Kamis, 21 Juli 2011

Meraih Dasar




Kafe kecil tempat aku biasa beristirahat tengah kosong kala itu. Aku tengah menikmati secangkir susu murni hangat seraya membaca sebuah novel. Ketenangan di pagi hari itu sangat aku sukai. Jadwal kuliahku masih ada satu jam lagi. Aku masih bisa sedikit bersantai di kafe ini. Lokasi kafe ini memang tidak terlampau jauh dari kampus tempatku menimba ilmu.

Krieek.. Pintu kafe terbuka. Mungkin ada pengunjung yang datang, pikirku. Aku tidak menghiraukannya. Aku tetap membaca novelku.


“Kak Rafa?”, seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Juli, adik kelasku di jurusan Filsafat.

“Eh, kamu Jul.. Sering ke kafe ini juga?” tanyaku seraya meraih jabatan tangannya.

“Ah, nggak Kak.. Jarang-jarang..” jawabnya. “Ah, kebetulan bertemu dengan kakak.. Saya ingin bertanya tentang sesuatu kak…” lanjutnya.

“Silahkan, Jul.. Insya Allah kakak jawab jika Kakak mampu..” ucapku.

“Ini… Tentang Tuhan, Kak..” lanjutnya dengan senyum di wajahnya. Ah, ini lagi.. Tapi, memang inilah resikonya.. Baiklah.. Bismillahirrahmanirrahim.., batinku.

“Baik, silahkan Jul…” ucapku.

Juli adalah salah seorang mahasiswa Jurusan Filsafat yang masuk satu angkatan setelah aku masuk ke jurusan ini. Dia adik kelasku, dan dia tampak sangat menonjol di antara teman-teman seangkatannya. Hanya saja, seperti gaya-gaya para filsuf yang sangat mengagungkan logika mereka, Juli terlihat antipati dengan sebuah kata Tuhan.

“Saya tidak mengerti dengan mayoritas orang-orang di Indonesia Kak.. Terutama di mayoritas mahasiswa-mahasiswi di Jurusan kita, Jurusan Filsafat.. Di dunia filsafat ini, tentu mereka sudah terlatih untuk menggunakan logika mereka dalam menghadapi beragam hal.. Hanya saja, kita dapat ketahui saat ini bahwa Tuhan dan Logika adalah sebuah dualitas yang saling bertolak belakang..” ucap Juli. Aku memperhatikan.

“Tuhan adalah sosok abstrak yang hanya berada di dalam pikiran manusia saja, bukankah begitu Kak..?” lanjutnya dengan senyumnya yang khas. Aku menghela nafas.

“Baik Juli.. Mungkin Kakak sendiri termasuk salah satu dari mahasiswa yang kamu maksudkan.. Kakak akan coba berbagi pikiran dengan dek Juli.. Hmm… Begini.. Apakah Juli adalah salah satu orang yang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada?” tanyaku. Dia tampak terdiam dan menatap tajam mataku.

“Hmm… Baiklah Kak.. Saya adalah seorang muslim dalam KTP saya.. Tapi sejujurnya, saya meragukan eksistensi Tuhan.. Meragukan kenapa Tuhan itu harus ada.. Kenapa manusia diciptakan.. Dan atas semua renungan itu, saya yakin bahwa Tuhan adalah tidak ada, atau abstrak.. Dia hanya berada dalam pikiran manusia saja.. Dia diciptakan oleh pikiran manusia..” ucapnya.

Aku tersenyum. Aku kemudian menengguk habis air susu yang tersisa di cangkirku. Kemudian aku mengambil lap dan membersihkan cangkir tersebut sehingga benda itu menjadi kering.

“Juli.. Coba kamu lihat di dalam cangkir ini…”ucapku. “Apakah di dalam cangkir ini ada air..?” tanyaku kepadanya. Dia tampak termenung sejenak. Mencoba berhati-hati dalam menjawab. Namun sejenak kemudian, dia menjawab dengan yakin.

“Tidak ada Kak.. Kakak sudah menghabiskan airnya tadi..” ucap Juli.

“Itu bukan fokusnya.. Baiklah.. Kita sepakat bahwa di dalam cangkir ini tidak ada air.. Betul..?” ucapku. Dia tampak terdiam lagi. Mencoba merenung. Berhati-hati dalam menjawab.

“Ya, Kak..” ucapnya tak lama kemudian. Aku tersenyum.

“Kamu tahu bagaimana rupanya air..?” ucapku. Lagi-lagi Juli tampak terdiam. Dia tampak selalu ingin berhati-hati dalam menjawab.

“Ya, tentu saja saya tahu bagaimana rupa air, Kak..” jawabnya.

“Ya.. Kakak yakin kamu sudah mengetahui bagaimana rupa air, sehingga kamu bisa menyimpulkan bahwa di dalam cangkir ini tidak ada airnya…” ucapku. “Juli, kamu bisa menyimpulkan bahwa Tuhan itu tidak ada.. Lantas, apakah kamu mengetahui rupa Tuhan itu seperti apa..? Tuhan seperti apakah yang kamu bilang tidak ada itu? Seseorang yang mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada, maka orang tersebut mestilah mengetahui bagaimana adanya sesuatu tersebut..” lanjutku dengan senyuman.

Juli tampak terdiam. Mengerutkan dahinya yang meneteskan sebutir air keringat.

“Ah, Kakak hanyalah memainkan kata saja… Begini Kak.. Apakah ruang yang kosong itu bisa dijelaskan bahwa kosong itu seperti apa? Karena Tuhan itu tidak ada, ya tentu saja saya tidak bisa menjelaskan bagaimana rupa dari Tuhan…” jawabnya dengan tenang. Wajahnya menyiratkan senyuman. Aku membalas senyumannya.

“Kamu benar, Jul.. Ruangan yang kosong akan menyulitkan kita bagaimana menjelaskan ruangan tersebut, atau tentang kekosongan tersebut.. Tapi satu hal, Jul.. Perbandingan yang kamu bawakan itu tidak relevan dengan pertanyaan Kakak..” ucapku.

“Kenapa tidak relevan Kak..? Sudah saya jelaskan, bahwa saya akan sulit menjelaskan bagaimana sosok Tuhan karena itu tidak ada.. Sama seperti saya sulit menjelaskan ruangan kosong, karena itu juga tidak ada apa-apa disana..”

“Kali ini kamu salah, Jul.. Perhatikan kata-katamu.. Karena secara tidak sadar, kamu sudah menjelaskan bahwa ‘RUANGAN YANG KOSONG YANG TIDAK ADA APA-APA DISANA’ itu BENAR ADANYA.. Artinya, ruangan yang kosong itu ADA.. Dan kamu menyadari bahwa hal tersebut ADA.. Dan tentu saja tidak sesuai ketika kamu mau menjelaskan tentang Tuhan yang menurutmu, TIDAK ADA..”jawabku. Aku kemudian melanjutkan membaca novelku.

“Menurut Kakak, Tuhan itu Esa.. Artinya Tuhan itu satu.. Tentu Kakak yang seharusnya bisa menjelaskan bagaimana rupa dari Tuhan.. Bagi saya, Tuhan itu tidak ada.. Artinya Tuhan itu nol… Apa yang harus saya jelaskan, jika menurut saya Tuhan itu tidak ada, alias kosong, alias nol, alias hampa..?” sengitnya.

“Juli… Kakak bilang sekali lagi.. Perhatikan kata-katamu… Sebenarnya, baru saja Juli menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa kosong atau nol itu ‘hampa’ dan ‘tidak ada apa-apa’.. Artinya, keberadaan kosong dan nol itu BENAR ADANYA…” ucapku seraya menekankan suaraku di kata terakhir tersebut. Juli tampak tersentak. Dia terdiam sejenak.

“Dan sebelumnya pun, Juli sudah menjelaskan bahwa kosong atau nol atau hampa atau tidak ada apa-apa itu sulit dijelaskan bagaimana keberadaannya.. Meskipun kita mengetahui, bahwa hal itu BENAR ADANYA.. Betul?” ucapku.

“Emmh…………… Iya..” jawabnya singkat.

“Kalau Juli mengakui bahwa kosong atau nol atau hampa atau tidak ada apa-apa itu BENAR ADANYA, meskipun sulit dijelaskan bagaimana rupa dari kosong atau nol atau hampa atau tidak ada apa-apa itu, mengapa Juli tidak mengakui bahwa Tuhan itu BENAR ADANYA.. Yang juga, Tuhan itu sulit untuk Juli dijelaskan secara empiris bagaimana rupanya……” ucapku dengan tenang. Aku mengambil dua cangkir air mineral yang tersedia di pojok kafe secara gratis. Aku memberikan salah satu cangkir tersebut kepada Juli.
Juli tampak terdiam.

“Baiklah……… Mungkin…… Tuhan itu ada.. Tapi mungkin juga Tuhan itu tidak ada…” jawabnya.

“Kenapa ada kata mungkin sekarang..? Apakah Juli mulai ragu sekarang..?” tanyaku tanpa menatapnya. Aku tetap membaca novelku.

“Ah… Ya… Aku tidak tahuu, karena aku tidak pernah melihatnya..”

“Itu dia, Juli..!” ucapku dengan nada yang menekan seraya menatap tajam matanya. “Kamu menyimpulkan hal-hal yang kamu simpulkan tadi, karena kamu tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak....” lanjutku.

“Tapi Jul.. Cobalah bijaksana… Apakah kita lantas akan mengatakan bahwa air itu tidak ada, hanya karena kita tidak mengetahui bagaimana eksistensinya? Apakah logis, kita mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada, hanya karena kita tidak mengetahui bagaimana keberadaan dari sesuatu tersebut?” sambungku. “Alih-alih mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada, seseorang yang memiliki rasionalitas tentu akan mencari tahu keberadaan sesuatu tersebut.. Bukan mencari-cari alasan untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak ada.. Mereka akan mencari tahu secara adil dan subjektif, apakah sesuatu itu ADA atau TIDAK ADA…” ucapku seraya berdiri. Juli menatapku.

“Kalau kamu ingin mengetahui bahwa Tuhan itu ADA atau TIDAK ADA, kamu harus mengkaji ilmu yang mengatakan bahwa TUHAN ITU ADA secara futuh atau KESELURUHAN... Barulah kamu berhak mengatakan bahwa Tuhan itu ADA, atau TIDAK ADA..” ucapku.

“Kalau kamu tertarik, temui Kakak di Masjid Pusat Kampus hari Sabtu nanti sekitar pukul sembilan pagi.. Sekarang Kakak ada jadwal kuliah… Sampai jumpa nanti ya… Assalamu’alaykum..” seruku seraya beranjak meninggalkan Juli di dalam Kafe. Alhamdulillah ya Allah. Semoga dia tertarik. Dan semoga Engkau memberikan hidayahMu kepadanya.. Aamiin..

- - - - - - - - - - - -

“Ketidaktahuan kita akan sesuatu tidak menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak ada.”

Muhfat Ali, terinspirasi dari dialog seorang saudara dengan atheis.

2 comments:

ayo menulis^^ mengatakan...

mmm.. aku bacanya bulakbalik.. hehe..

Muhfat Ali mengatakan...

Hehehe...
cukup membuat pusing ya..? :P

Posting Komentar