. Akhirnya, kami memutuskan melanjutkan imajinasi kami yang menggambarkan kembali situasi kala itu. Sungguh menyenangkan memutar luas memoar tak terlupakan tersebut.


- - -

Kala itu, aku bersama dengan Dea, Fifi, Ratna, Fiena, Nuri dan Pak Shalih tengah berdebar-debar. Laju mobil kami tak terlalu kencang. Deru suaranya pun tak membuat kami gemetar. Kami tidak dikhawatirkan oleh perjalanan kami ini. Kami berdebar karena ingin segera sampai di negeri Laskar Pelangi. Bertemu dengan para insan peneliti muda perwakilan setiap provinsi di Indonesia. Sungguh luar biasa.

Mobil APV sewaan dari Tasikmalaya itu terus melaju menembus angin di Jalan tol Cileunyi. Sementara kami menutupi kegugupan dan ketidaksabaran kami dengan membuat dokumentasi perjalanan kami. Dea membawa kameranya untuk mengabadikan momen-momen di Bangka. Kami menggunakannya sebagai sarana dokumentasi kami.

Sepanjang perjalanan, kami bergurau sehingga menimbulkan banyak tawa dan keceriaan. Membuat kami teringat akan masa ketika kami berada dalam satu ruang perjuangan dulu, Asyir Tsani. Ya, memang rombongan calon peneliti muda ke Bangka Belitung ini semua berasal dari kelas yang sama ketika kelas 10 dulu. Aku, Dea, Fifi, Fiena, Nuri dan Ratna adalah para alumni kelas 10-2.

Mobil terus melaju melewati rongga-rongga jalan. Aku melihat papan kilometer yang menunjukkan angka 100 km. Masih agak lama untuk sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Kami terus mendokumentasikan perjalanan kami ini.  Sangat menyenangkan.

Fifi eksis menjadi  reporter di perjalanan kami. Dia terus saja bercanda bersama Ratna meramaikan mobil itu. Nuri lebih memilih bernyanyi-nyanyi kecil sambil memandangi jendela. Sesekali dia menunjukkan ekspresi polosnya yang membuat semua tertawa. Mereka bertiga duduk di bagian belakang mobil.

Dea menjadi pemegang kamera sesekali mengarahkan kamera itu ke arahnya sendiri. Dia duduk di sampingku. Fiena terlarut dalam pandangan jauhnya yang melihat jalan raya. Sesekali dia digoda Fifi untuk mengeluarkan suara. Tapi dia tetap terdiam. Sedangkan aku hanya memperhatikan. Sesekali turut ambil peran di dokumentasi tersebut. Kami bertiga duduk di bagian tengah mobil. Sedangkan Pak Shalih dan Pak Supir duduk di depan.

Kali ini jam menunjukkan pukul 09.21 WIB. Sudah beberapa jam terlewati. Kami masih asik mendokumentasikan momen ini. Sebelum ke Bandara, kami transit dulu di Mall Giant Bekasi. Nuri harus bertemu dengan keluarganya di sana dan mengambil laptop miliknya terlebih dahulu. Aku merasa ingin ke toilet. Fiena dan Ratna juga ingin mengambil uang di ATM. Alhasil, kami berhenti sejenak di Giant Mall Bekasi.

Namun saat itu Mall belum buka. Jadilah aku mencuri masuk melewati salah satu toko makanan yang sudah buka saat itu. Fiena dan Ratna mencari-cari ATM terdekat di sana. Ternyata ATM tersebut bisa dimasuki dari dalam. Akhirnya mereka tidak jadi mengambil uang di ATM tersebut. Kini semuanya menungguku. Sialnya, ketika aku hendak keluar dari gedung Mall melalui toko yang sama, toko itu ditutup oleh pemiliknya. Waduh!

Aku bingung. Setahuku, Mall di Jakarta biasanya mulai beroperasi sekitar pukul 10.00 WIB. Sekarang masih jam sembilan kurang. Akhirnya, aku mencari-cari toko yang sudah mulai buka seperti toko yang tadi. Aku berkeliling  di dalam Mall itu sendirian. Aku melihat dari sudut ke sudut. Dan akhirnya ketemu! Kulihat Toko KFC tengah beres-beres dan membersihkan ruangan mereka. Dengan wajah tanpa dosa, aku melanggeng ke dalam toko dan segera langsung ke luar mall. Hehe.

Aku tidak menceritakan apa-apa kepada teman-temanku tentang kejadian di dalam. Lagi-lagi dengan wajah tanpa dosa, aku langsung masuk ke mobil. Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Bandara Soekarno-Hatta di Banten.

Perjalanan dari Bekasi ke Banten sebenarnya dekat, tapi karena padatnya kendaraan yang berada di sekitar sana, perjalanan menjadi agak lama. Hampir 45 menit, kami baru sampai di sekitar Jakarta. Kami kemudian mengambil jalan tol, dan akhirnya kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 10.30 WIB.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, kami segera membereskan barang-barang kami. Segera kami menyimpannya di trolli. Kami pun langsung mendokumentasikan momen-momen tersebut. Sepanjang perjalanan masuk ke dalam Bandara, kami dipenuhi rasa senang dalam diri kami. Kami seakan sudah sangat tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki kami di tanah Laskar Pelangi.

Kami merasa sangat senang sekaligus waswas terhadap yang akan terjadi, hingga waktu tidak terasa berlalu sangat cepat. Sekarang waktu telah menunjukkan pukul sebelas lebih. Kami telah bersiap-siap di lorong A, tempat kami menunggu. Hingga akhirnya, waktunya tiba. Pesawat Lion Air menuju Bandara Depati Amir Bangka Belitung akan segera berangkat..!

Kami masuk ke Pesawat tersebut. Pembagian tempat duduk diserahkan kepada Pak Shalih. Sebenarnya, tempatku duduk adalah di ujung dekat jendela. Satu sheet dengan Pak Shalih dan Nuri. Tapi aku kemudian dipindahkan ke depan, karena Fifi ingin duduk di sana.

“Lagipula, kamu khan cowok, Fath..” ucap Pak Shalih.

Ini merupakan pengalaman pertamaku dan juga teman-temanku melakukan perjalanan udara. Terkecuali Ratna, yang sudah pernah melakukannya sebelumnya. Perjalanan akan menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam. Aku merasa lelah, sehingga tak terasa mataku terpejam di atas awan-awan. Bangka Belitung telah menanti!

- - -

Mataku terbuka. Udara terasa sejuk. Kulihat sekeliling. Masih berada di dalam pesawat. Di sampingku, duduk seorang laki-laki paruh baya berwajah oriental. Aku melihat ke belakang. Hampir semuanya terlelap ke dunia mimpi. Fifi asyik merekam dan mengabadikan pemandangan yang dia dapatkan di samping jendela. Awan-awan indah itu dia simpan dalam kotak ajaib bernama kamera.

Aku segera memperhatikan keadaan luar. Tampaknya pesawat ini akan segera mendarat. Aku melihat sebuah daratan berwarna hijau tua di balik putihnya awan-awan itu. Karena agak tidak jelas, aku sedikit menyipitkan mataku. Kami beranjak turun menembus awan-awan yang melayang di udara. Daratan semakin jelas.
Aku melihatnya sejenak. Ya. Ini dia. Aku yakin bahwa pulau yang aku lihat ini adalah Pulau Bangka. Jelas. Lubang-lubang itu merupakan bekas penambangan timah di Pulau ini yang konon telah dilakukan semenjak ratusan tahun yang lalu. Lubang-lubang yang jelas tercetak di dataran Negeri Laskar Pelangi ini. Akhirnya, perjalanan kami hampir selesai. Petualangan baru akan segera dimulai.

Sejurus kemudian, suara di speaker pesawat memberi pengumuman bahwa sekitar 15 menit lagi kami akan mendarat di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang. Aku tak ingin kehilangan momen. 15 menit itu aku manfaatkan benar-benar memperhatikan dahsyatnya pemandangan yang aku dapatkan. Tasbihku terdengar dalam hati. Awal perjalanan yang luar biasa.

Pesawat perlahan beranjak turun. Goncangan akibat menabrak awan-awan sesekali terasa. Aku tetap memperhatikan pemandangan di luar.

Entahlah, aku merasa waktu baru berlalu selama 10 menit saja. Tapi daratan sudah sangat jelas dan dekat. Pesawat pun berputar-putar mengelilingi satu titik. Hingga akhirnya, satu goncangan yang terasa agak keras menandai bahwa kami telah tiba di Negeri Laskar Pelangi. Selang beberapa menit, pesawat Lion Air ini akhirnya berhenti.

Aku dan teman-teman lainnya segera mempersiapkan diri untuk keluar pesawat. Kami kemudian berjalan hingga ke mulut pintu pesawat. Wussh. Hawa panas tapi segar terasa ketika kami melangkahkan kaki keluar dari pesawat. Inilah Bangka. Cerah langit tampak murni. Awan-awan menari dengan bebas. Panas di pulau ini terasa murni panas matahari. Tidak tercampuri polusi. Subhanallah.

Kami segera melangkahkan kaki kami. Akhirnya, kami menginjakkan kaki kami di Pulau Bangka. Salah satu pulau dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Surga timah terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Negeri yang entah kenapa sangat terbayang penuh energi dan mimpi. Aku merasa sudah tidak sabar ingin mengeksplorasi kemampuan diri di negeri Laskar Pelangi ini. Juga berinteraksi dengan rekan-rekan peneliti seantero Indonesia.

Sambil tetap menatap ke atas langit yang sangat cerah, aku menyipitkan mataku yang tersilau oleh cahaya murni matahari di sini. Awan-awan bermain dengan bebas. Aku suka melihat awan. Tampaknya aku akan sangat suka di sini.

Dea tidak lupa mendokumentasikan momen ini. Kami tiba di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang. Kami akui, fasilitas di Bandara ini jauh di bawah fasilitas di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi soal keindahan bentang alam, keadaan di sini kami rasa lebih baik daripada keadaan di Soetta. Di sini panasnya murni. Tidak terasa panas polusi. Serta langit yang jauh dari gambaran asap-asap polusi seperti di Jakarta. Sangat cerah dan bening.

Kami kemudian menuju ke tempat pengambilan barang. Tidak ada penjagaan yang terlalu ketat di sana. Kami mengambil tas-tas kami yang kami titipkan di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah semua tas lengkap, kami bersiap mencari jemputan PIRN. Mas Duha, salah satu panitia yang juga merupakan kenalan Kang Ilham Azmy pada PIRN tahun lalu telah menjanjikan akan menjemput kami. Belum genap 5 langkah, Pak Shalih disapa oleh seseorang yang tampaknya tidak asing lagi.

“Pak Bambang..? Waduh.. Tidak disangka ketemu di sini, Pak..!” ucap Pak Shalih kepada sosok lelaki paruh baya tersebut. Ya. Itu Pak Bambang. Seorang guru dari SMP Tulung Agung Jawa Timur. Aku sangat mengenali wajah tersebut karena beliau sempat komplain mengenai piala pada JSC. Kebetulan beliau komplain mengenai piala di Divisi Band, Divisiku.

“Iya Pak.. Subhanallah.. Itu, bagaimana kabarnya si Wegan itu..??” ucap Pak Bambang.

“Ah, iya.. Masih ingat saja, Pak… Wegan sekarang sudah di Surabaya.. Jadi Mahasiswa ITS, dia..” jawab Pak Shalih. Wegan adalah kakak kelasku yang merupakan Ketua Panitia JSC tahun lalu. Rupanya Pak Bambang masih mengingatnya.

Rupanya beliau juga menjadi Pembina dari tim PIRN SMP Tulung Agung. Dan ternyata, kami berangkat dengan menggunakan pesawat yang sama tadi. Hanya saja, kami tidak menyadari keberadaan beliau. Begitupun sebaliknya.

Alhasil, kami dua rombongan berjalan bersama-sama menuju ke luar bandara. Ternyata telah ada tim dari panitia PIRN IX yang telah menanti kami di tempat tersebut. Terlihat beberapa orang pemuda berdiri sambil menunjukkan papan bertuliskan PIRN IX kepada kami. Kami mengiyakan pertanyaan mereka tentang identitas kami sebagai peserta PIRN.

Mereka kemudian mengantarkan kami menuju bus jemputan kami. Setelah menunggu selama beberapa menit, bus jemputan kami telah dipenuhi banyak orang. Terlihat mereka seperti datang dari tempat-tempat yang sangat jauh. Dari Papua, Sulawesi, dan Jawa. Aku lagi-lagi merasakan debaran semangat untuk segera melakoni kegiatan PIRN IX ini. Tak sabar rasanya menjadi salah satu bagian dari keluarga besar PIRN yang berasal dari seluruh Indonesia.

“PIRN mas..?” tanya seorang pemuda yang memegang kertas karton bertuliskan PIRN IX 2010. Agaknya aku mengenal suara ini. Namun aku agak ragu-ragu.

“Iya, mas..!” jawabku singkat.

“Ayo, kita ke bis..!” balasnya.

Akhirnya, dua rombongan dari pulau Jawa ini berangkat menuju bis sewaan panitia PIRN IX. Kami kemudian melihat satu bis sederhana di depan mata kami. Ternyata bis berwarna biru muda itu adalah bis yang akan membawa kami menuju lokasi perkemahan Nasional ini di daerah Pemali. Kami kemudian mengemas barang kami masuk ke dalam bis tersebut.

Bus rombongan PIRN terisi sangat penuh. Bus kecil tersebut kini dipenuhi orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Kulihat di sekitar, tampaknya ada peserta dari Papua. Dia tiba dari pesawat yang sama dengan rombonganku. Karena bus sangat penuh, kami duduk terpisah. Riri duduk bersama Ratna di belakang. Fiena duduk bersama Dea di bagian depan bis. Nuri duduk bersamaku di bagian tengah bis. Sedangkan Pak Shalih duduk bersama guru SMP Tulung Agung di samping tempat duduk kami.

Perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Panitia yang menemani supir memberitahukannya kepada kami. Aku mengambil video semenjak kami berangkat dari bandara tadi. Selang beberapa menit, aku menghentikan rekaman tersebut. Biar kamera ini beristirahat dulu, semenjak tadi kami sudah memakainya. 

Kemudian aku mengistirahatkan tubuhku yang sebenarnya terlelap semasa di pesawat tadi.

Ah, tak sabar rasanya menjemput petualangan seru di tanah timah ini.

***

0 comments:

Posting Komentar