Selasa, 01 November 2011

MPKT Aaaaa!


Rangkum lagi yooo! :D

Oke guys, ikhwan wa akhwat fillah, kali ini ane bakal coba ngerangkum tentang MPKT A yang (katanya) hanya ada di Universitas Indonesia. Apa itu MPKT? MPKT adalah Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (sebenernya ane juga bingung sih, kenapa disebutnya MPKT bukan MKPKT.. Tapi ya sudahlah.. :p). MPKT ada dua, MPKT A dan MPKT B.



Nah, MPKT A ini mencakup ilmu-ilmu humaniora, sedangkan MPKT B mencakup ilmu-ilmu alam. Sampai tengah semester ini, udah diajarin empat konsep dasar pengembangan kepribadian manusia. Khususnya buat Mahasiswa UI. Empat konsep tersebut adalah…..(jeng..jeng..) Filsafat, Logika, Etika, dan Keutamaan serta Kekuatan Karakter. Abstrak kan? Hehehe.. Oke, biar lebih mengefektifkan waktu (dan kata-kata), langsung aja cekidot!


Filsafat
Apa sih yang kebayang waktu kita bicara tentang filsafat? Orang yang banyak pikiran? Orang yang suka merenung? Atau bahkan yang terbayang adalah sosok-sosok pemikir filsafat atau filsuf seperti Plato, Aristoteles, dan yang lainnya?

Nah guys, Ikhwan wa akhwat fillah, filsafat itu hadir dari kata philos dan sophia. Philos itu artinya ‘suka’, ‘senang’, ‘cinta’. Sedangkan sophia itu artinya ‘arif’, ‘bijaksana’, atau ‘kebenaran’. Dengan demikian, filsafat itu artinya suka kearifan, senang kebijaksanaan, atau cinta kebenaran. Pada hakikatnya, filsafat itu adalah suatu proses mencari suatu kebenaran yang hakiki, yang bener-bener gak ada yang bisa menyangkal bahwa itu adalah benar. Nah, untuk mencapai pemikiran tersebut, ada tiga sifat dasar yang harus digunakan yakni berpikir kritis, mendasar, dan universal.

Simpelnya gini, antum coba bayangkan ada seseorang nanya ke antum sebuah pertanyaan klise : “kenapa Ayam jantan mengejar ayam betina?”. Antum mau jawab apa? Karena ayam jantan ingin kawin dengan si ayam betina? Hmmm… Mungkin benar. Oke, jawaban antum benar. Tapi, mungkin gak sih kalau si ayam jantan mengejar ayam betina karena si ayam betina bawa kabur makanan si ayam jantan? Mungkin kan? Berarti, jawaban ane juga benar. Nah, ada dua kebenaran di sana. Lalu mana yang paling benar?

Dalam filsafat, kita harus mencoba berpikir kritis, mendalam, dan universal. Dalam pertanyaan klise di atas, bagaimana kalau ada yang menjawab : “Karena si ayam betinanya lari..”. Mungkin kita terdiam sambil bengong. Kriik..Kriik.. Jawaban apaan tuh? Semua orang juga tau kali, kalo ayam jantan ngejar ayam betina karena si ayam betinanya lari. That’s it! Itulah yang dimaksud dengan filsafat. Dalam mengkaji sesuatu, kita mencoba berpikir mendalam. Si ayam jantan gak usah mengejar si ayam betina, kalau si ayam betinanya nggak lari. Itulah kebenaran yang mendalam. Berpikir kritis, tentang berbagai kemungkinan kebenaran yang ada di atas. Dan fakta itu bersifat universal, artinya di setiap sudut dunia pasti gitu kejadiannya. Itulah filsafat, secara sederhana.

Oke, setelah tahu apa itu filsafat, coba sekarang kita telusuri ada unsur apa saja di dalam ilmu filsafat. Epistemologi, mempelajari tentang apakah kebenaran itu. Estetika, mempelajari tentang apakah yang indah itu. Etika, mempelajari tentang apakah yang baik itu. Kosmologi mempelajari tentang keadaan keteraturan. Logika, mempelajari tentang apakah hukum-hukum penyimpulan yang lurus itu. Metodologi mempelajari tentang apakah teknik-teknik penyelidikan itu. Dan ontologi mempelajari tentang apakah kenyataan itu. (normatif banget ya? ane juga agak bingung ngejelasinnya. Hehe :P)

Apa sih manfaat mempelajari filsafat buat kita?

Nah, kalau pertanyaan yang satu ini bukan cabang dari ilmu filsafat. Ini namanya pragmatis. Hehe... Tapi kalau kita telisik lebih mendalam, ternyata banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari mencoba berfilsafat. Dengan berfilsafat, kita bisa lebih mengkoreksi diri kita. Kita berani mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya, meskipun itu berlawanan dengan tindakan kita. Dan dengan mengetahui kebenaran, kita bisa mengurangi kesalahan yang ada pada diri kita.

Tapi, kalau dalam permasalahan aqidah, kita nggak sebaiknya menggunakan pemikiran filsafat atau tasawuf ya guys. Karena pada kenyataannya, kemampuan manusia untuk berpikir itu terbatas. Masih banyak sekali hal yang ada di luar jangkauan rasio manusia, sehingga hasilnya hanyalah sekumpulan penilaian subjektif terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dipahami oleh manusia. Siip! :D

Logika
Nah, kalau istilah yang satu ini pasti sering banget kita dengerin. Terutama buat yang udah pernah ngerasain kelas satu di SMA, pasti pernah belajar tentang ini. Bahkan pelajaran ini menjadi salah satu bab khusus dalam mata pelajaran matematika. Lho, emangnya logika itu sama dengan matematika ya?

Ada dua pendekatan terhadap penafsiran logika. Sebagai cabang dari filsafat, logika merupakan suatu metode untuk mendapatkan kebenaran yang tepat. Nah, logika ini juga berperan sebagai dasar filosofis dari matematika. Jadi, antara logika, filsafat, dan matematika itu saling berkaitan.

Dalam logika dikenal istilah term, definisi, dan divisi. Apaan tuh? Ribet banget kedengerannya? Gak usah dibuat ribet. Term itu bahasa gaulnya ide. Kalimat ilmiahnya, term adalah tanda untuk menyatakan suatu ide yang dapat diinderai sesuai dengan pakat yang dapat bersifat formal maupun instrumental, berdasarkan pada kelaziman (nah lho?!). Kalau definisi itu makna . Dia menjawab pertanyaan “Apakah itu?”. Nah, kalau divisi itu uraian dari satu keseluruhan terhadap bagian-bagian tertentu yang berdasarkan kesamaan karakteristik tertentu.

Selain itu dikenal juga istilah kalimat, pernyataan, dan proposisi. Nah, kalau ini mah udah sering denger kan? Kalimat itu kumpulan kata. Pernyataan itu kalimat yang digunakan untuk klaim. Dan proposisi itu makna yang diungkapkan dari pernyataan.

Nah, berdasarkan jumlah pemaknaannya (atau kita mulai biasain sebut proposisi), pernyataan itu ada dua jenis yakni pernyataan sederhana dan pernyataan kompleks. Yang sederhana itu kalau hanya ada satu proposisi, sedangkan yang kompleks itu ada lebih dari satu proposisi. Nah, karena memiliki dua pemaknaan atau proposisi, maka dalam pernyataan kompleks pasti ada relevansi antara satu proposisi dengan proposisi yang lainnya. Kaitan antarproposisi ada empat : negasi (bukan, ingkaran), konjungsi (dan), disjungsi (atau), dan juga kondisional (jika demikian, maka demikian).

Selain istilah-istilah di atas, kita juga mengenal yang namanya penalaran. Penalaran itu penarikan kesimpulan berdasarkan alasan-alasan yang relevan. Ada dua jenis penalaran, yakni penalaran langsung (yang bisa ditangkap oleh pancaindera) dan penalaran tidak langsung (melalui perbandingan ide-ide). Dari penyimpulan tidak langsung, akan menghasilkan sebuah argumen.

Dalam melakukan penalaran, kita seringkali mendapatkan kesalahan-kesalahan. Mungkin kita menemukan kesalahan di kesimpulan, atau mungkin juga selama proses dari penalaran itu sendiri. Kita berbincang dan rasanya bener-bener aja, tapi ternyata kesimpulan itu gak bener setelah diuji. Nah, itulah definisi dari Sesat Pikir, menurut Copi (1986). Dalam sesat pikir, terkadang kita mengaitkan satu hal dengan hal yang lainnya padahal kedua hal tersebut memiliki hubungan yang asimetris.

Misalnya nih ya, ada pernyataan pertama : jika hujan turun, maka tanah basah. Lalu sekarang kita lihat tanah basah. Jika kita menyimpulkan bahwa hujan turun, maka kita sesat pikir. Lho?! Oke, kita coba bahas ya. Jika hujan turun, maka tanah basah. Tapi jika tanah basah, belum tentu itu karena hujan yang turun. Bisa jadi memang ada yang membuang air di sana. Atau ada yang sedang menyiram tanaman. Kira-kira seperti itu deh jadinya.

Etika
Etika lahir dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti ‘tempat tinggal’, ‘adat’, ‘kebiasaan’, ‘akhlak’, ‘watak’, ‘perasaan’, ‘sikap’, dan ‘cara berpikir’. Kalau jamaknya itu etha, artinya ‘adat kebiasaan’. Nah, yang terakhir itulah yang melatarbelakangi lahirnya etika, yang menurut Bertens (2007:4) berarti ilmu tentang adat kebiasaan. Etika itu pemikiran yang sistematis, objektif, dan mendalam tentang moralitas.

Moral itu agak berbeda dengan akhlak. Meskipun keduanya mengandung nilai-nilai idealis yang banyak kesamaannya. Perbedaannya adalah dari sumber penilaiannya. Akhlak bersumber dari agama, sedangkan moral bersumber dari filsafat.

Dalam etika ditanamkan nilai relevansi antara kebebasan dan tanggung jawab. Kebebasan, dalam aplikasinya terhadap kehidupan manusia, memiliki makna sebagai suatu kebebasan yang terbatas. Sebebas-bebasnya manusia, secara kodrati gak bisa lepas dari yang namanya sakit, mati, tua, dan lain sebagainya.

Maksud dari kebebasan di sini adalah kemampuan manusia untuk memilih akan melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Ini sebenarnya pas dengan apa yang Allah katakan dalam surah As-Syams ayat delapan, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Nah, tapi kebebasan ini membawa suatu dampak mutlak yang akan dihadapi manusia, yakni tanggung jawab. Ini juga pas dengan lanjutan dari ayat tersebut, “sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Kekuatan dan Keutamaan Karakter
Guys, Ikhwan wa akhwat fillah, apa yang terbayang ketika kita menyebutkan karakter? Kepribadian? Apakah karakter dan kepribadian adalah hal yang sama? Ayo, coba ingat-ingat. Hehe.

Kepribadian dan karakter adalah dua hal yang berbeda, meskipun lagi-lagi keduanya sangat erat berkaitan. Kepribadian itu nilai-nilai alamiah dinamis yang dimiliki oleh seseorang. Dan karakter adalah kepribadian yang dievaluasi. Karakter adalah segi-segi kepribadian yang dikeluarkan dan disesuaikan sama lingkungan.

Karakter ini sangat penting, karena ini adalah inti dari pendidikan. Bung Hatta bilang, pendidikan nasional Indonesia diselenggarakan untuk menuju Indonesia Merdeka. Kalau kata Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah pembentukan watak atau karakter.

Karakter ini memiliki sifat-sifat keutamaan. Ada enam kelompok keutamaan yang menjadi kekuatan karakter. Pertama, kekuatan kognitif yang mencakup sikap-sikap kreativitas, rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, mencintai kegiatan belajar, dan lain sebagainya. Kedua, kekuatan interpersonal atau kemanusiaan yang mencakup sikap-sikap cinta kasih, kebaikan hati, peduli, sabar, penyayang, dan lain sebagainya. Ketiga, kekuatan emosional atau kesatriaan yang mencakup sikap-sikap integritas, otentik, jujur, semangat, dan lain sebagainya. Keempat, kekuatan kewarganegaraan yang mencakup nilai-nilai citizenship, fairness, kepemimpinan, dan lain sebagainya. Kelima, kekuatan temperance yang mencakup sikap-sikap pemaaf, pengampun, rendah hati, regulasi-diri, dan lain sebagainya. Dan terakhir adalah kekuatan spiritual atau transendensi yang mencakup sikap-sikap apresiasi keindahan, penuh rasa terimakasih, harapan, humor, keyakinan, dan lain sebagainya.

Udah ah, ngantuk. Wish me luck for next UTS ya..! *sebenernya masih ada Hupem (Hukum dan Pembangunan).. Ntar deh, kalo sempet rangkum lagi.. Hehe.. :d

2 comments:

bbintang94 mengatakan...

udah mau deket2 UTS MPKT A, nge-search di google, eh nemu blog-nya kak Fathan.. keren banget nih materinya dirangkum semua, disampein dg bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Jadi lebih ngerti. Makasi kak Fathan!

Fathan Mubina mengatakan...

hahaha.. terus baru baca :D

Posting Komentar