Jumat, 30 September 2011

Filsafat dan Agama : Bukan Dualitas yang Bertentangan


Berbicara tentang filsafat, tentu tidak akan jauh dari sejarah bangsa Yunani. Semenjak beberapa abad silam, Yunani memang terkenal sebagai sebuah negeri yang menjadi tempat lahirnya beragam ilmu pengetahuan. Pengetahuan-pengetahuan tersebut terlahir dengan adanya para filsuf atau pemikir yang berpikir di luar kebiasaan.



Agama telah lahir sebelum filsafat berkembang di Yunani. Sebelum era para filsuf, dunia pemikiran Yunani didominasi dengan pemikiran-pemikiran yang penuh dengan mitologi. Pemikiran mengenai alam semesta membawa mereka pada pemikiran-pemikiran tentang dewa-dewa. Seiring dengan berkembangnya filsafat, hadir dua jenis respon terhadap pemikiran-pemikiran mitologi tersebut. Pertama, filsafat hadir dan saling melengkapi dengan agama. Kedua, filsafat hadir sebagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan agama. Sehingga keduanya menjadi dualitas yang tak jarang berseteru.

Di abad ke 19 dan 20, isu tentang atheisme atau pengingkaran terhadap Tuhan dan agama berkembang seiring dengan berkembangnya pemikiran-pemikiran para filsuf tentang eksistensi Tuhan dan agama bagi kehidupan manusia. Para filsuf seperti Nietzsche, Feuerbach, Marx, dan lainnya mengikuti jalur atheis dan mengingkari keberadaan Tuhan.

Menurut Nietzsche, Tuhan telah mati di tangan ilmu pengetahuan. Altar ilmu pengetahuan telah menghabiskan fungsi-fungsi Tuhan. Nietzsche berpendapat bahwa manusia mengakui Tuhan karena tingkat ilmu dan teknologi yang rendah. Ketika manusia telah mencapai ilmu dan teknologi yang tinggi, maka Tuhan tidak diperlukan lagi.

Pasalnya ketika ilmu dan teknologi masih rendah, dalam masyarakat primitif muncul berbagai dewa sebagai representasi dari Tuhan. Maka ketika manusia sudah bisa menguasai ilmu dan teknologi, peran dari dewa-dewa tersebut dengan sendirinya menghilang. Karena itulah, Nietzsche beranggapan bahwa seandainya Tuhan memang ada, maka dia sudah dibunuh dengan belati ilmu pengetahuan.

Pandangan ini sempat berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran di dunia. Meskipun ternyata, konsep yang diajukan oleh Nietzsche adalah lemah. Karena pada dasarnya, sepesat apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai manusia, manusia tidak akan pernah mampu mencapai batas maksimal dari ilmu dan teknologi tersebut. Setiap datang satu penemuan ilmu dan teknologi yang baru, akan selalu ada permasalahan-permasalahan lainnya.

Ilmu pengetahuan tidak bisa secara tepat mendeteksi terjadinya gempa. Kalaupun dapat terdeteksi, manusia tidak bisa menolak hadirnya gempa. Dan akan selalu banyak permasalahan-permasalahan lain yang berada di luar batas kemampuan manusia.Hal tersebut sebenarnya secara jelas telah meruntuhkan pemahaman Nietzsche. Dan memang, pada akhirnya, sejarah mencatat bahwa seorang Nietzsche meninggal dalam keadaan seorang yang gila.

Selain Nietzsche, ada juga seorang Ludwig Feuerbach yang merupakan filsuf Jerman abad ke-19. Feuerbach menyatakan bahwa timbulnya ide Tuhan ini hanyalah kekeliruan semata. Tuhan adalah hasil dari proyeksi manusia. Tuhan hanyalah bayangan manusia tentang sosok yang berkualitas Maha. Namun masalahnya, manusia malah kagum, bahkan takut pada proyeksinya sendiri atau Tuhan yang dia hasilkan.

Dan menurut Feuerbach, agama adalah kesadaran tentang yang tidak terhingga. Karena itu agama "tak lain daripada kesadaran akan ketidakterbatasan kesadaran, dalam kesadaran akan yang tidak terhingga, atau, dalam kesadaran tentang yang tidak terhingga, subyek yang sadar obyeknya adalah ketidakterbatasan dari hakikatnya sendiri." Jadi Allah tidak lebih daripada manusia: dengan kata lain, ia adalah proyeksi luar dari hakikat batin manusia sendiri.

Secara tersirat Feuerbach mengatakan bahwa agama tak lain hanyalah cerminan keinginan manusia. Sehingga agama, sama seperti Tuhan, hanyalah proyeksi dari keinginan-keinginan manusia belaka. Klaim dari Feuerbach ini sebenarnya cukup lemah. Pada hakikatnya, keinginan manusia mengarahkan manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Kebutuhan seks manusia menghendaki pemenuhan dengan siapa saja tanpa batasan atau larangan. Tak lain dengan kebutuhan perut.

Jika agama hanyalah merupaka proyeksi dari keinginan-keinginan manusia belaka, sungguh tidaklah logis ketika agama melarang pemenuhan yang seperti demikian. Agama melarang pemenuhan seks bebas, agama mengajarkan untuk berpuasa, agama memerintahkan untuk shalat, zakat, dan lain sebagainya. Sekilas terlihat sangat kontras ketika agama yang dikatakan merupakan proyeksi dari keinginan manusia malah diajarkan dengan penuh pengorbanan.

Sekilas tampak benar bahwa filsafat dan agama merupakan dualitas yang saling bertentangan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, muncul kesamaan-kesamaan yang tak sedikit mempersatukan keduanya. Muncul para filsuf yang berasal dari berbagai agama. Ada filsuf islam, filsuf Kristen, dan lain sebagainya.

Di Eropa muncul filsuf-filsuf Islam ketika masa-masa kemenangan Islam di Eropa tiba. Nama-nama pemikir besar seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ar-Razi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, dan lain sebagainya. Para pemikir tersebut menemukan titik-titik cerah dalam ‘perdamaian’ antara ilmu filsafat dengan ilmu agama. Mereka mampu menjawab bahwa agama dan filsafat bukanlah dualitas yang bertentangan. Bahkan belakangan, muncul tokoh filsuf islam modern seperti Adnan Oktar (Harun Yahya). Dengan rajin para filsuf islam tersebut membuktikan bahwa filsafat dan agama adalah hal yang berkaitan. Filsafat, dapat membuktikan bahwa apa yang berada di dalam agama, khususnya islam, adalah suatu hal yang benar.

Pada akhirnya, tinjauan falsafah menunjukkan bahwa manusia memang membutuhkan agama. Manusia membutuhkan agama. Filsafat, merupakan satu cabang yang memiliki landasan untuk mencari sesuatu yang paling benar. Dan agama, pada hakikatnya, memberikan petunjuk-petunjuk dan bahkan memberikan jalan tentang kebenaran yang tertinggi. Filsafat dan agama samasekali tidak bertentangan. Maka manusia, sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk berfilsafat, membutuhkan agama untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki tersebut.

---

Daftar Pustaka
Shirazy, Habibburrahman El. 2010. Bumi Cinta. Jawa Tengah : Basmala Adikarya Legendaris

Kawira, Lita Pamela, dkk. 2011. Latihan Bahasa Indonesia. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ludwig_Feuerbach

http://www.anneahira.com/filsafat-abad-pertengahan.htm

http://sarjoni.wordpress.com/2010/01/19/latar-belakang-perlunya-manusia-terhadap-agama-dan-hubungan-agama-dengan-ilmu-pengetahuan/

0 comments:

Posting Komentar