Kamis, 08 September 2011

Palestina dan Sikap Politik Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB)


Oleh : Muhammad Fathan Mubina
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia 2011
Kelompok 9
 


Sudah 63 tahun, semenjak Zionis Yahudi mendirikan entitas negara Israel di 77% tanah Palestina pada tahun 1948 yang lalu. Semenjak saat itu, banyak sekali tragedi dan ketidakadilan terjadi. Pembantaian umat terjadi di mana-mana. Tiada peduli manula, wanita, maupun anak-anak, pembunuhan massal terjadi di setiap bumi dipijak di Palestina.

Keberadaan Zionis Yahudi dan negara Israel yang terletak di atas bumi Palestina, sebenarnya sangat menunjukkan kelemahan dunia. Dunia kabarnya memiliki ‘agen perdamaian’ yang tersemat di pundak PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) atau UN (United Nation). Namun selama 63 tahun penjajahan di dalam balutan dusta kemerdekaan itu PBB seolah menjadi kambing bisu menatap semua sikap-sikap tidak manusiawi tentara-tentara Israel terhadap masyarakat Palestina. Hak Asasi Manusia yang menjadi dewa di negara-negara dunia seolah tidak berlaku di bumi Palestina.


Kondisi masyarakat Palestina yang jauh dari kata layak membuat masyarakat dunia serentak memberi respon terhadap kondisi tersebut. Ada yang menekan melalui aksi demonstrasi, ada yang mengecam melalui pemerintahannya, ada pula yang langsung memberikan bantuan ke Palestina. Namun semua itu tidak berpengaruh banyak. Israel dan Amerika Serikat yang menjadi target utama kecaman dunia seolah memiliki topeng berkulit badak. Sangat tebal. Sehingga kecaman-kecaman tersebut tidak mengusik dan mengganggu mereka sama sekali. Penjarahan tetap berjalan, pembantaian tetap berlangsung.

Mungkin kita masih ingat, pada 31 Mei 2010 lalu, Israel secara ilegal menyerang kapal Mavi Marmara yang membawa sejumlah bantuan yang diperlukan untuk masyarakat Palestina di Gaza. Serangan tersebut dikatakan ilegal, karena kapal Mavi Marmara berlayar di perairan Internasional, bukan di perairan Israel. Kapal tersebut tidak masuk ke zona terlarang 68 mil, namun tentara Israel dengan sadis menyerang kapal bantuan milik pemerintah Turki tersebut.

Lalu bagaimana respon dunia?

Masyarakat Internasional ramai-ramai mengutuk perbuatan tentara Israel tersebut. Hubungan diplomatik Israel dengan Turki memburuk. Tapi bagaimana respon PBB? Pihak Turki, dan puluhan Negara-negara simpatisan Palestina lainnya harus kecewa karena PBB masih menolerir blokade yang dilakukan Israel terhadap kapal bantuan kemanusiaan tersebut.

Hubungan Turki dan Israel, hingga detik ini, belum kunjung membaik. Pihak Turki sempat mengklaim bahwa perbaikan hubungan tidak akan terjadi hingga Israel meminta maaf atas kematian sembilan warganya di atas geladak kapal Mavi Marmara. Dan hingga hari ini, Israel belum meminta maaf.

Begitu hebatnya Israel sehingga tidak mau meminta maaf atas kesalahan yang sudah dikutuk dan menuai beragam kontroversi dari masyarakat dunia. Begitu hebatnya pula mereka, hingga dunia tidak memberikan respon yang strategis sebagai hukuman untuk mereka. Teriakan-teriakan dunia seolah menjadi seperti angin lalu bagi Israel. Tidak ada tindakan strategis yang dilakukan pihak PBB, sebagai agen perdamaian dunia, terhadap Israel terkait tindakan Israel ini. Ada apa dengan PBB?

Pada 19 Februari 2011 lalu, mayoritas Anggota Dewan Keamanan PBB menyetujui suatu Resolusi PBB yang mengutuk pemukiman Israel di wilayah Palestina. Resolusi tersebut menyatakan ‘'bahwa pembangunan pemukiman itu merupakan sesuatu yang ilegal dan penghalang utama bagi tercapainya penyelesaian yang adil, perdamaian abadi dan komperhensif.’. Resolusi ini didukung oleh 130 Negara dan 14 Anggota Dewan Keamanan PBB. Namun kemudian, resolusi tersebut harus kandas karena Amerika Serikat menggunakan hak veto-nya untuk menggagalkan resolusi ini.

Hak veto, merupakan hak istimewa yang diberikan kepada lima Negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yakni Amerika Serikat, Rusia, Inggris, China, dan Prancis. Hak istimewa tersebut memungkinkan kelima Negara itu untuk membatalkan keputusan, ketetapan, rancangan undang-undang, atau Resolusi DK PBB. Hak itulah yang kemudian menyesakkan dada dunia, karena resolusi tersebut gagal disahkan.

Hal ini memicu berbagai respon dari berbagai belahan dunia. Tapi Israel tetap bengal. Mereka tetap melanjutkan serangan-serangan tidak manusiawi terhadap Palestina. Tidak heran, Indonesia melalui presiden pertamanya Ir. Soekarno pernah menolak dengan tegas sistem hak veto ini. Sungguh tidak relevan dengan konsep perdamaian dan keadilan dunia.

Bahkan pada hari itu juga, 9 Februari 2011, beberapa jam setelah resolusi DK PBB tersebut keluar, Israel melancarkan serangan udara yang bertubi-tubi ke tempat-tempat di jalur Gaza. Tank-tank besar mereka masih melepaskan tembakan kepada anak-anak kecil Gaza. Tentara mereka lebih beringas lagi menyerang wanita-wanita Gaza.

Ada apa dengan perdamaian yang didengung-dengungkan PBB terhadap dunia? Tidakkah itu berlaku untuk bumi Gaza, bumi Palestina?

Sepanjang sejarah, Amerika Serikat sudah memveto lebih dari 40 resolusi antiisrael yang dikeluarkan oleh DK PBB. Hal ini terjadi terus menerus, dan sudah menjadi rutinitas. Setiap kali DK PBB mengeluarkan resolusi yang menunjukkan antiisrael, dan juga memberikan kerugian bagi Israel, Amerika Serikat selalu menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi tersebut.

Pada tahun 2009, Amerika Serikat tidak menggunakan hak veto mereka dalam Resolusi PBB yang menyerukan “gencatan senjata sesegera mungkin, yang berlangsung lama dan setiap pihak harus menghormati penuh gencatan senjata" di Jalur Gaza. Resolusi tersebut berhasil keluar. Namun, pada kenyataannya, Israel tetap saja melakukan serangan-serangan terhadap Palestina.

Hanya beberapa jam saja selepas Resolusi tersebut keluar dari DK PBB, Israel mengirimkan serangan udara dan darat melalui pesawat tempur dan tank mereka di sejumlah titik di Jalur Gaza. Hal tersebut menunjukkan betapa Israel sangat melecehkan martabat DK PBB. Israel samasekali tidak menunjukkan itikad untuk menaati resolusi tersebut.

Rupanya hal tersebut disandarkan kepada isi resolusi yang tidak tegas. Tidak aplikatif ditujukan kepada Israel. Resolusi itu misalnya meminta Israel untuk membuka perbatasan. Tapi tidak ditentukan limit waktu untuk pembukaan perbatasan tersebut. Israel diminta untuk sesegera mungkin melakukan gencatan senjata. Tapi tidak jelas, definisi sesegera mungkin itu seperti apa. Itulah yang membuat Israel semakin bergerak di luar batas. Semakin tidak terkontrol, dan semakin leluasa menghancurkan Jalur Gaza.

Isi dari resolusi tersebut, ternyata merupakan kreasi dari Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Draft resolusi buatan ketiga Negara tersebut lebih diterima Dewan Keamanan PBB ketimbang draft resolusi yang dibuat Negara-negara Arab di Libya. Hal tersebut, pada akhirnya, tidak mempengaruhi apapun terhadap serangan-serangan Israel kepada Palestina.

Mengapa Amerika berani melawan arus dunia dengan membela Israel? Padahal sudah jelas sekali bahwa Israel adalah badboy yang bengal, dan terus menentang keinginan-keinginan perdamaian dunia dengan terus membantai masyarakat Palestina.

Bagi Israel, gertakan-gertakan dari seluruh penjuru dunia hanyalah gertak sambal saja. Hingga hari ini, tidak ada satupun perlawanan yang berarti dari Negara-negara di dunia kepada Israel. Tidak ada tindakan tegas untuk Israel. Oleh karena itulah, Israel tidak akan pernah merasa resah dan takut terhadap ancaman-ancaman yang dikeluarkan oleh Negara-negara di dunia, termasuk kecaman-kecaman dari PBB.

Ketika Israel dengan sangat brutal dan kontinu melakukan penyerangan terhadap Palestina, seberapa kontinu media memberitakannya? Media yang bungkam akan menyebabkan ‘kemarahan’ warga yang simpati terhadap Palestina menjadi sangat lemah.

Ketika serangan Israel memicu kontroversi, media barat ‘terpaksa’ memberitakannya. Masyarakat dunia marah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ‘berita yang menjual’ beralih. Perhatian masyarakat pun teralihkan kepada permasalahan yang lain. Hal ini menyebabkan Israel dengan leluasa melakukan penyerangan lagi, tanpa perlu takut disorot dunia.

Perlu ada tindakan nyata untuk menghentikan kekejaman yang sudah berlangsung selama enam dasawarsa ini. Perlu ada pelita untuk mengakhiri kegelapan ini. Perlu ada pemantik lilin agar bisa menerangi langkah menuju perdamaian dunia.

Perjuangan melalui diplomasi harus bisa dilakukan. Sampai saat ini, Amerika Serikat sebagai benteng utama Israel di dunia Internasional membangun citra yang justru terbalik dengan keadaan. Citra yang dibangun oleh Amerika kepada dunia tentang Israel adalah bahwa Israel merupakan Negara kecil yang dikepung oleh Negara-negara Arab yang memusuhinya. Dengan citra Negara Arab yang sudah identik dengan terorisme, maka gambaran yang terbangun adalah Israel harus melakukan pembelaan dan perlawanan terhadap serangan-serangan teroris dari Negara-negara Arab yang memusuhinya. Cerdas?

Karena dalam politik hanyalah ada kepentingan yang abadi, maka perlu lahir intelektual-intelektual yang berpengaruh besar, yang menggenggam kepentingan mayoritas. Kepentingan perdamaian dunia. Kepentingan untuk mengakhiri konflik yang terjadi semenjak lama tersebut.

Jikapun dalam perjuangan mewujudkan perdamaian melalui diplomasi tersebut sulit diwujudkan, maka lakukanlah dengan perang. Konsep perang, menurut beberapa ahli, merupakan suatu keniscayaan. Cepat atau lambat, perang akan terjadi. Adakalanya kekerasan dapat digunakan untuk mengakhiri suatu penderitaan.

Bagaimanapun juga, enam puluh tiga tahun penderitaan, pembantaian, dan penyiksaan terhadap masyarakat Palestina sudahlah cukup lama. Semenjak enam puluh tiga tahun itu Palestina melawan. Sendirian, tanpa bantuan yang signifikan dari dunia. Berbanding terbalik dengan Israel yang terus mendapat sokongan dari Amerika, yang juga merupakan benteng terbesar mereka dari dunia.

Dunia, tidak bisa dikatakan damai, sebelum Palestina mendapatkan kembali apa yang telah menjadi haknya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Footnote

0 comments:

Posting Komentar