Jumat, 22 Juli 2011

Tentang Cinta



Universitas Al-Fath adalah Universitas yang menarik. Pegiat dakwahnya tidak tertekan seperti umumnya di Pesantren-pesantren di pedesaan. Tapi tidak ekstrim bebas liberal seperti di Universitas-universitas yang katanya islami di kota-kota. Tampaknya ini memang dikhususkan untuk para calon pemimpin yang memang masih agak awam tentang islam. Universitas ini disediakan bagi mereka yang memang masih awal dan bisa dibilang rata-rata masih sangat awam mengenai islam dan dakwah.

Setidaknya itulah kesimpulan sederhana yang dapat diambil oleh Kautsar setelah selama beberapa bulan ini menjadi Mahasiswa Universitas Al-Fath. Dia mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru di sekitarnya. Banyak teman-teman seangkatan menjadikannya sebagai tempat bertanya. Kautsar memang senang kalau ada yang bertanya atau ada yang mengingatkannya.


Di Universitas Al-Fath, Kautsar mulai mengikuti beberapa kegiatan tambahan. Dia bergabung bersama LDK Al-Fath dan Jurnalistik Al-Qalam. Menulis dan berbicara adalah metode utamanya dalam berdakwah. Tentunya diiringi dengan amalan ibadah yang semakin banyak ia amalkan. Dia sedikit banyak terlibat dengan beberapa LDK yang berada di daerah Kota Depok untuk mensosialisasikan Islam ke segala kalangan.

Dia juga terus melanjutkan khalaqah bersama Akh Ilyas, murabbinya semenjak kelas 11 SMA dulu. Ustadz Ali juga beberapa kali main ke rumah kosnya, setelah bersilaturahim ke rumah Akh Ilyas yang memang berdekatan dengan rumahnya. Dia tinggal di rumah kos bersama Akbar, orang Padang yang merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dia baru 2 pekan bergabung di kosan tersebut. Satu lagi adalah Raka, Wong Jowo yang merupakan mahasiswa Teknik Universitas Indonesia. Mereka semua satu angkatan. Mereka dibina langsung oleh Akh Ilyas, yang merupakan mantan Ketua SALAM UI, dalam liqa mereka.

- - -

Kebetulan kali ini Akbar tengah mengalami konflik batin tentang cintanya. (Prikitiww..! Hehe..). Kabarnya dia tengah tertarik pada seorang akhwat liqaan dari Fakultas Kedokteran UI. (Wuiih.. Berat niih.. Wkwkwk)

“Akh, antum nih.. Ada-ada aja..! Mau nebengin Akhwat Liqaan, dari Fakultas Kedokteran pula, anak UI lagi! Haha.. Semua orang juga tau kalau anak Kedokteran itu bisa diibaratkan ‘hidup untuk akademik’.. Ya artinya mereka sangat fokus terhadap studi yang mereka lakukan di Fakultas itu..! Apalagi FK-nya UI.. Apalagi anak liqaan..! Ada-ada aja nih, Akh..!” ungkap Kautsar seraya memukul bahu Akbar.

“Ah, diamlah kau.. Tak senang sekali kau melihat temanmu ini tengah jatuh hati..! Kau itu seperti menghancurkan harapanku saja..” jawab Akbar setengah cemberut.

“Hahaha.. Kamu itu lucu sekali, Akh.. Kau sudah tau khan hukumnya orang berpacaran..?” balas Raka agak serius.

“Setauku, pacaran itu tidak ada hukumnya dalam Islam..” jawabnya tak mau kalah.

“Nah justru itu..! Kamu tau, dalam islam tidak ada pacaran.. Wong melakukan yang tidak ada hukumnya dalam islam itu khan bid’ah..! Ya tho..?” sengit Raka dengan logat Jawanya yang keluar lagi.

“Berarti kau yang memakai handphone juga bid’ah lah..!” sengit Akbar.

“Yah.. Itu sih gak nyambung Akh..! Hahaha..” ungkap Kautsar menetralkan suasana. “Coba antum denger deh.. Ana punya cerita..” sambungnya.

“Wah, boleh-boleh.. Awak suka itu kisah-kisah inspiratif…” jawab Akbar.

“Bukan kisah sih, cuma perbandingan saja..” ucap Kautsar. “Misalkan nih, ada 2 peternak ayam.. Yang satu muslim yang sangat taat, yang satu lagi agamanya islam tapi tidak terlalu taat.. Kedua peternak ayam itu memiliki masing-masing satu ayam yang akan mereka sumbangkan untuk acara di RT mereka yang kebetulan tinggal dalam lingkungan satu RT..” lanjutnya. Raka dan Akbar mendengarkan dengan seksama. Kautsar tersenyum melihatnya. Kedua anak ini memang sangat antusias kalau sudah membahas ilmu.

“Hanya saja, si ketua panitia itu hanya memiliki koki untuk memasaknya saja.. Dan si koki itu hanya menerima ayam yang tinggal masak.. Jadilah kedua peternak ayam ini menyembelih ayam mereka, membersihkan bulu-bulunya, hingga kedua ayam ini siap untuk dimasak..” lanjut Kautsar.

“Ketika mereka menyembelihnya, kebetulan kalian berada di sana.. Pada saat melihat peternak ayam pertama yang taat itu, kalian melihatnya membaca doa dan basmallah.. Sedangkan pada peternak kedua, dia tidak membaca basmallah dan doa ketika menyembelih ayam itu..”

“Sekarang pertanyaannya, kalau kalian datang pada acara RT itu, ayam mana yang akan kalian pilih untuk kalian makan..?”

“Ya tentu sajalah orang yang menyembelihnya secara islami..! Yang membaca doa dan basmallah itu..!” jawab Akbar dengan cepat. Raka mengangguk-angguk.

“Kenapa kalian memilih yang itu..? Padahal khan keduanya sama-sama ayam yang nikmat untuk dimakan..?”, Kautsar bertanya lagi.

“Ya tentu dong Sar.. Kalau kita mengetahui, kemudian yang kita pilih adalah yang tanpa menyebut asma Allah dulu, itu jadi haram tho..? Lha wong kita sudah mengetahuinya.. Jadi kita pilih yang halal.. Itu sudah jelas khan Sar..?”, kali ini Raka yang menjawab.

“Nah itu dia..!” jawab Kautsar. “Kalian tau, dua ayam itu sama-sama dipelihara.. Dua ayam itu sama-sama disembelih, sama-sama dimasak menjadi masakan yang enak, dan sama-sama siap dimakan.. Tapi yang satu bisa menjadi halal, dan yang lainnya menjadi haram bagi kita.. Karena apa..? Sepele..! Hanya karena pembacaan asma Allah saat penyembelihannya..! Hanya karena yang satu sudah resmi diridhai Allah, yang satu lagi samasekali tidak memohon ridha kepada Allah dalam menyembelihnya.. Betul khan..?”, lanjutnya.

“Iya.. Itu sih betul.. Tapi apa pula yang kau maksudkan dengan menceritakan kisah ini, bung..? Aku tak paham.. Tadi kita membicarakan tentang cinta, kali ini jadi ayam.. Apa pula itu maksudnya..?” jawab Akbar.

“Hahaha.. Sabar-sabar, Akh.. Jadi maksud Ana begini.. Apa yang kita temukan dalam kasus ayam tadi, sebetulnya kita temukan juga dalam yang namanya pacaran..”, jawab Kautsar.

“Maksudmu..?”, tanya  Akbar penasaran.

“Ya.. Kita ibaratkan ayam itu adalah cinta kita.. Sedangkan sang peternak ayam satu adalah pacaran dan yang lainnya adalah pernikahan.. Cinta kita itu sama-sama kita pelihara.. Sama-sama kita rasakan.. Sama-sama kita ungkapkan.. Sama-sama kita ekspresikan..”, ungkap Kautsar. Akbar dan Raka memperhatikan dengan serius. Lagi-lagi Kautsar tersenyum melihatnya.

“Tapi hati-hati, bung..! Salah satu cinta, bisa menjadi haram layaknya haram daging ayam bagi tubuh kita yang diolah tanpa memohon ridha dari Allah dalam mengolahnya..!” ungkap Kautsar dengan mimik yang serius. “Ya.. Pacaran.. Adalah mengolah cinta, tanpa memohon ridha Allah secara resmi..! Secara tersusun dengan tata cara yang benar..! Mengolah cinta tanpa pernikahan..!! Itu sama saja dengan mengolah ayam tanpa menyebut asma Rabb kita, Allah swt..!! Masuk akal khan..??” lanjutnya setengah berteriak. Kedua temannya itu diam dan merasakan bulu kuduknya berdiri, merinding.

“Coba kita bandingkan dengan si peternak satunya.. Cinta yang satunya.. Yaitu mereka yang mengolah cinta dengan ridha Allah.. Sudah olahannya tepat, rasanya nikmat dan lezat, jadi ibadah pula..! Dahsyat khan..!!” lanjut Kautsar.

“Subhanallah.. Tuh, dengerin Akh Akbar..!!” jawab Raka reflek.

“Yeey.. Antum juga harus dengar lah..!! ini Nasihat bagi kita semua, ya kan Sar..?” bela Akbar.

“Haha.. Tentu saja.. Watawashshaubil haq..” jawab Kautsar.

“Tapi Sar, bagaimana kalau menurut kau.. Awak  sudah terlanjur suka sama si akhwat ini.. Rasanya gimanaaa gitu kalau melihat wajahnya…” tanya Akbar.

“Aduh, aduh.. Sekarang ana punya sejarah nih.. Tentang Ali bin Abi Thalib RA..” jawab Kautsar.

“Kisah apa lagi, Sar..?” tanya Raka.

“Jadi ketika masih muda, Ali bin Abi Thalib menyukai seorang gadis.. Dia tidak lain adalah Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW.. Dia sebenarnya telah berniat meminang gadis mulia tersebut.. Namun dia menundanya karena dia belum memiliki mas kawin yang dia nilai pantas untuk gadis mulia tersebut.. Hingga pada suatu hari, datanglah Abu Bakar Ash-Shidiq melamar Fatimah Az-Zahra.. Ali berfikir, bahwa itu akan diterima.. Dia sangat mengetahui Abu Bakar, sosok sahabat yang akhlaknya paling mirip dengan Rasul.. Rasul pasti tidak akan menolaknya..”

“Tapi ternyata tebakannya salah.. Rasulullah menolak lamaran dari Abu Bakar Ash-Shidiq terhadap anak putrinya tercinta itu.. Kemudian datanglah Umar Al-Faruq bin Khattab melamar kepada Rasulullah untuk Fatimah RA.. Ali keduluan lagi, tuh.. Dia langsung berputus asa.. Dia sangat mengetahui, Umar bin Khatab.. Rasul pernah bersabda, jika ada Nabi setelahnya, maka dia adalah Umar bin Khatab.. ‘Kebenaran ada di tangan dan lisan Umar.. Begitu kata beliau.. Pasti beliau tidak akan menolak lamaran yang satu ini..’ begitulah kira-kira yang Ali pikirkan.. Ternyata tebakan Ali yang sekarang juga salah.. Rasulullah juga menolak lamaran dari Umar Al-Faruq..”

“Sebenarnya setelah Umar ditolak, Ali hampir ingin maju untuk melamar Fatimah Az-Zahra yang dia suka.. Namun dia masih ragu karena belum memiliki mas kawin yang cocok.. Mahar yang pantas bagi Akhwat paling mulia di kala itu.. Hingga kemudian datang Utsman bin Affan, sahabat terkaya di kala itu.. Ali sangat mengetahui keutamaan Utsman bin Affan.. Perang Badar saja, semuanya ‘diongkosi’ oleh sosok Utsman bin Affan.. Dia tidak pernah ragu untuk menginfakkan semua hartanya yang banyak untuk islam.. Sangat mulia.. Namun ternyata, Rasul juga menolak Utsman bin Affan..”

“Hingga akhirnya, Ali memberanikan diri untuk maju melamar Fatimah Az-Zahra setelah mendapat desakan dari beberapa sahabat.. Subhanallah, Rasul langsung menerima dan singkat kata, beliau langsung menikahkan keduanya.. Mahar yang diberikan adalah sebuah baju perang..”

“Singkat cerita, pada malam pertama mereka, mereka saling bercerita tentang banyak hal.. Hingga kemudian, Fatimah Az-Zahra berkata seperti ini, ‘Wahai kekasihku, maafkan aku.. Sebenarnya aku menyukai seorang pemuda ketika aku masih gadis dahulu..’.. Dengan tenang, Ali menjawab ‘Benarkah..? Subhanallah.. Siapa pemuda beruntung itu, kekasihku..?’. Fatiimah menjawab, ‘engkau, wahai putra paman ayahku..!’..”

Subhanallah, khan..? Dua orang yang saling mencintai, saling menyukai, tapi mereka berdua dapat saling menahan diri mereka masing-masing.. Hingga akhirnya Allah menakdirkan yang terindah bagi mereka berdua.. Mereka berdua mengungkapkan cinta suci mereka ketika mereka telah menjadi halal.. Apakah kalian tidak menginginkan seperti itu, Akh..??” jelas Kautsar. Akbar mengangguk-angguk. Raka malah ngelamun.

“Hei..! Malah ngelamun lagi ni anak.. Ngelamunin apa hayo..??” ungkap Kautsar kepada Raka.

“Eits.. Astagfirullah.. Hehe..”, reflek Raka. “Nggak, Sar.. Aku hanya membayangkan..  Mbo’  gimana ya kalau nanti aku menikah.. Jadi ndak sabar.. Hihihihii..” jawabnya.

“Ah, dasar.. Kalau nggak sabar menahan cinta, segera menikah..! Jika belum sanggup, Rasul bilang, berpuasalah..!” jelas Kautsar.

“Idiih.. Serem banget kau Sar.. Baru umur segini sudah kau suruh menikah… Brrr..” jawab Akbar.

“Haha.. Bukannya indah ya? Lagian siapa suruh gak bisa menahan cinta..?” balas Kautsar.

“Iya.. iya… Kalah deh awak kalau diskusi sama bapak Ustadz ini… Huuh..” jawab Akbar.

“Hahaha.. Antum itu lucu banget.. Ingat Akh, masing-masing dari kita telah diberikan pilihan 2 jalan.. Yang satu jalan menuju neraka, yang lurus, menurun, mulus, tidak ada rintangan, pendek lagi..! Nah, yang satu lagi jalan menuju syurga.. Jalannya panjang, berkelok, penuh rintangan, penuh onak duri, menanjak lagi.. Kita tinggal memilih, ingin nyaman di jalan atau nyaman di tujuannya.. Betul khan..?” jawab Kautsar.

- - -

Muhfat Ali

0 comments:

Posting Komentar