Jumat, 22 Juli 2011

Jujur Membawa Berkah!




Aku berjalan menelusuri jalan menuju ke rumahku. Menikmati pemandangan yang mungkin sebentar lagi aku tak akan sering melihatnya. Hulu-hilir mobil angkutan kota semakin membawaku pada bayangan dan anganku sendiri. Keramaian di sekitarku terasa hambar. Bimbang. Ya, aku tengah dirasuki kebimbangan yang mendalam.

Seketika berbisik keras suara ibuku, “Akmal, bagaimanapun kamu harus lihat potensi kamu juga, nak.. Ibu percaya jika semenjak awal kamu belajar dengan serius, kamu pasti bisa menghadapinya oleh tanganmu sendiri.. Tapi inilah sistem, nak.. Kamu siap untuk tidak lulus..?”
Teringat saat itu aku hanya bisa menundukkan kepalaku mendengar nasihat-nasihat – yang menurutku tabu – dari perempuan yang paling aku cintai itu.


Lalu berganti suara lembut yang aku suka dari seorang sahabatku, “Akmal.. Hidup ini adalah pilihan.. Setiap pilihan ada resikonya.. Setiap pilihan ada tanggung jawabnya.. Keduanya akan engkau dapati baik di dunia maupun di akhirat.. Aku tidak akan menyuruhmu memilih salah satu jalan dari dua jalan yang engkau bimbangkan ini..  Inilah resiko dari sistem yang ada sekarang.. Ya, ketika kejujuran dipertaruhkan demi sebuah kata kelulusan. Aku tidak akan mengganggumu, apapun jalan yang kau pilih.. Tapi aku hanya ingin memberitahumu, inilah jalanku.. Silahkan kau pilih jalanmu.. Aku akan bersamamu jika kita memilih jalan yang sama, kawan.. Tapi meskipun aku tidak bersamamu, kau tetap sahabatku..”

Memang, terkadang aku merasa tidak nyaman ketika mendapat nasihat dari orang yang sebaya denganku. Tapi omongannya kali ini berkecamuk hebat di dadaku. Seolah tengah berperang dengan nasihat – atau mungkin tuntutan – dari kedua orangtuaku. Aku ingin lulus, tapi aku juga ingin mempertahankan kejujuran yang baru saja aku dapatkan ini. Apa yang akan kalian lakukan jika kalian menjadi aku?

Semua bermula ketika aku mendengar sebuah tausyah dari seorang ustadz ternama di sebuah stasiun televisi. Satu kalimatnya terus mendengung di telingaku hingga menjadi satu titik balik kehidupanku. Beliau berkata, “Untuk mengetahui apakah perbuatan kita diridhai oleh Allah atau tidak, itu sangat mudah dan sangat sederhana! Satu kuncinya, adukan itu dengan kematian..!”

Aku agak bingung menangkap maksudnya. Tapi kemudian aku terkonsentrasi dengan kalimat berikutnya. “Coba ketika kita melakukan suatu hal, apakah kita siap jika Allah mengambil nyawa kita kala itu..? Jawab dengan hati kita.. Hanya ada dua jawaban, dan dua artinya.. Jika kita bersedia dan berani, artinya perbuatan itu bersama ridha Allah.. Dan jika kita tiada berani, maka dalam perbuatan kita itu tidak ada pula ridha Allah..!!”

Tergetar aku mendengarnya. Mungkin inilah yang disebut dengan pendengaran hati. Tidak sebatas masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Tapi masuk ke hati. Menyentuh urat hidayahku.

Semenjak hari itu aku berubah. Aku menjadi sangat berhati-hati dengan segala sikap dan perilakuku. Ya, meskipun tidak bisa sepenuhnya berubah untuk menjadi manusia yang penuh memberikan arti, aku senantiasa mencoba untuk terus menjadi lebih baik. Dan yang paling berpengaruh terhadap hidupku, perubahanku dalam belajar.

Semenjak aku kelas satu, aku tidak pernah belajar dengan serius. Jika tuntutan akhirnya adalah lulus ujian, cukup mencari jawaban untuk ujian itu..! Tidak perlu memaksakan diri di bidang yang tidak kita suka..! batinku. Aku pun selalu memanfaatkan teman-teman sekitarku untuk mendapatkan nilai akademik.

Hasilnya tidak terlalu jelek. Bagus malah. Aku seringkali mendapatkan nilai-nilai ujian yang besar. Tapi entahlah, semua terasa hambar. Jauh hari, tentu aku akan bersyukur bahwa Allah masih memberikan “rasa hambar” itu di hatiku kala itu. Melihat ternyata banyak teman-temanku yang melakukan hal yang sama denganku, tapi mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan hasil itu. Malah menyombongkannya kepada orang lain. Hal yang samasekali tidak aku rasakan pada ‘masa jahiliyahku’ dulu.

Kembali ke kisahku, semua ketidaknyamanan yang aku rasakan membuatku ingin mencari kedamaian. Dan Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan Firman. Dia adalah sahabat yang sangat baik. Aku bahkan menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Kami baru bertemu sebenarnya semenjak kami SMA. Dan itu waktu yang cukup bagiku merubah sikapku untuk menjadi lebih baik.

Aku dan Firman tinggal satu rumah. Kami menyewa sebuah rumah kos yang dekat dengan sekolahku. Kebetulan lokasi rumahku cukup jauh dari lokasi sekolahku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di rumah sederhana itu bersama Firman dan Kak Randi. Kak Randi adalah seorang aktivis dakwah yang sangat berpengaruh di kota ini. Dia adalah salah seorang mas’ul atau koordinator bagian di salah satu organisasi dakwah remaja di kota ini.

Hari-hari berikutnya kami lalui dengan indah. Firman sudah lama ikut khalaqah atau mentoring keagamaan. Keluarganya adalah keluarga yang lahir dari khalaqah. Hingga dia bisa lebih menjaga sikapnya selama ini. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang saleh dan apa adanya. Sedangkan Kak Randi lebih lagi. Dia sudah menjadi murabbi atau guru spiritual kami secara tidak resmi sekaligus menjadi saudara kami. Selama tinggal bersama mereka, aku rasakan kedamaian dan keindahan islam.

Singkat kata, aku diperkenalkan oleh mereka berdua kepada dunia yang indah. Dunia khalaqah. Dunia tempat kami terus menggali ilmu dengan hikmah. Dunia yang kemudian membawaku menjadi aku seperti hari ini. Image-ku di SMA berubah. Mulanya aku terkenal dengan gambaran seorang anak alun-alun. Seorang yang sering bermain di jalanan pada malam hari. Tapi kini, aku banyak dikenal sebagai seorang yang gemar ke masjid.

Tapi itu belum merubah tabiatku dalam hal belajar. Aku mulai dengan prinsipku bahwa sebisa mungkin aku harus jujur. Meskipun hasilnya tidak memuaskan. Tapi tetap saja, aku jarang belajar. Kejujuranku itu aku iringi dengan rasa malas untuk belajar. Hingga akhirnya, aku seringkali mendapatkan hasil nilai sekolah yang kurang memuaskan. Berbeda dengan Firman, yang senantiasa menjadi bintang di kelas kami.

Itu pulalah yang membawaku pada kebimbangan ini. Aku bingung. Apakah aku harus konsisten dengan kejujuran ini, dengan mempertaruhkan status kelulusanku? Ataukah aku harus mengejar status lulus itu dengan menggadaikan kejujuran yang selama ini aku bina? Sejujurnya, aku ragu bisa mengejar ketertinggalanku semenjak kelas 10 yang jarang sekali belajar. Entahlah. Semua itu terus berkecamuk di benakku.
***

“Keduanya bukan pilihanmu, kawan.. Aku percaya, bahwa kita bisa mengoptimalkan sisa waktu kita ini! Ayo kita terus berikhtiar bersama, Mal..!” ucap Firman kepadaku ketika aku menceritakan kegalauanku kepadanya.

“Tapi jujur, Man.. Aku sangat terkait jauh dibandingkan kamu.. Untuk Matematika, aku sudah sangat bingung.. Pelajaran semenjak kelas 10, aku hanya sedikit mengerti di 3 Bab saja.. Sisanya, aku benar-benar bingung! Lalu bagaimana mungkin aku lulus jika aku jujur pada kemampuanku ini, Man..?” ucapku.

“Kita pasti bisa, Mal.. Kau sendiri tau bagaimana aku belajar di rumah selama ini.. Aku tidak serajin yang teman-teman bayangkan.. Bahkan kurasa kamu lebih rajin dariku.. Aku percaya, kalau kita bisa optimalkan masa-masa terakhir kita ini, kita bisa melaluinya dengan jujur Mal..!” jawabnya dengan tegas.

“Tapi Man..”

“Firman benar, Mal.. Kalau kalian bisa optimal dalam ikhtiar ini, kakak yakin kalian bisa..” ucap Kak Randi menenangkanku. “Seorang mujahid sejati akan senantiasa memegang teguh prinsip yang dia pegang, selama dia yakin bahwa itu benar.. Kakak yakin kalian, khususnya kamu Mal, bisa..” lanjutnya. Kali ini terdengar lebih melejitkan semangatku.

“Hmm.. Astagfirullahal’adzim.. Apa yang aku lakukan? Maaf ya Man, kak Randi.. Aku khilaf..” ucapku. 

“Insya Allah, sisa waktu ini akan aku manfaatkan dengan optimal..” lanjutku yakin.

“Alhamdulillah.. Gitu dong, Akh.. Hehehe..” sambung Firman seraya merangkul bahuku.

“Ayo, hamasah yaa ikhwah!!” ucap Kak Randi seraya merangkul bahuku yang satu lagi. Ah, beruntung rasanya aku bisa mendapatkan atmosfer ini. Indahnya kebersamaan dalam dekapan ukhuwah. Alhamdulillah, ya Allah!
***

“Mal.. Akmal… Ayo bangun Mal.. Kita tahajud dulu…”

Aku tergugu mendengar ajakan itu. Aku paksakan mataku untuk terbuka dan tubuh-tubuhku untuk bangkit dari pesona mimpi yang melenakanku. Setengah terpejam, aku mengangguk sedapatnya kepada Firman. “Iya Akh… Oaaahm..”

“Tutup mulutnya kalau menguap akh.. Hehehe..”

“Eh, iya.. Astagfirullah..” ucapku. Aku kemudian mengumpulkan nyawaku dan segera menuju ke kamar mandi. Wajahku kemudian disegarkan oleh cipratan air yang kuambil untuk menyempurnakan wudhuku. Segar yang membangunkanku secara utuh. Aku segera keluar setelah selesai berwudhu dan menuju ke kamarku.

“Beres tahajud langsung kesini ya Akh.. Kita sahur bareng-bareng..” ucap Kak Randi. Agaknya dia sudah selesai tahajud. Basahnya air wudhu masih menetes dari janggutnya yang rapih.

“Iya Kak.. Wah, keduluan melulu nih..” ucapku.

“Gak apa-apa Akh.. Kakak juga lagi mau masak soalnya.. Hehehe..”

Aku masuk ke kamar dan menyalakan lampu kamarku yang cahayanya kemudian memenuhi seluruh ruangan sempit itu. Aku fokuskan pikiranku, lalu aku dirikan shalat tahajudku malam ini dengan syahdu. Sangat indah.

Tangisku meledak ketika sujudku yang terakhir. Kembali terkuak wajah kedua orangtuaku yang terus memaksaku untuk mengurangi idealisme-ku dalam menghadapi ujian kali ini. Juga dari pihak sekolah yang juga sedikit menganjurkanku untuk mengurangi idealisme-ku ini. Beberapa dari mereka tidak percaya atas kemampuanku. Aku sangat sedih menerima kenyataan itu. Bahwa mereka sangat menyayangiku dengan cara yang tidak aku sukai. Tangisku meledak lagi. Sujud kali ini cukup lama aku lakoni.

Usai shalat, aku panjatkan aduanku ini pada Penggenggam Jiwaku. Sepenuh hati, aku berdoa agar aku dikuatkan. Karena aku merasa sangat lemah. Sangat labil.

Selesai dengan pengaduanku, aku mengambil buku latihan soal Ujian Nasional yang sudah jauh hari aku beli. Lalu aku menuju ruang makan untuk menyantap sahur bersama Kak Randi dan Firman. Aku mengerjakan soal-soal di buku tersebut seraya menyantap sahur bersama. Sesekali aku bertanya kepada Firman jika aku menemukan soal yang sulit untuk aku kerjakan sendiri.

“Gimana persiapan kalian nih..?” ucap Kak Randi.

“Alhamdulillah, kak.. Masih terus proses ikhtiar..” ucap Firman. “Kalau saya Alhamdulillah tinggal latihan-latihan varian soal lagi.. Secara konsep, Insya Allah udah ada di kepala.. Hehe..” lanjutnya.

“Saya juga Kak.. Masih harus belajar.. Masih ada beberapa bab yang masih harus di perdalam lagi pemahamannya.. Apalagi Matematika.. Baru menguasai yang kelas satu aja..” sambungku.

“Alhamdulillah kalau begitu.. Ikhtiar kalian akan dicatat sebagai amalan kalian, Insya Allah.. Kakak pernah dengar, kata Imam Syahid Hasan Al-Banna.. Beliau pernah memberi nasihat bahwa Allah tidak menuntut hasil kerja.. Samasekali tidak.. Bukan hasil kerja, tetapi benarnya orientasi dan baiknya persiapan.. Setelahnya, bila kita keliru, maka kita akan mendapat pahala kerja yang sungguh-sungguh.. Dan bila kita benar, maa kita akan mendapat pahala dan keberhasilan.. Ketahuilah bahwa Allah beserta kita dan tidak akan menyia-nyiakan amalan kita.. Dan sesungguhnya, kemenangan adalah milik orang-orang yang bekerja, Akhi..” ucap Kak Randi panjang lebar. Kami hanya tersenyum-senyum mendengarnya.

“Iya, Kak.. Kalimat yang sangat indah dan bernilai motivasi..” ucapku.

“Intinya adalah benarnya niat dan baiknya persiapan ya, Kak.. Itu bagian dari ikhtiar kan, ya Kak..?” sambung Firman.

“Ya.. Setelah ikhtiar itu telah selesai kita optimalkan, ada dua suplemen yang akan senantiasa membuat kita kuat.. Sabar dan syukur.. Kedua sikap itulah yang akan senantiasa membuat kita lebih kuat menghadapi segala hasil yang telah diskenariokan oleh-Nya..”

“Ya Kak.. Insya Allah, ya..” ucap Firman.

“Saya juga suka sama kata-kata Kakak.. Yang dulu Kakak SMS-kan ke saya.. Isinya adalah bahwa setiap rintangan dan ujian, jika itu tidak sampai membuat kita MATI, maka semua itu hanya akan membuat kita lebih kuat.. Ya, itu sangat menguatkan saya..” sambungku.

“Ya..  Semua itu adalah yang terbaik yang telah diberikan Allah bagi kita.. Insya Allah, ya..” lanjut Kak Randi. Tak lama kemudian terdengar suara adzan. Adzan merdu yang menandakan dimulainya hari ini. Aku tekadkan di dalam hati bahwa ikhtiarku hanya aku persembahkan kepada Rabb-ku. Selanjutnya terserah kepada Allah. Namun tidak dapat aku nafikan bahwa aku masih agak takut jika tidak lulus. Dan aku merasa bahwa kemampuan Matematika-ku masih sangat kurang. Ah, sudahlah. Ikhtiar dulu!

***

Waktu bergulir begitu cepat. Hanya tinggal satu pekan lagi, aku dan ribuan siswa kelas 12 SMA se-Indonesia akan melaksanakan hajat besar nasional bersama-sama. Sebuah hajat pemerintah yang sering menjadi sangat menyedihkan. Dimana banyak idealisme siswa tergadaikan. Banyak nilai kejujuran yang rela ditukarkan dengan nilai besar yang tertera di ijazah mereka. Ujian Nasional.

Aku merasa ada yang berbeda dengan teman-temanku. Sikap mereka terhadapku, terutama terhadap Firman. Kami semua seolah menjauh. Lebih-lebih Firman. Sangat terlihat kekecewaan teman-teman terhadap Firman. Mungkin ini disebabkan oleh sikap Firman yang konsisten terhadap kejujuran yang dia pegang.

“Ya, kalaupun gak mau dapat kunci jawaban, jangan pelit sendiri dong! Mentang-mentang orang pinter..” ucap salah seorang rekanku kepada Firman suatu ketika. Ini terjadi ketika beberapa pekan lalu kami melaksanakan Ujian Akhir Semester yang pada tahun ini dilaksanakan sebelum penyelenggaraan UN.

“Iya nih.. Kita menghargai kamu yang yakin sama kemampuan kamu sehingga mengerjakan ujian itu sendirian.. Gak menerima kunci jawaban yang udah susah-susah kita cari ke sekolah lain.. Tapi ya seenggaknya kamu bantuin temen-temen yang lain lah.. Cocokkin kunci jawabannya sama jawaban kamu, supaya kita tau kunci jawaban itu benar atau nggak..” sambung yang lain dengan polos. Firman hanya terdiam di tempat duduknya.

“Kawan, coba kalian lihat di peraturan nomor 4 itu.. Disana disebutkan bahwa kita tidak boleh menanyakan jawaban kepada orang lain, atau memberikan jawaban kepada orang lain.. Berinteraksi saja sebenarnya sudah tidak boleh.. Kalau saya memberikan jawaban saya kepada salah seorang dari kalian, itu sama saja melanggar peraturan.. Kalau gitu, buat apa saya bela-belain jujur dan ga liat kunci jawaban kalian.. Mendingan liat yang kalian juga kalau begitu mah.. Rugi di saya atuh..?” ucap Firman dengan tenang. Teman-teman terlihat tambah jengkel menghadapinya.

“Nah kalau gitu kamu juga lihat aja..! Kita mah gak apa-apa kok..” sambung yang lain.

“Gak mau ah.. Takut ketahuan sama Pak Yahya..” ucap Firman dengan polos. Pak Yahya adalah seorang guru yang sangat idealis. Mungkin bukan satu-satunya guru idealis yang tersisa di sekolah kami, tapi yang pasti beliaulah yang paling berani. Beberapa teman sekelasku pernah mendapatkan ‘dampak’ dari ketidakjujuran mereka di UAS ini. Pak Yahya samasekali tidak segan untuk merobek lembar jawaban mereka dan mempersilahkan siswa yang ketahuan menyontek untuk ke ruang POKJA.

“Nggak bakalan..! Gue jamin deh.. Kan kita juga hati-hati Man.. Guru-guru gak bakalan ada yang lihat deh..!! Percaya sama gue, Man.. Ntar biar gue yang atur..” jawab salah seorang dari mereka.
Firman kemudian berdiri seraya tersenyum. Menatap wajah temanku yang berbicara tadi dalam-dalam. Tatapannya sangat tenang dan meyakinkan. “Ya, mungkin Pak Yahya tidak melihat kita.. Tapi…… bukankah TUHANNYA Pak Yahya PASTI MELIHAT kita..?” ucapnya dengan tenang. Matanya masih menatap tajam wajah temanku. Aku terkagum melihatnya. Sungguh berani.

“Kenapa kita harus takut kepada Pak Yahya sedangkan kita samasekali tidak takut kepada Allah..? Kenapa kita harus malu kepada para guru-guru sedangkan kita samasekali tidak malu kepada Allah..? Ini jalanku, kawan.. Aku harap kalian bisa menghormatinya, sebagaimana aku menghormati pilihan kalian tadi.. Aku samasekali tidak melapor kepada guru kan, bahwa kalian saling bekerjasama..? Padahal itu jelas dilarang dalam aturan..” lanjutnya dengan tegas.

Teman-teman yang ada di sana terdiam. Diam seribu bahasa. Tampak sangat kaget dan tidak mampu berkata-kata. Karisma yang terpancar dari ketulusan hati Firman tampak membuat mereka sangat segan. 

“Emmh.. Ah.. Eumh.. Halaah.. terserah lo aja deh!” jawab temanku yang ditatap Firman dengan agak terbata. Mereka semua lalu langsung beranjak keluar dari ruangan kelas. Firman menghembuskan nafas panjang, kemudian terduduk lagi. Dia membuka buku pelajaran yang akan diujikan hari ini.

Semenjak itulah Firman seolah menjadi musuh bagi seluruh teman-temanku. Ralat, tidak semua. Terkecuali anak-anak Rohis dan anak-anak khalaqah. Beberapa dari mereka juga sebenarnya sering menyontek. Dan aku sangat mengetahui bahwa mereka juga sebenarnya masih mengharapkan Firman melunak. Tapi mereka tidak memusuhi Firman.

Yang aku kagumi dari Firman, dia samasekali tidak membalas sikap-sikap itu dengan sikap yang serupa. Dia justru sangat giat untuk mengingatkan teman-teman seangkatan dengan sering mengirimkan SMS Dakwah. Di samping itu, dia giat sekali mengajak teman-teman lain untuk belajar bersama. Tapi hanya sedikit yang merespon. Kebanyakan dari kalangan akhwat.

Aku sendiri masih agak bingung tentang matematika. Belakangan aku mendalami pelajaran-pelajaran lain. Aku agak melunak. Aku sempat berpikir untuk menyontek hanya di pelajaran matematika saja. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus di mata pelajaran lain yang memang lebih aku kuasai dan aku sukai. Tapi melihat Firman, aku jadi malu sendiri.

“Firman.. Apa gak sebaiknya kamu sedikit melunak saja, Man..? Kamu bilang saja sama mereka, bahwa mereka boleh saja melihat jawabanmu.. Asalkan kamu tidak tahu..” ucapku pada suatu kesempatan.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap pada pendirianku. Aku akan tetap jujur, apapun hasilnya kelak. 

Tapi aku tidak boleh pasrah. Ikhtiarku harus terus berjalan. Harus tetap istiqamah pada jalan yang tepat. Satu pekan ini akan menjadi pekan pertarungan terakhirku. Pekan penentuan nasibku setelah selama tiga tahun ini berikhtiar di tingkat SMA. Aku tidak akan menyerahkan kejujuranku hanya kepada satu kata lulus. Aku akan lulus, dengan jujur!

***

Lagi-lagi waktu terus bergulir dengan cepat. Pantaslah Allah swt., sangat menghargai waktu. Bahkan dalam surah Al-Ashr, Allah bersumpah atas nama waktu. Aku pernah membaca dalam sebuah buku bahwa sepanjang sejarah tafsir dalam Al-Qur’an, ketika Allah bersumpah dengan salah satu makhluknya, maka bisa dipastikan bahwa sesuatu tersebut adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan. Ketika Allah bersumpah dengan makhlukNya, maka hal tersebut pasti memiliki kedudukan yang sangat stategis dalam struktur kehidupan manusia. Misalnya, selain waktu, Allah bersumpah atas nama matahari, bulan, bintang, dan yang lainnya.

Ini sangat menunjukkan bahwa waktu adalah hal yang sangat penting dan sangat strategis dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, beruntunglah mereka yang sangat menghargai waktu dan memanfaatkan waktu yang ada dengan seoptimal mungkin. Tentu saja, karena satu detik yang telah terlalui takkan pernah kembali. Dan satu detik ke depan tak akan pernah sama dengan detik yang tengah kita lalui sekarang. Itulah hebatnya waktu. Jika Allah saja sangat ‘menghargai’ waktu, mengapa kita tidak?

Tidak terasa beberapa waktu yang lalu kami telah memulai pelaksanaan Ujian Nasional. Dan bagiku, hari ini adalah hari penentuannya. Hari pelaksanaan Ujian Nasional, suatu hajat besar tingkat nasional untuk siswa-siswi kelas 12 SMA se-Indonesia. Mata pelajaran yang akan diujikan hari ini adalah yang tersulit bagiku. Matematika.

Pelajaran-pelajaran yang lain telah aku selesaikan dengan baik. Dan aku sangat yakin bahwa aku bisa meraih nilai yang optimal di dua pelajaran sebelum hari ini. Namun hari inilah yang tersulit. Secara umum, konsep-konsep Matematika telah aku hafal dalam otakku. Namun terkadang aku masih sulit untuk mengerjakan bentuk soal dalam varian yang berbeda.

Bismillahirrahmanirrahim, ucapku dalam hati. Hari ini adalah hari terakhir ikhtiarku dalam perjuangan untuk ‘bersahabat’ dengan Matematika. Aku harus bisa jujur! Apapun hasilnya!, tegasku dalam hati.

Bel sekolah berdering, seiring dengan suara pengumuman dari Pak Yahya bahwa pelaksanaan Ujian Nasional mata pelajaran matematika akan dimulai dalam waktu sepuluh menit lagi. Aku semakin tegang. Terlebih ketika kedua pengawas dari sebuah instansi pendidikan Kristen masuk ke dalam kelasku. Kedua pengawas dari sekolah Kristen tersebut memang ditugaskan oleh pemerintah untuk mengawas di sekolahku, yang notabene merupakan sekolah islam.

Lembar jawaban dibagikan. Aku berusaha untuk menenangkan diriku, kemudian mengisi identitasku dengan teliti. Selesai. Tak berapa lama, lembar soal dibagikan. Matematika. Ah, aku pasti bisa! Bismillahirrahmanirrahim..

Perlahan aku membuka lembar demi lembar soal tersebut. Satu per satu aku kerjakan soal-soal yang berada dalam penguasaan materiku. Satu, dua, tiga, dan beberapa soal lainnya berhasil aku kerjakan. Aku sangat khusyuk mengerjakannya. Sesekali aku terlihat bingung sendiri, dengan ekspresi yang sangat menunjukkan bahwa aku tengah terbingung. Memang terkadang aku sangat ekspresif, tanpa aku sadari.

Mungkin hal itu juga yang membuat salah seorang pengawas mendatangiku dan memperhatikanku. Aku bingung dibuatnya. Jangan-jangan pengawas ini menyangka aku berbuat curang. Ah, padahal teman-teman yang lain terlihat sangat jelas tengah bekerjasama. Bahkan aku saja bisa melihatnya. Tapi kenapa malah aku yang didatangi?, batinku. Tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukan pengawas itu, dan tetap fokus pada soal yang tengah aku kerjakan.

Tanpa pernah aku duga sebelumnya, tiba-tiba pengawas yang tengah memperhatikanku tersebut mengambil sebuah pensil cadangan yang ada di dalam kotak pensilku. Kemudian dengan tenang dan wajah tanpa dosa, dia menyoretkan beberapa coretan dalam lembar soalku. Tanpa berbicara, dia menyerahkan kembali lembaran soal tersebut. Setelah aku memperhatikan tulisan-tulisan tersebut, ternyata itu adalah rumus-rumus serta pengerjaan lengkap salah satu soal dalam kertas ujianku. Pengawas ini mengerjakan sebuah soal untukku!

“Nanti dihapus ya..” ucap pengawas wanita yang berambut pendek tersebut dengan wajah tanpa dosa. Ya Allah, mungkinkah ini ‘ujian’ yang sesungguhnya? ‘Ujian’ yang langsung kau berikan kepadaku yang memang tengah gundah? Astagfirullahal’adzhiim.. Kuatkan aku ya Allah, teriak batinku.
Dengan mencoba untuk tidak melihat tulisan-tulisan tersebut, aku langsung menghapusnya. Aku berusaha untuk menghapusnya serapih mungkin. Aku sebenarnya sangat jengkel kepada pengawas tersebut. Namun aku bingung harus berbuat apa saat itu. Ah, sudahlah. Aku harus tetap fokus mengerjakan soal-soal ini. Masih banyak soal yang belum selesai aku kerjakan, pikirku.

Tidak terasa, waktu untuk mengerjakan soal tinggal lima belas menit lagi. Aku sudah mengevaluasi soal-soal yang telah selesai aku kerjakan. Namun ternyata aku masih menyisakan sepuluh dari total empat puluh soal yang harus aku kerjakan. Aku mulai panik. Aku lihat di sekelilingku, teman-teman sudah santai. Bahkan ada beberapa orang yang memprovokasi panitia untuk menyudahi waktu pengerjaan, karena mereka semua sudah selesai. Egois!, batinku.

Tanpa sengaja tatapanku bertemu dengan lembaran jawaban dari Mahmud, yang terkenal jagonya matematika di kelasku bersama Firman. Entah kenapa tatapan ini tak mau cepat-cepat pindah dari lembar jawaban tersebut. Aku terdiam. Namun segera aku beristigfar dalam hati. Astagfirullah! Aku tidak boleh mengkhianati integritasku. Ya Allah, kuatkan aku!!

Akhirnya aku mencoba untuk tenang dan kembali membaca soal-soal yang terpampang di hadapanku. Aku tatap salah satu soal, kemudian aku ingat-ingat lagi penjelasan dari Bu Ani guru matematikaku. Aku korelasikan rumus dasar yang telah aku ingat dengan varian soal ini. Bismillahirrahmanirrahim.

Tak terasa beberapa soal telah selesai aku kerjakan. 80% aku yakin terhadap pengerjaan soal-soal tersebut. Kini tersisa lima soal lagi. Dan waktu untuk mengerjakan hanya tinggal dua menit! Aku tatap soal-soal tersebut untuk mengecek, barangkali ada soal yang aku ingat langkah-langkah pengerjaannya. Ternyata aku bingung. Akhirnya aku gunakan jurus Pak Yahya. Aku isi kelima soal tersebut dengan jawaban yang sama : C. C untuk cucah, karena soal-soal tersebut adalah soal-soal yang cucah (baca : susah). Hehehe.

Bel berdering. Pak Yahya mengumumkan bahwa waktu pengerjaan soal matematika telah selesai, dan seluruh siswa diharuskan untuk keluar dari ruangan. Alhamdulillah, aku berhasil mengerjakan soal-soal matematika yang notabene merupakan pelajaran yang sangat sulit bagiku dengan jujur. Kini aku tinggal terus berdo’a dan bertawakal kepada Allah untuk segala hasil yang telah ditentukan olehNya.

Ya Allah, jika memang aku belum ditakdirkan untuk lulus dalam ujian nasional kali ini, aku yakin bahwa itulah yang terbaik dariMu. Dan aku berharap, apapun takdir yang Engkau berikan dalam ujian duniawi ini, semoga itu menjadi penguatku dalam melewati ujian kehidupan yang sesungguhnya dariMu. Kalaupun aku belum ditakdirkan lulus dalam ujia duniawi ini, semoga di mataMu aku telah berhasil untuk lulus dalam ujian kehidupan yang sesungguhnya. Amin, ya Mujib..

***

Senin, 16 Mei 2011. Saat ini adalah sekitar jam setengah empat sore, waktu setempat. Aku bersama dengan teman-teman terbaik satu angkatanku di SMA tengah berada di wilayah Kabupaten Bandung, untuk bersama menanti hasil dari Ujian Nasional yang beberapa pekan yang lalu telah selesai kami laksanakan.

Kami baru saja selesai melakukan sebuah perjalanan outbond sebelum kami mendengarkan hasilnya langsung dari guru-guru kami tercinta yang turut hadir di Kabupaten Bandung tersebut. Suatu perjalanan yang akan sangat kami rindukan. Kami teringat saat-saat ketika pertama kali kami dipertemukan. Kala itu kami juga melakukan perjalanan outbond, menembus hutan-hutan yang ada di daerah Kabupaten Tasikmalaya. Ah, tidak terasa saat ini bisa dibilang adalah saat-saat terakhir kami bersama dengan gelar siswa SMA. Waktu memang bergulir begitu cepat.

Beberapa hari yang lalu, hatiku tengah berbahagia. Sangat berbahagia karena Kak Randi, sosok guru sekaligus saudaraku yang telah hampir satu tahun tinggal bersamaku dan Firman, baru saja mengakhiri masa lajangnya. Beliau menikah. Suatu berita yang sangat menggembirakan. Aku yakin, Kak Randi akan bisa menjadi sosok suami sekaligus kepala keluarga yang sangat baik. Kali ini, apakah aku juga akan berbahagia dengan berita kelulusanku? Atau aku harus bersabar kepada Allah dengan berita ketidak-lulusanku?

“Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh..” ucap Pak Yahya yang berdiri di tengah-tengah lingkaran manusia yang dibuat oleh teman-teman kelas 12. “Hari ini.. Adalah hari yang sangat bersejarah.. Karena hari ini adalah pengumuman kelulusan kalian semua, anak-anakku.. Kelulusan angkatan ke-enam, yang telah mengukirkan banyak sejarah dalam perjalanan SMA kita tercinta..” ucap beliau.

Setelah sambutan dari Pak Yahya, kami dipisahkan berdasarkan kelas masing-masing. Kami duduk melingkar bersama wali kelas kami yang memegang amplop berisi hasil dari UN kami. Sebelum wali kelas kami membagikan surat pengumuman hasil UN tersebut, kami menyanyikan lagu hymne sekolah kami bersama-sama.

Ledak airmata tak tertahankan, mengingat hymne kali ini bisa dibilang adalah hymne terakhir kami bersama-sama. Hymne terakhir kami sebagai siswa dari SMA kami tercinta. Aku sendiri entah kenapa tak mampu menahan ledakan air mata tersebut. Sesak di dadaku menyebabkan air mataku bermuara. Terlebih ketika melihat wali kelasku dan teman-temanku turut bernyanyi dalam sendu tangis mereka. Itu membuatku akan sangat merindukan mereka semua.

Disini, di SMA kita..
Membina diri dengan taqwa..
Dengan ilmu dan amal, dengan akhlaq mulia..
Agar hidup lebih bermakna..
Karena ilmu adalah pelita..
Lentera di dalam gulita..
Belajar bagi kita menjadi kewajiban..
Tuk menggapai keridhoanNya..
Luruskan niat, tatap masa depan..
Kita generasi Ulul Albab..
Jayalah jaya, sekolah kita..
Untuk slama-lamanya...

“Anak-anak.. Sebelum ibu bagikan surat hasil UN ini, ibu mohon maaf kepada kalian semua jikalau selama tiga tahun ini kita bersama ibu memiliki banyak kekurangan dan kesalahan.. Ibu juga mau berterimakasih kepada kalian yang telah sangat memberikan kenangan bagi ibu..” ucap Bu Nina, wali kelas kami setelah menyanyikan hymne SMA kami tersebut.

Setelahnya, beliau menyebutkan nama kami satu per satu seraya menyerahkan sebuah amplop yang tertutup rapat. “Nanti ketika bapak komandokan, kalian langsung buka amplopnya bersama-sama ya..” ucap Pak Yahya.

Semua amplop selesai dibagikan. Pak Yahya menginstruksikan untuk membuka amplop tersebut. Aku gemetar. Kata pertama yang langsung kutuju setelah membuka amplopku adalah sebuah tulisan ‘LULUS’ yang mulus tanpa coretan dan tulisan ‘TIDAK LULUS’ yang tercoret. Segera aku melakukan sujud syukur. Kejujuranku membuahkan suatu kelulusan dari Allah.

Aku lihat nilai Matematikaku, tertera angka ‘7’. Alhamdulillah. Lebih besar dari prediksiku. Aku sangat bangga dengan nilai itu. Agak lama aku tersujud di tempat tersebut. Seiring dengan teman-temanku yang serentak sujud bersama.

Nilai-nilaiku yang lain bisa dibilang cukup lumayan. Bahasa Indonesia mendapatkan nilai sembilan, sedangkan Bahasa Inggris mendapatkan nilai delapan koma empat. Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi secara berturut-turut adalah tujuh koma delapan, delapan koma dua, dan delapan koma delapan. Ternyata memang nilai matematika-ku yang paling kecil.

“Gimana hasilnya, Mal..?” tanya Firman yang segera menghampiriku.

“Alhamdulillah, akh..! Aku lulus! Aku lulus dengan mempertahankan kejujuranku..! Kamu juga kan..?” tanyaku balik.

“Alhamdulillah.. Allah memang tidak akan pernah meninggalkan hambaNya..” jawabnya seraya tersenyum. Aku kemudian melihat nilai Firman. Sangat baik. Dia mendapatkan rata-rata sembilan pas. Tapi bukan itu esensinya. Dia mendapatkan nilai itu dengan kejujuran yang dia pegang. Kejujuran yang tidak pernah dia lepaskan. Aku sangat kagum kepadanya.

Sejenak kemudian aku melihat teman-temanku yang lain. Mereka mendapatkan nilai yang sangat tinggi. Bahkan banyak sekali yang mendapatkan nilai di atas rata-rata Firman. Yang paling mengejutkan, sebagian besar dari mereka mendapatkan nilai matematika sepuluh. Artinya sempurna. Tidak ada satu nomor-pun yang keliru.

Usai pembukaan surat tersebut, kami dikumpulkan lagi oleh Pak Yahya. “Alhamdulillah, kalian telah mendapatkan hasilnya. Dan Alhamdulillah, angkatan kalian kali ini mendapatkan presentase kelulusan sebanyak seratus persen. Artinya, kalian semua lulus dalam Ujian Nasional kali ini!” ucap beliau yang disambut sorak gembira oleh Pak Yahya.

“Apresiasi tentu akan pihak sekolah berikan kepada siswa terbaik di UN kali ini!” lanjutnya. Semua kemudian terdiam.

“Tapi bukan kepada pemegang nilai tertinggi.. Tapi kami, khususnya bapak sangat mengapresiasi kalian yang berani jujur! Berani mempertahankan integritas kalian menghadapi tantangan ini. Meskipun pada kenyataannya, banyak dari kalian yang jujur mendapatkan nilai yang lebih kecil daripada teman-teman kalian, tapi tenanglah! Percayalah bahwa Allah takkan pernah tidur! Dan kalian adalah pemenang yang sesungguhnya, di mata Allah. Selama kalian ikhlas, Insya Allah!!” ucap Pak Yahya dengan suara yang lantang. Seluruh siswa terdiam. Pak Yahya memang tidak pernah main-main dalam hal ini. Dan kami semua tahu, beliau paling tidak suka dengan aksi contek-menyontek.

“Nilai yang kalian dapatkan ini bukanlah apa-apa. Mudah saja mendapatkan nilai sepuluh dalam UN ini. Saya menjamin, bahwa mendapatkan nilai sepuluh itu sangat mudah. Tapi ingatlah anak-anakku, ‘nilai’ yang sebenarnya adalah dari keberkahan dalam nilai yang fana ini. Kalau kalian ada yang mau meminta maaf kepada pihak sekolah karena merasa tidak jujur, kami sangat terbuka. Tapi kalau memang tidak, ya kita lihat saja keberkahan dari nilai kalian ini.. Allah tidak akan pernah tidur..!”

***

Handphoneku berdering. Ada SMS masuk. Aku tengah berada di rumah kontrakan saat ini. Hari ini adalah dua hari setelah aku dinyatakan lulus dalam Ujian Nasional kemarin. Di rumah saat ini sangat sepi. Hanya ada aku saja. Firman tengah menginap di rumah neneknya. Sedangkan Kak Randi tengah berada di Jakarta bersama istrinya.

Aku tak langsung menghiraukan SMS tersebut. Aku selesaikan tilawahku, dan kemudian barulah aku mengambil handphoneku tersebut. SMS dari Pak Yahya. Bunyinya :
Assalamu’alaykum.
Diberitahukan kepada seluruh peserta SNMPTN Undangan tahun 2011, bahwa pengumuman SNMPTN Undangan tahun ini bisa diakses di situs undangan.snmptn.ac.id terhitung pukul 19.00 WIB. Silahkan kalian cek akun kalian, dan percayalah bahwa yang kalian terima adalah yang terbaik dari Allah.”
Aku lihat jam dinding. Sudah jam tujuh malam lewat beberapa menit. Tiba-tiba tanganku terasa kelu. Gemetar. Aku coba tenangkan diriku. Aku akses situs tersebut melalui handphoneku. Aku masukkan nomor registrasiku dan tanggal lahirku sesuai yang diminta oleh situs tersebut. Jelang beberapa lama, layar handphoneku menunjukkan sebuah tulisan berupa :

Selamat, Anda diterima di Universitas Indonesia

Program Studi
Ilmu Politik

Program Pendidikan
S1 Reguler

Jalur Masuk
SNMPTN

Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) Anda adalah
1106006631

Aku terdiam. Air mataku menggenang. Sontak tubuhku luluh lantak. Tersujud, seraya mengucapkan puji syukur kepada Allah. Lama aku tersujud. Lemas. Aku sangat menikmati sujud ini. Aku sangat menikmatinya. Aku kemudian memberitakan kabar ini kepada kedua orangtuaku. Lalu aku mengirimkan SMS ucapan terimakasih kepada seluruh guru-guruku. Aku sangat bahagia. Aku sangat bersyukur. Kembali aku tersujud. Sendiri. Tersujud dalam keheningan suasana setelah shalat Isya. Aku sangat bersyukur.

Ya Allah, janjiMu benar adanya. Kau tidak akan pernah mengingkari janjiMu. Kau tidak pernah meninggalkan hambaMu. Terima kasih, ya Allah! Terimakasih! Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanyalah bagiMu, Tuhan Semesta Alam!

***
Bandung, Jumadil Akhir 1432
Muhfat Ali

1 comments:

I s m a n s y a h mengatakan...

Keep on writing my son....

Posting Komentar