Kamis, 24 November 2011

Dakwah di Tangan Qiyadah dan Jundiyah



 
“Alam ini menjadi teratur,” ucap Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin-nya, “karena Pengatur alam semesta ini adalah satu.”

Dalam melakukan sebuah perjalanan dalam sebuah jama’ah, sosok seorang pemimpin menjadi sangat penting nampak. Ia mutlak ada. Terlebih dalam perjalananan dakwah. Seorang qiyadah adalah seorang yang mampu bertahan dalam beratnya memimpin di jalan sempit ini. Kebersamaaan yang diatur, akan menghasilkan kepaduan dari dakwah itu sendiri.


Dalam sebuah jama’ah, dibutuhkan seorang pemimpin. Ya, itu mutlak. Bahkan tubuh kita, sebagai gerakan yang bekerja secara jama’ah, memiliki ‘pimpinan’-nya sendiri yakni otak. Dan dalam dakwah ini, diperlukan sebuah tsiqah untuk bergerak. Seorang qiyadah harus mendapatkan kepercayaan dari jundi-nya, pun sebaliknya. Itu adalah ‘mahar’ yang harus dibayarkan untuk bergerak di jalan dakwah ini.

Hari itu aku tengah beristirahat di rumah. Beberapa tugas baru saja aku selesaikan. Rencananya, hari itu aku akan beristirahat setelah kegiatan penuhku selama satu pekan itu. Tiba-tiba seseorang meneleponku. Murabbi-ku.

“Assalamu’alaykum, Akhi..” sapanya ramah.

“Wa’alaykumussalam Warahmatullah.. Ada apa akh?” jawabku.

“Antum datang ke kampus UPI ya sekarang.. Ada hal penting..” ucapnya. Aku terdiam sejenak.

“Baik akh, Insya Allah..” jawabku singkat. Selesai.

Itu jundiyah. Sebagai seorang jundi, jika aku tidak bisa memberikan alasan yang syar’i untuk menolak perintah tersebut, maka aku harus melaksanakannya. Itulah tsiqah yang menjadi mahar para pejuang dakwah. Kepercayaan yang harus dibayarkan, ketika aku dan para pejuang dakwah lainnya memutuskan untuk berada di jalan ini.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa : 59)

Dalam hubungan jama’ah, seorang pejuang dakwah memiliki kewajiban tersendiri untuk taat kepada Uli Amri atau pemimpin mereka selama pemimpin tersebut taat kepada Allah dan Rasul (Nya). Dalam ayat tersebut kita melihat sebuah rangkaian. Allah, Rasulullah, baru kemudian ulil amri. Artinya, orientasi pertama dakwah ini tetaplah Allah, kemudian petunjuk Rasulullah.

Sempat suatu ketika aku tengah berada di sebuah rapat fundamental kegiatan OSIS di SMA. Ketika para aktivis sekolah tengah asik mengutarakan pendapat-pendapat mereka, suara adzan terdengar. Secara reflek, sebagai SMA dengan kondisi 100 persen muslim, mereka terdiam sejenak.

“Baik, kita dengarkan adzan dulu sejenak..” ucap Ketua OSIS selaku pimpinan rapat.

Entah kenapa aku terusik untuk bersuara. “Kenapa harus didengar dulu?” ucapku. “Bukannya perintahNya itu ketika mendengar adzan maka kita hentikan urusan dunia kita dulu untuk kemudian menegakkan shalat? Tidak sekedar berhenti mendengar adzan lantas kemudian melanjutkan urusan kita setelah adzan selesai..”
Semua terdiam. Aku menatap mata sang ketua OSIS, yang tak lain adalah sahabatku sendiri, dalam-dalam.

“Baiklah,” ucapnya dengan suara yang masih berbenturan dengan kumandang adzan yang syahdu terdengar di Masjid sekolah kami. “Rapat sekarang ditunda dulu. Kita shalat Ashar dulu berjama’ah di masjid, lalu kemudian langsung kembali lagi ke tempat ini sesegera mungkin..” lanjutnya. Selesai.

Itu qiyadah. Sebagai seorang qiyadah, jika sahabatku tersebut tidak bisa memberikan alasan yang syar’i untuk menolak usulanku, yang pada saat itu berperan sebagai seorang jundi, maka dia selayaknya mengikuti usulan jundi-nya.

Di jalan ini, hubungan qiyadah dan jundiyah tidak sekedar hubungan profesional. Kami berjalan dalam dekapan ukhuwah, balutan cinta, dan kerinduan akan syurgaNya. Hal itulah yang membuat kami kuat berjalan di jalan yang berat ini.

Muhammad Fathan Mubina
Hamasah FISIP UI 2011

0 comments:

Posting Komentar