Kamis, 22 September 2011

Aku, Pemimpin, dan FISIP




Pemimpin, adalah satu kata yang sangat umum. Secara definitif, pemimpin orang yang memimpin. Namun ketika kita mulai masuk kepada nilai-nilai yang ada dan umum pada sosok seseorang, maka definisi pemimpin itu bisa berkembang menjadi sangat luas. Pemimpin dan kepemimpinan bisa diartikan suatu karakter yang ditanamkan di dalam benak setiap manusia. Suatu karakter positif yang mengandung nilai-nilai idealis yang ada di dalam nurani setiap individu.

Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepadaku tentang ketertarikanku untuk menjadi seorang ketua, menjadi seorang koordinator, dan menjadi seseorang yang menonjol di antara yang lainnya. Aku tersenyum, seraya mengingat masa SMA.


Ketika SMA, aku menjadi seorang pemimpin (dalam arti definitif) di beberapa organisasi. Baik tingkat sekolah, maupun tingkat kota. Aku menjadi seorang pemimpin yang tersurat, tanpa memahami lebih dalam tentang makna pemimpin secara tersirat.

Kini, bagiku, menjadi seorang pemimpin (dalam arti definitif) hanyalah sebuah hasil dari kontribusi yang bisa aku berikan. Memangku jabatan ataupun tidak, seseorang dapat tetap berkontribusi. Menjadi seorang pemimpin, hanyalah satu jalan untuk berkontribusi dengan lebih besar. Hanya sebuah jalan.

Maka seorang pemimpin yang baik, menurutku, adalah mereka yang mampu melihat jalan itu dan mengikutinya. Artinya, seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu berkontribusi lebih besar ketimbang ketika dia tidak menjadi pemimpin.

Bagiku, FISIP adalah suatu ladang subur dimana kita bisa menuai ilmu dengan sangat mudah. Namun, tentu kita harus menanam sesuatu yang lebih baik lagi disini, agar seseorang yang singgah di ladang ini bisa menuai hasil tanam yang jauh lebih baik lagi.

Maka, dalam pemahaman yang aku utarakan, aku akan menjadi seorang pemimpin yang baik ketika aku bisa menanam kontribusi di FISIP dengan bibit yang jauh lebih baik ketimbang ketika aku tidak menjadi seorang pemimpin di ladang ini. Maka dengan itu, tidak menjadi seorang pemimpin (dalam arti definitif) bukan sebuah masalah bagiku, ketika aku bisa tetap berkontribusi dengan amalku.

“Masalah kepemimpinan ini akan hancur di tangan dua jenis pemegang amanah. Pertama, mereka yang berambisi untuk menjadi pemegang amanah, sedangkan dia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih pantas memegangnya. Kedua, mereka yang samasekali tidak mau untuk memegang amanah, sedangkan dia mengetahui bahwa dia yang paling sanggup memegang amanah tersebut.” (Abu Bakar Ash-Shidiq RA)

*Disusun untuk memenuhi persyaratan pendaftaran Pelatihan Dasar Kepemimpinan Terpadu FISIP UI 2011

1 comments:

sales marketing bahan bangunan mengatakan...

Athan sukses lah buatmu slalu,jangan lupakan Salsabila ya.saya sekarang jualan bata merah juga lho than,selain speedy.

Posting Komentar