Selasa, 17 April 2012

Ia Tidak Mati.. Ia Hidup Dalam Karyanya yang Abadi..

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (QS Al-Ankabut : 57)



Mentari hari ini tampak tengah bersembunyi di balik gagahnya awan yang agak kelabu. Entah apa maksudnya. Apakah ia tengah malu, ataukah alam tengah ingin menunjukkan kesedihannya. Tapi yang pasti, hari ini tidak begitu cerah. Tidak seperti Depok pada hari biasanya dengan semangat mentari yang menyengat serta gelora langit yang cerah.

Baru saja beberapa hari yang lalu masyarakat FISIP dilanda kesedihan. Duka yang mendalam karena salah satu insan pengajar terbaiknya tiada. Ibu Suwantji Sisworahardjo, salah satu dosen terbaik dan pendiri jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di FISIP UI, menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya. Memang saya tidak sempat menggali ilmu dari beliau. Saya tidak sempat menjadi mahasiswanya di kelas. Tapi beberapa kisah tentang beliau sudah sempat saya dengar.


Di umurnya yang tidak lagi muda, dedikasi beliau tidak berkurang terhadap dunia pendidikan di Indonesia, salah satunya melalui FISIP ini. Beliau, dengan raga yang sudah tak sekuat dulu lagi dan pakaian berjilbabnya yang sederhana, harus selalu berdesak-desakan dari rumahnya yang tidak dekat hingga ke kampus. Sekali lagi, seluruh warga FISIP berduka. Saya hanya mampu membayangkan parasnya yang belum pernah saya lihat, seraya berdo’a untuk kebaikannya di sisi Rabb-nya.

Hari ini, dua hari setelah kabar mengenai beliau tersebar di seluruh media di dunia maya khususnya, langit Depok tampak mendung. Tepatnya setelah menyelesaikan kelas Statistika Sosial, handphone yang ada di dalam saku celana bergetar. Sebuah SMS masuk, dari nomor yang tidak dikenal. Saya menyempatkan waktu sejenak untuk membaca SMS tersebut sebelum masuk ke dalam mushala untuk shalat Dzuhur.

Innalillahi.. Telah berpulang guru kesenian kita Asep Hilman Yahya.. Allahummaghfirlahuu, warhamhuu, waafihi wa’fuanhuu..

Saya berhenti melangkah. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un..

Bapak Asep Hilman Yahya adalah guru saya. Sejatinya, tidak hanya berhenti ketika beliau memutuskan untuk keluar dari SMA Al-Muttaqin ketika saya. Banyak hal berharga yang saya dapatkan dari beliau. Tidak sebatas tentang Kesenian yang menjadi mata ajar beliau di sekolah. Lebih dari itu, beliau adalah gudang hikmah bagi saya. Sosoknya saya kenal sebagai seorang pribadi yang sabar, alim, serta penuh makna. Ketika ingin membagi hikmah, beliau acapkali tidak langsung ke point nasihatnya. Ramah, dan tentu saja sangat berdedikasi bagi pendidikan Islam.

Satu hal yang pasti, selama SMA Al-Muttaqin masih berdiri tegak di muka bumi dengan segala nilai-nilanya, semangat yang beliau dedikasikan akan selalu menyala di dalam nasyid Mars Al-Muttaqin dan Hymne Al-Muttaqin yang selalu didendangkan di setiap apel senin pagi. Ya, dua karya beliau tersebut sangat berkesan. Sangat indah.

Rangkaian kejadian belakangan ini membuat saya semakin ingat tentang kematian. Ya, ajal memang sangat dekat. Terkadang ia bisa datang dengan tiba-tiba. Terkadang ia hadir ketika insan benar-benar tidak siap untuk menghadapinya. Ia memang harus selalu dipersiapkan. Sehingga ketika ia datang dan mendekat kepada kita, kita sudah siap dengan segala amalan kita. Kita sudah mempersiapkan hidup kita, akan seperti apa kita dikenang ketika kita meninggal.

Dosen saya, Ibu Suwantji, sudah menggoreskan tinta kontribusinya bagi lingkungannya. Ia, akan selalu dikenang dengan ilmu yang telah dia tebarkan. Dengan manfaat yang telah ia sebarkan bagi semesta. Setidaknya, namanya akan selalu disebutkan selama Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP masih berdiri tegak di Universitas Indonesia. Dan guru saya yang baik, Bapak Asep, sudah menggoreskan kenangan indahnya bersama SMA Al-Muttaqin. Semangat yang ia tanamkan melalui lagu-lagu yang menjadi spirit bagi siswa di SMA Al-Muttaqin akan menjadi goresan amalan tersendiri baginya. Dan setidaknya, namanya akan tertera abadi sebagai pencipta semangat melalui dua nasyid penuh cinta, Mars dan Hymne Al-Muttaqin. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan alumni ke depannya akan menanamkan nilai dari nasyid tersebut di dalam hatinya.

Disini, di SMA kita..

Membina diri dengan taqwa..
Dengan Ilmu dan Amal, dengan Akhlak mulia..
Agar hidup lebih bermakna..
Karena Ilmu adalah pelita..
Lentera di dalam gulita..
Belajar bagi kita menjadi kewajiban..
Tuk menggapai keridhoanNya..
Luruskan niat, tatap masa depan..
Kita generasi Ulul Albab… Jayalah, jaya.. Sekolah kita..
Al-Muttaqin Tasikmalaya…
-Hymne Al-Muttaqin, karya Guru saya yang luar biasa-

Selamat jalan, Bu Suwantji. Semoga semangatmu menjalar dan mampu melahirkan sosok-sosok berdedikasi sepertimu di masa depan. Selamat jalan, Pak Asep. Entah bagaimana, tapi yang pasti saya akan memiliki rasa yang berbeda setiap kali mendengar atau menyanyikan nasyid indah ciptaanmu itu.

Saya gemetar. Seperti apakah saya akan dikenang, ketika ajal menemui saya pada suatu hari nanti? Apakah engkau juga, kawan?

0 comments:

Posting Komentar