Minggu, 26 Agustus 2012

Dakwah Kampus


Memetik Saripati Cinta, Dakwah pada Era Rasulullah SAW dan Setelahnya

Manusia itu bukan siapa-siapa awalnya. Dia adalah seorang yatim piatu semenjak umurnya yang baru menginjak tahun keenam. Keturunannya memang baik. Dia adalah cucu dari seorang pemimpin Mekkah, seorang penjaga Ka’bah. Ayah dan Bundanya adalah orang terhormat yang merupakan pasangan paling tampan dan cantik di eranya. Tapi, manusia itu bukan siapa-siapa awalnya. Ayahnya meninggal ketika dia masih dalam kandungan Ibundanya tercinta. Menginjak umur keenam, Ibundanya tercinta meninggalkannya. Tak lama kemudian, kakeknya yang menyusul anak serta menantunya meninggal dunia. Dia bukan siapa-siapa awalnya. Ya, dia hanya seorang yatim piatu.

Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang dengan pribadi yang mempesona. Dalam usia yang sangat muda, dia telah mendapatkan beragam pengalaman kehidupan yang memupuk kebijaksanaan. Menggembala, berniaga, hingga militer. Usianya masih belasan tahun. Ya, dia menjadi ‘seseorang’ di usianya yang masih belasan tahun. Di usianya yang menginjak tahun ke dua puluh lima, sekali lagi dia menjadi pusat pandangan masyarakat kota ketika menikahi salah seorang perempuan terhormat di kotanya.  Perempuan bersahaja yang menjadi incaran para pemuda terhormat di kotanya. Semakin berjalan beriringan dengan waktu, tingkat kebijaksanaannya diakui oleh seluruh masyarakat kota. Bahkan Al-Amin, orang yang dapat dipercaya, adalah julukan terhormat yang diselendangkan kepadanya.

Dia. Ya, dia. Kita semua tentu sudah tidak asing lagi dengan kisah tersebut. Dan sudah tentu, kita semua tak akan asing lagi mendengar namanya. Bahkan kita menyebutkan namanya, serta mendo’akannya setiap hari. Ya, dialah imam para mujahid, Rasulullah Muhammad SAW. Dialah sosok yang senantiasa kita rindukan, senantiasa kita do’akan.

Perjalanan dakwahnya tidak panjang. Hanya dua puluh tiga tahun setelah wahyu pertama turun. Tapi perjalanan kebijaksanaannya sangatlah luar biasa. Empat puluh tahun, Rasulullah SAW membangun kualitas diri. Empat puluh tahun, usianya ketika wahyu pertama turun dari langit. Ketika perintah membaca dideklarasikan sebagai perintah pertama dari langit. Empat puluh tahun usianya, ketika akhirnya semua pertanyaan batinnya terjawab oleh kalam Illahi.

Dalam perjalanan tersebut tentu kita mendapatkan satu nilai besar : kualitas diri. Ya, seorang da’i ialah seorang dengan tugas yang paling mulia. Menyeru manusia kepada jalan Allah SWT. Maka hal yang menjadi sangat penting adalah menjaga kualitas diri serta terus mengembangkannya. Kualitas diri tersebut diiringi dengan pribadi yang mempesona. Seorang yang akan menjadi ujung tombak bagi dakwah ini adalah mereka yang memupuk kualitas diri dan terus menyiramnya dengan telaga air kebijaksanaan hingga terlahir pribadi yang mempesona.

Berada dalam binaan langit, tidak berarti segala permasalahan hilang. Wibawa dan kehormatan yang terbentuk selama empat puluh tahun sebelum ayat pertama turun ke bumi tiba-tiba lenyap begitu saja dengan ucapan ‘Muhammad sudah gila!’, yang tak lain dilontarkan oleh pamannya sendiri, Abu Jahal. Meskipun berada dalam bimbingan cahaya dari langit, jalan dakwah memang selalu seperti itu.

Perjalanan dakwah, sekali lagi, memang seperti itu. Hatta sebuah perjalanan yang dipimpin oleh manusia terbaik di dunia, sunnatullahnya memang seperti itu. Ia adalah jalan yang panjang, jalan yang tajam nan berliku, penuh aral melintang. Dan ia, adalah jalan yang hanya diambil oleh sedikit orang saja. Satu nilai yang harus tertanam adalah nilai kesabaran. Tidak akan risalah Islam sampai ke benak kita semua di hari ini, jika ribuan tahun yang lalu Rasulullah membunuh orang yang mengotori punggungnya dengan kotoran unta ketika beliau shalat, jika beliau berdo’a agar masyarakat Thaif yang melemparinya dengan batu ditimpakan gunung, atau jika beliau langsung depresi ketika Paman Khadijah memberitahu bahwa seluruh masyarakat Mekkah akan memusuhinya. Beliau sangat yakin, ketika itu, bahwa Allah akan menolongnya dalam perjalanan ini. Dan beliau sangat yakin, ketika itu, bahwa jannahNya adalah tempat peristirahatan yang paling sempurna.

Wafatnya beliau setelah sempurna ad-Diin dari langit ini membawa duka. Tapi perjalanan dakwah bukanlah sebuah one man show. Dakwah harus tetap berlanjut, meski tulang punggung dakwah telah meninggal. Dakwah berjalan dalam sistem yang kamil, bukan dalam penyosokan atas satu sosok tertentu. Rasulullah SAW menyadari hal tersebut dengan baik. Karena itulah Islam dapat hinggap di hati kita, yang hidup ribuan tahun setelah wafatnya beliau.

Sistem. Ya. Seorang da’i yang baik tidaklah sekedar da’i yang kehadirannya dirindukan, membawa pengaruh besar, serta dapat melakukan kerja-kerja dakwah dengan baik. Lebih dari itu, dalam konteks kepemimpinan, da’i yang visioner adalah mereka yang dapat bekerja dalam jama’ah untuk menghasilkan sistem yang dapat bertahan lama di tanah-tanah tempat ia berpijak dan memupuk nilai. Sehingga nilai-nilai tersebut tidak mati, sepeninggalannya.

Di kampus ini, dakwah berjalan dengan demikian uniknya. Ia tidak bisa dibilang dakwah kecil, namun tidak juga terlalu besar jika dibandingkan dengan dakwah pascakampus. Ia dipenuhi dengan idealisme dan beragam pemikiran. Perang yang dihadapi, perang pemikiran. Karena itulah Dakwah Kampus bukanlah hal yang remeh temeh. Meskipun akan menjadi lebih sederhana juga ketika dibandingkan dengan dakwah pada tingkatan selanjutnya, pascakampus.

Berjuang di dakwah kampus tidaklah ringan, namun tidak terlampau berat juga. Tapi sebagaimana tabiat dan sifat dakwah, ia membutuhkan kesabaran serta keikhlasan dari da’inya untuk menebarkan seruan cinta dari langit tersebut. Pembangunan kualitas dan kapasitas diri ketika dia menjadi seorang da’i sangatlah penting. Di era ini, seorang yang memiliki kapasitas diri yang tinggi akan sangat dihormati dan disegani. Bahkan kehadirannya memberi inspirasi. Terlebih di dunia kampus ini.

Selain itu, penciptaan karakter Islami juga penting untuk ditanamkan di benak para aktivis dakwah kampus. Karakter yang tegas. Yang mampu menunjukkan yang benar adalah benar, sedang kesalahan adalah tetap menjadi salah. Namun juga karakter yang berpengaruh. Yang mampu membawa kebenaran dan membubarkan kemaksiatan dengan hal-hal yang efektif berpengaruh terhadap perubahan umat. Karakter yang siap dengan segala keringat dan air mata yang tertumpah di jalan dakwah. Serta karakter yang sangat merindukan syurga dan siap berjuang untuk menjadi penghuninya.

Selain permasalahan pribadi seorang da’i, Dakwah Kampus juga mesti memperhatikan jama’ah. Salah satunya adalah permasalahan sistem yang tidak terikat terhadap satu sosok tertentu. Sehingga ketika sosok tersebut menghilang, dakwah tetap berjalan dengan sistem yang menyeluruh dan efektif.

0 comments:

Posting Komentar