Selasa, 12 Juli 2011

Chapter 6 - Astra Satu!!




Bis kami menerjang sebuah jalanan rusak. Aku terjaga seketika. Tampaknya jalanan yang akan kami lalui saat ini tidak begitu bagus. Agaknya hampir 20 menit aku terlelap. Aku kemudian melihat ke sekeliling, Nuri masih terjaga. Pak Shalih masih asik berbincang dengan Pak Bambang. Kemudian aku menerawang ke luar jendela. Tampak sebuah pemandangan asing. Wilayah yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Selang beberapa menit, kami melewati sebuah pilar. Aku tidak sanggup membaca penuh tulisan di pilar tersebut. Namun agaknya aku sedikit melihat tulisan Pemali.


Tidak sampai tiga menit kemudian, akhirnya kami tiba. Tampak di hadapan kami sebuah komplek yang menurutku sangat mirip komplek militer. Ada beberapa bangunan disertai lapangan-lapangan rumput yang luas. Kini lapangan-lapangan tersebut dipenuhi tenda-tenda dome dari Departemen Sosial. Tempat yang sangat luas, pikirku, jika ini adalah sebuah sekolah.

Sejenak kemudian, kami berhenti. Bus telah mengisyaratkan kepada para penumpangnya untuk segera turun dan membereskan barang-barang mereka. Aku pun turun dan membantu panitia untuk membereskan barang-barangku. Seorang panitia menghalangiku seraya berkata, “Udah, gak usah Kak.. Biar sama kami saja.” Aku tersenyum seraya mengatakan tidak apa-apa. Toh, ini barangku sendiri.

Aku turun dari bis kami. Wushh. Udara yang lebih menyengat menghampiri kulit wajahku. Aku menyipitkan mata. Agaknya udara di sini jauh lebih menyengat dibanding ketika di bandara tadi. Segera aku berbalik dan berjalan menuju ke sebuah gedung, di mana panitia menginstruksikan para peserta untuk menuju ke sana.

Aku tiba di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, di mana terdapat beberapa orang di sana. Aku melihat, beberapa panitia sibuk membereskan barang-barang. Yang lain menawarkan minuman kepada para peserta. Sedang yang lain melayani administrasi pendaftaran peserta. Yang kutangkap, wajah mereka masih sangat muda. Terkecuali mereka yang melayani administrasi. Agaknya mereka adalah penghuni asli SMA penyelenggara kegiatan ini.

Seraya menunggu waktu untuk melakukan pendaftaran ulang, aku bertanya kepada panitia tempatku bisa melaksanakan shalat. Hatiku resah, jika lama menunda shalat. Akhirnya ada panitia mengantarkan kami ke sebuah ruangan yang berisi banyak tempat tidur. Agaknya, tempat ini adalah asrama. Khas tempat tidur dua tingkat yang berjejer rapi di sekitar kamar.

Seusai shalat, aku kembali bergabung bersama teman-teman di ruangan utama.

Setelah menunggu agak lama, kini giliran kami untuk melakukan pendaftaran ulang. Ternyata kami memang satu-satunya peserta perwakilan dari Provinsi kami. Terlihat di daftar hadir yang disediakan panitia. Tapi di sana baru tercetak namaku, Nuri, dan Pak Shalih. Empat teman kami yang lainnya belum tertulis karena mereka baru mendaftar beberapa hari yang lalu. Agaknya saat itu pihak LIPI sudah mencetak daftar hadir.

Selain mengisi daftar hadir dan melengkapi beberapa persyaratan, kami mendapatkan ruangan tempat kami tidur. Ternyata kali ini kami akan tidur di dalam ruangan. Mulanya, kami mendapatkan kabar bahwa tempat kami tidur adalah di tenda-tenda yang telah dipersiapkan. Namun, kata panitia, cuaca belakangan kurang stabil. Kadang hujan, kadang panas. Jadi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, panitia memutuskan untuk menempatkan kami di dalam ruangan.

Aku mendapatkan asrama putra nomor satu. Segera aku menghampiri panitia yang bersedia mengantarkanku ke asramaku. Aku kemudian berjalan beberapa langkah mengikuti panitia tersebut. Ternyata asrama putra tempat aku akan menghabiskan malam di Bangka ini adalah tempat aku shalat tadi.

Aku kemudian membereskan barang-barang bawaanku. Aku hanya membawa dua tas : tas ransel berisi baju-baju dan perlengkapanku, dan satu tas berisi laptop dan alat tulisku. Aku melihat di sekeliling, kemudian aku memilih tempat di pojok. Ya, tempat itu strategis menurutku. Tempatnya sangat dekat dengan sumber listrik. Juga dekat dengan sebuah lemari yang aku kira itu diperuntukkan kepada peserta.

Hal pertama yang aku lakukan adalah mengambil charger handphoneku untuk kemudian mengisi energi handphoneku. Kemudian aku merebahkan diriku sejenak seraya menatap ke arah langit-langit tempat tidur di atasku. Aku teringat ketika aku tertidur di asrama SMA-ku. Pemandangan yang sama persis dengan yang aku dapatkan ketika berada di asrama sekolah.

Aku tengah mengistirahatkan tubuhku ketika kemudian datang dua orang anak ke dalam ruangan asrama putra 1 ini. Refleks, aku berdiri kemudian menghampiri mereka.

“Assalamu’alaykum..” ucap mereka.

“Wa’alaykumsalam.. Hai..!” jawabku. Kemudian aku berkenalan dengan mereka. Ternyata mereka adalah peserta dari Palembang. Ya, cukup dekat dari Bangka jika dibandingkan dengan tempatku.

“Fathir..” ucapku seraya menjabat tangan mereka.

“Bimbim..” ucap salah seorang di antara mereka yang bertubuh agak gemuk.

“Prabu..” jawab salah seorang lainnya yang bertubuh agak kurus.

Aku pun ngobrol beberapa saat dengan mereka, sebelum akhirnya kembali pada tempat tidurku untuk mulai membereskan tempat istirahatku untuk satu pekan ke depan. Aku segera mengeluarkan beberapa barang dari tas ranselku. Perlengkapan mandi, handuk, dan plastik baju kotor  kemudian menaruhnya di dalam lemari kosong yang terletak di samping tempat tidurku.

Kemudian aku mengeluarkan beberapa tabloid Q-Smart yang kami bawa dari sekolah. Tabloid Q-Smart adalah tabloid sekolah buatan siswa-siswa Jurnalistik. Aku melihat-lihat tulisanku yang cukup banyak dimuat di sana. Salah satunya adalah tentang kegiatan PIRN ini. Aku memasukkan berita tentang diundangnya  6 delegasi Al-Muttaqin untuk kegiatan PIRN ini.

Selang beberapa detik seseorang masuk ke ruangan kami. Wajahnya blasteran Indo-Belanda. Tubuhnya tinggi. Saat di ruangan utama, aku mendengarnya bercakap dengan menggunakan Bahasa Inggris kepada pembinanya. Aku kira dia dari luar negeri. Dia menatapku dan tersenyum. Senyumnya tampak sangat tulus. Dia menyapaku, “Selamat Siang..!”

“Siang..!” balasku kemudian. Aku melangkah mendekatinya kemudian mencoba membantunya membawa barang-barangnya.

“Eh, eh.. Wah, makasih nih ya..!” ucapnya.

“Yup.. Santai aja..” jawabku. Selesai kami membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamar, kami berjabat tangan.

“Fathir…” ucapku.

“Miiguel..! Salam kenal, Fathir..!” jawabnya ramah.

“Salam kenal juga..!”

Kami kemudian bercakap-cakap sejenak. Mencoba saling mengenal satu dengan yang lainnya. Miguel adalah sosok remaja yang tinggi. Wajahnya blasteran Indo-Belanda. Aku sendiri tidak menyangka, bahwa dia masih kelas satu saat itu. Dia berasal dari Manado, di Sulawesi. Dia seorang Kristen. Wataknya sangat ramah. Dia terlihat memberi salam sapa ‘selamat siang’ pada siapapun yang lewat ketika kami tengah bercakap. Agaknya dia akan mudah mendapat banyak teman baru, pikirku.

Setelah bercakap sekitar lima menit, dia membereskan barang-barangnya di tempat tidurnya. Aku pun kembali ke tempat tidurku dan merapikannya. Kemudian ada SMS masuk. Dari Dea.

“Amq Dea Hilyatunnisa – 15.10 WIB
Fath, kita mau cari makan.. Mau ikut gak..? Kita tunggu di tempat yg tadi..”

Aku teringat bahwa perutku belum terisi makanan semenjak tadi pagi. Aku kemudian menunaikan hak tubuhku dengan bergabung bersama mereka mencari makanan. Salah seorang panitia menunjukkan warung yang berada di belakang asrama. Karena hari ini belum masuk ke acara PIRN, jadi panitia belum menyiapkan konsumsi bagi peserta yang lebih dulu tiba. Kami memakluminya. Kemudian kami berjalan kaki menuju warung tersebut.

Tiba di warung, kami disambut dengan ramah oleh pemilik warung. Wah, keramahan mereka seperti orang sunda bila menerima tamu resmi. Mungkin mereka sudah tahu bahwa kami adalah peserta dari luar pulau Bangka. Kami menggunakan bahasa Indonesia dalam warung tersebut.

Setelah melihat-lihat daftar menu yang tersedia, kami kemudian memilih nasi goreng. Hanya Fifi, yang tidak memesan nasi goreng karena dia membawa Pop Mie yang kemudian dia seduh di warung tersebut.

Setelah kenyang dengan porsi kami masing-masing, kami kemudian beranjak menuju masjid yang terletak di samping warung tersebut. Kami teringat bahwa kami belum melaksanakan Shalat Ashar. Ternyata tidak ada yang meng-qadha shalatnya dengan shalat Dzuhur tadi.

Seusai shalat, kami berbincang sejenak dengan Pak Shalih mengenai kegiatan yang akan kami laksanakan selama sepekan ke depan. Malam ini belum ada kegiatan apa-apa di PIRN. Kegiatan baru dimulai esok pagi hari. Itupun masih registrasi ulang seluruh peserta. Pada malam harinya, barulah kegiatan meneliti dimulai.

Aku sudah tidak sabar ingin segera mengeksplorasi hal-hal yang menarik di Bangka Belitung ini. Lebih tak sabar lagi menanti sahabat-sahabat lain dari seluruh Indonesia yang belum tiba. Dan hal itupun agaknya tampak di raut wajah seluruh teman-temanku. Petualangan singkat di Bangka ini akan sangat menarik dan berkesan.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Kami harus kembali ke asrama untuk membersihkan diri. Cuaca di Bangka agak panas, sehingga keadaan tubuh kami harus sering disegarkan. Kami pun keluar dari masjid. Ternyata nama masjid yang kami pakai shalat ini Masjid Al-Muttaqin. Wah, sungguh suatu kebetulan. Kami mengabadikan moment sore itu. Langit indah menunjukkan cahaya matahari yang me-mega ke bumi Bangka. Sungguh indah.

Jarak dari Masjid ke asramaku memakan waktu sekitar lima menit saja. Asrama putri sendiri lebih dekat dengan masjid ketimbang asrama putra. Hanya sekitar 100 meter dari masjid.

Tiba di asrama, aku langsung merebahkan diriku di kasur. Agak letih aku setelah melakukan perjalanan hari ini. Di asrama putra nomor satu belum ada ‘siswa’ baru. Baru ada orang-orang yang sudah aku kenal tadi. Miguel tengah melakukan sit-up di kasurnya. Tubuhnya tinggi dan membentuk. Agaknya dia memang sangat gemar dengan olahraga.

Aku memang merasa sangat letih. Namun aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku. Segera aku bangkit dan menyalakan laptop yang baru orangtuaku belikan untuk acara ini. Aku cari sinyal hotspot yang memang disediakan panitia untuk kegiatan PIRN selama satu pekan ini. Setelahnya aku membuka akun facebook. Agaknya selama satu bulan ini situs itulah yang paling sering aku kunjungi. Bersama blogger tentunya.
Aku lihat di facebook, ternyata ada beberapa notifikasi. Aku lihat pemberitahuan itu. Ada beberapa yang aku buka, sebagian lainnya aku biarkan. Dan juga ada 2 pesan baru. Aku buka pesan itu. Ternyata dari sahabat-sahabatku yang senantiasa memberikan doanya bagiku. Terima kasih, ya..!

Setelahnya aku iseng melihat-lihat status teman-temanku. Biasanya, ada beberapa status yang mampu membuatku tersenyum karena tutur kata yang indah. Status lainnya membuatku cengengesan dengan susunan kata-kata yang alay. Beberapa lainnya memberitakan hal baru yang ternyata belum aku ketahui sebelumnya.

Terkadang memang ada pentingnya membuka facebook. Bukannya apa-apa, hingga hari ini facebook bisa dibilang sebagai jendela kehidupan seseorang dalam kesehariannya. Ya, meskipun sederhana, kita bisa melihat karakter seseorang secara sekilas melalui facebooknya. Status apa saja yang dia buat, gambar apa saja yang dia upload, catatan apa saja yang dia sebarkan, atau halaman apa saja yang dia like.

Mataku terus melihat-lihat status-status terbaru. Sesekali aku membuka akun temanku yang tidak ada di status-status terbaru tersebut. Hingga pada satu status, hatiku tersentak. Status tersebut menyebutkan bahwa kota Tasikmalaya, kota tempatku menuntut ilmu, terkena bencana gempa yang cukup besar.

Tak lama kemudian datang beberapa SMS dari teman-temanku di Tasikmalaya. Mereka menanyakan bagaimana keadaan di sini. Mereka juga mengabarkan bahwa di Tasikmalaya telah terjadi gempa yang cukup besar.

Reflek aku mengirimkan SMS kepada ibuku di Bandung. Menanyakan apakah Bandung terkena imbas dari gempa tersebut. Ibuku malah menelponku. Beliau mengabarkan bahwa di Bandung hanya terasa sedikit gempa saja. Jadi aku tidak perlu khawatir. Beliau juga menanyakan bagaimana keadaan di Bangka. Aku lupa mengabarinya ketika tiba tadi. Ah, baru saja sebentar, rasanya aku sudah rindu kepada ibu..!

Yang membuatku kasihan adalah teman-teman yang lain. Kebetulan mereka semua sedang online. Aku mengirim chatt kepada mereka. Mereka semua telah mengabari keluarga mereka. Alhamdulillah, keluarga mereka tidak apa-apa di Tasik. Tapi kejadian tadi membuat mereka jadi homesick. Mereka tiba-tiba merasa rindu keluarga mereka.

Aku hanya tersenyum. Alhamdulillah aku masih memiliki rasa khawatir ini kepada keluargaku. Alhamdulillah juga sahabat-sahabatku masih memiliki rasa itu kepada keluarga mereka. Banyak orang-orang di luar sana yang, Na’udzubillah, tidak perduli lagi dengan keluarganya. Bahkan tidak diperdulikan lagi oleh keluarganya.

Kabar terakhir yang aku dapatkan, tidak ada kerusakan mendasar yang disebabkan oleh gempa bumi yang melanda di Tasikmalaya tadi sore. Katanya sumbernya dari Sumedang. Tapi entahlah, aku belum mendapatkan kabar yang lebih pasti. Di detik.com, baru ada beberapa berita tentang kejadian ini. Tapi hatiku sudah agak tenang. Tidak terjadi kerusakan yang parah di Tasikmalaya.

Waktu menunjukkan pukul enam sore kurang sepuluh menit, tapi belum terdengar adzan di sekitar sini. Aku menutup laptopku, seraya mempersiapkan diri berangkat ke Masjid. Aku akan coba terus memaksakan diri untuk shalat wajib di Masjid, meskipun agak jauh dari tempatku.

“Mau kemana, kak..?” tanya Bimbim kepadaku ketika aku beranjak ke luar asrama.

“Ke Masjid..! Mau ikut..?” jawabku.

“Hoo.. Disini juga ada mushala, Kak.. Lebih dekat lah..” ucapnya. Aku tersenyum.

“Yaa, selama masih bisa ke Masjid ya berangkat saja lah.. Tidak ada salahnya, toh..?” jawabku mencoba mengikuti logat mereka. Logat Sumatera.

“Ooh.. Oke deh.. Hati-hati, Kak..!” jawabnya.

“Yoo..” jawabku seraya tersenyum.

Ah, agaknya selama satu pekan ini aku akan menemukan banyak hal baru di tanah Laskar Pelangi ini. Di Negeri Seribu Danau, Bangka Belitung. Tidak sabar rasanya menanti hari esok menjemput.

***

0 comments:

Posting Komentar