Selasa, 29 November 2011

Elang


Hari itu dia berdiri membungkuk seraya menempelkan tangannya ke ganggang pintu di depan pintu kamar kami beberapa menit yang lalu. Pemuda kurus ini yang kini berada di depan mataku ini tampak ngos-ngosan. Ia kemudian berdiri tersenyum dengan ceria. Memberikan satu sinyal kemenangan. Elang. Namanya tajam, setajam sorot matanya. Pemuda yang satu ini tak lelah memberiku berbagai inspirasi. Pesonanya seolah tak habis membuatku terus berdecak karena kagum. Dan hari ini, ia tersenyum.

"Raka, kita akan berjuang bersama lagi!" ucapnya tenang namun menyiratkan kebahagiaan. Aku mengerti maksudnya.

"Antum sudah dapat hasilnya Lang? Benarkah?" ucapku meyakinkan.

"Sudah, akhi.. Sudah..! Dan kali ini ana akan menemani perjuangan antum di Fakultas yang sama, di Universitas yang sama!" jawabnya mantap.


Allahu Akbar. Kami bersorak takbir, kemudian saling berpelukan. Elang, lagi-lagi menunjukkan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Jika aku menguasai ayat yang menjelaskan syukur dan kufur lengkap dengan tafsirnya, aku rasa Elang telah mempraktikkannya jauh lebih mendalam ketimbang aku. Aku sangat bersyukur bisa mengenal sosok yang tajam seperti dia.

Elang umurnya satu tahun lebih tua daripada aku. Dia berasal dari sebuah daerah yang sudah tidak asing lagi bagiku, Tasikmalaya. Dia merantau jauh-jauh dari Tasikmalaya hanya untuk mendapatkan pendidikan yang layak di Ibukota Negara ini.

"Oh, anjeun ti Tasikmalaya oge?" ucapnya penuh semangat saat pertama kali kami berjumpa.

"Sumuhun kang.. Dari daerah kota-nya.. Emang ente dari Tasik juga ya?" balasku.

"Iya bang.. Ane dari Tasik.. Ente tau gak daerah Citatah? Itu tiga jam dari kota, Ka.." jawabnya. "Ah, senengnya.. Jadi bisa mengobati rasa rindu ke kampung nih.. Hehe.." lanjutnya. Aku tersenyum. Aku sempat besar selama lima tahun di Tasikmalaya, sebelum pindah ke Depok. Lalu aku melanjutkan sekolah di Jakarta, di Pesantren yang terhimpit gedung-gedung mewah ini.

Tiga jam dari kota. Aku jadi teringat lokasi perkemahan sekolah ketika aku berada di Pecinta Alam SMP-IT Al-Ikhlas Tasikmalaya. Kala itu kami diajak oleh senior kami dari SMA-IT Al-Ikhlas dan guru-guru kami untuk melakukan tadabbur alam di sebuah wilayah terpencil di Tasikmalaya. Aku ingat, perjalanan kala itu ditempuh hampir dua jam lamanya. Ini tiga jam? Seberapa jauh tempatnya?

"Wah, tiga jam dari kota, Lang? Itu ke dalam banget dong ya? Daerah apa sih?" tanyaku penasaran kepada teman sekamarku ini.

"Iya Ka! Terpencil banget.. Kalau daerahnya namanya di deket daerah Sodong.. Deket Singaparna atuh.. Pasti tahu kalau Singaparna.." jawabnya. Ah, Singaparna rupanya.

"Ooh.. Iya, ane tau kalau Singaparna.. Nah, ente ke Jakarta ini sama siapa? Sama keluarga-kah?" ucapku.

"Nggak Ka.." jawabnya seraya menggeleng. "Ane gak ada keluarga di sini.. Ane satu-satunya anak daerah ane yang keluar dan mengenyam pendidikan SMP.." lanjutnya seraya menerawang ke langit-langit kamar. Aku sedikit terkaget. Benarkah?

"SMP? Serius ente?"

"Iya.. Di daerah ane gak ada SMP dulu.. Anak-anak mayoritas setelah lulus SD mereka langsung bantuin orangtua buat macul di sawah, seraya sekolah agama gitu.." jawabnya.

"Wah.. Hebat ente.. Pasti ente dibangga-banggain ya sama orangtua ente.."

"Enggak Ka.." ucapnya. "Keluarga ane justru marah karena ane memutuskan untuk keluar dari kampung dan sekolah di Jakarta.. Mereka menyesalkan karena ane lebih memilih belajar di luar kampung ketimbang membantu mereka memacul di sawah.. Mereka menentang kepergian ane ke Jakarta ini, kecuali ibu ane.." lanjutnya seraya merebahkan dirinya di kasur. Aku terdiam. Orang ini...

Hari ini aku menjadi saksi bahwa orang yang ada bersamaku ini adalah orang yang luar biasa. Selama tiga tahun mengenalnya di SMA, aku tidak melihat kelemahan bersamanya. Dalam keadaan sesulit apapun, bahkan ketika ia mendapatkan kabar bahwa Ibunya meninggal, ia tampak tegar. Dalam keadaan serumit apapun, bahkan ketika ia mendapatkan tekanan dari pihak sekolah saat mengungkap kasus korupsi di pihak lembaga dan terancam dikeluarkan dari sekolah, dia tampak kuat.

Hari itu, aku ingat, dia mendapatkan kabar dari kakaknya bahwa ibu mereka meninggal. Dia menyampaikan kabar itu kepadaku dengan tersenyum. Itupun setelah aku bertanya kemana dia pergi selama satu pekan tidak berada di sekolah.

"Maaf Lang.. Ana turut berduka cita.." ucapku.

Ia tersenyum. "Gak apa-apa lagi Ka.. Ana udah gak sedih lagi, kok.. Ibu ana dipanggil Allah, karena Allah sayang sama beliau.. Dan hari ini, ana yakin, ibu ana sudah mendapatkan cinta yang lebih dari Allah.." jawabnya dengan linang air mata dan senyuman ketegaran. Aku terdiam.

"Dan lagi, Ka.. Jika selama ini Allah menyayangi ana melalui ibu ane terlebih dahulu, maka hari ini ana yakin bahwa Allah akan lebih menyayangi ana secara langsung.. Allah akan melimpahkan cintaNya langsung kepada ana, tanpa lewat perantara siapa-siapa lagi.. Jadi, Insya Allah ana gak terlalu sedih lagi.." lanjutnya. Aku takjub mendengarnya. Dia sudah mencapai kedewasaan yang sungguh tak akan pernah aku lupakan.

Hari itu aku belajar banyak. Aku menyadari bahwa senyuman, tak selamanya bermakna seseorang itu tengah berbahagia. Terkadang, senyuman itu menandakan bahwa sang pemilik senyum cukup kuat, atau setidaknya berusaha untuk tetap kuat, dalam menghadapi permasalahannya.

Ketika lulus SD, dia mendapatkan tawaran untuk bersekolah di Jakarta. Dia dibawa oleh seorang ustadz dari Sukabumi. Namun ternyata hanya satu pekan menemani di Jakarta, sang ustadz terpaksa harus meninggalkannya. Beliau meninggal dunia. Maka Elang kecil itu bingung untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia hidup seperti bayi elang yang kehilangan induknya.

Dengan bermodalkan alamat yang diberikan sang Ustadz, dia berangkat ke satu yayasan pendidikan. Tapi dia baru bisa masuk ke sekolah tersebut pada tahun depannya karena waktu itu tengah berada di pertengahan semester. Alhasil, dia tidur selama beberapa bulan di jalanan. Dia bekerja dari satu toko ke toko lainnya seraya belajar mempersiapkan diri untuk tes tulis.

Singkat kata, dia berhasil mendapatkan beasiswa dari pesantren setingkat SMP di Jakarta. Dan kemudian dia melanjutkan studinya ke Pesantren setingkat SMA yang sama denganku.

Hari ini dia duduk bersamaku di pelataran. “Akhi..” ucapnya. “Insya Allah, meskipun perjuangan kita akan berada di tempat yang berbeda, namun hati kita akan terikat dalam dekapan ukhuwah..” lanjutnya dengan wajah yang teduh, dan mata yang tajam.

“Insya Allah,” ucapnya. “Ana akan melanjutkan studi S2 ke Jepang, akh..” lanjutnya. Aku tersenyum, bersyukur dan takjub. ‘Anak Elang’ ini telah mengajarkan banyak hal kepadaku tentang perjuangan. Tentang penderitaan. Dan tentunya, tentang keajaiban istiqamah. Dan hari ini, aku menyaksikan elang kecil itu terbang tinggi dan dengan gagahnya merajai langit biru.

Fathan Mubina
Hamasah FISIP UI 2011

0 comments:

Posting Komentar