Rabu, 16 November 2011

Maka Saksikanlah Bahwa Kami yang Memilih Jalan Ini

oleh Muhammad Fathan Mubina, Hamasah FISIP UI 2011

Judul Buku          : Beginilah Jalan Da’wah Mengajari Kami
Penulis                 : Muhammad Lili Nur Aulia
Data Publikasi    : Pustaka Da’watuna, cetakan pertama tahun 2006



“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka.” HR Muslim

Bersama dakwah kami bersinar. Sesungguhnya, keberadaan kami di jalan dakwah ini adalah kebutuhan kami sendiri. Tidak sebaliknya. Tidak samasekali. Dakwah ini, ucap seorang Ustadz, akan tetap diperjuangkan dengan atau tanpa adanya kami di sana. Namun, janji dan perintah-Nya lah yang membuat kami senantiasa berusaha untuk tetap berada di jalan ini.


Dakwah ini, merupakan alasan kami untuk tetap bisa memohon syurga-Nya dan menghindari adzab-Nya. Allah swt. mengisahkan, “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata : ‘mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab : ‘agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS Al A’raf : 164)

Maka dengan satu tujuan yang sama, yakni syurga-Nya, kami memulai mempersatukan diri kami dalam dekapan ukhuwah. Tidak hanya ukhuwah saja, sebenarnya, yang menjadi penyangga utama perjuangan kami ini. Setidaknya ada lima ikatan yang memperkuat kami dalam mengarungi jalan dakwah ini. Ikatan Aqidah, Al Fikrah (Pikiran), Al Ukhuwwah (Persaudaraan), At Tanzhim (Organisasi) dan Al ‘Ahd (Janji). Maka bersama lima pilar tersebut kami berdiri. Mencoba tegak di jalan yang berliku ini.

Di jalan ini kami berjuang dengan langkah kami. Jalan yang memang terlihat rumit, sulit, dan berat. Itu sunatullah. Hanya ternyata, ketika kami mulai menapaki jalan-jalan kebenaran ini, tersibak sebuah aroma semerbak yang kami dapat bersama dengan keringat, air mata, dan bahkan darah kami yang menjadi saksi pengorbanan. Pada kenyataannya, kami banyak mengambil mata air kecemerlangan diri di jalan yang berat ini. Dan itulah yang kemudian memaksa kami untuk terus berbuat dan bertindak lebih baik dari apa yang kami dapatkan.

Karena memang dakwah, ucap Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah, adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari diri kami. Hingga perhatian kami, berjalan, duduk, dan tidur kami. Bahkan dalam lelap kami, isi mimpi kami adalah tentang dakwah. Tentang umat yang kami cintai.

Ketika awal waktu kami mulai menapaki jalan yang sunyi ini, kami sudah mengetahui akan seperti apa jalan yang kami tempuh. Esensinya, jalan ini adalah jalan yang sulit dan hanya sedikit saja yang akan bertahan menempuhnya. Kami terus berharap kami termasuk orang yang sedikit tersebut. Hanya saja memang, tanjakan di jalan ini terkadang membuat kami letih.

Karena itulah kami harus saling menjaga agar perjalanan kami tetap berada pada tujuannya. Nasihat adalah tiang penyangga kami. Bukankah Allah sudah berjanji bahwa setiap manusia adalah dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al Ashr : 3)? Demikianlah, keterpeliharaan persaudaraan kami justru ditopang oleh nasihat.

Maka akhirnya, berada di jalan ini adalah pilihan kami. Dan perjuangan dakwah ini tidaklah boleh terhenti. Meski terus berganti generasi, bahkan meski kemudian jiwa kami terpisahkan dengan raga.

“Maka kuatkanlah ikatannya, kekalkannlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya.. Terangi ia dengan cahayaMu yang tiada pernah redup.. Ya Allah.. Maka bimbinglah kami, Ya Rabb..”

0 comments:

Posting Komentar