Minggu, 17 Juli 2011

Teruntuk Akhi Tersayang



Aku terduduk ketika mendapatkan kabar itu. Hembusan nafasku keluar cukup panjang. Aku mencoba untuk tidak percaya akan berita mengagetkan itu. Tapi ketika aku mengingat mozaik yang telah terlewat semenjak beberapa bulan yang lalu hingga hari ini, hal itu tentu sudah tidak mengagetkan lagi. Kali ini… Lagi… Satu lagi…. Huh, kejadian juga.., batinku. Entahlah, aku sangat bingung dengan tindakan apa yang harus aku lakukan.

Aku bingung. Diri ini memang tidak sebersih air telaga. Hati ini memang tidak seputih susu. Akhlak ini memang belum semanis madu. Tapi apakah aku memang tidak bisa memberi pengaruh yang baik bagi semuanya? Berkontribusi agar saudara-saudaraku tidak terperosok jauh lebih dalam lagi.
Sekilas terbayang wajahnya. Amarah tiba-tiba masuk ke dalam diriku. Komitmen yang tak pernah terlisankan itu patah di tengah jalan. Ada apa denganmu, Akhi? Semua sikapmu itu membuatku dipenuhi dengan sesak yang mengundang beragam prasangka tentangmu. Bagaimana keadaanmu sekarang, Akhi?


Pacaran. Ah, kata itu memang selalu menimbulkan kontroversi. Dunia remaja memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari tindakan yang merupakan luapan ekspresinya si Virus Merah Jambu. Tapi kenapa harus kamu, Akhi? Seorang yang sangat menjadi panutan. Seorang yang, sejujurnya, sangat aku kagumi. Seseorang yang telah menjadi sosok di kalangan teman-teman kita. Tidak, bahkan di sekolah kita.
Terdiam lagi aku dalam dudukku. Ingin rasanya segera aku menghindarkan dia dari lubang itu. Tak perduli bagaimana caranya. Aku tidak perduli apakah harus dengan mendorongnya ke pinggiran, meskipun itu membuat dia terluka. Asalkan dia tidak terjatuh lebih dalam di lubang itu. Apapun caranya, kamu harus terhindar dari itu, Akhi!

Segera aku berpikir tentang beragam cara untuk memisahkan orang itu darimu. Entahlah, amarah sudah begitu menguasai diriku. Bahkan  mulai banyak pikiran licik di benakku. Aku tidak perduli.
Aku mulai ikhtiarku dengan memberikan beragam komentar di setiap ada kesempatan kalian berdua. Aku usahakan untuk senantiasa berada bersama kalian seraya mengejek kalian. Aku berharap, kalian berdua menjadi malu dengan adanya diriku. Aku tidak perduli dengan sikap kalian yang mulai menjauhiku. Niatku baik kok, batinku kala itu.

Waktu terus bergulir, semua usahaku yang telah aku lakukan memang tidak sepenuhnya efektif. Kalian masih tetap pada keinginan kalian.  Tapi saat ini, banyak yang mendukungku. Terutama guru-guru. Sesekali mereka turut ‘mengganggu’ kalian ketika kalian tengah bersama. Ah, aku tidak perlu terlalu banyak mengejek mereka lagi, ucapku dalam hati.

Namun kalian semakin menjauh. Aku pun sering bersikap menjauhi kalian, sebagai bentuk kekecewaanku terhadap kalian berdua. Tapi, dalam hatiku, aku semakin merasa kesepian. Kalian tetap memilih untuk memenuhi keinginan kalian tersebut. Dan aku tetap memilih pada sikapku terhadap kalian. Itu membuat suatu jurang yang cukup lebar.

***

“Hai.. Apa yang sudah kamu lakukan?”

“Siapa itu?”

“Ini aku, lihatlah ke dalam sini..”

“Hati?”

“Ya.. Hatimu.. Aku berada di dalam hatimu.. Pernahkah kau sebenarnya mengunjungiku?”

“Siapa kau?”

“…”

“Kenapa kau diam?”

“Hei! Istigfarlah, kau! Istigfar!”

“Astagfirullahal’adzhim.. Tapi, untuk apa?”

“Tak sadarkah kau? Cara yang kau lakukan sudah sangat keliru! Apakah dengan itu semua, kamu pikir semua bisa berubah menjadi sesuai dengan keinginanmu? Tentu tidak! Kau bukan Tuhan! Lantas apa yang kau harapkan dengan menyakiti hati orang lain? Kebaikan? Aku tahu kau memiliki tujuan yang baik. Aku tahu kau memiliki keinginan yang mulia. Tapi tidak begini caranya!

Istigfar!

Tak sadarkah kau? Dulu, sahabatmu itu dengan tenang mencoba mengembalikanmu ketika kamu terjatuh di lubang yang sama tempat ia terjatuh saat ini. Apakah dia mengejekmu? Apakah cara yang dia lakukan menyakiti hatimu? Memang benar, kamu tidak berpacaran saat ini. Tapi, ingatkah kau pernah melakukannya dahulu? Dan ingatkah apa posisimu saat itu? Kau juga adalah figur! Seluruh teman menganggapmu sebagai teman yang shaleh. Tak sadarkah kau?

Istigfarlah, kawan!

Memang kau benar. Sikap itu tidak sepatutnya dilakukan oleh mereka. Ya, mereka yang merupakan figur di lingkungan kita. Mereka yang jarang sekali absen dalam khalaqah. Mereka yang diperhatikan oleh semua. Mereka, para aktivis. Tapi sadarlah, kawan. Sudahkah kamu perbaiki dirimu sendiri? Aku belum yakin bahwa diri ini sudah bebas dari si Merah Jambu. Perbaiki itu dulu! Perbaiki hatimu dulu! Jaga ia, hanya untuk Allah! Bukan untuk siapapun selainNya..!”

Aku terduduk. Terdiam begitu lama.

“Ini bukan berarti kau harus berhenti berdakwah, kawan. Ini samasekali bukan berarti kau harus menyerah. Tujuanmu baik! Tapi ingatkah kau, konsep berdakwah? Ingatkah kau dasar dalam berdakwah? Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. [Q.S. An-Nahl 125]

Kamu boleh saja berusaha, tapi jangan memaksakan kehendakmu. Jikapun kamu sudah mengatakan atau memberikan saran kepada mereka, maka yang selanjutnya adalah urusan mereka. Kamu boleh mencintai mereka. Kamu boleh berkeinginan agar mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Tapi ingatkah kamu akan kisah Paman Nabi, Abi Thalib? Bahkan seorang Muhammad SAW yang namanya harum di langit dan di bumi pun tidak bisa mengubah hati pamannya sendiri! Lantas apa yang kau pikirkan! Ikhtiar sajalah! Hasilnya biarlah kita serahkan kepada Allah!”

Aku semakin tertunduk. Tak terasa jidatku turun menyentuh meja. Air mataku bermuara. Astagfirullah, ya Allah.. Kuatkanlah hamba…

***

Dan kini, Akhi..

Kita terpisahkan begitu jauh..

Menyesal, mungkin..
 
Aku mungkin membenci perilakumu yang itu..

Tapi itu tidak berarti aku membencimu..

Satu kata maaf dariku, mungkin seribu pun tak cukup..

Ah, maafkan aku yang terkadang masih kekanak-kanakan..

Maafmu akan menjadi penguatku dalam menuju kedewasaanku..

Bagaimana kabarmu kini, Akhi?

Semoga cintaNya, selalu memenuhi ruang di dalam hatimu..

Ruang di dalam hati kita..

Aamiin..

***

Teruntuk, saudara-saudara khalaqah-ku (dan juga diriku pribadi). Berhati-hatilah terhadap fitnah wanita. Semoga kita (aku, dan kalian) senantiasa bisa istiqamah untuk menjaga hati kita hanya kerana Allah. Dan semoga ikhtiar kita dalam menjaga cinta kita ini akan berbuah manis, seorang bidadari syurgaNya yang hanya akan indah pada waktu yang tepat.

Bumi Allah, 17 Juli 2011
Di sebuah ruang yang sepi, bertemankan rasa rindu kepada kalian.

Dalam dekapan ukhuwah, Aku mencintai kalian karena Allah

^^

1 comments:

Anonim mengatakan...

apa antivirus terbaik untuk virus si merah jambu itu akh?!

Posting Komentar