Sabtu, 07 April 2012

Laporan Kegiatan BSCYP 2012 di Bangkok :D


Ini laporan perjalanan selama di Bangkok versi resminya. Versi timeline yang disetor ke Pemda DKI. Jadi agak-agak formal gimana gitu.. Hehehe..
Tapi cukup menarik kok.. :D
Yang versi point-point menariknya nyusul yaa.. Sementara, check this out dulu deh guys! Hehehe..




Laporan Kegiatan
Bangkok Sister City Youth Program 2012
Bangkok, Thailand

oleh Muhammad Fathan Mubina,
Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia
1106006631
Pendahuluan

Sebagai sebuah ibukota, nama Bangkok sudah sangat melekat erat dengan nama Thailand. Bangkok, sebagaimana Thailand, adalah sebuah tempat yang sangat terkenal dengan Negeri Seribu Candi dan Negeri Gajah Putih. Dua hal yang memang sangat mudah dapat kita temui di Bangkok. Namun daya tarik Bangkok tidak berhenti pada dua hal tersebut. Ada banyak daya tarik lainnya yang dapat kita temui di Bangkok. Lebih dari sekedar candi dan gajah.

Kegiatan Bangkok Sister City Youth Program, selanjutnya disebut BSCYP, adalah sebuah kegiatan yang salah satunya mencoba menelusuri daya tarik besar lainnya selain dua aspek yang memang sudah sangat dikenal dari kota Bangkok itu sendiri. BSCYP adalah sebuah program yang diadakan Pemerintahan Kota Bangkok yang turut mengundang Kota-kota yang terdaftar aktif sebagai Sister City dari Kota Bangkok itu sendiri. Adapun kota-kota tersebut adalah Jakarta, Singapura, Fukuoka, Washington DC, Vientiane, Hanoi, Beijing, Chaozhou, Chongqing, Busan, dan Incheon.

Sebanyak empat orang mahasiswa dari Jakarta, sebagaimana kota-kota lainnya, diundang oleh Pemerintahan Kota Bangkok untuk mengikuti kegiatan BSCYP ini. Adalah saya (Universitas Indonesia), Joko (Universitas Al-Azhar), Yuliza (Universitas Sahid), dan Luthy (Universitas Negeri Jakarta) yang mewakili kota Jakarta untuk mengikuti kegiatan ini. Kami didampingi oleh Bapak Suhartono dari perwakilan Pemda DKI Jakarta dalam rangkaian kegiatan ini.

Selama tujuh hari, peserta yang merupakan perwakilan dari masing-masing kota mengikuti rangkaian kegiatan dalam BSCYP ini. Berikut merupakan laporan kegiatan yang saya ikuti sebagai salah satu peserta perwakilan Kota Jakarta, Indonesia dalam kegiatan BSCYP ini.



Hari Pertama – Kamis, 29 Maret 2012
Hari Kamis yang cerah tersebut menjadi hari pertama kami menginjakkan kaki-kaki kami di tanah Kota Bangkok. Pertama kali keluar dari pintu pesawat, kami langsung disambut hangat oleh panitia-panitia mahasiswa yang memakai pakaian seragam panitia serta menggenggam papan bertuliskan Bangkok Sister City Youth Program.

Entah karena faktor homesick atau entah karena memang sangat mirip, ketika kami keluar dari bandara melewati ruas-ruas jalan tol di Bangkok, kami merasa seperti tengah berada di ruas-ruas jalan tol yang ada di Kota Jakarta. Kondisi jalan serta pemandangan gedung-gedung bertingkat yang disuguhi di sekitar jalan tol membuat kami benar-benar merasa seperti tengah berada di Jakarta. Hanya saja memang, beberapa tulisan yang tersaji di papan-papan iklan membuat kami sadar bahwa kami tidak berada di Indonesia. Tulisan-tulisan tersebut menggunakan huruf Thailand yang memang sangat berbeda dengan Indonesia.

Kurang lebih sekitar 45 menit perjalanan dari Bandara Suvarnabhumi menuju ke hotel Siam City, tempat kami akan menetap selama tujuh hari ke depan. Sepanjang perjalanan kami membanding-bandingkan tempat-tempat yang kami lewati dengan tempat-tempat yang ada di Jakarta. Bahkan kami melihat sebuah kendaraan yang sangat mirip dengan kendaraan khas kota Jakarta, bajaj. Di Thailand, mereka memanggilnya Tuktuk.
 
Gambar 1. Tuktuk, kendaraan khas kota Bangkok yang mirip dengan Bajaj-nya Jakarta.

Kami kemudian mempersiapkan diri kami untuk kemudian mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan pada malam harinya.

Kegiatan pada malam harinya merupakan kegiatan ice breaking yang ditujukan untuk meleburkan kebekuan antarpeserta. Kegiatan tersebut berisi kegiatan-kegiatan ringan seperti games serta perkenalan antara satu peserta dengan peserta yang lainnya. Dalam kegiatan tersebut, peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok yang akan mempersiapkan presentasi di akhir kegiatan dengan beberapa tema tertentu. Adapun tema-tema tersebut adalah Charm, Love, Abundance, Humour, Diversity, Uniqueness, dan Conservation. Saya mendapatkan sebuah tema spesial, yakni Humour.

Setelah ice breaking, kami memiliki kesempatan untuk sedikit berbincang dengan anggota kelompok kami masing-masing. Setiap kelompok memiliki seorang ketua kelompok yang berasal dari Bangkok. Masing-masing kelompok juga memiliki sebuah nama yang unik, yakni nama makanan-makanan khas Thailand. Kelompok saya mendapatkan nama Tom Yam.


Hari Kedua – Jumat, 30 Maret 2012
Kami memiliki beberapa agenda yang tercatat di dalam jadwal kegiatan yang diberikan oleh panitia kepada kami. Di jadwal tertera ada dua tempat yang akan kami kunjungi hari ini, yakni Grand Palace serta tempat Gubernur Bangkok. Kami berangkat dari hotel setelah sarapan, sekitar jam sembilan pagi waktu setempat.
Grand Palace adalah sebuah tempat yang tadinya merupakan pusat pemerintahan yang dibangun semenjak Bangkok berubah menjadi Ibukota Thailand pada tahun 1782.  Namun kemudian, tempat ini tidak digunakan lagi sebagai tempat tinggal Kerajaan. Tempat ini, hingga hari ini, digunakan sebagai sebuah tempat untuk pertunjukkan upacara-upacara tradisional Thailand.

Gambar 2. Grand Palace tampak dari luar

Jika diamati, bangunan Grand Palace ini terdiri dari bangunan dengan tipe arsitektur tradisional Thailand serta tipe arsitektur tua dari Barat. Ada empat sektor yang ada dalam komplek Grand Palace ini, yakni sektor luar, sektor tengah, sektor dalam, serta sektor Wat Phra Sri Rattanasadsadaram yang memiliki sebuah tempat peribadatan umat Budha sebagai pusatnya.

Sebagai salah satu tempat yang dihormati di Kota Bangkok, jika anda ingin masuk ke tempat ini anda harus memenuhi beberapa ketentuan. Diantaranya adalah anda harus berpakaian rapi serta sopan yakni tidak mengenakan baju kaos tanpa lengan, serta mengenakan bawahan yang menutupi sampai ke lutut. Masyarakat Thailand sangat menghormati tempat-tempat agung seperti ini sehingga aturan tersebut benar-benar harus diikuti jika kita ingin mengunjungi lokasi-lokasi serupa di Thailand.


Gambar 3. Paduan arsitektur bergaya Thailand dan Barat di Grand Palace

Grand Palace terletak di tengah kota Bangkok, tepatnya di Jalan Na Phralan. Keberadaannya sangat menarik perhatian karena tempatnya yang besar serta warnanya yang cerah. Terlebih letaknya berada di tengah kota. Grand Palace merupakan sebuah tempat wisata bersejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi.

Setelah dari Grand Palace, rombongan kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang serta mengunjungi tempat Gubernur Bangkok. Sembari menanti kehadiran Gubernur Bangkok, kami membuat sebuah buku dengan bentuk tiga dimensi untuk orang buta. Buku-buku tersebut dibuat dari kalender duduk bekas yang sudah tidak dipakai. Kegiatan ini dibina oleh salah seorang anggota dari yayasan School for the Blind yang ada di Bangkok. Kami mengikuti kegiatan ini dengan semangat. Disini kami belajar bahwa apa yang kami anggap sudah tidak berguna, ternyata dapat berarti besar bagi orang-orang yang membutuhkannya ketika dapat kita olah dengan sedemikian rupa.

Sekitar satu jam lebih kami mencoba menghasilkan karya dari kalender bekas tersebut. Kegiatan kami kemudian tertunda dengan kedatangan Gubernur Bangkok tersebut. Mr. Sukhumbhand Paribatra, Gubernur aktif Bangkok saat ini, memberikan sambutan serta respon positifnya terhadap kegiatan BSCYP 2012 ini. Beliau menjelaskan bahwa tahun 2012 ini merupakan tahun keempat penyelenggaraan kegiatan yang serupa. BSCYP dimulai pada tahun 2009 dan berlanjut hingga tahun 2012 ini. Selain sarana untuk mengenal Bangkok lebih jauh, kegiatan ini juga dapat digunakan sebagai sarana pertukaran budaya antarkota yang menjadi Sister City dari Bangkok juga sebagai sarana pembuka relasi internasional bagi para pemuda.
Gambar 4. Foto Delegasi Jakarta bersama dengan Gubernur Bangkok



Hari Ketiga – Sabtu, 31 Maret 2012
Pada hari ketiga ini kami memiliki agenda spesial untuk berkunjung ke luar Provinisi. Bukan sembarang provinsi yang akan kami kunjungi hari ini, melainkan sebuah provinsi yang sangat bersejarah bagi Thailand. Ya, provinisi yang akan kami kunjungi pada hari ini adalah Provinsi Ayutthayya, yang merupakan Ibukota Negara Thailand sebelum tahun 1782. Provinsi ini terkenal dengan candinya yang sangat banyak. Bertebar di setiap sudutnya. Dan titik-titik yang akan kami kunjungi pada hari ini, kebanyakan merupakan candi.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Wat yai chamongkon. Tempat ini merupakan sekumpulan candi yang hampir tidak berbeda jauh dengan candi-candi yang bertebaran di Thailand. Pagoda utama dari titik ini memiliki 60 anak tangga sehingga pemandangan cukup indah akan kita dapatkan ketika tiba di puncak pagoda.
Gambar 5. Pemandangan dari puncak Pagoda di Wat Yai Chamongkhon

Selanjutnya kami mengunjungi Wat Mahathat yang terletak tidak terlampau jauh dari lokasi yang pertama. Di lokasi ini, salah satu situs utamanya adalah sebuah pohon dengan pahatan berwajah Budha di bawahnya.
Gambar 6. Pohon Lompoo dengan Pahatan Wajah Budha di bawahnya.

Kemudian kami mengunjungi sebuah Museum besar bernama Bangsai Arts and Crafts Centre. Museum ini merupakan museum kesenian tradisional Thailand yang sangat mengagumkan. Museum ini merupakan museum yang didukung oleh Ratu Thailand, Ratu Sirikit. Komplek Bangsai ini terdiri dari beberapa sektor. Sektor utama yang saya kunjungi adalah bangunan bernama Sala Pra Ming Kwan. Bangunan ini merupakan bangunan utama yang memiliki banyak koleksi Arts and Crafts asli Thailand. Di antaranya pahatan intan, pahatan kayu, lukisan kanvas, lipatan kertas, serta lukisan keramik.

Gambar 7. Beberapa karya yang dipamerkan di Museum Bangsai Arts and Crats Centre.

Hari Keempat – Minggu, 1 April 2012
Pada hari Minggu yang cerah ini kami memiliki beberapa agenda kelompok. Masing-masing dari kami dibagi berdasarkan kelompok kami. Lalu kelompok kami berjalan masing-masing dengan tujuan serta lokasi yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Kelompok saya, Tom Yam, mengunjungi Taman Kota. Taman Kota ini terletak di pinggir Sungai Chao Phraya, sungai utama di kota Bangkok. Dari taman ini saya dapat melihat salah satu jembatan utama di Bangkok, Rama 8 Bridge. Jembatan itu seperti perpaduan antara jembatan Ampera Palembang dengan Tugu Monas Jakarta. Jembatan itu memiliki puncak emas berbentuk api sebagaimana puncak emas yang ada di tugu Monas Jakarta.

Perjalanan kami lalu berlanjut ke Museum Nasional. Di museum tersebut dapat terlihat beberapa karya dari Thailand, beberapa merupakan karya abstrak populer. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Thammasat University, salah satu Universitas ternama di Bangkok. Kebanyakan panitia dari BSCYP ini berasal dari Universitas ini.

Setelah dari Thammasat University, kami beranjak menuju ke Youth Center. Youth Center adalah sebuah yayasan kepemudaan yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi yang ada di Thailand. Di tempat tersebut, kami belajar banyak hal tentang kultur Thailand. Di antaranya kami belajar tentang Thai Boxing, mengenakan baju tradisional Thailand, membuat salah satu makanan khas Thailand, tarian tradisional Thailand, serta Musik Tradisional Thailand.

Gambar 8. Baju Tradisional Thailand yang ada di Youth Center

Setelah mendapatkan banyak hal dari Youth Center, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Siam Niramit. Siam Niramit merupakan sebuah sebuah pentas berkelas dunia yang menampilkan sejarah serta keyakinan masyarakat Thailand. Siam Niramit tercatat di Guiness Book World Record sebagai pentas dengan panggung yang paling tinggi sedunia. Dalam panggung tersebut mereka dapat memasukkan Gajah asli, kapal, bahkan terdapat sungai buatan di panggungnya. Mereka juga menggunakan efek terbang dan asap yang total. Tidak heran, tiket masuk ke pentas ini mencapai ratusan ribu rupiah.

Jika diamati, pentas tersebut terdiri dari tiga sesi. Pada sesi pertama, mereka menggambarkan tentang sejarah kerajaan Thaiand semenjak zaman Rama I. Disana digambarkan pengaruh kebudayaan di Thailand yang dipengaruhi oleh agama Budha, kondisi geografis Thailand, serta pengaruh dari masyarakat Cina yang datang ke Thailand untuk berdagang. Disana juga digambarkan keadaan Ibukota Ayutthaya serta masyarakatnya. Kebanyakan mereka bekerja sebagai petani serta berternak.

Sesi kedua menggambarkan kepercayaan masyarakat Thailand tentang hal-hal yang mistis. Disana digambarkan keadaan neraka sesuai dengan kepercayaan masyarakat Thailand. Orang-orang yang masuk ke neraka akan memiliki perut yang buncit serta wajah yang menderita. Mereka satu persatu dimasukkan ke dalam tungku yang dibakar dengan api yang menyala-nyala. Kemudian dimasukkan bola-bola api melalui mulutnya sehingga perutnya terbakar. Selain neraka, mereka menggambarkan kehidupan di syurga juga berdasarkan kepercayaan mereka. Digambarkan, syurga terletak di atas awan. Mereka hidup dengan nyaman serta penuh dengan nyanyian. Selain syurga dan neraka, mereka percaya tentang satu tempat berupa hutan dimana makhluk-makhluk gaib tinggal disana. Tempat tersebut dinamakan Himapaan Mystical Forest.

Sesi terakhir menggambarkan tentang Joyous Festival, sebuah festival masyarakat yang rutin diadakan untuk menghormati Raja. Mereka mengambil salah seorang penonton untuk turut bermain angklung bersama mereka dalam salah satu sesinya. Festival menarik tersebut kemudian menjadi penutup pentas.
 
Gambar 9. Beberapa foto yang diambil di Siam Niramit. Kamera tidak boleh dibawa kedalam pentas.
 
Hari Kelima – Senin, 2 April 2012
Pada hari ini kami memiliki beberapa agenda kunjungan. Kunjungan pertama adalah ke Yayasan School for the Blind yang ada di Bangkok untuk memberikan buku-buku dari kalender yang telah kami buat sebelumnya. Yayasan yang terletak di tengah kota tersebut tampak cukup megah dengan beberapa gedungnya. Disana kami bertemu dengan pembesar yayasan serta salah seorang guru senior yang juga buta. Guru tersebut telah mengajar selama puluhan tahun.

Usai dari yayasan tersebut, kami beranjak menuju Baiyoke Sky Hotel. Hotel tersebut merupakan puncak tertinggi yang ada di Bangkok. Terdapat 82 lantai yang ada di hotel tersebut. Dan puncak dari hotel tersebut bergerak memutar sehingga kita dapat melihat seluruh daratan kota Bangkok dari puncaknya. Lantai teratas dari hotel tersebut menjadi tempat wisata dengan beberapa wahana berfoto bersama.

Gambar 10. Beberapa gambar dari Baiyoke Sky Hotel, titik tertinggi di Bangkok.

Usai dari Baiyoke Sky Hotel, kami beranjak menuju ke sungai Chao Phraya, sungai utama di Bangkok untuk mengikuti Canal Tour. Sungai Chao Phraya adalah sungai utama di Bangkok.  Satu hal yang menarik dari Bangkok adalah bahwa sungai telah menjadi salah satu transportasi alternatif yang berjalan dengan baik. Setiap pinggir sungai Chao Phraya telah dirancang sebagai tempat yang enak untuk dipandang, juga siap untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Jadi, perahu sudah seperti angkutan umum yang siap mengantarkan penumpang ke tempat tujuan disertai pemandangan yang indah tentunya.
 Gambar 11. Pemandangan pinggiran-pinggiran Sungai Chao Phraya

Di tengah perjalanan kami turun di sebuah komplek candi bernama Temple of Dawn. Pagoda serta vihara tersebut dibangun oleh King Rama II. Patung dari King Rama II terpahat gagah di depan komplek candi tersebut. Seperti candi-candi yang lainnya, candi ini memiliki fungsi sebagai tempat peribadatan, selain juga tempat wisata. Maka para wisatawan harus mengenakan pakaian yang sopan jika ingin masuk ke tempat ini.

Malam harinya, kami memiliki agenda Culture Night. Kegiatan tersebut adalah malam pentas seni serta kebudayaan dari masing-masing kota. Selain pertunjukan seni dan baju tradisional, kami juga menghidangkan sajian makanan-makanan khas dari kota masing-masing dan juga pameran mainan khas kota masing-masing.

Kami dari Jakarta menampilkan sebuah paduan tarian antara tarian tradisional betawi, dangdut, serta tarian modern. Penampilan kami mendapatkan banyak respon positif dari peserta-peserta dari kota lain. Ketika kami tampil, mereka turut menari bersama kami. Terutama pada bagian tarian dangdut. Sedangkan untuk sajian makanan, kami menyajikan beberapa makanan khas betawi seperti Dodol Betawi, Kembang Seroja, Biji Kenari dan beberapa makanan lainnya. Kami menyajikan klentongan sebagai salah satu mainan tradisional anak-anak betawi.

Malam tersebut menjadi salah satu malam yang paling menarik dalam kegiatan BSCYP ini, karena masing-masing dari kami mengenakan pakaian tradisional kami. Selain itu, kami saling bertukar budaya diiringi dengan canda tawa satu dengan yang lainnya.



Hari Keenam – Selasa, 3 April 2012
Hari ini kami memiliki agenda sesuai dengan grup kami masing-masing. Kami harus menyelesaikan persiapan untuk presentasi pada hari ini, karena kami akan mempresentasikan hal tersebut pada keesokan harinya.
Grup saya, Tom Yam, mengunjungi museum lilin Madame Tussauds. Museum lilin ini adalah tempat replika dari beberapa tokoh terkenal di dunia. Ada tokoh bersejarah, tokoh politis, tokoh seniman dan saintis, tokoh olahraga, tokoh musisi, serta tokoh aktris dan aktor ternama di dunia. Sebut saja Barrack Obama, Ratu Elizabeth, Lady Diana, Mahatma Ghandi, Mao Zedong, Cristiano Ronaldo, David Beckham, Bruce Lee, Shahrukh Khan, Donnie Yen, Michael Jackson hingga Doraemon ada di sana.


Gambar 12. Tokoh-tokoh yang dipamerkan di Museum Madame Tussauds.

Setelah dari Madame Tussauds, kami beranjak menuju salah satu Plaza untuk mengikuti sebuah program bernama Dialogue In the Dark. Kegiatan tersebut merupakan salah satu wahana yang ada di Plaza Bangkok. Selama satu jam, pengunjung akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang buta. Para pengunjung masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap. Tidak ada segores cahayapun masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu setiap rombongan akan dibimbing oleh seseorang di dalam ruangan tersebut untuk masuk ke dalam ruang-ruang yang lain. Ruang-ruang tersebut telah di desain sedemikian rupa sehingga terasa seperti ruang-ruang tertentu. Ada taman, ruang keluarga, pasar swalayan, jalan raya, hingga kafe. Dalam perjalanan itu, kami hanya bisa mendengar dan merasakan bentuk benda-benda yang ada di sekitar kami.

Setelah itu, kami beranjak menuju museum Rattanakosin. Museum ini merupakan museum sejarah yang menggambarkan secara luar biasa sejarah Thailand. Museum ini dilengkapi dengan berbagai teknologi yang luar biasa. Pada mulanya, kami disuguhi timeline sejarah Thailand dan sejarah dunia. Setelah itu, kami masuk ke dalam sebuah ruangan untuk menyaksikan film dokumenter. Di tengah-tengah film, ruangan tersebut bergerak naik, sehingga ketika keluar ruangan kami telah berada di lantai berikutnya.

Banyak hal yang menarik ada di museum ini. Masyarakat Thailand terlihat sangat menghormati dan sangat bangga dengan sejarah mereka. Terbukti dari setiap museum yang saya kunjungi, semuanya memiliki daya tarik tersendiri. Dan semuanya memiliki fasilitas yang luar biasa.
 Gambar 13. Gambar-gambar yang diambil di Museum Rattanakosin.



Hari Ketujuh – Rabu, 4 April 2012
Pada pagi hari ini kami tidak mengadakan kegiatan keluar dari hotel. Kami mempersiapkan bahan-bahan untuk melakukan presentasi. Kami memulai presentasi pada sekitar pukul 9 pagi. Tim saya, Tom Yam, mendapatkan bagian presentasi terakhir. Tema Humour yang kami dapatkan akan menjadi penutup dari beberapa presentasi dari kelompok-kelompok lainnya.

Semenjak pertama kali kami mendapatkan tema tentang Humour, hampir semua dari kami merasa bingung. Aspek ini adalah aspek yang jarang dilihat orang. Aspek yang jarang dikaji, terlebih dipresentasikan oleh orang lain. Hal itu berbeda dengan beberapa aspek lainnya yang memang sudah sangat familiar. Sebut saja daya tarik (Charm). Aspek tersebut sudah barang tentu akan menjadi aspek pertama yang akan dilihat ketika kita mendatangi sebuah tempat.

Saya sendiri, pada awalnya berparadigma bahwa Humour yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah bentuk-bentuk pentas komedi yang ada di Bangkok. Saya membayangkan akan banyak bertemu dengan para komedian Bangkok, serta banyak bertanya kepada mereka tentang Humour yang ada di Bangkok. Namun setelah perjalanan beberapa hari di Bangkok, mau tidak mau saya harus mengubur paradigma tersebut. Karena pada kenyataannya, tidak satupun komedian yang kami temui dan tidak satupun pentas komedi yang kami tonton. Lantas seperti apakah humor?

Kami kemudian berparadigma bahwa ketujuh aspek tersebut, Charm, Love, Abundance, Humour, Diversity, Uniqueness, dan Conservation, merupakan tujuh aspek yang saling berkaitan. Ketujuh aspek tersebut adalah senyum yang kemudian membuat orang akan selalu mengingat Bangkok sebagai tempat yang mengagumkan yang pernah ada di memoar mereka.

Maka humor yang kami sajikan kemudian adalah momen-momen spesial yang mengundang tawa, atau bahkan hanya senyum, yang hanya bisa kami dapatkan di Bangkok. Makanan, misalnya. Tom Yam terkenal sebagai makanan dengan kuah yang mengandung jahe cukup dominan. Kami merekam ekspresi wajah dari salah seorang peserta yang tidak menyukai jahe dan harus melihat Tom Yam ini ada dimana-mana. Kami juga kemudian merekam ekspresinya ketika dia harus memakan Tom Yam ini atas desakan teman-teman lain.

Momen berharga lainnya, misalnya, ketika berada di Pagoda. Tangga Pagoda yang ada di Bangkok terkenal sangat curam. Sangat sulit untuk dinaiki dengan gaya menaiki tangga yang normal. Kami kemudian banyak mengambil foto dari orang-orang yang mencoba menaiki tangga Pagoda dan orang-orang yang mencoba turun dari Pagoda tersebut. Tertangkap oleh kami beberapa foto orang-orang dengan wajah cemas dan gaya yang beragam rupanya mencoba turun dan naik tangga. Dan itu hanya bisa kami dapatkan di Bangkok.

Serta satu tangkapan lainnya adalah senyum dan tawa dari para peserta BSCYP 2012. Senyum mereka, canda mereka, tawa mereka, suara-suara dengan bahasa yang berbeda-beda, atau mencoba menggunakan Bahasa Inggris namun dengan lagam yang berbeda-beda pula, hal-hal tersebut merupakan salah satu bagian dari Humour yang kemudian kami persembahkan. Kebersamaan tersebut tentu tidak akan kita dapatkan, kecuali dalam kegiatan BSCYP 2012 ini. Hanya akan kami dapatkan di Bangkok.

Usai presentasi singkat dari masing-masing kelompok sesuai dengan tema yang telah diberikan, kami tiba di saat yang sangat-sangat dinantikan. Ya, kami tiba di saat belanja. Kami mengunjungi daerah Siam Square untuk mendapatkan kenang-kenangan Bangkok yang akan kami bawa ke rumah, selain dari kisah-kisah luar biasa selama satu pekan ini.

Malam harinya kemudian adalah malam yang sangat menyedihkan. Kami harus berpisah, dan kegiatan BSCYP 2012 ini harus berakhir. Malam hari itu adalah Farewell Party BSCYP 2012. Satu hal yang sangat berharga, adalah tentang persahabatan. Wajah-wajah gembira tersebut membawa cinta. Air mata yang bergelinangan pada malam hari itu membawa kenangan. Bahwa sebuah kisah telah terukir di Bangkok selama satu pekan. Bahwa kisah tersebut menjadi gerbang pembuka persahabatan yang tak terhalang oleh perbedaan wilayah. Bahwa Bangkok, telah memberikan satu kesan tersendiri di setiap benak yang hadir pada malam hari itu.



Penutupan
Kegiatan Bangkok Sister City Youth Program 2012 telah berakhir. Satu pekan di Bangkok membawa banyak kisah untuk Indonesia. Satu hal yang dapat saya temukan adalah bahwa Bangkok dan Jakarta merupakan Sister City yang sangat mirip. Ya, Bangkok membawa banyak kemiripan dengan Jakarta. Sebagaimana Jakarta, memiliki banyak sekali kemiripan dengan Bangkok.

Dari segi kompleksitas masyarakat, potensi, hingga dari segi permasalahannya. Bangkok bukan tanpa masalah. Satu pekan di sana, saya melihat ada dua permasalahan yang sangat terlihat ada di Bangkok. Dan uniknya, masalah tersebut juga saya rasa Jakarta mengalaminya. Pertama, kemacetan. Selanjutnya adalah polusi. Kedua masalah tersebut sangat saya rasakan selama satu pekan berada di Bangkok.

Namun, harus diakui, bahwa Bangkok berada satu langkah lebih maju ketimbang Jakarta. Banyak hal yang membuat saya kagum terhadap Bangkok. Salah satunya adalah kedisiplinan mereka dan ketaatan mereka terhadap keyakinan yang mereka pegang. Mereka sangat menghormati Raja. Mereka juga sangat menghormati dan mengapresiasi sejarah mereka yang luar biasa. Sehingga dapat kita katakan bahwa sebagian besar objek wisata yang ada di Bangkok adalah objek sejarah dan peribadatan. Objek sejarah dan peribadatan yang mereka miliki benar-benar mereka fasilitasi dengan optimal. Dan hal itu bukan tidak mungkin bisa Jakarta lakukan.

Akhirnya, perjalanan selama satu pekan tersebut memang sudah berakhir. Namun kisah yang saya, dan teman-teman lainnya, ukir dan hikmah yang kami dapatkan akan selalu tertanam di dalam hati kami. Dan jauh dalam lubuk hati kami, kami berharap semoga kisah-kisah dan hikmah-hikmah tersebut dapat terus tertanam dan hidup sehingga pada kemudian hari akan menjadi manfaat yang besar bagi Jakarta, tempat kami berjuang dan memberi manfaat hingga hari kelak. Amin.


1 comments:

Shofiyatun mengatakan...

Subhanallah ya..
jd pengen ke sana :D

blh tau ga, knp di sebut Sister City? knp ga di gabung dgn brother? hihi

Posting Komentar