Rabu, 09 November 2011

Tarbiyah Dzatiyah

"Tidak akan bergerak kaki seseorang pada hari kiamat", ucap lelaki gagah yang namanya disebut-sebut di langit dan bumi itu pada suatu ketika. "..sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa ia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana dihasilkan dan untuk apa saja ia infakkan dan tentang jasadnya untuk apa ia gunakan” lanjutnya.


Rasulullah Muhammad saw., dengan tegas menjelaskan kepada kita tentang salah satu esensi dari pembinaan pribadi. Lelaki penggenggam hujan itu menggunakan kata seseorang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi tersebut. Pada hari yang agung tersebut kita tidak akan ditemani siapa-siapa kecuali amal ibadah kita.


Adalah fakta bahwa setiap kita akan diminta pertanggung-jawaban atas setiap kita. Allah swt. memberikan setiap manusia empat fasilitas yang sama, tulis Ustadz Anis Matta dalam bukunya. Keempat fasilitas tersebut adalah waktu kesempatan hidup, bumi sebagai tempat tinggal, manusia beserta perangkat-perangkatnya, dan juga Al-Qur’an sebagai pedoman. Dengan empat fasilitas itu, Allah memberikan amanat besar kepada umat manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dengannya juga teriring kewajiban kita sebagai hambaNya, yakni senantiasa beribadah kepadaNya. Dua tugas dasar manusia itu tentu yang akan menjadi pertanggung-jawaban utama kita di hadapanNya.

Pada suatu  ketika, makhluk durjana bernama Iblis itu memohon kepada Tuhannya. Berkata iblis : "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. Tanpa penyesalan, dia membalas. "Ya Tuhanku,” ucapnya sendu. “oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” lanjutnya.

“….. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka" makhluk hina itu mengakhiri kalimatnya.

Adalah fakta ketika kita berbicara tentang Iblis yang sudah bersumpah di hadapan Tuhannya. Allah swt., dengan lembut mengisahkan hal tersebut dalam Qur’an-Nya yang luar biasa. Menyampaikannya kepada manusia yang juga luar biasa, sehingga hari ini kita bisa mengetahui kisah langit tersebut.

Tarbiyah dzatiyah, adalah suatu hal yang penting ketika kita melihat dua pengingat dari Allah dan Rasul-Nya tersebut. Yang pertama mengingatkan kita tentang pertanggung-jawaban manusia, yang selanjutnya tentang iblis yang merupakan musuh yang nyata bagi umat manusia. Maka seorang mukmin haruslah orang yang kuat kapanpun dan dimanapun dia berada. Mereka yang tidak hanya menjadi seorang yang saleh ketika mereka berkumpul dengan orang-orang yang saleh lantas kemudian menjadi salah saat bersama orang-orang yang salah.

Umat manusia tiada akan pernah lepas dari gangguan Iblis laknatullah. Dalam hal ini, seorang pemburu syurga tentu tidak bisa hanya mengandalkan tarbiyah formal atau pembinaan rutin yang kita dapatkan dengan murobbinya. Tiada juga ia bisa mengandalkan perkumpulan dengan orang-orang saleh. Memang, berkumpul dengan orang-orang saleh adalah salah satu wahana peningkat kualitas iman kita. Namun pada akhirnya, seorang pemburu syurga akan dihadapkan dengan masa ketika dia sendirian, tidak ada siapa-siapa yang bersamanya. Maka ketika itulah dia seharusnya lebih kuat.

Maka teringat nasihat seorang sahabat. “Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita,” ucapnya merdu. “Karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan.” lanjutnya. Ya, semua kembali pada niat kita. Sebagai manusia, kita diberikan satu lagi kelebihan yang tiada dimiliki makhluk lain pada umumnya : pilihan. Jalan neraka dan syurga telah disajikan di hadapan manusia. Maka ia bebas untuk memilihnya, dan tentu saja manusia pasti mendapatkan apa yang dia pilih.

“Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna. Pribadi yang saat berbaur mampu menyemangati, menginspirasi, memotivasi, dan jauh lebih baik lagi di kala kita sendiri.” lanjutnya seraya menepuk pundakku. Aku tertunduk mengamini.

Muhammad Fathan Mubina
Hamasah 2011

0 comments:

Posting Komentar