Selasa, 12 Juli 2011

Chapter 7 - Herodotus!




Pagi menerkam. Hari itu hari kedua aku menginjak tanah timah. Dingin langsung menusuk kulit. Agaknya ini jauh lebih dingin dari apa yang sering aku rasakan di Tasikmalaya. Aku membuka kedua mataku yang terasa sangat berat. Terasa sangat rapat. Waktu di handphoneku menunjukkan jam 6 pagi.

Jam 6!! Aku terkaget sehingga kepalaku hampir menyentuh tempat tidur tingkat dua di atasku. Segera aku berlari menuju kamar mandi. Aku mengambil air wudhu. Dingin sekali rasanya. Segera aku beranjak menuju asramaku lagi. Aku mencari-cari sajadah yang kemarin aku pakai untuk shalat Ashar di sini. Tidak ada.


“Oahm.. Eh, sudah bangun, kak..?” sapa Bimbim yang baru saja membuka matanya. Dia tampak menggerak-gerakkan tubuhnya.

“Eh, Bim.. Iya nih.. Terlambat Shalat Subuh..!” jawabku sekenanya. “Sajadah di mana ya..?” lanjutku.

“Oh, shalatnya di Mushala aja, Kak..!” jawabnya.

“Mushala? Dimana emang..?”

“Tuh, di samping..! Tempatnya nyaman.. Ada AC-nya lagi..! Hehehe.. Nanti kita shalat bareng deh ya..? Aku wudhu dulu..” jawabnya.

Aku beranjak menuju ruang sebelah. Ternyata benar, ada mushala. Ruangan kecil yang beralaskan karpet dilengkapi dengan hembusan Air Circulation terasa sangat nyaman. Beberapa orang tampak tengah khusyuk beribadah di tempat itu.

“Ayo kak.. Kita gabung mereka saja..” ucap Bimbim yang baru saja selesai mengambil air wudhu. Kami pun shalat berjamaah bersama teman-teman lainnya.

Salam menandakan selesainya shalatku ini. Shalat Subuh pertama di Pulau Bangka. Sayangnya aku harus kehilangan waktu awal shalat.

Hari ini di jadwal tertera waktu registrasi ulang. Hanya itu jadwal yang ada. Mungkin hanya akan memakan waktu sekitar 15 menit. Selebihnya untuk peserta-peserta yang lain. Artinya aku masih memiliki waktu untuk berjalan-jalan di lokasi asrama SMA Negeri 1 Pemali ini.

Matahari mulai merangkak naik. Miguel baru bangun. Dia merenggangkan tubuhnya dan berlari-lari kecil di halaman asrama kami.

“Selamat Pagi..!” ucapnya kepadaku.

“Pagi, Miguel..! Nyenyak tidurnya..?” jawabku.

“Ya, begitulah.. Sangat menyenangkan..! Hehe..” lanjutnya. Aku tersenyum. Orang ini agaknya sangat penuh dengan pikiran-pikiran positif.

“Aku lari dulu ya..! Mau ikut..?” lanjutnya. Aku tengah mengetik sesuatu di laptopku.

“Wah, lain kali ya Miguel.. Sekarang aku lagi ngetik, nih..” jawabku.

“Oke deh.. Aku duluan ya..!”

Miguel berlalu. Aku masih mengetik di laptopku. Menulis catatan-catatan kecil tentang perjalananku ini. Selain itu aku juga mencari informasi-informasi di internet. 3 hal yang menjadi target beritaku pagi ini : segala sesuatu tentang Bangka, perkembangan gempa di Tasikmalaya, dan catatan-catatan ruhani di eramuslim.

Satu jam aku bermain dengan laptopku. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Aku beranjak dari tempat tidurku, dan mengisi baterai dari laptopku. Aku colokkan charger laptopku ke pusat listrik. Kemudian aku beranjak mengambil peralatan mandiku. Aku beranjak menuju kamar mandi.

Selesai mandi, aku melanjutkan kegiatan internet surfing di kamarku. Letak pusat hot spot di kegiatan PIRN ini ada dua. Salah satunya tepat terletak di atas asramaku ini. Jadi sinyal hot spot di asramaku sangat kuat. Selalu penuh.

Waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Aku mencoba berkeliling lingkungan asrama. Ada beberapa orang datang. Aku menyalami mereka. Mereka peserta PIRN dari Jawa Timur. Beberapa lainnya dari Kalimantan. Aku berkeliling halaman asrama seraya memegang handphoneku. Sesekali aku mengambil gambar dengan menggunakan handphoneku.

Saat hampir jam delapan, aku melihat Nuri dan yang lainnya tengah berjalan menuju ke arah utara. Agaknya mereka akan menghampiri asrama Pak Shalih. Mereka bilang asrama Pak Shalih cukup jauh dari pusat lokasi kegiatan. Jaraknya sekitar 100 meter dari asramaku. Aku membiarkan mereka pergi duluan. Toh mereka juga tidak memberitahuku.

Selang sekitar sepuluh menit, aku menyusul mereka. Tapi aku punya cara lain, yang agaknya lebih efektif dan efisien (hehe). Aku menghampiri panitia yang tengah sibuk mengantarkan dokumen-dokumen PIRN dengan menggunakan sepeda motor. Kemudian aku pura-pura tidak tahu tempat asrama Pembina.

“Maaf, Kak.. Emm.. Asrama Pembina yang dari Jawa Barat di sebelah mana ya..?” ucapku.

“Aduh.. Itu sebelah utara, Mas.. Tapi agak jauh.. Sekitar seratus meter dari sini..” jawab salah seorang panitia.

“Oh.. Ya.. Gak apa-apa.. Di sebelah sana ya, Kak..?” jawabku seraya menunjuk ke arah utara.

“Iya.. Di sebelah sana.. Tapi sebentar, mas..” jawabnya. Kemudian dia memanggil seorang panitia yang baru selesai mengantar folder PIRN dengan menggunakan sepeda motor. “Mas di antar sama dia saja ya..”

Yes..! Hehehe.. Hatiku bersorak. “Oh.. Gak apa-apa, Kak.. Saya jalan juga gak masalah kok..” ucapku.

“Ah, tak apa lah.. Yang namanya tamu khan raja.. Betul..?” jawabnya dengan ramah.

“Alhamdulillah kalau begitu.. Terimakasih ya, Kak..!” jawabku seraya tersenyum. Yee..!!

Selang 30 detik kemudian aku sampai di asrama Pak Shalih. Di sana ada Nuri, Ratna, Fifi, Fiena, dan Dea tengah duduk-duduk di jalanan. Aku tersenyum kepada mereka. Sedang mereka agak merengut melihatku. Agaknya terlihat sedikit letih.

“Hallo semuanya.. Assalamu’alaykum..” sapaku.

“Wa’alaykumsalam.. Beuhh.. Ini anak malah naik motor.. Curang banget, ih..!” jawab Fifi.

“Tau nih.. Yang lain pada capek jalan jauh.. Huuh..” sambung Ratna. Aku hanya tersenyum.

“Hehehe.. Ane khan gak tau jalan ke asrama Pak Shalih.. Lagian kalian juga nggak ngasih tau mau ke sini.. Baru ngasih tau pas udah nyampe.. Jadi aja ane nanya panitia.. Hehehe..” jawabku cengengesan.

Aku bergabung bersama mereka duduk-duduk di jalanan. Jalanan di wilayah itu sepi dari kendaraan. Hanya sesekali sepeda motor lewat. Kami langsung menyingkir ketika ada kendaraan lewat. Beberapa saat kemudian datang Pak Shalih.

“Gimana nih, sudah mantap semua pilihan bidang penelitiannya..?” ucapnya ramah.

“Sudah dong Pak..!” jawabku mantap. Ya, aku tidak mungkin berpindah hati ke bidang IPA ataupun IPT. Hatiku tetap bercokol di IPS.

“Yee.. Dia mah emang di IPS..” ucap Nuri. Aku tersenyum.

“Emang kamu mau ke mana Nur..?” jawabku.

“Masih agak bingung nih.. Antara IPA atau IPT.. Huuh..”

“Emang penentuan jurusannya kapan, Pak..?” ucap Fiena.

“Kalau menurut jadwal, kita baru mulai aktif meneliti besok hari.. Itupun malam harinya, karena paginya kita ada upacara pembukaan sampai siang..” jawab Pak Shalih.

“Kalau hari ini kita ngapain aja, Pak..?” ucap Fifi.

“Hari ini hanya registrasi ulang..”

“Hah..? Atuh sebentar kalo registrasi doang mah..?

“Pesertanya juga khan banyak, Fi.. Jadi bisa makan waktu cukup lama..” jawabku.

“Ooh.. Iya ya.. Kapan mulainya registrasi ulang teh..?”

“Jam delapan juga sudah di mulai.. Makanya, sekarang kita ke sana supaya bisa santai dan jalan-jalan..” ucap Pak Shalih.

Akhirnya kami bertujuh berangkat menuju tempat registrasi. Yaitu sekretariat yang terletak sekitar 70 meter dari asrama Pak Shalih. Hanya sekitar 30 meter dari asramaku. Ternyata peserta sudah lumayan banyak. Ada beberapa wajah Indonesia hadir di sana. Mulai dari kulit langsat khas Aceh, hingga hitam manisnya Papua. Petualangan belum dimulai, aku sudah merasa deg-degan.

Kami mendapatkan antrean agak di depan. Hanya sekitar 15 menit menunggu, kami sudah mendapatkan giliran untuk melakukan registrasi ulang.

“Dari mane, Mas..?” ucap seorang panitia dengan logat Bangka-Melayunya.

“Dari Jawa Barat, mbak..” jawabku.

“Ooh.. Ya.. ya.. Silahkan isikan namenya.. Kalian cume ade 2 orang la..?” lanjutnya. Aku melihat daftar peserta. Ada 6 nama, kok. Kenapa di sebut hanya dua orang saja..?

“Ada enam orang kok, Mbak.. Kemarin kami mendapat jatah lagi 4 orang tambahan..” jawabku.

Oh.. Kemarin baru dapet.. Berarti di buku ni la de.. Belum tercetak mungkin..” ucap panitia yang lain. Aku melihat buku panduan PIRN IX. Buku itu berisikan jadwal kegiatan, pemateri, dan peserta kegiatan PIRN ini. Data peserta lengkap berada di buku ini. Dan di kolom Jawa Barat, hanya tercetak namaku dan nama Nuri. Nama Dea, Ratna, Fifi, dan Fiena belum tercetak di buku ini.

“Waah.. Kita belum ada..” ucap Fifi.

“Iya, mbak.. Buku ini dicetak beberapa pekan yang lalu.. Kalau yang tambahan khan listnya baru-baru ini.. Jadi tidak sempat kami cetak di buku panduan ini.. Maaf, ya..” ucap seorang ibu-ibu panitia. Agaknya dia panitia pusat dari Jakarta.

“Ooh.. Iya.. Gak apa-apa, Bu.. Bisa bergabung saja kami sudah sangat bersyukur..!” ucap Dea.

“Alhamdulillah kalau begitu.. Ayo, silahkan di isi absensi registrasi ulangnya.. Kasihan di belakang sudah banyak yang menunggu..” lanjutnya dengan ramah.

Kami kemudian mengambil perlengkapan yang diberikan tim LIPI untuk kegiatan PIRN ini. Ada pulpen, catatan kecil PIRN, buku panduan kegiatan PIRN, buku panduan penelitian, topi bolang, dan tas kecil.
Setelah selesai melakukan registrasi ulang, kami mengambil beberapa dokumentasi di wilayah asrama. Kami mengambil foto di depan banner besar kegiatan PIRN. Kata Pak Shalih itu akan dimasukkan ke pamflet Penerimaan Siswa Baru SMA kami. Selain juga dikirim ke media masa.
---
“Diberitahukan kepada seluruh peserta kegiatan PIRNAS, ditunggu kehadirannya di ruang utama.. Sekali lagi kepada seluruh peserta kegiatan PIRNAS, ditunggu kehadirannya di ruang utama.. Terimakasih..”

Suara dari speaker menggema ke seluruh penjuru asrama. Agaknya kegiatan akan dimulai malam ini juga. Peserta PIRN atau PIRNAS (sama aja sih artinya, cuma kalau PIRNAS lebih gampang disebut) sudah tampak sangat memenuhi lokasi kegiatan. Di asramaku sendiri sudah hampir penuh kuotanya. Asramaku, asrama putra nomor satu, terdapat sepuluh tempat tidur tingkat. Artinya bisa menampung dua puluh peserta. Tinggal dua tempat lagi yang kosong. Sudah delapan belas orang datang ke asrama satu.

Mereka unik-unik. Di asramaku, orangnya asik-asik. Ada Mario dari Bangka Belitung yang selalu tersenyum. Pasangannya itu si Sutan, juga dari Bangka. Dia pendekar (pendek tapi kekar). Kalau dia hobinya tertawa dan membuat orang tertawa. Terus ada si penyuka laptop, Aryanda. Dia kalau di asrama kerjaannya pasti dengerin lagu sambil otak-atik laptopnya –sama sepertiku, hehe–. Ada juga Yanto, the handsome boy. Dia paling memperhatikan stylenya. Asik orangnya. Terus ada Will dari Sorong, Papua. Wah, kalau yang ini orangnya asik. Pendiam tapi kocak (hayo, bingung ya..? Hehe). Gitu deh..!

Ada lagi pribumi namanya Arrai (Wuih.. Jadi ingat Sang Pemimpi..!). Dia paling muda di asrama kami. Dia yang jadi tour guide kami, soalnya dia berasal dari SMA 1 Pemali. Terus ada juga pasangan dari Jawa Timur, Arif dan Agus. Kalau mereka seringnya main game perang di asrama. Bikin berisik, tapi rame. Ada juga si gagah yang pendiam, Nata dari Bangka Belitung. Si pendiam yang penyayang, Aam dari Sulawesi.  Pokoknya, asrama satu sangat beragam.

Kalau di asrama satu, leadnya itu dipegang sama Miguel. Dia paling asik dari semuanya. Dia juga yang membuat semua orang di asrama ini menjadi satu. Menjadi melebur. Dan menjadi saling terikat satu sama lain. Miguel paling dekat sama orang-orang di sini. Gimana nggak dekat? Setiap ada orang lewat, dia sapa : “Selamat Pagi..!”. Pantaslah dia menjadi orang yang paling dikenal di sini.

Aku sendiri merasa sangat beruntung bisa masuk ke asrama satu ini. Setiap hari pasti ada obrolan ringan tapi menarik dan bermanfaat di asrama ini. Sedikit-sedikit aku bisa menambah ilmu pengetahuanku, hanya dari obrolan-obrolan di asrama ini saja. Kalau misalkan ada yang bicara agak ngawur atau sedikit kasar, langsung dinetralisir dengan canda tawa.

Ups, jadi kepanjangan cerita nih. Hehehe.

Malam ini seluruh peserta kegiatan PIRN kumpul di ruangan utama. Aku duduk bersama teman-teman satu asramaku. Kebetulan juga teman-teman Jawa Barat duduk di belakangnya.

Kami masuk agak lebih awal dari teman-teman yang lain, sehingga kami kebagian tempat di depan. Beberapa menit setelah kami masuk, teman-teman dari asrama lain masuk silih berganti. Saat itulah aku tersadar dan bersyukur telah diberikan kesempatan mengikuti kegiatan PIRN ini. Bersama sekitar 400 siswa SMA dan SMP terbaik dari sekitar 31 Provinsi di seluruh Indonesia. Beragam kultur berbaur di tempat ini. Terima kasih, ya Allah..!

“Oke semuanya..!! Selamat Malam, Pelajar Indonesia..!!” ucap MC membuka acara.

“Malam hari ini, adik-adik sudah mengambil satu langkah besar. Adik-adik telah mendapatkan satu kesempatan besar. Bersama adik-adik malam ini telah berkumpul anak-anak terbaik dari provinsi masing-masing. Telah berkumpul putra-putri calon peneliti terbaik di Indonesia..!!” lanjutnya disambut dengan riuh rendah suara tepuk tangan.

“Cek dulu cek ya..! Mana yang dari Aceh..!” ucapnya. Berdiri kemudian beberapa orang yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari seluruh peserta kegiatan PIRN. Semua provinsi dipanggil tiada terkecuali.

“Jawa Barat..!!!”

Kami berdiri. Ternyata benar, hanya enam orang. Ya, hanya enam orang dari SMA kami yang menjadi perwakilan Provinsi Jawa Barat di kegiatan ini. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa..!
Kami kembali duduk. Kemudian terdengar seseorang menyapa dari sebelah kanan kami. Mereka dari Jakarta.

“Hey..! Salam kenal..! Aku Sarah dan ini Anni dari Jakarta..” ucapnya.

“Salam kenal juga..! Aku Fifi.. Ini Fathir, terus di sampingnya Fiena, Ratna, Dea dan Nuri.. Kami dari Jawa Barat..” jawab Fifi.

“Kalian satu sekolah..?” tanya Anni yang berada di sebelah Sarah.

“Iya, hanya enam orang dari Jawa Barat.. Kebetulan semuanya dari sekolah kami..” jawabku.

“Ooh.. Wah, hebat..! Kalau sekolah kami hanya di undang tiga orang saja.. Tapi dari Jakartanya banyak..” ucap Anni.

“Eh, tapi kok di buku ini hanya ada dua orang, ya..?” tanya Sarah seraya memegang buku panduan PIRN.

“Ooh.. Awalnya memang kami diundang dua orang saja.. Tapi karena kuota dari Jawa Barat masih kosong disebabkan dari sekolah lain tidak bisa datang, kuota sekolah kami ditambah empat orang.. Jadi yang empat orang itu belum ditulis di buku panduan..” ucap Ratna.

“Oooh.. Begitu toh.. Eh, sebentar.. Nama kamu Fathir..?”

“Iya.. Kenapa memang..?”

“Kalau begitu, lusa ulang tahun dong ya..?”

Hah..? Lusa..?

“Eh.. Enggak kok.. Ulang tahun..?” ucapku seraya membuka buku panduan PIRN. Aku mencari namaku. Tertera : Nama - Muhammad Fathir Ali ; Tempat, Tanggal Lahir – Bandung, 30-06-1993.

“Wah, ini mah salah cetak..! Harusnya 30-07-1993 khan, Fath..?” ucap Fifi.

“Waduh.. Iya bener.. Harusnya 30 Juli, bukan Juni.. Salah cetak ini..” sambungku.

“Waah.. Bisa-bisa kamu dikerjain sebelum ulang tahunnya, nih..! Hehehe..” ucap Sarah. Aku tersenyum. Benar juga yang dia katakan. Tapi sudahlah, tak apa.

Kegiatan dimulai. Seluruh peserta dan pembina dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok penelitian IPSK (Ilmu Pengetahuan Sosial Kebudayaan), kelompok penelitian IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan IPT (Ilmu Pengetahuan Teknik). Aku bergabung bersama sekitar 180-an siswa peneliti IPSK. Ratna dan Fiena bergabung bersama sekitar 170-an siswa peneliti IPA. Sedangkan Nuri dan Fifi bergabung bersama sekitar 50-an siswa peneliti IPT. Pak Shalih di belakang kami bergabung bersama guru-guru peneliti bidang IPSK.
Setelah terbagi menjadi tiga kelompok besar, dari setiap kelompok mengirimkan beberapa perwakilan untuk menjadi ketua kelompok. Di IPSK terdapat 10 kelompok sehingga aka nada 10 calon ketua kelompok yang akan maju ke depan.

Saat tengah menunggu orang-orang yang akan menjadi calon ketua, tiba-tiba seseorang mendorongku. Aku terdorong maju ke depan. Sehingga kakak pembina mengambilku menjadi calon ketua. Saat itu Miguel juga mengalami nasib yang sama. Kami di dorong oleh rekan-rekan satu asrama kami. Kami menjadi ketua dari kelompok IPSK.

Setelah terkumpul beberapa orang ketua kelompok, kami harus mencari sendiri anggota kelompok kami. Aku samasekali tidak menyangka sistem pembagian kelompok akan seperti ini. Aku kira akan ada pembagian nama yang terorganisir oleh panitia. Ternyata kelompok ditentukan secara acak. Aku kelimpungan mencari calon-calon anggota kelompokku. Teman-teman satu asrama sudah tergabung bersama kelompok Miguel.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku mendapatkan beberapa orang. Ada tiga orang non-muslim, masing-masing dari Bangka Belitung, Yogyakarta, dan Banten. Kemudian dua orang anak lelaki SMP dari Bangka Belitung, dan dua orang perempuan anak SMP masing-masing dari Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Lalu dua orang siswi muslimah SMA dari Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Dan seorang siswa SMA dari Nangroe Aceh Darussalam. Ada sepuluh orang. Ditambah aku, jadi sebelas orang.

Setelah masing-masing ketua mendapatkan anggotanya, kami berkumpul bersama kelompok kami masing-masing. Agenda kami malam ini tidak terlalu banyak. Hanya menentukan nama kelompok, seraya saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Aku dan kelompokku memilih untuk berkumpul di dalam ruangan utama. Beberapa teman lain mencari tempat di luar gedung utama karena gedung tersebut sudah dipenuhi banyak kelompok. Kami beruntung mendapatkan bagian di dalam.

“Oke semua.. Selamat malam.. Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh..” ucapku membuka pertemuan pertama kami.

“Wa’alaykumsalam Warahmatullah Wabarakatuh..” jawab mereka, termasuk ketiga orang non-muslim tersebut. Mungkin sudah terbiasa untuk mereka. Aku hanya tersenyum.

“Oke, gak usah formal-formal, ya..! Kenalin, namaku Fathir.. Lengkapnya Muhammad Fathir Ali.. Aku dari Jawa Barat, tepatnya Tasikmalaya..  Hobiku menulis, dan aku juga seorang wartawan sebuah surat kabar di daerahku.. Jadi, Insya Allah aku bisa diandalkan untuk masalah reportase, dokumentasi ataupun wawancara.. Ada yang mau ditanyakan..?” jelasku panjang lebar. Semua tertawa. Aku hanya tersenyum. Yes, satu langkah pencairan suasana sukses!

“Aku rasa kamu juga hobbi ngebawel, yo..? Hahaha..” ucap siswi yang dari Yogyakarta itu. “Baik.. Kalo namaku tuh Tias.. Aku dari…”

“Udah tau.. Pasti dari Yogyakarta kah..?” ucap siswa yang dari Aceh di sebelahku.

“Lho, situ tau dari mana tho..? Emang kita pernah ketemu..?” tanyanya.

Medok-nya itu lho..!” jawabnya polos. Kami semua tertawa.

“Hooo.. Yoo.. Yoo.. Banyak orang bilang aku medok Yogya banget.. Padahal aku tuh ya, kalo dibandingin temenku yang Cina, itu ndak terlalu medok kok..! Wah, kalian kalo ketemu temenku yang Cina itu pasti ngakak deh.. Dia orang Cina tapi ndak bisa bahasa Cina.. Malah ngomongnya itu lho… Medok banget! Hahaha..

Kami tertawa. Bukan karena lucunya cerita Tias. Tapi karena dia tertawa sendirian oleh ceritanya sendiri. Kocak. Hehe.

Kami melanjutkan perkenalan kami. Siswi non-muslim dari Banten itu bernama Vinny. Kalau yang dari Bangka Belitung namanya Tajnaz. Pemuda Aceh yang duduk di sebelahku ini bernama Akbar. Kalau dua anak SMP Bangka Belitung  itu namanya Pram dan Febri. Siswi SMP dari Jawa Timur bernama Tari, sedang yang dari NTT bernama Yohanna. Kalau siswi muslimah yang berasal dari Bangka Belitung namanya Azizah, sedang yang dari Kepulauan Riau bernama Fadilla.

“Eh, kalau kelompok kita mau diberi nama apa, Pak Ketu..?” tanya Azizah kepadaku.

“Apa ya..? Ada saran gak nih..?”

“Aduh, aku bingung..! Kita mau meneliti tentang apa dulu, nih..?” tanya Vinny.

“Yaa… Tentang Sosial Kebudayaan..! Hehehe..” jawabku sekenanya.

“Yeee.. Kalau itu sih sudah jelas..”

“Kalau begitu, ambil tokoh dari ilmu sosial deh..! Siapa ya..?”

“Eh, di sini yang dari IPS berapa orang emang..?” tanyaku seraya memandang ke arah semuanya. Ternyata tidak ada. Hanya aku yang murni dari jurusan IPS. “Waduh.. Ternyata hanya aku aja yang dari IPS..!” lanjutku.

“Oh, kamu IPS Fath..?”

“Iya.. Hmm.. Kalau begitu, kita ambil tokoh sejarah.. Supaya berkaitan sama semuanya.. Hehehe.. Gimana..?”

“Waaah.. Boleh itu… Boleeh.. Aku suka sejarah..! Lha wong Ir. Soekarno juga pernah bilang tho, JASMERAH..! Jangan Pernah Lupakan Sejarah..! Setujju akku.. Setujju..” ucap Tias dengan medok khas Yogyakartanya. Kami tertawa. “Kalian tuh kenapa, tho..? Setiap aku ngomong tuh ketawaaa aja..”
Tawa kami semakin deras.

“Udah.. Udah.. Aduuh… Sakit perut.. Hehehe..” ucapku.

“Iya nih.. Haduuh.. Jadi mau siapa tokohnya..?”

“Siapa yaa..??”

Semua terdiam. Mencoba menarik satu nama tokoh sejarah yang cocok untuk nama grup ini. Pembina kegiatan sudah berjalan menuju kelompok kami.

“Herodotus saja deh..!” ucap Vinny.

“Herodotus..? Itu tokoh apa..?” ucap Akbar.

“Gak tau.. Tapi perasaan pernah denger deh..”

“Herodotus itu tokoh sejarah zaman Yunani kuno dulu.. Dia terkenal dengan karyanya yaitu Historia… Tapi itu udah lama banget, dong..?” ucapku.

“Ooh.. Asli IPS nih orang.. Hehehe..” ucap Vinny.

“Hehehe.. Iya, dong..! Tapi gak apa-apa deh.. Herodotus aja, ya..?” ucapku.

“Iya nih.. Daripada samasekali belum punya nama..!” sambung yang lain.

Tiba-tiba datang pembawa acara seraya menyodorkan mic pengeras suaranya kepadaku.

“Ayo, apa nih nama kelompoknya..?” ucap sang MC.

“Eee… Emmm… Herodotus, Kak..!!” jawabku.

“Ooow.. Ooow.. Herodotus..! Tokoh sejarah..! Maknanya apa tuh..?” lanjutnya. Aku bingung.

“Eemm.. Gini.. Emm.. Kita itu kelompok yang tidak akan melupakan sejarah, juga akan menciptakan sejarah, Kak..!!” ucapku. Teman-teman kelompokku tersenyum. Aku turut tersenyum. “Eemm.. Selain itu, Herodotus juga singkatan, Kak..!! Emmm.. He… Hebatt, Proaktif, dan Dominan..!!” lanjutku. Teman-teman kini terlihat menahan tawa.

“Nah, ‘tus’-nya artinya apa..?” ucap sang MC.

Aduh!! Lupa aku..!

“Tus itu… Emmm… Tus itu…. Tus… seraTUS persen…!! Jadi Hebat, Proaktif, dan Dominan Seratus persen..!!” jawabku sekenanya. Kali ini teman-temanku tidak mampu menahan tawanya. Kami tergelak karena singkatan yang aku berikan.

Malam indah itu kami tutup dengan saling bertukar nomor handphone. Petualangan sebenarnya baru akan dimulai esok hari. Ya, hari ini aku harus beristirahat untuk esok hari. Masih ada misi sekolah yang harus sebisa mungkin aku tuntaskan : beraudiensi dengan pimpinan LIPI.

***

0 comments:

Posting Komentar