Rabu, 20 Juli 2011

Teruntuk Adik-adikku, Aktivis Dakwah Sekolah



Udara tengah sejuk-sejuknya. Hembusan angin yang menyentuh kulitku dan menari-nari melewati rambutku sangat menyejukkan. Cuaca tidak terlalu panas seperti biasanya. Tidak juga turun hujan seperti beberapa pekan yang lalu. Sempurna.

Aku tengah terduduk di beranda masjid SMA-ku dulu bersama kakakku. Menunggu waktu maghrib tiba seraya membicarakan banyak hal. Dia adalah mahasiswa di salah satu Universitas negeri ternama di wilayah Surabaya. Banyak hal yang ingin aku ketahui darinya, menjelang semester pertamaku di Universitas Indonesia tahun ini.


Di tengah obrolan kami yang mengandung banyak ilmu dan pengalaman, tiba-tiba datang adik-adik kelas kami menghampiri. Agaknya mereka baru saja menyelesaikan rapat pertama mereka. Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) untuk siswa baru di SMA tempat aku menimba ilmu selama tiga tahun ke belakang.

“Assalamu’alaykum, kak..” ucap salah seorang dari mereka. Randi namanya.

“Wa’alaykumussalam.. Eh, antum Ran.. Gimana hari pertamanya? Lancar?” jawabku menyambut uluran tangannya dengan salam. Teman-temannya, Ardi, Faris, dan Burhan bergantian menyalamiku. Mereka adalah adik-adik khalaqahku ketika berada di SMA ini tahun lalu.

“Iya nih.. Tapi kok kelihatannya lagi pada lesu mas?” ucap kakakku yang juga menyambut uluran tangan mereka. Aku dan kakakku sama-sama bersekolah di SMA ini. Dia mengenal beberapa adik kelas kami.

“Ah, lagi bingung nih Kak..” jawab Faris. “Kira-kira menurut kakak untuk menghadapi adik-adik yang samasekali tidak menghargai panitia gimana kak?” lanjutnya.

“Maksudnya gimana, akh…?” jawabku. Aku sengaja menggunakan kata ‘akhi’ yang berarti ‘saudaraku’ agar suasana menjadi lebih akrab.

“Tadi itu ada peserta yang bertanya di forum.. Dia bertanya untuk apa sebenarnya diadakan MOPD ini.. Kenapa begini.. Kenapa begitu.. Tapi pertanyaannya itu terkesan menyudutkan panitia, Kak.. Padahal kan panitia juga punya pertimbangan tersendiri untuk tugas-tugas itu.. Dan sebenarnya, itu tidak terlalu rumit jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang lain Kak..” jelas Burhan. Aku tersenyum. Begitupun dengan kakakku. Kejadian seperti ini memang akan selalu ada. Ini adalah sarana pembelajaran juga untukmu, sebenarnya., batinku.

“Jadi begini akhi Burhan.. Dan yang lainnya, ya..” ucapku. “Yang pertama kali harus dipastikan adalah panitianya sendiri.. Kalau misalkan panitianya memang memiliki alasan-alasan yang jelas tentang mengapa semua itu dilaksanakan, tentu panitia samasekali tidak akan kesulitan menjawabnya.. Dengar ya, ketika kita memiliki energi dan semangat yang total untuk melakukan sesuatu, maka kita akan berusaha untuk melakukan itu dengan sebaik-baiknya.. Dan ketika kita diperintahkan untuk membuat acara dengan mempertimbangkan manfaat maupun mudharatnya, kita akan sungguh-sungguh memikirkan kedua hal itu sebelum membuat sesuatu..” jelasku. Randi tampak terdiam.

“Intinya, panitia juga harusnya sudah memiliki alasan yang jelas mengapa MOPD ini harus dilaksanakan.. Dan mengapa acaranya seperti itu.. Tentu bukanlah masalah ketika menghadapi pertanyaan seperti itu..” lanjutku.

“Dan kalian juga sebenarnya tidak usah terlalu khawatir dengan siswa baru itu.. Justru dia adalah aset kalian.. Kader yang hebat untuk generasi selanjut kalian.. Orang-orang yang seperti itu justru yang harus diajak dan dibina agar menjadi Aktivis Dakwah Sekolah seperti kalian ini..” sambung Kakakku.

“Ah, tapi kak.. Gaya bicaranya itu sangat menantang kak.. Seperti samasekali tidak menghargai kakak kelasnya..” ucap Faris.

“Nih ya.. Kakak kasih tau.. Ketika kalian ingin menjadi dekat dengan seseorang, maka mulailah kalian fokus terhadap titik-titik persamaan kalian.. Jangan terlalu mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada.. Perbedaan adalah suatu kepastian.. Namun perubahan juga mutlak.. Nah, ketika kalian bisa dekat dengan orang-orang seperti itu, tentu itu jadi peluang kalian untuk merubah orang itu menjadi lebih baik lagi..”

“Fokus terhadap persamaan….”

“Ya, betul.. Fokus terhadap persamaan.. Ketika dia senang berbicara manfaat akan sesuatu, maka berdiskusilah tentang titik-titik dimana kalian memiliki pendapat yang sama.. Kalau kita menanggapi seseorang dengan pembantahan, responnya akan sangat berbeda dengan ketika kita menanggapinya dengan pembenaran.. Ini hanyalah trik-trik bagaimana kita bisa menguasai pikiran seseorang..” lanjutnya. Kami semua, termasuk aku, hanya mengangguk-angguk.

“Ya, intinya akh.. Dalam melakukan segala hal, antum harus mengetahui kuncinya…” ucapku. “Yakni dengan senantiasa melakukan ‘kontak’ dengan Allah dan mempertimbangkan keridhoanNya dalam setiap tindakan kita..” lanjutku.

“Melakukan ‘kontak’ dengan Allah ya.. Hmmm…” ucap Randi seraya termenung.

“Baiklah kak.. Akan kami coba..!” sambung Burhan. “Kami berangkat dulu ya, Kak..!” lanjutnya.

“Lho, kalian nggak shalat dulu? Sebentar lagi Maghrib lho..” sahut Kakakku.

“Euh.. Tanggung Kak.. Di rumah saja…” sambung yang lain. Aku tersenyum. Burhan kemudian menyalakan motornya. Tapi ternyata tidak bisa. Dia coba lagi, tetap saja tidak menyala.

“Hei… Ingat… Untuk melakukan segala hal, kalian harus ingat kuncinya…” ucapku seraya mendekati Burhan. “Kunci itu sangat penting!” lanjutku, yang kemudian memutar kunci motor Burhan yang ternyata belum menyala. Burhan tersenyum. Lalu dia mencoba menyalakannya lagi. Berhasil.

Allahu akbar, Allahu akbar! Allaahu akbar, Allahu akbar!

Terdengar kumandang adzan yang merdu dari mu’adzin di Masjid kami tercinta. Suaranya yang merdu mengingatkan kami untuk segera mendirikan shalat.

“Tuh, ayo shalat dulu..! Itu kuncinya... Hehehe…” seru Kakakku. Kami semua tersenyum, kemudian mempersiapkan diri mengambil air wudhu. Kami mendirikan shalat berjama’ah di Maghrib bermega tersebut. Kalian akan menjadi orang-orang yang hebat! Tetaplah istiqamah pada islam kalian, adik-adikku!
Tasikmalaya, sebuah malam sunyi bertemankan inspirasi sore ini. Islam will dominate the world!

Muhfat Ali

0 comments:

Posting Komentar