Kamis, 21 Juli 2011

Ketika Istiqamah berbuah Amanah




Seperti biasa, pagi itu diselangi tawa-tawa bahagia. Burung-burung berkicau dengan bahagia. Pohon-pohon pun berbahagia dengan ditemani embun pagi yang menyegarkan rindangnya mereka. Salam sapaan datang dari matahari yang bersinar terang di setengah ufuk timur. Menandakan Dhuha yang datang meninggalkan fajar yang penuh nuansa islami. Semua begitu bahagia.

Semua tampak berbeda ketika balik memperhatikan kehidupan manusia. Ada yang gembira, ada yang marah-marah, ada yang tengah bersedih, dan ada juga yang tengah dilanda kepusingan. Mereka yang tidak menyadari bahwa ujian mereka jauh lebih kecil dari nikmat yang mereka terima. Mereka yang tidak menyadari bahwa Tuhan lebih memiliki rasa sayang terhadap mereka ketimbang rasa murkaNya.


Tapi hal itu tidak tampak di raut wajah Ahmad Fathu Kautsar. Remaja yang merupakan siswa dari salah satu Universitas Islam di wilayah Depok ini merasakan hawa bahagia. “Alhamdulillah..!! Siap lah..!!” jeritnya dalam hati. Dia tampak sudah sangat siap untuk menghadapi hari ini.

Hari ini merupakan hari pertamanya kuliah. Hari pertama dia mengikuti serangkaian kegiatan Orientasi Calon Mahasiswa atau ospek di Universitas Al-Fath Depok.

Meskipun bukan merupakan Universitas Favorit di Depok, Kautsar senang bisa masuk ke Universitas tersebut. Sebenarnya dia ingin mengikuti orang-tuanya yang tinggal di Bandung. Dia juga sempat sakit hati dan kecewa setelah sempat gagal dalam seleksi masuk Universitas Indonesia yang dia dambakan. Namun, dia sudah terlanjur mencintai kota Depok. Dia sudah merasa kerasan disini. Akhirnya, dia mencoba untuk mengikuti tes di Universitas Al-Fath karena dia tertarik dengan Universitas yang memiliki BEM Islami yang terkenal seantero kota Depok tersebut, meskipun baru meluluskan 2 angkatan saja.

“Ahmad Fathu Kautsar..!” teriak seseorang dengan sepeda motor dari kejauhan ketika Kautsar mulai berjalan menyusuri pinggiran aspal menuju sekolahnya. Letak dari sekolahnya dan rumahnya memang tidak terlalu jauh. Dia pun menoleh. Sepeda motor itu pun mulai mendekatinya.

“Subhanallah..! Pak Ahmad..!” Kautsar menjawab ketika dia melihat sosok yang tak asing lagi di matanya. Pak Ahmad adalah karib dari Ayah Kautsar. Mereka merupakan teman satu liqa (pengajian) saat orangtua Kautsar masih tinggal di Depok dulu. Pak Ahmad juga merupakan guru dari SMA Al-Fath yang kampusnya bersebelahan dengan kampus Universitas Al-Fath.

“Jadi sekolah di sini, Sar..? Kenapa gak bilang-bilang..? Khan Bapak bisa ngomong sama Dosen Universitasnya nanti..” sapanya ramah.

“Alhamdulillah pak, atas izin Allah.. Ah, gak usah ah.. Malu saya..”

“Hahaha.. Kamu memang seperti itu.. Rendah hati.. Padahal, kalaupun bapak tidak mengenalkan kamu, nanti juga mereka akan tau sendiri.. Kamu kan aktif.. Ketua Ikatan Pengurus OSIS di Depok masa mau mengelak!”

“Ah tidak juga.. Saya itu pendiam, Pak.. Jika dibandingkan dengan Bapak muda yang jadi pembina ikatan Rohis SMA se-Depok ini.. Hehehe.. Jazakallah, Pak..!” ungkap Kautsar seraya menyindir Pak Ahmad dengan halus. Pak Ahmad memang pembina Ikatan Pengurus Rohis se-Depok Raya ini.

“Hahaha.. Kamu bisa saja..! Eh, ayo ikut..! Lumayan khan naik motor.. Daripada jalan begini.. Capek nanti kamu..!” tawar Pak Ahmad.

“Oh, terimakasih pak.. Saya mau jalan pagi dulu.. Biar sehat.. hehehe… Terimakasih banyak pak..!”

“Hahaha.. Kamu memang tidak berubah.. Ya sudah, Bapak duluan ya..! Assalamu’alaykum..!”

“Wa’alaykumsalam..”

Pak Ahmad pun melanjutkan perjalanannya. Begitu juga dengan Kautsar. Tak lama kemudian, dia sampai di kampus yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu selama 4 tahun ke depan. Itu memang targetnya. Jangan sampai lebih dari 4 tahun. Tapi tetap, dia berusaha untuk lulus cumlaude dengan waktu 3 tahun saja.

- - -

Di Universitas Al-Fath, Kautsar mengambil Jurusan Ilmu Komunikasi. Meskipun berstatuskan Universitas Islam, tapi di Universitas Al-Fath bukanlah Universitas homogen yang mengajarkan satu jenis keilmuan Agama Islam saja. Disana terdapat banyak Fakultas layaknya di Universitas Negeri. Hanya saja, disana pada setiap Fakultas, setiap Program Studi, bahkan setiap pelajarannya selalu dikaitkan dengan hukum Islam yang cocok dengan pelajaran tersebut tentunya.

Tidak seperti Universitas Islam lainnya juga, Universitas Al-Fath ini merupakan Universitas yang bisa dikatakan sebagai Universitas tempat para calon santri. Bukan tempat para alumni santri. Karena kebanyakan calon Mahasiswa di Universitas ini juga adalah teman-teman dari SMA Negeri yang ingin merubah diri mereka. Bukan dari SMA Islam yang memang sudah dalam ilmu pengetahuan islamnya. Meskipun ada beberapa alumni SMA Islam yang masuk ke Universitas Al-Fath ini.

“Selamat datang, Akhi dan Ukhti di Universitas Al-Fath Depok.. Sekedar informasi, keputusan kalian menuntut ilmu di sini tidaklah salah.. Justru sangat tepat.. Insya Allah, kualitas pengajar di Universitas ini tidak kalah dengan Universitas sebelah..” ungkap Akh Rizki seraya menunjukkan Universitas Indonesia yang memang berada tidak begitu jauh dari kampus Universitas Al-Fath. “Disini juga kita akan lebih belajar tentang meningkatkan kecerdasan Emosional dan Spiritual.. Tidak sekedar intelegensi saja..” lanjutnya.

Di Fakultasnya Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu sendiri hanya terdapat 40 orang calon Mahasiswa. Mereka akan terbagi lagi menjadi dua Departemen, yaitu Departemen Ilmu Komunikasi dan Departemen Ilmu Politik.

“Baik, sekarang persiapkan telinga dan otak kalian, dan tentu hadirkan jiwa kalian di ruangan ini.. Karena sekarang, kita akan sama-sama mendengarkan suatu materi yang Insya Allah sangat luar biasa.. Materi yang pasti kalian tidak mau meninggalkannya.. Materi tentang Cinta, dari Ustadz Ali Rahman!” ungkap Akh Rizki.

“Subhanallah! Untuk ospek saja sampai mengundang Ustadz Ali Rahman!” ungkap Kautsar dalam hatinya.Ustadz Ali Rahman merupakan Ustadz yang sangat terkenal di kota Depok, terutama bagi para liqoers, atau para pelajar yang sering mengikuti liqa di kota Depok. Beliau merupakan Mutharabbi termuda dari Ustadz kondang, Ustadz Hidayat Nur Wahid. “Wah, gak salah pilih Universitas nih..! Alhamdulillah..!” ungkapnya dalam hati.

“Assalamu’alaykum..!” sapa Ustadz Ali disambut dengan jawaban dari seluruh calon Mahasiswa.
Dalam materinya, Ustadz Ali Rahman menjelaskan tentang cinta bagi para remaja dan mahasiswa pada khususnya. Pembawaannya ringan. Sangat mudah dicerna. Gaul juga. Sangat cocok dengan mayoritas para Mahasiswa Universitas Al-Fath yang kebanyakan adalah para remaja yang ingin memperbaiki diri mereka.

“Kalau memang sudah siap, daripada pacaran lebih baik menikah..!” tegas Ustadz Ali Rahman dengan lantang. Kata-kata itu langsung terenyah di benak Kautsar. Waduh.. Baru masuk udah dipanasin nih.. Hehehe.., ungkapnya dalam hati. Diam-diam dia memikirkan kalimat itu juga dalam hatinya. Tenang dulu lah.. Baru 18 tahun ini.. Ya Rabb.. Sabarkan aku.., dia berdialog dengan dirinya sendiri.

Materi pun berlanjut dengan penuh semangat dan penuh tanya jawab. Banyak Mahasiswa yang bertanya tentang cinta, pacaran, dan menikah saat kuliah. Semua dijawab tuntas dengan menakjubkan oleh Ustadz Ali Rahman, yang memang memiliki banyak referensi tentang cinta dalam Islam. Bahkan beberapa liqoers menyebutnnya dengan Ustadz Cinta.

“Ustadz, gimana bagaimana menyikapi rasa suka terhadap akhwat? Itu khan fitrah manusia yang diberikan Rabb kepada kita?” tanya salah seorang peserta kala itu.

“Betul sekali, bung..!” jawab Ustadz Ali dengan bahasanya yang gaul. “Rasa suka, merupakan hal yang dihasilkan dari syahwat dan itu memang ada pada diri setiap manusia.. Simpelnya, jika kita sudah mengetahui itu timbul dari syahwat, maka tentu kita tahu bahwa syahwat itu datangnya dari ….”

“Syaitan laknatullah..” jawab beberapa mahasiswa dengan nada rendah.

“Ya.. Betul sekali, teman-temanku..! Apakah kalian pernah mendengar cerita tentang seorang ahli Ibadah dengan seorang wanita muda yang diamanahkan kepadanya oleh orang tuanya..?” tanya Ustadz Ali.

“Belum, Ustadz..!!” jawab beberapa peserta dengan semangat.

“Oke, Ane ceritakan ya..!” lanjut Ustadz Ali. “Pada suatu hari, di sebuah Negara kecil yang sangat terpencil namun bahagia, ada seorang ahli ibadah yang senantiasa beribadah sepanjang harinya. Dia berdzikir, memuja Rabbnya sepanjang hari. Dia hanya berhenti untuk makanan serta urusan kamar kecil..” semuanya tertawa kecil. “Pokoknya setiap hari hanya untuk Dzikir di dalam ruang ibadah pribadinya..! Dia tidak kerja, tidak mengurus urusan dunia lagi..!” lanjut UstadZ Ali.

“Singkat kata, ada satu keluarga yang hendak meninggalkan Negara kecil tersebut.. Keluarga tersebut terdiri dari seorang Ayah, seorang Ibu, serta seorang Wanita yang masih bersekolah di Negara tersebut. Sang Ayah dan sang Ibu harus meninggalkan Negara tersebut karena mereka harus memenuhi panggilan di Negeri seberang..” semuanya memperhatikan dengan serius.

“Singkat cerita, mereka menitipkan anak mereka di tempat ahli ibadah tersebut karena menurut mereka hanya sang abid-lah yang dapat dipercaya untuk menjaga sang anak. Sang abid yang tidak lagi memperdulikan urusan dunia. Akhirnya, sang anak tinggal bersama si abid di rumah si abid. Si anak perempuan itu tinggal di rumah si abid, sedangkan si abid menghabiskan waktunya di Kuil pribadi miliknya untuk lebih khusyuk beribadah..”

“Si Abid hanya datang ke rumahnya untuk mengantarkan makanan yang dia letakkan di depan rumahnya untuk si perempuan..Namun lama kelamaan, syaitan datang kepada si Abid.. Dia berkata bahwa kalau dia menyenangkan si perempuan dengan mengantarkan makanannya langsung kepada si perempuan itu, dia akan mendapatkan pahala yang lebih..!”

“Akhirnya sang abid pun merubah kebiasaannya untuk menaruh makanan dengan memberikan langsung makanan tersebut ke tangan si perempuan.. Hingga beberapa hari kemudian, syaitan datang lagi kepada si Abid.. Dia berkata bahwa jika si abid menyenangkan si perempuan dengan mengajak berbicara barang beberapa kata saja, dia akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar..!”

“Si Abid pun mulai merubah kebiasaannya yang hanya diam kepada si perempuan dengan mengajak si perempuan bercakap.. Mulanya tentang keluarga si perempuan, lama kelamaan menjadi suatu canda yang menyenangkan dan penuh gelak tawa.. Hingga beberapa hari kemudian, syaitan datang lagi kepada si abid.. Dia berkata bahwa jika si abid menemani si perempuan untuk tidur di malam hari di rumahnya, si perempuan akan merasa senang dan si abid akan mendapatkan pahala yang lebih besar lagi..!”

“Kemudian, si abid mulai tidur di rumahnya bersama si perempuan tersebut.. Mereka tidur di ruang yang berbeda.. Si abid di ruang tamu, sedangkan si perempuan di kamar si abid.. Hingga beberapa lama kemudian, syaitan datang lagi kepada si abid.. Dia berkata bahwa jika si abid memenuhi kebutuhan batin si perempuan dengan membuahinya, si perempuan akan merasa terlindungi dan si abid akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar lagi..!”

“Akhirnya terjadi perzinahan.. Dan itu terjadi beberapa kali.. Mereka berdua layaknya suami istri, namun belum menikah.. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang anak hasil perzinahan mereka berdua..! Sang syaitan datang lagi kepada si abid.. Dia berkata bahwa reputasi si abid akan hancur jika masyarakat mengetahui bahwa mereka memiliki anak tanpa pernikahan..! Alangkah lebih baik jika si abid membunuh si perempuan dan bayinya kemudian menguburkan mereka di halaman rumahnya..”

“Dan si abid pun melakukannya.. Dia membunuh perempuan yang telah berzinah dengannya dan membunuh anak hasil perzinahannya dengan si perempuan..”

“Singkat cerita, keluarga dari si perempuan kembali ke negeri tersebut karena urusan mereka di luar negeri telah selesai.. Mereka datang ke rumah si abid dan bertanya tentang anak mereka.. Syaitan datang lagi kepada si abid.. Dia berkata bahwa jika si abid berdusta, itu akan lebih baik baginya dan bagi orangtua si perempuan.. Akhirnya si abid berkata bahwa si perempuan telah meninggal karena kecelakaan dan jasadnya menghilang karena kecelakaan itu.. Kedua orangtua itu pun percaya kepada si abid dan hanya bisa menangisi anak mereka..”

“Pada suatu malam, syaitan datang lagi.. Kali ini syaitan bukan datang kepada si abid.. Tapi dia datang kepada mimpi dari kedua orangtua si perempuan itu.. Dia datang dengan wujud si anak perempuan tersebut.. Dia menceritakan semua kebenarannya kepada kedua orangtua tersebut.. Ketika bangun, mereka curiga dan mencoba menyelidiki kebenarannya.. Singkat kata, si abid mengakui semua perbuatannya yang kemudian membuat kedua orangtua si perempuan itu murka..”

“Mereka memanggil seluruh warga negeri tersebut dan menceritakan semuanya kepada seluruh warga.. Hingga kemudian seluruh warga murka dan memutuskan bahwa sang abid harus di penggal..!”

“Saat si abid akan dipenggal, syaitan datang lagi kepada si abid.. Dia berkata, ‘Wahai abid yang bodoh..! Aku adalah syaitan yang selalu menyesatkanmu dan membawamu hingga kamu menjadi seperti ini..!! Sekarang kau akan mati..! Tapi aku masih berbaik hati padamu.. Aku dapat menyelamatkanmu dari hukuman ini asalkan kamu meninggalkan Tuhanmu dan menyembahku..!!’. Akhirnya, si abid menjadi musyrik.. Meninggalkan Tuhannya, dan menyembah syaitan.. Tapi, apa yang terjadi..? Syaitan meninggalkan abid tersebut dan sang abid dipenggal dalam keadaan musyrik..”

“Akhi wa Ukhtifillah, dari kisah tersebut kita dapat mengambil ibrah yang sangat banyak..! Namun satu yang akan ane tekankan di sini, yaitu syaitan menggoda kita secara perlahan, bertahap, namun konsisten..!” tegas Ustadz Ali yang membuat seluruh peserta terpana.

- - -

Setelah materi berakhir, Kautsar langsung mendatangi Ustadz Ali Rahman. Dia memiliki beberapa pertanyaan untuk Ustadz Ali Rahman. Tapi untuk mendekati beliau saja, dia harus menunggu banyak sekali peserta akhwat yang berebut ingin berdiskusi dengan beliau. Maklum, Ustadz Ali Rahman ini selain Hafizh yang masih muda, dia juga seorang entrepreneur yang tampan. Tak heran banyak orang yang terkagum olehnya. Tapi ah, dasar remaja. Baru saja diberitahu bahwa syaitan itu menggoda secara bertahap, sudah bersikap begitu. Kepada yang memberitahu lagi. Tapi inilah yang masih harus dibenahi di benak para remaja muslim Indonesia, khususnya. Tidak sekedar masuk kuping kanan, keluar kuping kirinya.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Kautsar dapat bertemu dengan Ustadz Ali. Ya, karena dia ikhwan, jadi dia dipersilahkan untuk masuk ke ruang istirahatnya Ustadz Ali. Jadi otomatis, yang akhwat tidak lagi mengganggu.  Mereka berdua pun lantas berdiskusi, di saat para calon mahasiswa lain beristirahat setelah materi tersebut. Diskusi berjalan hangat dan menarik. Kautsar selalu saja menunjukkan respon ‘belum cukup’ untuk kemudian berlanjut pada pertanyaan selanjutnya.

“Pemikiran islammu boleh juga, akh..! Siapa murabbimu..?”

“Akh Ilyas, Ustadz..”

“Subhanallah.. Dia itu mutharabbi pertama ane..! Sampaikan salam ane buat dia ya..!! Sekarang dia tinggal dimana..?”

“Wah..? Subhanallah.. Dia tinggal di sebelah rumah kos ana, Ustadz.. Kalau mau mampir saja.. Di daerah jalan Kelapa II, Ustadz.. Sekalian mampir di ke rumah kos ana..! Hehehe..”

“Haha.. Insya Allah, akh..! Hubungi saja ini ya..” ucap Ustadz Ali Rahman seraya memberikan sebuah kartu nama kepada Kautsar. Disana tertulis Perusahaan sepatu ternama. Ternyata Ustadz Ali juga menyalurkan produk sepatu tersebut ke wilayah Depok.

“Baik.. Jazakallah, Ustadz..! Kalau begitu, ana masuk dulu ya.. Assalamu’alaykum..” ucap Kautsar ketika mendengar pengumuman masuk telah tiba.

“Wa iyyakum, akh.. Jangan lupa sampaikan salam ane ya..! Wa’alaykumsalam..”

“Insya Allah, ustadz..!”

- - -

Setelah materi umum selesai, para peserta calon mahasiswa masuk ke kelas masing-masing, sesuai dengan Fakultasnya masing-masing. Barulah terlihat wajah-wajah para calon penghuni Fakultas masing-masing. Begitupun Kautsar. Setelah sebelumnya hanya melihat nama-nama para penghuni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di mading, kali ini dia melihat langsung wajah para calon classmatenya tersebut.

Beberapa wajah tampak tak asing. Salah satunya akhwat berjilbab panjang dan berkacamata yang duduk di pojok belakang kelas. Dia termasuk yang sangat aktif bertanya ketika materi umum berlangsung. Kautsar mengetahuinya karena akhwat itu pernah dipanggil ke depan panggung oleh Ustadz Ali untuk menyampaikan pendapatnya. Begitupun dengan Kautsar.

Yang lainnya adalah sosok akhwat berjilbab panjang berwarna pink yang senantiasa membawa buku tulis dan satu buku bacaan. Kautsar tidak sengaja melihatnya ketika dia maju ke depan karena akhwat tersebut duduk di barisan terdepan akhwat sambil membaca sebuah buku. Ketika Kautsar melihat judul buku tersebut, dia tersenyum. Itu buku Belahan Hati Muhammad saw. karya Nurul Aini. Buku yang selalu dibawa oleh adiknya yang berisi tentang pribadi para Ummul Mukminin. Tampaknya akhwat yang satu ini sangat feminim, terka Kautsar seketika.

“Akh Kautsar..?” sapa seseorang sambil menepuk pundak Kautsar. Diapun menoleh.

“Subhanallah..! Akh Wildan..!!” jawab Kautsar sambil memeluk tubuh tegap dan tinggi tersebut.

“Tak disangka kita dapat bertemu disini, Akh..!” jawab Wildan. Dia adalah Ketua Ikatan Pengurus OSIS SMA se-Bandung. Dia juga terkenal sebagai sosok yang memiliki pribadi yang keras dan teguh hati. Ketika SMP, dia adalah ketua Pleton Paskibra Bandung Timur. Tampaknya, Ilmu Politik sangat cocok untuknya.

“Takdir Allah memang selalu indah, Akh..! Ngambil apa disini..?” ucap Kautsar. Dia telah menerka, pemuda berjiwa kepemimpinan kuat seperti Wildan ini pasti mengambil Ilmu Politik.

“Ilmu Politik, akh.. Kalau Akh Kautsar yang notabene Pimpred Jurnal Pelajar waktu SMP ini pasti ngambil Ilmu Komunikasi ya..?” jawab Wildan seraya mendahului Kautsar. Ah, satu sama. Ternyata ikhwan ini telah memiliki prediksi yang sama akuratnya dengan prediksi Kautsar terhadapnya.

“Ah, bisa saja.. Betul, ana ngambil Ilmu Komunikasi di sini..”

“Tuh khan betul apa kata ane.. Hehehe..”

Mereka berdua pun bercakap-cakap sejenak, sebelum akhirnya harus dipisahkan karena kegiatan telah dimulai. Mereka semua berkumpul sesuai dengan kelasnya masing-masing. Ternyata kedua akhwat yang tadi dikenal Kautsar mengambil Ilmu Komunikasi, kelas yang sama dengan kelasnya. Kelas Ilmu Komunikasi memiliki Mahasiswa yang lebih banyak dari kelas Ilmu Politik. Dari 40 mahasiswa FISIP, 25 mengambil Jurusan Ilmu Komunikasi. Dan 15 lainnya mengambil kelas Ilmu Politik.

Di kelas Ilmu Komunikasi, para senior memberikan penjelasan mengenai Jurusan tersebut. Sebenarnya Kautsar sudah mengetahui seluk beluk dari Jurusan Ilmu Komunikasi ketika ayahnya meminta data jurusan ke Pak Ahmad. Tapi sesekali dia bertanya untuk memastikan informasi yang dia dapatkan.

Setelah selesai sesi penjelasan seluk beluk Jurusan, mereka diminta oleh kakak kelas untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Mereka diminta berbaur, dan saling mengenal hanya dalam waktu 3 menit saja..! Ketika stopwatch dinyalakan, semua berlarian. Layaknya anak SMA yang baru kena MOS, mereka berlarian kesana kemari untuk bertanya nama masing-masing. Kecuali 2 orang, yaitu Kautsar dan Akhwat berjilbab pink yang Kautsar perhatikan tersebut. Tampaknya mereka berdua tidak nyaman jika harus berbaur dengan yang bukan mahram mereka.

Akhwat berjilbab tersebut justru membuka laptopnya sambil browsing di situs Al-Fath.ac.id tentang data mahasiswa FISIP di Universitas ini. Kautsar tersenyum melihat perilaku akhwat tersebut. “Pintar juga,” fikirnya.

Berbeda dengan Kautsar. Dia perlahan maju menuju kakak kelasnya dan menyarankan secara halus bahwa ta’aruf lebih baik sesama mahram saja. Kakak kelasnya tersenyum. “Engkau benar..” jawabnya. Kini giliran si akhwat berjilbab pink yang tersenyum melihat sikap Kautsar. Kautsar tidak melihatnya.

Akhirnya sistem perkenalan tersebut diganti. Sebenarnya, para kakak kelas telah mempersiapkan ini. Mereka sengaja memberikan cara yang salah, dan melihat respon adik kelasnya. Jika ada yang menyadari itu salah, bagaimana caranya memperbaiki situasi tersebut. Kalau tidak ada yang menyadari, mereka akan ditegur. Kautsar sudah sering menghadapi situasi seperti ini. Umumnya, trik seperti ini terjadi di Pelatihan-pelatihan Kepemimpinan yang sudah sering dia ikuti. Bahkan beberapa kali dia menjadi panitia di pelatihan kepemimpinan tersebut. Jadi, dia sudah mengetahui cara yang bijak untuk menghadapi situasi seperti itu.

Setelah game ta’aruf tersebut, kali ini mereka dituntut untuk memiliki ketua angkatan. Seperti yang umumnya terjadi di Sekolah-sekolah, mereka mengambil suara. Kakak kelas mereka memimpin mereka dalam mengambil suara. Tapi lagi-lagi Kautsar mencoba berbicara dengan kakak kelasnya. Namun kali ini tampaknya dia harus berbicara kepada semua, karena kakak kelasnya berada di tengah-tengah peserta lainnya. Untuk situasi yang seperti saat ini, dia rasa sistem polling kurang tepat.

“Afwan, kak.. Saya rasa lebih baik jika kita tidak memakai sistem polling seperti ini lagi, kak.. Kita semua di sini masih dalam masa adaptasi.. Dan belum semua dari kita saling mengenal.. Alangkah tidak adilnya jika kakak memakai suara kita untuk memilih orang yang belum kita kenal disini..” ungkapnya dengan nada lembut. Semua orang di kelas memperhatikannya.

“Kakak-kakak disini juga telah membimbing kami selama seharian ini.. Tentu kakak lebih mengenal kami daripada kami mengenal teman-teman kami disini.. Saran saya, kak, alangkah lebih baiknya jika ketua angkatan kami ini dipilih oleh kakak, yang lebih mengenal kami.. Ini serupa dengan cara Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, yang lebih mengenal watak para sahabat untuk kemudian mengangkat Abu Bakar Karamallahu Wajhu sebagai Khalifah setelah wafatnya Rasul..” tungkasnya.

Kali ini kakak-kakak kelasnya terbengong. Ini tidak seperti pada kejadian pertama yang memang telah mereka skenariokan. Pernyataan ini membuat mereka mengangguk-anggukan kepala tanda kagum terhadap Kautsar.

“Engkau benar.. Kalau begitu, ketua angkatan akan kami tunjuk esok hari.. Hari ini kami akan berdiskusi untuk menentukan yang paling tepat menjadi ketua angkatan kalian..” jawab salah seorang kakak kelas. “Dan untuk hari ini, kalian bisa pulang.. Jangan lupa esok hari kalian harus membawa barang-barang yang tadi telah kami intruksikan.. Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh..” lanjutnya mengakhiri  pertemuan mereka hari itu.

“Alhamdulillah…” ungkap seluruh siswa lega. Terutama bagi beberapa lulusan SMA Negeri. Mereka merasa letih harus berada di kampus sampai bada Ashar seperti ini karena mereka terbiasa berada di sekolah sampai siang saja.

“Engkau luar biasa, kawan..!” ungkap beberapa kawan kepada Kautsar. “Alhamdulillah.. Ah, jangan berlebihan.. Hehehe..” jawabnya.

“Akh, tadi itu sangat berpendidikan..” ungkap seseorang di belakang Kautsar. Dia menoleh. Ternyata itu adalah si akhwat berjilbab pink. Dia menunduk.

“Jazakillah, ukhti.. Atas izin Allah..” jawabnya.

“Barakallahu fikum..”

“Insya Allah.. Syukran..! Duluan ya.. Assalamu’alaykum..!” Kautsar lalu melintas setengah berlari ke luar kampus menuju rumahnya.

“Wa’alaykumsalam..” jawab akhwat tersebut. Dia kemudian menatap Kautsar sambil tersenyum. Degg. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih keras. Hanya sekali. Kemudian dia menunduk dan beristigfar. 

“Astagfirullah.. Maafkan aku ya Rabb..” ungkapnya dalam hati.

- - -

Keesokan harinya, ospek Mahasiswa hari kedua dilaksanakan. Hari ini, direncanakan akan materi interaktif yang melibatkan seluruh Departemen untuk berinteraksi berdasarkan struktur kepemimpinan masing-masing Departemen. Semua Departemen memiliki pemimpinnya masing-masing, kecuali Departemen Ilmu Komunikasi. Mereka semua berkumpul di Gedung B sebelum mengikuti kegiatan materi interaktif tersebut.

“Baik, saudaraku sekalian.. Kemarin kita telah sepakat bahwa ketua angkatan kalian akan dipilih oleh kami selaku kakak kelas.. Tapi kami harapkan, 2 bulan setelah masa kepemimpinan orang ini kalian putuskan apakah kalian tetap bersama pemimpin yang kami pilih, ataukah akan mempilih pemimpin yang baru.. Karena kami rasa, setelah 2 bulan nanti kalian akan lebih mengenal.. Sehingga pertanggungjawaban kami atas kepemimpinan pemimpin ini hanya berlaku selama 2 bulan saja.. Selanjutnya kami tidak bertanggungjawab atas apa yang terjadi dengan pemimpin ini terhadap kalian..” ungkap Akh. Rizki yang berasal dari 2 angkatan sebelumnya menjelaskan.

“Kita telah sepakat kemarin.. Oleh karena itu, kami harap kalian bisa menerima keputusan kami sepenuhnya, karena untuk sementara kami adalah pemimpin bagi kalian..” ungkap kakak kelas lainnya. “Dan ketua angkatan yang kami pilihkan untuk kalian adalah…”

“Ahmad Fathu Kautsar..”

“Allahu Akbar..!!” tiba-tiba seorang peserta bertakbir di belakang. Takbirnya disambut oleh takbir seluruh temannya dan tepuk tangan yang lumayan meriah. Semua orang telah menduganya. Mereka telah mengira bahwa Kautsar yang akan menjadi ketua angkatan mereka.

Kautsar terbingung. Dia sebenarnya samasekali tidak bermaksud mencari muka dengan argumentasinya kemarin. Dia sebenarnya enggan untuk menjadi ketua angkatan. Tapi karena amanah itu sudah di depan matanya, maka mau tidak mau dia harus siap mengembannya. Bagaimana mau jadi muslim yang baik kalau mengemban amanah saja tidak mampu?, batinnya.

Perlahan kemudian, dia beranjak mendekati kakak-kakak kelas yang telah memilihnya menjadi Ketua Angkatan. Dia dipersilahkan untuk memberikan prakata pertamanya.

“Aduh.. Alhamdulillah.. Jazakillah khairan katsira buat kakak-kakak kelas yang sangat saya hormati..” ucapnya terbata. Dia tampak bingung harus berkata apa. “Euh.. Baiklah.. Ada satu perkataan Umar bin Khattab yang akan saya sampaikan.. Beliau berkata, selama saya taat kepada Allah swt dan menjadikan Rasul-Nya sebagai teladan kepemimpinan, mohon taati saya.. Jika saya melenceng, mohon ingatkan saya..”
Hari itu, menjadi satu hari yang istimewa bagi Kautsar. Satu amanah baru di hari keduanya berstatus sebagai mahasiswa. Tantangan di masa yang akan datang tentu akan jauh lebih berat!

***

0 comments:

Posting Komentar