Selasa, 12 Juli 2011

Korean Memories




Dinginnya malam tak mengurungkan niatku untuk tetap mengantarkan Habib ke Bandara. Salju-salju terus turun semenjak Bada Isya tadi. Namun aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Jika orientasinya adalah aku pada saat pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Ginseng ini, mungkin saat ini aku sudah mimisan dan kemudian pingsan. Tapi dua tahun adalah waktu yang cukup bagiku untuk beradaptasi dengan situasi alam yang berada di sini.

Aku adalah mahasiswa dari Universitas Han Kuk, Korea. Agak jauh dari tempatku tinggal di Seoul. Sebenarnya mudah saja bagiku menemukan rumah sewa yang terletak di sekitar Universitas itu. Kenalanku sudah cukup banyak. Meski baru satu tahun merantau di negeri Korea ini. Memang dengan rutin mengikuti tarbiyah, kenalanku bisa terus bertambah banyak. Itulah yang aku senang dari mentoring atau khalaqah.


Namun aku mendapatkan amanah dari kedua orangtuaku. Ya. Habib adalah putra dari Om Abdul, sahabat dari ayahku. Kebetulan, beliau memiliki rumah di Seoul ini. Beliau juga ingin agar tarbiyah Habib tetap terjaga. Habib masih berumur 16 tahun. Berbeda 5 tahun denganku. Dia masih duduk di kelas 2 SMA saat ini. Dia mengikuti program Student Exchange dari sekolahnya selama 1 tahun di sini. Orangtuanya ingin aku menjadi mentornya dalam keagamaan. Jadilah aku tinggal di Seoul, yang notabene agak jauh dari tempat kuliahku.

Aku sendiri merupakan peserta Student Exchange dari Universitas Indonesia. Universitas Indonesia memang telah lama menjalin kerjasama dengan Universitas Han Kuk ini. Ketika SMA dahulu bahkan aku sempat mengikuti pertemuan rutin dari Universitas Han Kuk dan Universitas Indonesia tentang beragam budaya yang terdapat di kedua Negara.

Beruntung, aku terpilih menjadi delegasi Indonesia pada semester keduaku. Cukup singkat waktu yang aku peroleh untuk menarik perhatian dosen Pendidikan Bahasa dan Budaya Korea-ku. Yang lebih menguntungkan, dia ternyata adik dari seorang dosen di Universitas Han Kuk. Jadilah aku terpilih menjadi delegasi Universitas Indonesia untuk menuntut ilmu di Han Kuk, Korea.

Hari ini, Habib akan pulang ke Indonesia untuk beberapa pekan. Ayahnya, Om Abdul, ingin berbicara dengannya mengenai beberapa hal. Itu bukan menjadi urusanku. Tapi yang menjadi urusanku adalah keselamatannya. Aku bersikukuh mengantarkan Habib ke bandara, meski Habib melarangku. Tubuhku memang tengah tidak labil hari ini. Berulangkali aku bersin di pagi hari ini. Itu yang membuat Habib melarangku ikut.

“Tenang aja, Habib.. Kakak ini sudah lama di Seoul.. Pokoknya, hari ini Kakak tetap mengantar kamu ke Bandara.. Oke..??” ucapku mencoba menenangkannya. Agak memaksa, sebenarnya. Tapi jitu. Habib tidak bisa mengelak lagi.

Jam dinding di rumah kami menunjukkan pukul 10 malam. Aku segera bersiap. Habib sendiri sudah siap sedari tadi. Jadwal penerbangan Habib adalah pada pukul 12 malam nanti. Kami ingin tiba di Bandara pada pukul 11. Penerbangan di sini berbeda dengan di Indonesia. Di sini semua orang sangat menghormati waktu.

Dengan menggunakan enam lapis baju dan mantel tebalku, aku mengantarkan Habib ke Bandara. Kami menggunakan Motor Ninja hitamnya. Pukul sebelas tepat, kami tiba di Bandara. Penerbangan pesawat Habib baru akan lepas landas satu jam lagi. Kami menunggu di Bandara sambil mengobrol-ngobrol.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat.  Pesawat Habib sudah tiba. Dan akan segera lepas landas. Akhirnya aku melepaskannya. Habib berlalu di hadapanku. Pesawatnya berkilat-kilat di langit lepas yang berhiaskan bulan dan bintang. Motor Ninja-nya dia titipkan kepadaku.

Aku merasa agak lapar. Segera aku beranjak menuju ke luar daerah bandara. Makanan-makanan di bandara biasanya lebih mahal dibandingkan dengan harga luaran. Untunglah, aku memiliki kenalan di sekitar sini. Bi Ming-Tse, adalah penjual susu murni hangat yang terletak sekitar dua kilometer dari bandara. Dia seorang muslimah.

Segera aku melangkahkan kakiku menuju ke luar bandara. Baru dua langkah menuju tempat Motor Ninja Habib diparkirkan, aku melihat sosok seorang wanita berjilbab…. Gila..! Sungguh aneh wanita itu. Dia tidak memakai mantel yang tebal. Hanya satu jaket yang dihiasi jilbab panjang dan lebarnya. Situasi di sana sangat senyap. Aku berusaha mendekatinya untuk memberikan satu atau dua lapis jaketku yang cukup tebal. Dia tampak menggigil kedinginan.

Beberapa langkah lagi aku tiba di sampingnya, dia terjatuh. Reflek aku mencoba menangkapnya agar tidak terjatuh ke bumi. Astagfirullah! Dia pingsan!

Segera aku mendudukkannya di sebuah motor. Aku selimuti dia dengan tiga lembar mantel tebal yang aku pakai. Aku tidak perduli saat itu aku langsung merasa sangat kedinginan. Kemudian aku memanggil taksi. Semua berlangsung begitu cepat. Kebetulan ada taksi lewat di depan kami. Tanpa perlu menunggu taksi yang tadi aku telpon, aku langsung memasukkan gadis tadi ke dalam taksi. Kemudian aku minta diantarkan ke rumah Bi Ming-Tse.

Sejenak kemudian aku menelpon Bi Ming-Tse. Namun ternyata dia sedang tidak berada di rumah. Aku semakin bingung. Mau aku bawa kemana gadis ini?

Bi Ming-Tse menyarankan agar gadis itu dibawa ke rumahku. Kebetulan, Bi Ming-Tse sedang berada di sekitar daerah Seoul. Nanti Bi Ming-Tse akan datang ke rumah Habib itu. Akhirnya, aku menyuruh supir taksi untuk segera mengantarkan kami ke rumah Habib.

Selama perjalanan, aku sangat gugup. Aku tahu, ini keadaan yang darurat. Entahlah, saat ini aku tidak mampu berpikir cepat kemana seharusnya aku membawa gadis ini. Tubuhku gemetar. Tadi aku menghindari kontak langsung dengan gadis itu. Untunglah dia menggunakan baju yang panjang.

Semenjak SMA, tubuhku memang selalu gemetar hebat ketika tidak sengaja menyentuh kulit seorang wanita secara langsung. Wanita di sini maksudnya wanita yang bukan muhrim. Aku sering teringat hadist, bahwa saudara yang ditikam oleh jarum dari atas kepala itu lebih baik daripada menyentuh yang bukan muhrimnya. Sedangkan tadi, gadis itu jatuh ke arah tubuhku. Aku menangkapnya. Segera aku beristighfar, seraya mencoba memadamkan tubuhku yang bergetar hebat.

Aku belum melihat wajah dari gadis itu. Saat di bandara tadi, keadaan agak gelap. Sulit bagiku untuk melihat wajah gadis itu dengan jelas. Apalagi situasi tadi sangat mengagetkan. Aku samasekali tidak berpikir untuk melihat wajah gadis itu. Namun ketika sudah berada di taksi, aku menoleh sejenak ke arah wajah gadis itu.

Degg. Jantungku seolah terpukul dari dalam. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

Sosok gadis berjilbab lebar ini... Ah, tidak mungkin. Aku kemudian menatap paras akhwat di depanku ini sekali lagi. Ya.. Sosok ini memang dia. Ini memang dia. Aku sangat mengenalinya. Tapi, apa yang dia lakukan di tempat ini? Dengan barang-barang sebanyak ini? Apakah dia akan pindah ke Korea? Tapi untuk apa?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan melayang-layang di otakku. Menggantung bebas ketika melihat sosok akhwat yang berada di hadapanku. Anti. Anti Mar’atusshalihah. Dia adalah rekan seperjuanganku ketika berada di SMA dahulu. Akhwat tangguh yang memiliki identitas yang kuat. Pemahaman yang ahsan. Ujung tombak pasukan mujahidah SMA-ku dahulu.

Aku sangat kaget melihatnya. Menatap sosok yang kini berada di hadapanku. Tidak pernah bahkan terlintas di pikiranku akan bertemu dengannya dalam waktu-waktu ini. Terlebih dalam keadaan seperti ini. Samasekali tidak terlintas dalam pikiranku.

SkenarioMu memang tak terduga, Ya Rabb, ucapku dalam hati. Terakhir aku bertemu dengannya adalah ketika sekitar tiga tahun lalu. Saat itu kami berkumpul dalam kegiatan reuni akbar sekolah kami. Memang setiap tahunnya, Ikatan Alumni SMA kami selalu mengadakan kegiatan reuni akbar. Reuni dari angkatan pertama hingga angkatan yang terakhir lulus. Biasanya diadakan pada bulan Syawal. Untuk dua tahun ini aku tidak mengikuti kegiatan tersebut. Tahun pertama, aku disibukkan dengan kegiatan Salam UI. Tahun kedua, aku sudah berada di Korea. Cukup besar budget yang diperlukan untuk kembali ke Indonesia.

Sosoknya saat ini tidak jauh berbeda dengan keadaannya ketika kami bersua terakhir. Namun hari ini wajahnya tampak pucat kedinginan. Aku bingung harus berbuat apa. Keringat keluar dari keningku, meski aku merasa sangat kedinginan saat ini. Aku buka lapisan keempat jaketku kemudian aku selimutkan ke seluruh badannya. Kini aku hanya memakai dua lembar jaket. Dingin sekali rasanya.

Sekitar 10 menit, kami sudah tiba di depan rumah Habib. Di sana tampak Bi Ming-Tse telah menanti. Ketika taksi kami tiba, tampak wajahnya agak meneliti menerawang ke dalam taksi ini. Memastikan bahwa yang akan turun dari taksi ini adalah aku.

Setelah aku turun, tampak wajah Bi Ming-Tse sangat lega. Agaknya dia telah menunggu cukup lama di tempat ini.

“Assalamu’alaykum, Bi..!” sapaku.

“Wa’alaykumsalam..! Alif, akhirnya tiba juga… Bagaimana kenalan kamu itu?” jawabnya.

“Alhamdulillah, Bi.. Namanya Anti.. Agaknya dia kedinginan.. Alif juga bingung, dia tadi hanya memakai dua lapis jaket, Bi..!” jawabku. Tanpa sadar aku juga merasa sangat kedinginan. Kini aku yang memakai dua lapis jaket.

“Bawa saja ke dalam..!” ucap Bi Ming-Tse. Aku menelan ludah. Aku merasa ragu. Aku harus menggendong Anti? Meskipun murabbiku pernah mengatakan bahwa hal-hal tersebut bisa dilakukan dengan catatan dalam keadaan darurat, hatiku tetap memberontak. Pasalnya ini kali pertama aku mempraktikkan ‘keadaan darurat’ yang dimaksudkan tersebut.

Bismillah. Dengan gemetar aku meraih Anti, lalu aku masukkan dia ke dalam rumah. Aku tempatkan di kamar tamu, bersama Bibi Ming-Tse. Segera aku beristigfar. Bi Ming-Tse tersenyum.

“Alif, kamu masih seperti biasa ya.. Tenang saja, ini keadaannya berbeda Nak.. Ini keadaan darurat..” ucap Bi Ming-Tse seraya menoleh kepadaku. Aku hanya tersenyum seraya beristigfar dengan pelan.

“Bi, saya ke ruang sebelah ya.. Kalau bibi butuh sesuatu, tinggal panggil saya..” ucapku.

“Iya.. Oh, bibi tinggal di sini ya.. Sampai gadis ini sadarkan diri.. Mudah-mudahan tidak lama, kok..” jawabnya. Amin, jawabku dalam hati.

Aku beranjak ke ruang tamu di sebelah ruangan ini. Aku masukkan diriku ke meja penghangat. Mataku hampir terpejam ketika aku ingat belum berwudhu.

Aku kemudian bangkit dan membasuh tubuhku yang penuh kekotoran ini dengan air wudhu yang suci. Kemudian aku berdoa seperti yang sering aku bacakan semenjak SMA dahulu. Aku bayangkan wajah orangtuaku, adik-adikku, dan sahabatku. Tiba-tiba terbayang sosok Anti. Aku teringat masa SMA dahulu. Aku teringat desir hatiku yang ada ketika bertemu dengannya saat SMA dahulu, masih sama dengan desir yang ditimbulkannya tadi. Segera aku beristigfar. Aku pejamkan mataku. mengistirahatkan tubuh yang sedari tadi menggigil.

***

Alarm handphoneku berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 02.00 KST (Korean Standard Time). Aku coba bernegosiasi dengan tubuhku yang letih karena kedinginan semalam. Agaknya aku sedikit pilek. Tapi aku memaksakan tubuhku untuk bergerak bangkit dari lelapnya tidurku. Aku ambil air wudhu, kemudian shalat tahajud.

Saat aku rendahkan kepalaku hingga mencium bumi, tiba-tiba sosok Anti menggelebat di bayanganku. Tiba-tiba air mataku meleleh. Aku sangat menikmati sujudku itu. Aku teringat anganku ketika SMA dahulu. Dia. Ya, dia yang sangat aku jaga. Dia yang aku titipkan kepada Allah dalam setiap sujud tahajudku. Dia.
Aku sangat tidak menyangka akan bertemu dengannya di Korea. Aku sangat tidak menyangka bahwa kejadiannya akan secepat ini. Semenjak aku lulus dari SMA, aku terus mempersiapkan diriku untuk segera menikah. Aku mulai meniatkan hal itu semenjak aku meniti karir di Universitas Indonesia.

Tapi tanpa disangka, aku mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan Strata-1 (S-1) sarjanaku di Korea. Keinginanku untuk menikah muda sedikit melonggar. Tapi pada hakikatnya, aku terus mematangkan persiapanku menuju kesiapan menikah.

Aku terus mengevaluasi ‘Buku Pra-Nikah’ yang aku persiapkan semenjak aku kelas tiga SMA. Ada lima jenis kesiapan yang aku evaluasi di buku tersebut. Pertama kesiapan ruhani. Kedua, kesiapan mental. Kemudian kesiapan intelektual. Selanjutnya kesiapan sosial dan terakhir kesiapan material.

Dalam setiap jenis kesiapan itu, aku mencatatkan poin-poin yang berkaitan dengan jenis kesiapan itu sendiri. Misalnya, untuk kesiapan ruhani aku mencatatkan ibadah-ibadah yang harus aku rutinkan. Aku mencatat hafalan minimalku, dan hal-hal terkait ruhani yang lainnya.

Setengah jam berlalu. Dengan berat aku mengucapkan salam tanda berakhirnya witirku malam ini. Sujud terakhirku selalu terasa indah dengan bulir air mata yang mengarai di pipiku. Mengalir menuju janggutku yang menjadi muaranya. Entah, selama tiga hari ke belakang aku selalu memohon doa untuknya yang aku titipkan kepadaNya. Aku berdo’a untuk kebaikan semua. Skenario Allah memang tiada pernah mampu diduga.

Aku berdzikir mengingat asmaNya yang telah memberi banyak sekali nikmat dan karunia ini kepada diriku. Yang memberi kecukupan hingga hari ini. Yang memberi kesempatan bernafas hingga detik ini. Tiada Tuhan selain Allah.

Setelah terlarut dalam doaku, aku bangkit. Aku ingin menghampiri Ukhti Anti. Agaknya dia tengah terlelap didampingi Bibi Ming-Tse. Aku membuka sedikit pintu kayu geser kamar tamu rumah ini. Anti tengah terlelap. Bi Ming-Tse menemaninya dengan setia. Rasanya tidak perlu terlalu dikhawatirkan, pikirku. Aku menutup kembali pintu geser tersebut, dan mulai menulis buku catatan harianku.

Suara adzan terdengar dari Handphoneku. Memang, sangat jarang ada masjid di daerah Seoul ini. Hanya ada beberapa saja. Itu pun cukup jauh dari tempat tinggalku ini. Jadi aku biasanya mengandalkan aplikasi pengingat waktu shalat yang aku pasang di Handphoneku. Biasanya aku shalat berjama’ah di rumah bersama Habib. Aku beranjak ke arah Bi Ming Tse untuk membangunkannya. Siapa tau dia mau shalat berjama’ah.

“Bi.. Bi.. Bi Ming Tse.. Bangun bi, sudah Subuh..” ucapku seraya menggerak-gerakkan tubuhnya. Sejenak kemudian mata Bi Ming Tse terbuka. Menatap ke arahku.

“Iya Alif, bibi lagi tidak Shalat..” ucapnya. Agaknya kali ini aku harus shalat Subuh sendirian.

“Oh, maaf bi.. Kalau begitu, bibi istirahat saja lagi.. Alif mau shalat dulu ya..” ucapku.

***

Pagi sudah menjelang. Matahari tidak terlihat di langit. Tertutupi oleh awan-awan tebal yang menghiasi musim dingin di Seoul ini. Namun cahayanya tiada mampu dihalangi oleh sang awan. Tetap bertugas seperti biasanya menyinari hari.

“Alif, Bi Ming Tse ke rumah dulu sebentar ya.. Bibi harus menyiapkan dagangan untuk hari ini..” ucap Bi Ming Tse pagi itu. Aku agak ragu. Itu artinya aku hanya akan berdua bersama Anti di rumah ini. Namun bagaimanapun, Bi Ming Tse harus menyiapkan barang dagangannya.

“Iya, Bi.. Terimakasih sudah sangat membantu ya.. Maaf juga merepotkan..” ucapku.

“Ya, tak usah dipikirkan.. Kamu tenang saja, nanti bibi suruh saudara bibi untuk datang kesini menemanimu.. Kalau begitu, bibi berangkat ya.. Assalamu’alaykum..”, lanjutnya. Aku tersenyum.

“Eh.. Ya, bi..! Wa’alaykumsalam.. Gansamhamnida..!!..” ucapku seraya menundukkan kepalaku. Bi Ming Tse berlalu.

Hari ini aku berencana untuk pergi ke kampus, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Namun agaknya aku harus menunggu hingga Anti siuman. Barulah aku bisa berangkat ke kampus setelah mengantarkannya ke tempat tujuannya.

Bagaimana keadaan Anti sekarang..?

Aku beranjak menuju kamar Anti untuk sekedar mengecek keadaannya. Langkahku gemetar. Namun, bismillah, aku memberanikan diriku untuk mengecek keadaan Anti.

Aku ketuk pintu kamar Anti dengan pelan. Tok.. Tok.. “Ukhti..?” sapaku.

“ Ya... Euuh.. siapa disana?” jawab seseorang di seberang pintu yang tertutup itu. Anti sudah sadar..! Aku terbingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku kira, dia belum sadarkan dirinya. Ternyata dia sudah terbangun. Agaknya prediksi Bi Ming Tse kali ini kurang tepat.

“Ukhti.. Euh.. Afwan.. Em.. Boleh pintunya ana buka..?” ucapku, masih dengan Bahasa Indonesia.
Dia terdiam cukup lama.

“ Y...y....a.....a....”, ucapnya. Aku membuka pintu kamar tempat beristirahatnya Anti. Sejenak dia tertegun melihatku, sebagaimana aku tertegun ketika pertama kali aku melihatnya lagi di taksi.

“Assalamu’alaykum..” ucapku seraya mencoba tersenyum kepadanya. Lagi-lagi dia terdiam. Tertegun menatapku.

“ Alif Jaisumuhammad???”, ucapnya setengah berteriak.

“Ya.. bagaimana keadaannya sekarang? Sudah merasa lebih baik?” ucapku terbata. Aku bingung harus berkata apa. Aku mencoba mengurangi kegugupanku. Kami terdiam untuk sejenak. Bingung apa yang semestinya dikatakan. Aku tetap berdiri di depan pintu, Anti masih terdiam di atas tempat tidurnya. Kami terdiam sejenak.

“Euh.. Afwan.. Ini pasti membuatmu kaget.. Tadi ana baru saja mengantarkan teman ke bandara, tiba-tiba di tempat parkiran ana lihat anti sudah tergeletak kaku.. Ana ragu itu anti.. Tapi setelah ana amati ternyata memang benar itu anti, Anti Mar’atussalihah. Afwan sebelumnya ana membawamu ke sini tanpa izin..” ucapku memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya. Aku tidak ingin ada salah paham. “ Afwan sebelumnya ana membawa anti kesini, memang sedikit lancang. Tetapi ana hanya berniat menolong anti saja, ana bingung harus bawa anti kemana..”, lanjutku. Anti masih terdiam dengan tatapa tidak percaya kepadaku. Aku bingung harus berbuat apa.

“Ah,” tiba-tiba dia bergerak. “Jazakallah untuk semuanya, afwan merepotkan antum.” lanjutnya. Dia bergerak menuju ke bagian depan rumah. Aku tersadar. Dia malu, sebagaimana aku malu. Namun dia bertindak cepat dengan beranjak menjauh agar kami tidak berduaan terlalu lama di ruangan tersebut, sedangkan aku terbingung. Bodohnya aku!!, batinku.

“Semalam anti pingsan di Bandara.. Anti memakai lapisan baju yang tidak terlalu tebal.. Untuk musim dingin di Korea ini, biasanya harus pakai sampai lima lapis jaket.. Ana kaget melihat anti, lalu ana bawa anti ke rumah ana.. Anti di rawat sama bibi ana di sini.. Afwan ya..” ucapku terbata. Aku mengerti, Anti pasti merasa kaget, bingung, sekaligus malu dengan keberadaannya di rumah ini. Anti masih terdiam. Ia kemudian duduk di salah satu sudut beranda. Aku memilih untuk duduk berjauhan darinya.

“Ukh, di Korea ini tujuannya ke mana..?” ucapku.

“DI Seoul, Akh.. Di Murabbiah ana.. Euuh, ini di mana..?” jawabnya singkat.

“Ini Seoul Ukhti.. Selamat datang..!” jawabku. “Tapi Seoul ini luas, Ukh.. Anti tahu alamat jelas Murabbiah anti? Insya Allah ana hafal jalan-jalan sekitar sini.. Mungkin ana tau alamatnya..” lanjutku.
Anti terbingung dan mengambil sebuah buku catatan di tasnya. Membuka suatu halaman, lantas memberikannya kepadaku.

“Ini alamat lengkapnya, Akh.. Ana tidak terlalu hafal, nama jalannya agak sulit..” ucapnya mencoba bercakap dengan bahasa Korea. Aku tersenyum.

“Ooh.. Ini tidak terlalu jauh, Ukhti.. Hanya beberapa meter saja dari tempat ini.. Berjalan kakipun sekiranya hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit saja..” ucapku, dengan Bahasa Korea-ku.

“Sebentar, Ukh..” ucapku. Aku menjelaskan semuanya kepada Anti. Termasuk soal Bibi Ming Tse. Wajahnya tampak lebih tenang setelah mendengar ceritaku tentang Bi Ming Tse yang semalaman menjaganya, bukan aku.

“Kalau begitu, ana pamitan dulu, Akh..” ucapnya. Kali ini dengan senyuman tipis di wajahnya.

“I…I.. Iya, Ukh.. Silahkan..” ucapku singkat.

Anti mengemas kopernya yang masih rapih. Memakai sepatunya, kemudian beranjak keluar dari rumah Habib ini. Aku bingung. Sudah sajakah? Rasa rindu setelah bertahun-tahun tidak bersua membuatku merasa ingin berlama-lama dengannya. Namun segera perasaan bingung itu ku jawab dengan istigfar.

“Assalamu’alaykum”, ucapnya.

“Waalaykumsalam, Fi Amanillah Ukht. Setelah bertemu dengan murabbiahnya langsung kabarin ana” desisku pelan.

“ Ya. Insya Allah. Jazakallah untuk semuanya, serta salam untuk bibi Ming-Tse, terimakasih beliau telah merawatku” ucapnya. Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Sosoknya pun berlalu.

***

Hari ini adalah hari Ahad. Aku libur. Aku menghabiskan waktuku untuk menyelesaikan novel karanganku. Aku memang suka mengarang novel. Menurutku,  novel ataupun cerita pendek merupakan langkah lain untuk berdakwah. Aku sangat mengagumi sosok Ust. Habiburrahman el Shirazy. Dia adalah novelis favoritku semenjak aku kelas satu SMP dahulu. Aku sangat mengagumi dakwah yang dia lakukan melalui pena-nya. Dialah yang menjadi salah satu motivator bagiku.

Sore ini sangat indah. Seharian ini aku sudah menyelesaikan 3 bab dalam novel rancanganku. Tidak terasa. Padahal aku melakukannya seraya menyelesaikan tugas makalah kuliahku dan meladeni seorang muslim ammah yang banyak bertanya kepadaku melalui SMS. Beliau bertanya tentang konsep dasar Islam, dan awal keberadaan mentoring atau pembinaan ini. Agaknya dia agak tertarik terhadapnya. Mudah-mudahan saja Allah segera memberikan hidayah-Nya.

Sore ini sudah sangat gelap. Namun cahaya rembulan samar-samar terlihat menghiasi langit yang kelabu. Tidak biasanya terang rembulan menyinari Seoul seperti sore ini. Malam yang langka, kupikir. Aku sangat senang melihat langit. Termasuk melihat bulan bulat sempurna. Mengingatkanku pada satu kenangan di kampungku. Cahaya indah bulan itu, laksana cahaya indah yang datang dari syurga.

Aku habiskan sore itu memandangi bulan indah yang bulat sempurna, meski terkadang terhalangi awan gelap. Hari ini memang tanggal pertengahan bulan Hijriyah, sehingga bulan di langit tampak sangat sempurna.
Aku teringat janjiku untuk bertemu dengan Ustadz Lee, murabbiku, di Masjid Seoul. Aku persiapkan diri agar bisa tiba tepat waktu untuk melaksanakan Shalat Maghrib di sana. Lima menit saja, aku sudah siap untuk berangkat. Bismillahirrahmanirrahim.. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah..

Segera aku raih motor Ninja milik Habib, dan melesat ke Masjid Seoul. Tidak terlalu jauh, sebenarnya. Hanya beberapa meter saja dari rumah Habib yang aku tempati. Di perjalanan, aku melihat sesosok akhwat tengah terdiam menunduk di halte bis.

Sedang apa dia disana? Tunggu, di jalan ini kan tidak boleh ada kendaraan umum dari jam setengah enam. Dia menunggu apa? Aku berhentikan motorku di depannya. Aku tatap sejenak sosoknya. Anti..??
Aku lihat Anti tengah terduduk sendiri. Memegang Al-Qur’an seraya tertunduk fokus ke arahnya. Aku tersenyum. Kutunggu beberapa menit hingga dia selesai, untuk kemudian menyapanya.

“Assalamu’alaykum, Ukhti..” sapaku. Dia tampak sedikit terkaget ketika melihatku. Aku hanya tersenyum.

“W.. Wa’alaykumsalam Warahmatullah..” jawabnya reflek. “Alif..? Sedang apa Akh antum di sini?” tanyanya segera.

“ Ana mau pergi shalat Maghrib di mesjid sebelah sana”, ucapku seraya menunjuk ke arah Masjid Seoul. 

“Apa yang antum lakukan di tempat seperti ini? Hari sudah gelap, antum belum pulang?”, lanjutku.

“Justru itu, ana sedang menunggu bis atau apapun taksi yang mungkin yang lewat di daerah sini, namun sedari tadi tak satupun kendaraan yang melalui jalan ini.. Tiba-tiba antum datang dan sekarang berada di sini..” jawabnya seraya menunduk, setelah terpelotot menatapku tadi. Alhamdulillah, dia masih menjaga rasa malu-nya, pikirku. Agak lama dia terdiam sebelum akhirnya menatapku ragu.

“Tentu saja, Ukhti.. Jalan ini sudah dilarang untuk kendaraan umum semenjak jam setengah enam sore tadi.. Antum seharusnya menunggu di halte sebelah.. Tapi cukup jauh dari sini..” ucapku seraya tersenyum. Dia menatapku tak percaya. Seolah menyesal telah menunggu lama-lama di tempat ini. Aku hanya tersenyum.

“Hmmm begini saja ukht, ana akan memesan taksi untuk antum.. Maaf ana gak bisa nganterin sampai rumah..” ucapku setelah terdiam beberapa lama. Aku ingin menjaga izzahku dan izzahnya.

“Alhamdulillah, syukran akh. Itu sudah lebih dari cukup menurut ana, ana ngerti kok.. Hehe, sekarang antum mau pergi ke mesjid kan? Silahkan aja, keburu masbuk.” Ucapnya seraya tersenyum.

“Kalau begitu, ana duluan ya ukht. Fi Amanillah. Assalamu’alaykum..” ucapku singkat. Aku tersenyum kepadanya dan menyalakan motorku.

“Wa’alaykumsalam… Eh… Tunggu dulu, Alif..” jawabnya. Aku menoleh. “Gg.. Gansahamnida..” ucapnya seraya menunduk. Aku tersenyum.

Ye..!

***

Aku termenung untuk beberapa saat. Aku buka lembar demi lembar catatan pribadiku. Cerita-cerita pendekku yang sudah aku buat semenjak SMA dahulu. Tersenyum sendiri melihatnya. Lucu.

Lalu aku lihat buku kehidupanku. Berisi mimpi-mimpi yang ingin aku peluk satu persatu. Lembar demi lembar aku lewati dengan senyuman. Banyak mimpi yang telah aku coret, karena telah kugapai. Di setiap lembarnya berisi satu mimpi, disertai gambar yang aku buat sendiri. Aku terus membuka impian-impian tersebut, hingga tiba di salah satu lembar aku berhenti. Lembaran yang bergambarkan sosok seorang wanita berjilbab panjang dan lebar buah tanganku. Tertulis lembut di atasnya : MENIKAH.

Aku berdiri dan berjalan menuju kasurku seraya membawa buku itu. Menatapnya dalam-dalam, kemudian terduduk lagi. Sarjanaku belum selesai. Apakah aku akan menyelesaikannya terlebih dahulu, lalu kemudian menikah? Ataukah, mungkin aku akan menyelesaikannya seraya menikah?

Salah seorang ustadzku pernah menasihati, bahwa kita tidak perlu takut miskin jika kita menikah. Selama niat kita ikhlas karena Allah, miskin bukanlah halangan. Karena janji Allah adalah akan meng-kaya-kan orang-orang yang menikah di jalan Allah. Bukan karena nafsu.

Setiap individu telah mendapatkan rezekinya masing-masing dari Arsy. Jika seseorang menikah, artinya akan ada dua individu saling berbagi dan saling mengasihi. Artinya, rezeki dalam satu tubuh keluarga tersebut ada rezeki untuk dua orang. Aku sendiri tidak takut akan harta yang mengikuti atau meninggalkanku ketika aku sudah menikah. Hanya saja pertanyaannya, apakah aku sudah siap dan sudah butuh untuk menikah dengan segera?

Rasa-rasanya, aku akan berkonsultasi dulu dengan murabbi dan orangtuaku. Aku tidak ingin terlalu terburu-buru mengambil keputusan.

Aku tutup buku pribadiku itu. Lalu aku baringkan tubuh ini seraya menatap ke arah luar jendela. Cahaya bulan yang masih terang menerangi malam itu. Kali ini dengan langit yang sangat bersih, sehingga membuat cahaya bulan tersebut sangat jelas. Aku tidak tahu (dan tidak akan pernah tahu) bahwa di tempat lain di Seoul ini, seseorang juga melakukan hal yang sama. Tersenyum menatap bulan.

***

Hari ini aku berencana mengunjungi murabbiku dan teman-teman Forum Silaturahim Khalaqah Korea (FSKK). Aku benar-benar merasa ingin berkonsultasi dengan murabbiku tentang perasaan ini. Tentang pernikahan. Kebetulan di tempat itu hari ini juga tengah ada ta’lim tentang rutin bersama Himpunan Mahasiswa Muslim Korea-Indonesia.

Pukul 10 pagi, aku berangkat. Kebetulan Murabbiku tengah mengikuti sebuah pertemuan di sekretariat FSKK. Teman-teman yang lain juga tengah berkumpul di sana. Jadi aku bisa sekalian pamit ke mereka. Ya, meskipun hanya pulang untuk beberapa waktu tetapi aku sering menjadi sangat rindu kepada mereka. Inilah ajaibnya khalaqah.

Hanya lima belas menit, aku sudah tiba di sekretariat FSKK. Tempat itu memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku di Korea ini. Sudah ramai sekali di sana. Teman-teman khalaqah dari seluruh ras dunia yang berada di Korea berkumpul. Ustadzku tengah menunggu di mushala. Bersama rekan-rekan satu khalaqahku.

Segera aku parkirkan motorku dan kemudian menuju ke mushala. Tiba-tiba aku melihat sosok Anti. Ah, rupanya dia sudah bergabung di forum ini. Dan dia bersama dengan Isma. Ternyata benar, murabbiah Anti adalah Isma. Isma adalah senior jurusanku di Han Kuk University. Dia tengah menyelesaikan semester terakhirnya di Korea saat ini. Namun aku pertama mengenalnya di forum ini. Ketika aku mengetahui bahwa dia adalah salah satu orang Indonesia yang menjadi mas’ul akhwat di Korea ini. Beruntung Anti mendapatkan murabbiah selevel dia.

“Assalamu’alaykum Ukhti..” ucapku kepada mereka.

“Wa’alaykumsalam, Alif..” jawab mereka hampir bersamaan. “Lho, kamu mengenal dia, Anti..?” ucap Isma.

“I..Iya, dia teman seangkatanku sewaktu SMA di Indonesia dulu, kak.. Kakak mengenal Alif juga..?” jawab Anti.

“Ya..” ucap Isma singkat. Dia menundukkan wajahnya. Aku tidak dapat melihat jelas wajahnya.

“Kami satu jurusan di Han Kuk University, Ukhti.. Dia senior ana..” sambungku. Anti mengangguk mengerti. 

“Afwan semuanya, ana sekarang ingin bertemu dengan ustadz ana.. Insya Allah lain kali disambung ya..”

“Oh.. Ya.. Silahkan Akhi..” jawab keduanya.

“Assalamu’alaykum..”

“Wa’alaykumsalam….”

Aku pun segera bergegas menuju ke mushala untuk bertemu dengan saudara-saudaraku itu. Meskipun belum pulang ke Indonesia, rasa rindu kepada mereka tiba-tiba saja datang. Entahlah, hati ini telah sangat terkait dengan mereka.

Grup khalaqahku terdiri dari 10 orang. Keseluruhannya dari Indonesia. Ada Zaid, Yunus, Firdan, Daud, Jajang, Ahmad, Ali, Fathan, dan Umar. Kami berasal dari beragam provinsi. Hanya aku dan Jajang yang berasal dari pulau Jawa, tepatnya di Provinsi Jawa Barat. Murabbi kami adalah Ustadz Lee. Beliau adalah ustadz keturunan Korea yang lahir di Indonesia, tetapi besar dan menyelesaikan kuliahnya di Mesir.

Hampir selama di Korea aku bersama mereka. Dan bersama mereka, aku rasakan lagi keindahan khalaqah yang ditanamkan dalam hatiku semenjak aku SMA dahulu. Ah, rasanya aku jadi rindu kepada teman-teman khalaqah di SMA dulu.

“Assalamu’alaykum..!” sapaku semangat kepada rekan-rekanku yang tengah duduk melingkar bersama Ustadz Lee.

“Wa’alaykumsalam.. Wah, ini tamu besar datang.. Ayo, akhi..” sapa Yunus.

“Ah, antum.. Tamu besar apa pula..”

“Iya, Akh.. Antum kan yang paling tua di antara kita.. Selain Ustadz Lee tentunya.. Hehehe..” ucap Zaid. Memang benar, aku sedikit lebih senior dibanding teman-teman khalaqahku ini.

“Tapi ada bedanya, akhi antara Ustadz Lee dan Akh Alif ini..” ucap Firdan. Dia sahabat dekatku selama di Korea ini.

“Apa, akhi..?” tanya Ustadz Lee.

“Kalau Ustadz Lee sudah membuktikan diri dengan nikah muda.. Nah, Akh Alif ini justru belum menikah… Hehehe..” ucapnya polos. Semua tergelak. Aku hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala.

“Betul akhi.. Umur antum sudah mencukupi, begitupun dengan mental antum.. Ana rasa tidak baik jika menunda-nunda pernikahan, Akhi..” ucap Ustadz Lee. Beliau memang salah seorang yang berani melakukan dobrak sosial. Beliau menikah pada umur yang sangat belia, ketika beliau masih berumur 18 tahun. Dan hingga hari ini pasangan itu tetap langgeng seperti pengantin muda baru. Tidak jarang membuat orang lain “iri” dan ingin segera menyusul. (hehe..)

“Ah, kalian ini.. Ana kan mau khalaqah, lah kok malah diserang.. aduh, aduh…” jawabku.

“Sudah-sudah, kalau begitu, kita mulai saja khalaqah hari ini ya..” ucap Ustadz Lee. Kami pun memulai khalaqah. Mengkaji dan memperdalam ilmu islam yang sangat luas dan indah.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang sudah waktunya shalat Ashar. Khalaqah bersama mereka memang seringkali tidak terasa. Banyak sekali pertanyaan yang terus menambah wawasan. Pertanyaan yang kompleks dan sangat dewasa. Ada yang berdakwah dengan atheis, berdialog dengan umat Kristen, menanggapi orang awam yang berteriak teroris, dan lain sebagainya. Namun adzan Ashar itu menandakan pertemuan kami hari ini harus berakhir dulu.

Usai shalat Ashar, aku segera mempersiapkan diriku untuk ke perpustakaan. Aku ingin meminjam beberapa buku yang telah lama menjadi targetku di Korea ini. Namun tiba-tiba Ustadz Lee memanggilku.

“Alif.. Alif, tunggu sebentar akhi.. Ana mau berbicara sebentar dengan antum..” ucapnya seraya menepuk pundakku. Aku menoleh.

“Oh.. Iya Ustadz.. Ada apa..?” jawabku.

“Kita ke ruangan tamu dulu deh.. Ayo..” lanjutnya. Kami pun beranjak menuju ke ruang tamu dan duduk di sana. Agaknya ada hal serius yang ingin beliau sampaikan.

“Akhi.. Umur antum sekarang itu berapa..?” ucap beliau membuka percakapan seraya meraih cangkir dan memenuhinya dengan air.

“Eeuh.. Menuju tahun ke dua puluh tiga, Ustadz…” ucapku. Aku keluar SMA pada umur 18 tahun. Dan tiba di Korea semenjak berumur 19 tahun. Dalam program pertukaran ini aku harus mengikuti kelas pelajaran tambahan dan adaptasi di Korea selama satu tahun, untuk kemudian melanjutkan program studi inti. Ini adalah semesterku yang keenam.

“Wah.. Kalau umur dua puluh tiga, ana jadi ingat ketika anak pertama ana lahir…” ucapnya. Hatiku agak berdebam. Wah, agaknya ada yang tidak beres nih, pikirku. Aku menangkap sinyal-sinyal akan dibawa kemana percakapan ini. Aku lebih memilih tersenyum dan memperhatikan kata-kata Ustadz Lee.

“Alif, antum sudah kepikiran untuk menikah..?” lanjutnya. Degg. Benar dugaanku.

“Euuh.. Sebenarnya iya, Ustadz..” jawabku terbata-bata.

“Alif, antum di Korea ini sudah menjadi sosok yang bercitra baik.. Ana kagum kepada antum.. Dan begitu juga dengan orang-orang lain di sini..” ucap Ustadz Lee. Aku tetap menyimak. “Akhi, ada saudara ana yang sudah siap menikah.. Jika antum tidak berkeberatan, ana persilahkan antum untuk berta’aruf dengannya..” lanjutnya. Astagfirullah. Baru saja berniat untuk membicarakan pernikahan kepada ustadz Lee, sudah ditawari akhwat seperti ini? Ya Allah! Aku terdiam untuk sejenak. Agaknya bingung juga aku dibuatnya.

“Eeuh.. Ustadz.. Ana tidak bisa menjawab saat ini..” ucapku berat.

“Ya.. Tidak apa.. Antum bicarakan dulu sajalah dengan keluarga antum.. Tapi sebagai informasi antum, saudara ana ini dari Indonesia.. Ana yakin antum sudah pernah mengenalnya.. Ya, minimal pernah mendengar namanya deh.. Namanya…” aku terbatuk.  Akhwat dari Indonesia? Siapa? “Antum kenapa, Akhi..? Ini, minum dulu.. Minum dulu..” ucap Ustadz Lee. Aku menenggak air.

“Nama akhwat itu Hawwa Khusnul Khatimah, Akhi..” ucap Ustadz Lee ringan. Cruutt! Aku tersedak. Minuman yang ada di mulutku hampir keluar semua. Hawwa? Tidak salah? Dia saudaranya Ustadz Lee..??

“Kenapa Akhi..? Antum kenal dia kan?” ucap Ustadz Lee. Bagaimana mungkin aku tidak kenal? Kami berdua adalah delegasi Universitas Indonesia untuk belajar di Korea ini!, pikirku.

“I…I… iya Ustadz.. Ka.. kami.. Kami sama-sama delegasi UI untuk belajar di sini..” ucapku.

“Ya.. Aduh.. Ana lupa kalau antum juga dari UI.. Tampaknya antum sudah kenal, ya..?” jawab Ustadz Lee. 

“Ya, dia yang ana maksudkan, Akhi.. Silahkan antum pikirkan ini baik-baik.. Hawwa belum ana beritahu.. Ana tunggu jawaban antum, baru ana akan memberitahu Hawwa.. Silahkan direnungkan baik-baik..” sambungnya.

Astagfirullah. Apa yang harus aku lakukan, ya Allah?

***

“Pernikahan itu sesuatu yang sangat penting, nak.. Satu akad yang akan kau lewati, itu akan mengubah hidupmu.. Keseluruhan dari hidupmu.. Di sana akan ada dua kepribadian dalam satu ikatan.. Dua karakter dalam satu jiwa.. Dua dunia dalam satu rumah.. Ummi tidak ingin kamu terburu-buru, sebenarnya.. Dan kalaupun kamu memilih untuk menikah dalam waktu dekat ini, Ummi harap itu bukan atas dasar ketergesaan.. Semua pilihan Ummi kembalikan kepadamu, nak.. Kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan..” nasihat bijak Ummi menentramkan hatiku. Lembut suaranya membuat sejuk hatiku bertambah, seiring dengan hiasan senyum di mulutku. Ummi, aku rindu..!

“Iya, Ummi.. Insya Allah Alif tidak akan terlalu tergesa-gesa dalam memutuskan hal ini.. Alif sadar, Alif masih di negeri orang.. Dan mungkin untuk saat ini, Alif belum terlalu membutuhkan seorang istri berada di samping Alif.. Lagipula, Alif masih diberi amanah.. Si Habib.. Dia kan amanah dari Ummi dan Om Abdul..” jawabku.

“Iya nak.. Intinya kamu jangan terburu-buru.. Bukan berarti Ummi melarang kamu untuk menikah sekarang.. Kosakata Ummi, kamu jangan terburu-buru.. Kamu jangan terburu-buru memutuskan bahwa kamu akan segera menikah, pun sebaliknya.. Kamu juga jangan terburu-buru memutuskan untuk tidak menikah dalam waktu dekat ini.. Istikharah-lah, nak.. Ummi dan Abi akan selalu mendukung dan mendoakanmu..” ucap Ummi. Aku tertegun. Menundukkan kepala seraya meresapi kata-kata Ummi. Bismillah.

“Ya sudah, Ummi.. Insya Allah, Alif akan istikharah dulu.. Terimakasih ya Ummi.. Salam untuk adik-adik dan Abi khususnya..”

“Ya Alif.. Kami akan selalu mendukung dan mendoakanmu, nak..”

“Assalamu’alaykum, Ummi..”

“Wa’alaykumsalam..”

Aku menutup ponselku. Terdiam sejenak di hadapannya. Lalu aku beranjak mengambil air wudhu, dan melakukan shalat empat rakaat. Shalat Duha. Rasanya aku sudah mantap untuk menunda rencanaku menikah. Setidaknya hingga masa pertukaranku di Korea ini berakhir. Setelah dua tahun di Korea, aku akan dikembalikan ke kampus kuning tercinta, kampus Universitas Indonesia.

Satu tahun terakhir di Korea ini akan aku fokuskan untuk menyusun laporan penelitian dan kegiatan selama di Korea. Pihak Universitas Indonesia akan memintanya ketika aku telah kembali ke Indonesia nanti.
Aku buka lagi buku impianku. Menatap poin ke dua puluh dua dengan gambar seorang akhwat berjilbab panjang lebar, dan keterangan ‘Menikah’. Lama aku merenunginya. Lalu aku tersenyum, teringat pada sosok seseorang. Semua akan indah pada waktunya. Ya, itu benar. Lalu aku menutup buku itu dan mulai mengerjakan laporan penelitianku.

***

“Thayyib Akhi.. Ana mengerti alasan antum..”

“Jazakallahu khair, ustadz.. Ana juga telah mengkomunikasikan hal ini dengan kedua orangtua ana di Indonesia.. Mereka mendukung semua keputusan ana, Ustadz..” ucapku.

“Iya Akhi.. Tidak ada yang perlu disesalkan dari semua keputusan ini.. Insya Allah antum bakal dapat yang terbaik dari Allah.. Pada waktu yang terbaik pula.. Insya Allah, akhi.. asalkan antum yakin dan percaya..”

“Benar, ustadz.. Insya Allah..”

“Dan jangan lupa dua senjata kita akhi.. Agar setiap rencanaNya bisa kita nikmati dan kita jadikan kekuatan dalam langkah kehidupan kita.. Sabar dan syukur..”

“Insya Allah, ustadz..”

“Semua Insya Allah-mu itu akan ditagih lho.. Hehe..”

“Haha.. Iya ustadz, afwan.. Ana pribadi juga mempersilahkan ustadz untuk mencari calon lain untuk Ukhti Hawwa.. Artinya, tawaran yang kemarin bisa ustadz lupakan..”

“Alhamdulillah akhi.. Itu yang ana ingin sampaikan.. Hehehe..”

Langit Seoul cerah pada sore hari ini. Aku dan Ustadz Lee melanjutkan obrolan kami di beranda rumah Ustadz Lee.

***

Laporan tugas dan kegiatanku selama di Korea sudah tersusun rapih di meja belajarku. Laporan itu adalah salah satu tugas yang diberikan pihak Universitas Indonesia kepadaku. Aku menatap tugas-tugas itu dalam-dalam. Sebentar lagi, tunggulah aku Indonesia..!, ucapku dalam hati.

Tiba-tiba Handphoneku berdering. Ada panggilan masuk. Aku raih handphone yang tengah aku charge tersebut. Kulihat layarnya, dan ternyata dari Hawwa. Hawwa? Ada apa dia menelpon? Apakah Ustadz Lee…. Ah, tidak, tidak.. Aku tidak boleh berpikir bodoh.. Bismillah..

“Assalamu’alaykum…” ucapku segera setelah mengangkat panggilan dari Hawwa.

“Alif..! Alif.. Kamu mengenal Anti kan..? Anti yang dari Indonesia…?” ucapnya tergesa. Terdengar isak tangis dari suaranya.

“Eh.. Euh.. I… Iya, Ukhti.. A..a..ada apa, memangnya..?” jawabku.

“Antii.. Antii.. Anti terserempet sebuah truk, Alif..! Tolong kami.. Tidak ada siapa-siapa di sini..” ucapnya.

Degg!! Sel-sel di jantungku menghantam ke arah luar tubuhku dengan sangat keras. Sakit sekali rasanya. Kerongkonganku seolah langsung menyerap seluruh cairan yang ada sehingga ia terasa sangat kering dan sulit untuk mengeluarkan suara. Emosi yang ada di otakku langsung menyerang mataku sehingga bermuara beberapa air mata menuju pipiku. Aku terkejut.

Tapi aku harus segera menguasai diriku. Aku beristigfar dalam hati. Berdzikir. Berdoa. Berharap semua akan baik-baik saja. Di saat seperti ini, aku tidak boleh kalah melawan perasaanku. Justru aku yang harus menenangkan Hawwa. “Innalillah.. Ukh.. Ukh.. Ukhti tenang dulu.. Sekarang ana masih di rumah.. Kalian di mana..?” ucapku mencoba meredam perasaanku.

“K…k..ka..ami di daerah Nami Island, Lif..!” jawab Hawwa dengan suara yang terbata-bata. Nami Island..? Ah! Jauh sekali!, aku paksakan otakku untuk berpikir. Ah, Iya..! Akh Umar..! Dia tinggal di dekat daerah Nami Island..!

“Aah.. Baik.. Sekarang kamu tenang, nanti ana telepon Akh Umar untuk segera kesana.. Ana akan segera menyusul ke Rumah Sakit.. Tenang ya….” ucapku.

“ii.. iya… Terimakasih, Lif….” Ucapnya dengan menahan tangis yang mulai mereda.

“Baik.. Assalamu’alaykum..”

“Wa’alaykumsalam..”

Segera aku menghubungi Umar dan memberitahukan segalanya. Umar bilang, dia akan membawa mereka menuju Seoul Medical Centre. Perlengkapan di rumah sakit itu lebih lengkap dibandingkan rumah sakit setempat. Aku segera menuju ke Seoul Medical Centre untuk melihat keadaan mereka.

Tiba di sana, sudah ada Isma dan beberapa teman akhwat dari Indonesia menanti. Rupanya mereka sudah mengetahui tentang Anti. Tak beberapa lama, tiba Umar, Hawwa, dan Anti. Kepala Anti mengeluarkan darah. Dia tampak sangat pucat. Aku tergetar melihatnya. Namun aku tidak bisa melakukan apa-apa. Teman-teman akhwat dari Indonesia dan beberapa petugas rumah sakit dengan cekatan segera membawa Anti menuju ke dalam Rumah Sakit.

Beberapa saat setelah Anti dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan, keluar seorang dokter dari dalam ruangan tersebut.

“Tidak apa-apa.. Analisis sementara kami, Anti hanya terkena beberapa luka luar saja.. Mudah-mudahan dalam seminggu ini kita sudah bisa lihat perkembangannya..” ucap dokter kepada kami yang tengah mencemaskan Anti. Aku diam. Dalam hati aku terus berdo’a agar Anti tidak apa-apa.

***

Hari beranjak menjelang malam. Beberapa teman sudah pulang. Kini hanya tersisa aku, Hawwa, dan Isma. Hawwa dan Isma menunggu di dalam ruangan bersama Anti. Sedangkan aku terduduk di luar. Sesekali aku melihat ke dalam untuk menengok keadaan mereka.

Hari sudah beranjak semakin malam. Hawwa dan Isma masih berada di dalam. Mereka terlihat sangat lemas. Aku bergegas ke luar Rumah Sakit untuk mencari makanan. Beruntung, hanya beberapa meter dari Rumah Sakit aku menemukan sebuah Rumah Makan. Aku memesan tiga bakpao daging yang hangat untuk kami. Aku juga memesan tiga susu murni yang hangat. Ketika aku memeriksa dompetku, ternyata uang yang ada di sana kurang. Hanya cukup untuk membeli dua bakpao dan dua gelas susu murni saja. Aku membelinya.

“Assalamu’alaykum..”

“Wa..Wa’alaykumsalam..” Hawwa dan Isma membuka pintu kamar Anti. “Antum masih disini, Akh..?” ucap Isma ketika melihatku. Aku hanya terdiam dan setengah menunduk.

“Ini…” ucapku seraya menyerahkan bakpao dan susu yang tadi aku beli. “Kalian belum makan dari tadi siang.. Jangan memaksakan diri..” lanjutku. Kami semua tertunduk.

Aku menatap Hawwa. Dia tampak tak berhenti menangis semenjak tadi. “Tenanglah…”, ucapku. Hawwa terdiam. “Dia akan baik-baik saja….”, lanjutku.

Kami semua terdiam. Semua rangkaian peristiwa ini sungguh tidak pernah aku duga sebelumnya. Engkau pasti memiliki rahasia dari semua ini. Aku hanya bisa percaya bahwa Engkau takkan menyia-nyiakan hambaMu, Ya Allah.

“Ah..! Euuh.. Afwan telah mengganggu..! Isma, kalau ada apa-apa, anti bisa hubungi ana.. Ana ada di mushala.. Kalau begitu, ana pamit ya.. Assalamu’alaykum..” ucapku seraya beranjak meninggalkan mereka berdua.

***

Tiga hari sudah. Anti masih belum sadarkan diri. Kami semua cemas dan bingung dibuatnya. Bahkan kedua orangtua Anti berencana untuk datang ke Korea sekitar dua atau tiga hari lagi. Kami sangat cemas kepadanya. Namun kata dokter, itu biasanya hanyalah respons tubuh yang kaget akibat kejadian kemarin. Atau mungkin ini jadi akumulasi kelelahan tubuh Anti yang mungkin telah banyak beraktivitas sebelumnya. Yang pasti menurut dokter, sekitar satu dua hari lagi Anti akan sadarkan diri.

Aku tengah berada di mushala saat itu. Baru saja aku menyelesaikan shalat Dhuha-ku.

“Alif..! Alif..!” ucap seseorang di luar memanggilku. Aku menoleh. Agaknya itu suara Hawwa. Aku beranjak keluar dari mushala. “Alif, Anti sudah sadarkan diri..! Alhamdulillah..!” lanjutnya ketika aku muncul dari balik pintu mushala.

“Alhamdulillahirabbil’alamin..” desisku pelan. “Silahkan antum kesana.. Nanti ana nyusul, Insya Allah..” ucapku.

“Ah.. Eh.. Eumm.. Iya.. Afwan, ana duluan..” ucapnya.

Aku beranjak menuju ruang perawatan Anti. Dia tampak sudah segar dan tengah bercengkrama dengan teman-teman lainnya. Aku tersenyum melihatnya. Dia tengah dikelilingi teman-teman. Dia tersenyum. Aku menghampirinya.

“Assalamualaykum... ukht? Antum udah sadar? Bagaimana keadaaannya?” ucapku seraya melangkah masuk ke ruang perawatan Anti.

“Waalaykumsalam Warahmatullah.. akhi.. jazakallah sudah menemaniku dan Ka Isma selama disini, aku pasti buat kamu repot. Afwan..” ucapnya terbata-bata. Matanya seperti masih basah oleh bekas air mata.

“Sudah ukht, Alhamdulillah antum telah sadar, selama 3 hari ini antum tak sadarkan diri kami semua merasa khawatir. Lagian ana kasian melihat kak Isma yang setiap malam harus tidur di rumah sakit sendiri, kalian kan perempuan. Ana khawatir terjadi apa-apa.”

Semua terdiam. Anti mengeluarkan sebutir air matanya. “Oh iya, mungkin lusa ibu dan ayah anti mau ke sini, mereka khawatir dengan keadaanmu”, ucap Isma mencairkan suasana.

“Oh gitu ya Ka, nanti Anti hubungi mereka.”, jawab Anti. Tampaknya dia sudah lebih baik. Syukurlah.

***

Anti kembali tertidur. Tampaknya kali ini dia letih sekali, meskipun hanya bercakap dengan kami. Kami beranjak keluar dari ruang perawatan Anti, dan mengambil istirahat juga di luar.

“Terimakasih, Alif.. Selama ini  sudah menemani kami semua.. Gansahamnida..” ucap Isma seraya menundukkan kepala. Hawwa juga menundukkan kepalanya.

Ye.. Ana kan sudah bilang, ana hanya khawatir saja.. Nggak usah dirisaukan lah..” ucapku.

Tiba-tiba datang seorang dokter kepada kami.

“Kalian teman-teman yang bertanggungjawab atas pasien Anti ya..?” ucap beliau.

“Ya, dokter.. Ada apa..?”

“Setelah kami melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut, ternyata Anti memiliki beberapa titik yang mengalami gangguan organ dalam.. Dia tidak merasakannya.. Tapi saya khawatir suatu saat itu akan mengganggunya.. Untuk itu, agaknya dia perlu tinggal di tempat ini untuk beberapa lama lagi.. Tapi tenanglah, itu tidak akan kenapa-napa..” ucapnya.

***

Hari ini kedua orangtua Anti rencananya akan datang ke Korea. Mereka tampak sangat khawatir terhadap anaknya. Isma menceritakan itu ketika mereka berbicara melalui telepon.

Lagi-lagi aku tengah berada di mushala saat itu. Aku selesaikan shalat Dhuha-ku, untuk kemudian memohon kemudahan dan kebaikan bagi semuanya. Usai shalat Dhuha, aku segera kembali untuk melihat kondisi mereka semua.

Tiba di jendela kamar perawatan Anti, aku dikagetkan dengan sosok yang agaknya aku kenali. Ternyata benar, kedua orangtua Anti sudah tiba. Mereka tengah bercengkrama dengan anaknya. Anti pun sekarang sudah tampak lebih sehat. Ah, agaknya aku tidak perlu khawatir lagi. Barakallahu fik, Ukhti., batinku.
Aku ambil tasku, dan segera beranjak keluar dari Rumah Sakit. Aku naiki motorku dan segera melaju menuju ke rumah. Banyak hal yang harus aku selesaikan.

***

Sudah satu pekan lebih setelah kecelakaan mengagetkan Anti. Aku sudah lama tidak menjenguknya. Aku baru saja menyelesaikan beberapa tugas yang sempat aku tinggalkan. Selama lima hari ini, aku benar-benar fokus mengerjakan semua itu. Alhamdulillah, aku dapat menyelesaikan semuanya itu dengan baik.

Aku mulai berpikir lagi tentang banyak hal. Aku sangat teringat ketika Hawwa pertama kali memberitahuku tentang keadaan Anti. Aku bertanya-tanya, kenapa dadaku jadi terasa sangat sakit. Rasa sakit itu baru pertama kali aku rasakan.

Aku terduduk di depan beranda, seraya memegang buku catatan impianku seraya menikmati langit merah yang menandakan tibanya hari. Satu teguk susu murni hangat cukup membuatku sangat menikmati pagi hari ini. Aku buka lagi lembar demi lembar buku catatan tersebut. Lagi-lagi aku terhenti pada halaman ke dua puluh dua. Menikah.

Apakah sekarang… Ah, tidak.. Aku sudah berkomitmen kepada diriku sendiri.. Aku juga sudah menolak tawaran dari Ustadz Lee.. Aku harus selesaikan dulu tugasku disini.. Aku harus kuat, batinku.
Ah, entahlah. Aku merasa bingung lagi. Aku harus menenangkan hatiku. Aku memutuskan untuk pergi ke Little Mermaid Island, yang berada dekat dengan Nami Island. Aku memang pernah beberapa kali kesana ketika aku tengah bingung. Aku sangat menyukai pemandangan disana. Tempat itu agak sepi, namun dari sana kita bisa melihat indahnya Nami Island dari sudut yang berbeda.

Aku naiki motor Ninja hitam milik Habib, dan segera melesat menuju ke stasiun. Aku parkirkan motorku di stasiun dan berangkat ke Nami Island dengan menggunakan kereta. Lebih cepat, pikirku.
Hanya beberapa menit saja aku sudah tiba di Nami Island. Aku kemudian naik kapal Ferri menuju Little Mermaid. Hanya sepuluh menit saja, aku sudah tiba di Little Mermaid. Setibanya aku disana, aku segera menuju ke kedai langgananku. Aku ingin menikmati pagi ini dengan secangkir susu murni hangat.

Ada beberapa pelanggan disana. Aku tidak terlalu memperdulikannya. Aku ingin segera menikmati susu murni hangatku seraya memandang sungai Han yang indah. Tapi ternyata kecerobohanku membuat salah seorang pelanggan menabrakku dan menumpahkan cangkir berisi teh kopi miliknya ke mantelku.

“Aah… Mian hae...”, reflek pelanggan tersebut meminta maaf kepadaku.

“Cheonmaneyo..” ucapku. Akhwat di hadapanku tersebut langsung tertunduk. “Anti?...”, ucapku. Benar, akhwat itu menoleh kepadaku.

“A...a...a....lif sedang apa di sini?”

“Pulau ini sering aku kunjungi, ketika hatiku merasa gundah, atupun senang aku pasti menyempatkan untuk berkunjung ke tempat ini. kamu sendiri?”

“Aku baru pertama kalinya ke sini, maaf ya atas kopinya tadi. sekarang mantel yang kamu pakai jadi basah.” Ucapnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah mantel yang dulu sempat aku pinjamkan kepadanya. “Oh iya, aku kembalikan mantel ini masih ingat khan? Mantel yang waktu itu kamu pinjamkan ketika aku pingsan di airport. Sekarang kamu lebih membutuhkan, afwan aku gak bawa semuanya.” Lanjutnya.

Aku tersenyum. “Oh iya, syukran Ukh.. Ga apa-apa kok, lain kali aja kalau kita ketemu lagi.. Bagaimana keadaan antum? Apa sudah merasa lebih baik?” ucapku.

“ALHAMDULILLAH, LEBIH BAIK, ALLAHU AKBAR” ucapnya dengan riang dan semangat. Mengingatkan aku akan masa SMA dahulu.

Kami sedikit berbincang. Tapi bisa dibilang lebih banyak diam. Dia tampak malu, sebagaimana aku malu sekarang ini. Beberapa hal yang kami bincangkan, yakni tentang masa-masa SMA dahulu, serta keadaan setelah tiga tahun kami tidak bersua.

“Sepetinya sudah Dzuhur, meskipun adzan tak terdengar dari sini” ucapku seraya melihat angka di jam digitalku. Sudah masuk waktu Dzuhur sekarang.

“Oh iya. Sepertinya lumayan jauh daerah yang terdapat mesjid sekitar sini.”

“Ya... Gak apa-apalah, Anti mau ikut bantuin cari mesjidnya?”

“Hmmm... Boleh deh”

Segera kami menuju ke Masjid yang terletak tak begitu jauh dari daerah Chuncheon-si. Aku menjadi imam, dengan beberapa orang makmum. Termasuk Anti disana. Dan itulah saat perpisahan kami di Korea. Anti akan pulang ke Indonesia esok hari.

SkenarioMu memang selalu indah, Ya Allah. Apapun takdirnya, aku yakin itu yang terbaik bagiku. Bagi semuanya.
**Part 1 – End**

0 comments:

Posting Komentar