Selasa, 12 Juli 2011

Chapter 8 - First Day..!




Waktu baru menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit. Belum ada personil Genesis yang datang lagi. Kami masih berenam. Masih mengenang masa-masa indah ketika berada di Negeri Seribu Danau, Negeri Laskar Pelangi. Kami masih bernostalgia dengan foto-foto yang terabadikan melalui kamera Dea tersebut. Kisah-kisah dari setiap foto membuat kami semakin rindu dengan kenangan masa lalu itu.

Kali ini kami melihat gambar-gambar ketika acara pembukaan PIRN. Kegiatan upacara pembukaan yang langsung disambung dengan seminar dari para pemateri ahli. Ada Bupati Bangka, Ketua LIPI, dan juga seniman Dik Doank.


Hari itu adalah hari ketiga kami berada di Bangka Belitung. Aku ingat, kala itu waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. Seperti biasa, setelah aku menyelesaikan ibadah Shalat Subuh aku langsung menuju laptopku dan mulai surfing di dunia maya. Kulihat beberapa orang temanku pun melakukan hal yang sama.

Namun agaknya aku lupa, hari ini adalah hari pembukaan. Pastinya kamar mandi akan sangat dipenuhi para peserta yang ingin membersihkan dirinya sebelum mengikuti kegiatan pembukaan tersebut. Seketika aku langsung membereskan laptopku kemudian mengambil peralatan mandiku lalu bergegas ke kamar mandi. 

Ternyata benar, beberapa orang masih mengantri di depan kamar mandi. Terpaksa, aku harus menunggu beberapa giliran untuk dapat masuk ke kamar mandi tersebut. Beberapa orang temanku bahkan nekad mandi di bagian luar kamar mandi yang tertutupi oleh kain handuk yang mereka kaitkan.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya bagianku tiba. Setelah selesai mandi, segera aku memakai batik Al-Muttaqin, batik kebanggaan SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya. Kemudian aku mengenakan blazer khusus untuk pengurus OSIS di SMA Al-Muttaqin. Lantas aku segera berangkat ke aula, tempat pembukaan kegiatan PIRN berlangsung.

Di jalan aku bertemu dengan Fifi, Dea, Fiena, Nuri dan Ratna. Mereka berangkat bersama-sama dari asrama masing-masing.

“Pagi..!” sapaku kepada mereka.

“Pagi.. Fath, kata Pak Shalih hari ini jadi kita interviewnya..?” jawab Fifi.

“Mungkin jadi.. Tapi ana masih bingung mau nanya apaan.. Tapi let it flow aja.. Nanti juga timbul pertanyaan-pertanyaannya..” jawabku.

Kami pun berangkat menuju ke aula yang jaraknya sekitar 50 meter dari asramaku atau sekitar 70 meter dari asrama putri bersama. Kami bertemu Pak Shalih di tempat tersebut.

“Fath, siap-siap target interview Bupati, perwakilan Gubernur, ketua LIPI sama Dik Doank..” ucap Pak Shalih.

“Iya, Pak.. Mudah-mudahan ada kesempatannya..” jawabku.

“Kalau Gubernurnya gak datang, Pak..?” tanya Ratna.

“Sepertinya nggak.. Bapak dengar kabar sih katanya ada keperluan lain sehingga beliau diwakilkan..” jawab Pak Shalih. “Tapi kalian mah tenang saja.. Ikuti saja kegiatan PIRN ini dengan santai dan enjoy.. Ambil manfaat sebesar mungkin.. Tidak usah terlalu terpaku untuk wawancara tokoh.. Oke..?” lanjutnya.

“Oke deh, Pak.. Sambil menyelam minum air..!” jawab Fifi.

Kami pun masuk ke dalam ruangan aula. Ruangan tersebut beberapa meter lebih besar daripada ruangan aula di SMA kami. Ruangan tersebut pun difasilitasi lightning yang mendukung serta pendingin ruangan. Ruangan tersebut memang lebih mewah dibandingkan ruangan-ruangan lainnya.

Seperti biasa aku mengambil tempat duduk yang paling depan. Tapi teman-teman tidak. Mereka mengambil tempat beberapa kursi di belakangku. Beberapa menit kemudian, aku merasa janggal. Barisan kursiku samasekali kosong. Tidak ada yang menempati. Hingga akhirnya kejanggalanku terjawab. Seorang panitia menghampiriku.

“Maaf, Pak.. Ini jangan diisi.. Jajaran ini untuk staf tuan rumah dan pembina..” ucapnya.

“Ooh.. Iya.. Iya.. Maaf ya, Pak..!” jawabku. Mukaku agak memerah. Aku kemudian mengambil tempat duduk di samping Fifi, di barisan keempat.

“Sok tau, sih.. Hehehe..” ledek Fifi. Terlihat teman-teman lain juga menahan tawa. Aku hanya bisa tersenyum malu.

Kegiatan pun dimulai. Dengung Gong yang dipukul tiga kali oleh perwakilan Gubernur menandakan kegiatan PIRN resmi dimulai. Kami bersorak bertepuk tangan. Sejenak lagi petualangan seru di Negeri Laskar Pelangi akan tersaji. Meneliti dengan para calon peneliti terbaik dari seluruh Indonesia.

Di hulu pembukaan kegiatan kami disuguhkan kreasi-kreasi kesenian tradisional masyarakat Bangka Belitung. Kami disambut dengan beberapa tarian, diantaranya tari Bunga Gambus dan tari Campak. Tarian campak adalah tarian khas Bangka Belitung. Tarian itu menggambarkan kebahagiaan seorang laki-laki dan perempuan karena tiba masa panen. Tarian itu sering digunakan sebagai tarian sambutan tamu-tamu penting ke Bangka Belitung.

Usai disuguhi beragam hiburan seni lokal dari daerah Bangka Belitung, kami mendapatkan beberapa materi dari Bupati Bangka, perwakilan Gubernur Bangka Belitung, serta dari ketua LIPI.

Kegiatan PIRN IX ini diadakan di Bangka Belitung ternyata sejalan dengan program pemerintah mereka, yaitu Visit Bangka Belitung Archipelago 2010. Program ini merupakan salah satu jalan promosi daerah wisata mereka, sekaligus promosi Universitas Negeri Bangka Belitung yang baru saja menjadi Universitas Negeri.

Seperti informasi yang sudah aku dapatkan sebelumnya, salah satu pemateri menjelaskan tentang eksploitasi timah di negeri Bangka Belitung ini yang telah dilakukan semenjak beratus-ratus tahun lamanya. Ternyata semenjak sekitar tiga ratus tahun yang lalu hingga sekarang, Sumber Daya Timah di Bangka Belitung masih tersedia. Bahkan mungkin hingga beberapa tahun ke depan, sumber daya tersebut dimungkinkan masih ada. 

“Bahkan ada yang bilang, pulau Bangka dan Belitung ini merupakan timah yang menggunung dan membentuk pulau..!” ucap perwakilan Gubernur Bangka Belitung sebagai salah seorang pemateri.

Tapi tidak selamanya rakyat Bangka Belitung bisa menggantungkan penghasilannya pada eksploitasi timah. Selain akan terus menerus merusak ekosistem yang ada di daerah sekitar penambangan timah, pada suatu hari –entah cepat atau lambat– sumber daya timah yang ada di Bangka Belitung pasti akan habis. Oleh karena itulah, Pemerintah Daerah Bangka Belitung kini akan mencanangkan perubahan sumber pendapatan masyarakat, dari penambangan menuju perkebunan.

Setelah pemaparan tentang Bangka Belitung yang panjang dari perwakilan Gubernur Bangka Belitung dan Bupati Kabupaten Bangka, kami mendapatkan pemaparan tentang sejarah kegiatan PIRN dan kegiatan-kegiatan LIPI yang lainnya.

LIPI, merupakan salah satu aset ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh bumi pertiwi. Semenjak sekitar 42 tahun yang lalu, LIPI telah mengadakan perlombaan-perlombaan penelitian ilmiah tingkat nasional. LIPI juga mendistribusikan pemenang-pemenang perlombaan tingkat nasional untuk dikompetisikan di level internasional setelah mendapatkan pembinaan.

Peserta kegiatan PIRN ini adalah tunas peneliti-peneliti di masa depan. Para peserta kegiatan PIRN ini diarahkan untuk mengikuti perlombaan LKIR ke-42 yang diselenggarakan oleh LIPI. Pemenang kegiatan LKIR ini akan dikirimkan ke Amerika untuk mengikuti International Competition.

Pemaparan dari LIPI tersaji sangat menarik. Kami disuguhi beragam fakta yang membangkitkan gelora peneliti kami. Indonesia, semenjak dahulu merupakan ‘surga’ bagi para saintis. Pola alam, struktur geologis, sejarah, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia merupakan salah satu yang paling menarik dunia. Untuk itulah, pengembangan sumber daya peneliti di Indonesia penting untuk difasilitasi sehingga Indonesia mampu menghasilkan peneliti-peneliti hebat di dunia dengan karya-karya penelitian yang bermanfaat bagi bangsa.

Usai pemaparan dari LIPI, kami diberi waktu sejenak untuk beristirahat. Namun Pak Shalih memanggil kami.

“Ayo, Fath.. Kita wawancara sekarang.. Bupati Bangka sudah keluar..” ucapnya. Dengan segera aku bangkit dari tempat dudukku, diikuti oleh Fifi, Ratna, Dea, Fiena, dan Nuri. Kami bergegas berjalan cepat menuju ke Bapak Bupati Kabupaten Bangka.

Setibanya di gerbang, ternyata sudah banyak yang menyambut beliau. Bukan dari para peserta PIRN yang bertujuan sama seperti kami, tapi dari pers setempat yang berdemonstrasi. Demonstrasi kecil-kecilan. Mereka menuntut penjelasan Bupati mengenai status SMA 1 Pemali yang menurut mereka banyak diberikan subsidi yang berlebih, sehingga membuat SMA lainnya merasa di-anaktiri-kan.

“Tidak ada yang berbeda dengan sistem, subsidi, atau lain sebagainya..” tegas Bapak Bupati.

SMA Negeri 1 Pemali ini memang merupakan SMA Unggulan di Kabupaten Bangka. SMA ini memiliki satu asrama khusus siswa-siswa unggulan. Sehingga mereka mendapatkan pembinaan intensif terkait dengan peningkatan kualitas akademik maupun non-akademik. Tapi dengan keunggulannya, SMA ini menimbulkan suatu kecemburuan sosial bagi sekolah-sekolah lain. Mereka menganggap ada bantuan lebih bagi SMA ini, yang tidak mereka dapatkan.

Usai bercakap-cakap dengan Bupati Kabupaten Bangka, Ketua LIPI keluar dari ruangan eksekutif. Dengan tergesa-gesa kami mengejar beliau. Kami ingin bercakap-cakap sejenak dengan beliau.

“Pak, boleh wawancara sebentar ya..? Kami dari peserta kegiatan, Pak..” ucap Fifi kepada Pak Lukman Hakim, Ketua LIPI bagian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

“Aduh.. Maaf ya, dik.. Bapak sekarang sudah ditunggu di Jakarta.. Waktunya sangat mepet.. Maaf ya..” jawabnya dengan ramah, seraya beranjak masuk ke dalam mobilnya.

“Kalau begitu foto bersama saja boleh, Pak..?” ucapku kepada beliau. Akhirnya beliau keluar sejenak dari mobilnya, dan mengabadikan momen itu bersama kami.

“Terima kasih ya, Pak..!” ucap kami seraya tersenyum lebar kepada beliau. Beliau membalas senyuman kami.
Sayang sekali kami tidak bisa bercakap-cakap dengan Pak Lukman Hakim, salah seorang Ketua LIPI Pusat Jakarta. Padahal banyak sekali yang ingin kami tanyakan.

Akhirnya kami kembali ke tempat kegiatan berpusat untuk mendapatkan materi motivasi lingkungan dari seniman Dik Doank. Gaya pemberian materi, seperti yang sudah aku bayangkan, sangat penuh dengan bahasa-bahasa sastra yang indah dan pas. Materi tentang lingkungan yang berselimut seni dan religi. Banyak mata dibuat terpukau olehnya. Kurasa, hampir semua.

Usai Dik Doank memberikan materi, kami mencoba mewawancarainya. Tapi ternyata kami hanya bisa mengabadikan momen melalui foto bersama.

Usai upacara pembukaan yang cukup melelahkan, kami diberi waktu untuk beristirahat. Waktu Dzuhur tiba. Aku beranjak menuju mushala yang terletak di sebelah kamarku, kemudian melaksanakan Shalat Dzuhur bersama beberapa rekanku. Kemudian aku menuju ke Gedung Serba Guna, untuk menyantap makan siang bersama rekan-rekanku.

Usai makan, aku beranjak menuju ke kamarku. Aku kembali bermain dengan laptopku. Menelusuri dunia internet yang sangat luas, sangat kaya akan informasi. Sore ini akan dilaksanakan suatu pengarahan umum tentang penelitian bersama pakar peneliti ahli dari LIPI.

***

“Selamat sore, kawan-kawan..”

Kami menoleh ke arah sumber suara. Sesosok lelaki dewasa dengan janggut yang menggantung di dagunya. Senyumnya mengembang dengan indah, alami. Wajahnya terlihat sangat ramah. Sebuah kacamata minus menghiasi parasnya.

Namanya adalah Pak Sukarni. Dia adalah pembimbing kami, tim penelitian IPSK selama di Bangka Belitung ini. Beliau adalah tenaga peneliti ahli IPSK di LIPI.

“Saya senang sama penelitian IPSK, karena selain langsung berkaitan dengan masyarakat atau manusia, penelitian bidang ini juga sangat mudah dilakukan. Fenomena sosial dan kebudayaan tersebar di mana-mana. Dan ilmu bidang penelitian sosial dan kebudayaan ini juga bisa terkait ke banyak hal. Mulai dari politik hingga ke bidang teknologi.”

Itu adalah salah satu ucapan beliau yang senantiasa membuat saya senang dan bangga menjadi seorang peneliti IPSK. Bangga menjadi seorang siswa program IPS. Dan senantiasa ingin menunjukkan bahwa IPS tidak seharusnya dipandang sebelah mata.

Memang, setelah melakukan beberapa survei kecil-kecilan kepada teman-teman peneliti IPSK di Bangka Belitung ini, aku belum pernah menemukan mereka yang murni program IPS dari sekolahnya. Rata-rata anak IPA. Kalaupun bukan program IPA, pasti masih SMP atau mereka yang masih kelas 10. Itu pun mereka bercita-cita untuk masuk kelas program IPA. Bahkan mungkin bisa dibilang, aku satu-satunya peneliti IPSK yang murni berasal dari program pendidikan IPS.

Kami diberikan pengayaan mengenai penelitian selama kurang lebih 1 jam. Segala hal mengenai penelitian dibeberkan di forum ini. Mulai dari penulisan judul, hingga tata letak daftar pustaka. “Kita tidak terlalu lama ya.. Bapak yakin teman-teman ini orang-orang terpilih dari sekolah masing-masing yang sudah punya basic di dunia penelitian ini..” ucap Pak Karni menjelaskan.

“Suatu penelitian pada dasarnya harus memiliki aspek kebermanfaatan. Sebuah penelitian yang baik adalah penelitian yang mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.” Tegasnya. Intinya itu. Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa langkah pertama yang harus tepat adalah tentang judul penelitian. Seperti apa penelitian yang akan kami lakukan, itu bergantung pada judul yang kami ajukan.

“Nanti malam penentuan judul.. Kalian akan diberi masing-masing satu orang pendamping dari pribumi per kelompoknya.. Sekarang, kalian bisa beristirahat sambil berpikir tentang tema yang pas untuk kelompok kalian.. Kita berkumpul lagi di sini pukul 19.30 ya..!” ucapnya disambut dengan anggukan kepala dari para peneliti IPSK.

***

Bulan bersinar bulat di langit Bangka yang cerah malam ini. Cahayanya bersinar menembus hutan melalui celah-celah pohonnya. Sebelah timur asrama kami memang terletak hutan. Kalau kita berjalan menuju ke aula dari asrama peserta, kita akan melewati jalan yang berbatasan langsung dengan hutan. Dari sana bisa terlihat langsung hutan yang lebat dengan pohon-pohonnya.

Waktunya telah tiba. Selepas Shalat Isya, kami berkumpul kembali di gedung Aula untuk merumuskan judul penelitian apa yang akan kami luncurkan untuk beberapa hari ke depan. Berbagai alternatif judul melayang-layang di otakku. Penelitian ilmu sosial sangat luas. Bisa terkait dengan fenomena budaya, ekonomi, politik, gejala sosial, hingga tindakan sosial manusia. Aku sendiri masih bingung terkait judul apa yang pas kami luncurkan di penelitian ini.

Kami pun berkumpul bersama di gedung aula malam itu. Tanpa mendapatkan pengarahan umum, kami langsung bergabung bersama kelompok studi kami masing-masing. Aku bersama rekan-rekan peneliti IPSK, Nuri dan Fifi bersama rekan-rekan peneliti IPT, serta Ratna, Dea dan Fiena bersama rekan-rekan peneliti IPA.

“Judul yang kalian laporkan malam ini akan sangat berpengaruh terhadap apa yang akan kalian lakukan satu pekan ke depan. Oleh karena itu, berpikirlah kreatif dan menyenangkan! Agar satu pekan ke depan menjadi pekan yang menyenangkan bagi kalian..!!” ucap Pak Karni dengan ramah. Perangainya sangat kebapakan.

Aku berkumpul bersama rekan-rekan satu grupku. Berdiskusi tentang tema menarik yang akan kami kaji di Negeri Laskar Pelangi ini. Aku sendiri telah menyiapkan beberapa alternatif judul. Hingga kini baru 3 jenis judul yang aku persiapkan.

“Kita harus tau dulu fokus kita ke arah mana.. Ekonomis-kah, Sejarah-kah, Perilaku Sosial-kah, atau Budaya.. Itu dulu yang penting..” ucap Akbar.

“Betul itu.. Supaya jelas arah dan tujuannya..” sambung Tias, tetap dengan medoknya yang lekat. “Jadi mau tema yang mana tho, Pak Ketu..??” ucapnya kepadaku. Semua mata menatapku.

“Lho.. Lho.. Kita itu khan Negara demokrasii.. Jadi ndaku ndak biso ngambil keputusan sendiri, ya tho Mba’ Tias..? Itu namanya otoriter.. Hehehe..” kelakarku sembarangan seraya mengikuti gaya berbicara medoknya Tias. Semua tertawa.

“Ya, bener-bener.. Kasian juga kalo dia yang mikir sendiri.. Kita pikirkan bersama..!” ucap Siti. “Tapi mungkin Pak Ketu ini sudah punya rencana, tho..?” lanjutnya mengikuti medok Tias.

Lho, bingung aku.. Kok semua jadi ikut medok gini, tho..? Walah walaah..” protes Tias.

“Hahaha.. Iya, kasian Tias diejek melulu.. Itu khan ciri khas dia dengan adatnya..” sambung Vinny.

“Hahaha.. Bener tuh Vinny.. Oke, kita mulai dengan penampungan ide.. Sebenarnya aku pribadi udah ada beberapa judul.. Ya, silahkan kita kaji.. Kalaupun temen-temen juga ada yang sudah punya ide, sekalian kita kaji SWOT-nya..” ucapku.

“Apa Kak..? Sewot..??” tanya Pram kepadaku.

“SWOT, Pram..! Itu artinya kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dari judulnya..! huu, masa gitu aja nggak ngerti..?” ucap Febri seraya memukul pundak Pram.

“Oke, kita langsung fokus ke tema.. Kalau aku pribadi lebih tertarik sama kasus-kasus budaya dan perilaku sosial..” ucapku.

“Judulnya apa..?” tanya Vinny.

“Kita harus tahu dulu lokasi tempat kita akan meneliti.. Eh, katanya ada guide dari siswa di SMA 1 Pemali ini..? Mana orangnya..?” ucap Akbar.

Tiba-tiba datang seorang siswi SMA 1 Pemali mengenakan jaket almamater mereka. Agaknya dia adalah guide yang dimaksudkan.

“Assalamu’alaykum.. Ini kelompok 2 ya..?” ucapnya kepada kami.

“Iya Kak..! Kakak yang jadi pendamping kami ya..?” tanya Febri.

“Iya.. Perkenalkan.. Namaku Sischa.. Sekarang baru naik ke kelas 12.. Sama seperti teman-teman mungkin..” ucapnya.

“Oke.. Salam kenal..!” sapaku ramah. “Aku Fathir, ketua kelompok ini.. Semoga bisa bekerjasama, ya..!” lanjutku.

“Baik.. Kalian tak usah segan bertanya ke aku kalau ada yang ingin diketahui mengenai lokasi-lokasi di Bangka ini ya..!”

“Baiklah.. Pertama kak, kami ingin tahu dulu bagaimana keadaan lokasi kita mengadakan penelitian nanti..?” ucap Akbar pada Sischa.

“Lokasi tempat kalian akan melakukan penelitian adalah Desa Kampung Jawo.. Di sana itu tempat berkumpulnya masyarakat-masyarakat yang berasal dari pulau Jawa.. Kebanyakan ya yang keturunan Jawa.. Nah, di sana juga termasuk salah satu desa yang sangat banyak kolongnya.. Ada beberapa yang dijadikan kolam ikan.. Tapi baru sedikit..”

“Woh, ada juga tho wong jawa di Bangka ini..?” seronoh Tias.

“Orang jawa mah ada di mana-mana, Tias.. Gak pantang menyerah meraih barakah di bumi manapun.. Ya khan..?” jawabku.

“Betul, betul, betul.. Mayoritas orang Jawa di tempat ini bekerja sebagai penambang timah.. Kerja yang membutuhkan semangat yang tinggi..” ucap Sischa.

“Oke, kita sudah ada gambaran lokasi.. Jadi kira-kira penelitian yang akan kita ambil itu yang seperti apa..?” tanya Akbar.

Kami terdiam. Berpikir. Mengharap datangnya inspirasi. Yang tepat, yang menyenangkan.

“Bagaimana kalau tentang kultur..? Kita bisa kaitkan dengan mayoritas orang jawa yang berada di tempat itu.. Pola persebaran mereka yang berkumpul bisa dikaitkan dengan hubungan mereka terhadap masyarakat di luar daerah desa tersebut..” ucapku.

“Ya, di sekitar daerah Desa tersebut tepat beberapa meter ada sebuah Desa tempat berkumpulnya orang-orang keturunan Cina.. Mereka juga sama, berkumpul di satu wilayah yang terpusat..” ucap Sischa.

“Wah, Cina juga sama.. Orang Cina di dunia itu ibarat orang Jawa di Indonesia.. Tersebar di mana-mana.. Mungkin karena sudah terlalu banyak ya..?” ucap Vinny.

“Ya, seperti itulah.. Oke, jadi temanya itu aja..?” tanya Akbar.

“Aku sih lebih tertarik terhadap kajian ekonomi..” ucap Vinny.

“Ekonomi..?”

Kami kembali berpikir. Hening untuk sejenak. Apa yang bisa dikaitkan dengan kegiatan ekonomi di Desa Jawo itu?

“Kalau ingin mengkaji kegiatan ekonomi masyarakat Desa, bisa kita cari tahu tentang kegiatan masyarakat pascausia produktif mereka menambang timah.. Pasti ada batas umurnya dong mereka kuat menambang timah.. Nah, setelah mereka berhenti menambang timah, apa yang rata-rata mereka lakukan..?” ucapku.

“Betul itu.. Beberapa di antara mereka juga memiliki kolong-kolong di daerah tersebut.. Bisa jadi mereka memanfaatkan kolong tersebut untuk kegiatan pascapenambangan mereka..” ucap Sischa.

“Kolong..? Apaan kolong..?” tanya Vinny.

“Kolong adalah bentuk muka bumi yang cekung ke dalam diakibatkan kegiatan masyarakat yang menambang timah..” ucap Siti menjelaskan.

“Kolong-kolong di Bangka ini bisa kita lihat jelas kalau dari pesawat.. Bagaikan lubang-lubang yang menghiasi negeri timah ini.. Kolong-kolong ini kemudian terisi air dari tanah yang mereka gali, juga dari air hujan yang tertampung.. Beberapa kolong dimanfaatkan untuk kegiatan wisata.. Tapi banyak diantaranya menjadi danau buatan yang tiada digunakan.. Betul, khan..?” ucapku.

“Wah, walaupun bukan orang Bangka, tapi kakak tahu banyak ya..?” ucap Pram.

“Ya, aku baca-baca artikel Bangka dulu di Internet, sebelum berangkat ke tempat ini..” jawabku.

“Kita bisa mengkaji kenapa banyak kolong di Bangka ini yang belum dimanfaatkan..  Kita bisa tanyakan kepada orang-orang yang memiliki kolong di Desa tersebut..” ucap Siti tiba-tiba.

“Lho, bukannya kolong-kolong itu milik pemerintah ya..? Khan instansi resmi yang memiliki hak eksploitasi timah di Babel itu hanya milik PT. TIMAH, khan..?”

“Betul, tapi memang masih banyak tambang-tambang timah ilegal yang tetap nakal menambang timah di tempat yang tidak direkomendasikan untuk di gali.. Memang mudah sekali mendapatkan timah di Bangka.. Tidak menambang dengan alat-alat canggih pun masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan bahan timah di Bangka.. Karena memang timah ada di setiap tanah di Bangka..” ucap Sischa.

“Hhh.. Ya inilah Indonesia kita.. Keadaan yang masih sering menghimpit memaksa masyarakat kita untuk terus melanggar peraturan-peraturan.. Tak heran hanya di Indonesia ada istilah ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar’..”

“Kalaupun keadaan sudah tidak terhimpit, rasa tamak yang merajalela yang membuat mereka terus melanggar peraturan-peraturan itu..”

“Padahal, peraturan itu dibuat bukan untuk dilanggar.. Tapi untuk menciptakan keteraturan.. Ya, kalau peraturan terus dilanggar, nggak heran bangsa kita nggak teratur-teratur..”

“Betul.. Makanya, kita yang harus jadi agen perubahan di masa depan..!”

Percakapan jadi ngawur untuk sejenak. Tapi percakapan yang ngawur itu membawa spirit baru bagiku untuk terus berusaha menjadi agen perubahan. Membawa Indonesia lebih baik lagi. Dan lebih khususnya, lebih semangat untuk memberikan yang terbaik dalam kegiatan penelitian ini.

“Oke, jadi kita ambil tema itu saja,ya..! Kita buat malam ini di asrama masing-masing rumusan masalah yang akan kita kaji.. Lebih detail lebih bagus.. Besok kita kumpul jam 7 di tempat ini, untuk membahasnya terus kita buat kuesionernya.. Setuju..?” ucapku yang disambut dengan sahutan setuju dari semua teman-teman.

“Oke, judulnya biar aku saja yang laporkan ke Pak Karni.. Sekarang kalian istirahat saja dulu.. Aku ada rapat panitia..” ucap Sischa.

Yo wiss.. Makasih yo Sis..! Kalo gitu kita balik dulu.. Dadaah..” ucap Tias. Kami pun berpisah dan beristirahat bertemankan mimpi dan angan kami masing-masing. Sejumlah rencana dan strategi sudah tergambar di otak kami masing-masing. Besok harus lebih baik!

***

2 comments:

duha agusta mengatakan...

hei, saya suka sekali dengan cerita mu ini. sesekali mngkin bisa tukar fikiran untuk saling share tulisan-tulisan

Fathan Mubina mengatakan...

boleh, bro. bisa follow aja @fmubinaa :D :p

Posting Komentar