Jumat, 28 Oktober 2011

Jang....

Jang.. Hirup teh teu gampang.. Teu cukup ku dipikiran, Bari kudu dilakonan
Jang.. Jalan kahirupan heunteu sapanjang na datar, Aya mudun jeung tanjakan



Beberapa waktu yang lalu ane dengerin sebuah lagu sunda. Pertama kali ngedengernya langsung teringat acara pernikahan. Alunan musik yang khas itu jelas sekali membawa suasana pernikahan. Ane sebenarnya agak kurang suka ngedengerin lagu-lagu Sunda. Ya, meskipun ane asli Sunda, tapi terkadang banyak lagu sunda yang ane temuin itu lagunya galau. Kurang nyaman didengar. Apalagi dihayati. Ada yang ngajarin pacaran jarak jauh segala. Gaje deh. Hehe.


Awalnya pengen langsung diganti tuh lagunya. Tapi pas sampe di bait pertama yang ane tulis di atas, ane terdiam sejenak. Kira-kira artinya seperti ini : "Nak, hidup itu tidak mudah. Tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi juga harus dilakukan. Nak, jalan kehidupan tidak selamanya datar. Ada turun dan tanjakan.."

Aku terdiam sejenak. Paradigmaku tentang lagu Sunda sedikit terurai. Terbuyar. Terganti secara perlahan. Aku penasaran untuk mendengarkan bait selanjutnya.
 
Kudu sabar dina kurang, Ulah neupak dada beunghar
Salawasna kudu syukur.. Eling ka nu Maha Agung.. Kade hidep bisi kufur

Subhanallah. Terenyuh juga mendengar nasihat ini. Alunan iramanya kali ini mengubah imaji. Kali ini ane seolah terbawa ke sebuah gubuk tua di tengah sawah luas. Yang berhiaskan gunung tinggi yang kokoh tertancap di bumi. Suasana hijau, dengan angin semilir yang menghembus menyapa kulit. Ah, ingat di Panjalu* jadinya.

Harus sabar saat kekurangan, jangan sombong saat kaya. Selamanya kamu harus bersyukur. Sadar kepada yang Maha Agung. Hati-hati, jangan sampai kufur. Begitu kira-kira bait terakhir tadi. Sebuah nasihat yang bijak dari seorang ayah kepada anaknya. Lagu ini langsung membawa materi liqo yang cukup baik. Sabar dan syukur. Materi liqo yang ane dapatkan ketika kelas dua. Dalam lagu ini disebutkan dalam bait di atas.

Jang.. Cing jadi jalma hade, Cing jadi jelema gede.. Beunghar harta jeumar hate
Jang.. Hidep cing ngajalma.. Turut parentah agama, Ulah jauh ti ulama..

Nyobat sareng ahli tobat, Dalit sareng para kiyai.. Hirup keuna ku owah gingsir
Ngarah aya anu ngageuing.. Mangsa lengkah ninggang salah..


Nak, jadilah orang yang baik. Jadilah orang yang besar. Kaya harta, hati mulia. Nak, kamu harus menjadi 'orang'. Taat terhadap perintah agama. Jangan jauh dari ulama. Bersahabatlah dengan ahli taubat, bergaul dengan para kiai. Agar ada yang mengingatkan, ketika langkahmu beranjak salah.

Rasulullah saw. bersabda “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim)

Pas bukan? Lagu ini secara lembut mengingatkan kita terhadap hadits tersebut. Sebagai makhluk sosial yang tentu membutuhkan interaksi dengan orang lain, kita akan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang ada di sekitar kita. Penelitian dari Muzaffer Sherif (1996) menyebutkan bahwa manusia pada umumnya bersifat konformis, atau cenderung menyesuaikan diri dengan harapan kelompok dimana dia berada. Atau dengan kata lain, sangat terpengaruh dari lingkungannya.

Bahkan dia (Sherif) menyimpulkan bahwa dalam situasi kelompok orang cenderung membentuk suatu norma sosial**. Artinya lingkungan itu sangat penting. Ketika kita mendapatkan lingkungan yang baik, maka kita akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang baik dan akan segan ketika melakukan hal-hal yang tidak baik. Sebaliknya, ketika kita mendapatkan lingkungan yang buruk, maka kita akan lebih mudah melakukan hal yang buruk dan segan jika melakukan hal yang baik. Apalagi buat kita yang masih belum cukup baik pemahaman islamnya.

Ane semakin terenyuh mendengarkan.

Cing pinter tur bener.. Cing jujur tong bohong..
Ulah nganyeurikeun batur.. Ngarah hirup loba dulur..

Raksa ucap langkah.. Tekad jeung tabe'at..
Ngarah pinanggih bagja.. Salamet dunia akherat..

Jang..Jang…Cing jadi jalma sholeh
Jang…. Jang…Hidep cing sholeh


Subhanallah.  Jadilah anak pintar dan benar. Jadi anak yang jujur, jangan berbohong. Jangan menyakiti orang lain, agar hidup banyak saudara.


Pintar dan benar. Ya, nilai intelektual kita memang harus selalu diiringi dengan nilai kebenaran. Banyak kita temukan hari ini para intelek yang tidak bermoral. Para intelek yang memanfaatkan kepintarannya untuk membodohi orang yang mungkin tidak seberuntung dia. Banyak intelek yang bahkan tidak peduli terhadap apa yang terjadi pada rakyat yang tidak seberuntung dia. Apatis. My bussiness is mine, and your problem is only yours..


Tak perlu jauh-jauh. Tengok sedikit lewat atap-atap gedung MPR yang unik itu. Atau bahkan, mahasiswa-mahasiswa intelek yang hanya peduli terhadap prestasi diri mereka. Prestasi untuk meningkatkan prestise mereka, tanpa pernah sudi sedikitpun menengok rakyat bawah yang membutuhkan setidaknya perhatian mereka.


Jadilah anak yang jujur, jangan berbohong. Nasihat ini sungguh esensial. Fundamental. Tentu kita mengingat bahwa Rasulullah pernah bersabda : Telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim berkata; "Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?" Beliau menjawab: 'Ya." Kemudian ditanya lagi; "Apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil?" Beliau menjawab: "Ya." Lalu ditanyakan lagi; "Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong?" Beliau menjawab: "Tidak."

Dalam hadits tersebut, Rasulullah memaklumi kalau seorang muslim penakut atau bakhil (meskipun harus kita tafsirkan lagi yang dimaksud takut dan bakhil itu yang seperti apa spesifiknya). Tapi satu hal, seorang mukmin tidak berdusta! Dia tidak mungkin seorang pembohong! Maka apa yang dinasihatkan di lagu ini sangatlah menyentuh. Luar biasa.


Jangan sakiti orang lain, agar hidup banyak bersaudara. Agar hidup bahagia. Selamat di dunia dan akhirat. Ya Allah. Lagi-lagi ane terenyuh mendengarnya. Betapa mulianya nasihat yang diberikan sang ayah kepada anaknya ini. Ane merasa berdosa telah banyak "bersu'udzhon" kepada lagu-lagu sunda. Padahal, ane tidak mengetahui bahwa lagu seperti ini ada. Lagu yang sangat baik. Lagu Sunda yang luar biasa.

Maka teringat hari ini sebuah jargon lama, jangan menilai sesuatu hanya dari sampulnya.

Al'afuw minkum. Astagfirullah..
Allahu'alam.


Muhfat Ali
Urang Sunda Asli! :D 
------
*Panjalu = Kampung Ane dulu di daerah Kabupaten Ciamis..
**dari buku Kamanto Sunarto : Sosiologi

0 comments:

Posting Komentar