Rabu, 09 November 2011

Amal Jama'i


Seorang al-akh terduduk termenung di hutan hijau itu. Ia memperhatikan bagaimana kuasa Rabbnya sangat terasa ketika dia mulai berpikir. Di satu sudut pohon, dia melihat sekumpulan semut saling mengoper makanan mereka. Pandangannya kemudian beralih kepada lebah-lebah di sudut lain yang tengah membangun rumah mereka. Daun-daun saling bertegur sapa dengan angin yang ramah. Semua saling bersinergi.

Dia kemudian memejamkan matanya. Teringat pesan dari Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah dalam film Sang Murabbi. “Kenapa, di antara aktivis dakwah selalu mengatakan ‘ini hak antum, ini hak ana.. ini kewajiban antum, ini kewajiban ane..’ Tidakkah kita malu kepada batu yang keras dan air yang lembut itu? Yaa ikhwah, tidak ada pertikaian di antara mereka!”


Islam, hakikatnya, mengajarkan tentang kebersamaan semenjak awal kedatangannya. Islam tidak akan tegak, ucap Ustadz Anis Matta dalam suatu taujih, hanya oleh air mata satu orang. Hanya oleh keringat satu orang. Hanya oleh darah satu orang saja. Tapi perlu suatu sinergitas antara seorang aktivis dakwah dengan aktivis lainnya. Antara satu penegak syariah dengan penegak yang lainnya.

“Hendaklah kalian berjamaah dan jangan bercerai berai,” ucap sang Rasul pada suatu ketika. “…karena syetan bersama yang sendiri dan dengan dua orang lebih jauh. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen kepada jama’ah.” lanjutnya syahdu kepada para sahabatnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Tiada lagi perlu kita ragukan urgensi dari perintah untuk beramal secara berjamaah ini ketika manusia terbaik di dunia memerintahkannya. Hanya saja, terkadang dalam melakukan amal jama’i, kita menemukan berbagai kendala utamanya ketidakcocokan dengan partner dakwah kita.

Maka teringat aku akan sesosok lelaki pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Lelaki itu berdiri tegak, seraya membacaka puisi karya tangannya. “Kalaulah setiap dosa yang dilakukan temanmu engkau cela,” ucapnya. “Niscaya engkau tidak akan mendapati seorang pun yang tidak akan engkau cela” semua terhening.

Oleh karena itu, hiduplah kamu seorang diri, atau tetaplah bersambung dengan saudaramu.. Tapi ingat, saudaramu itu adalah seorang manusia yang sesekali melakukan dosa dan pada kali yang lain meninggalkannya..” lanjutnya. Dialah Basyar ibn Burd, seorang penyair yang hidup pada masa kekhilafahan Abbasiyah. “Kalau engkau tidak pernah mau meminum air yang tanpa tercampur kotoran,  niscaya engkau akan kehausan. Siapa sih manusia yang minumannya benar-benar bersih dan jernih?” ucapnya. Memang sangat sulit mendapatkan air yang benar-benar bersih dan jernih pada masa tersebut.

Dalam melakukan sebuah kerjasama dengan orang lain, tentu kita tidak bisa sepenuhnya memasukkan idealisme pribadi di dalamnya secara memaksa. Kita tidak bisa berdiri dengan idealisme kita seraya memandang rendah idealisme yang juga tertanam pada diri orang lain yang mungkin itu berbeda dengan pemahaman kita. Maka tinggallah seorang diri, ucap Basyar, agar kita tidak mendapati kesalahan-kesalahan dari orang lain. Atau tetaplah jalin kerjasama, namun penuh kesadaran bahwa setiap kita pasti memiliki potensi untuk berbuat salah. Artinya proporsional. Tidak perlu berlebihan dalam menyikapi kesalahan tersebut.

Dalam dekapan ukhuwah, ucap Salim A. Fillah, kita harus ingat bahwa tak semua sisi hidup berbentuk persaingan. Kita menginsyafi bahwa keberhasilan kita hanya bisa diperoleh sebab adanya orang lain. Pelajaran hidup juga hanya bisa kita ambil dari orang lain. Kelemaha kita hanya bisa diperkuat oleh orang lain. Pengaruh kita, hanya berlaku dan berlipatganda pada orang lain. Memimpin-pun, tak mungkin tanpa kehadiran orang lain.

Maka bukankah sekumpulan batang lidi, demikian sebut sebuah kata bijak, lebih kuat dan kokoh ketimbang sebatang lidi?

Muhammad Fathan Mubina
Hamasah FISIP UI 2011



0 comments:

Posting Komentar