Rabu, 15 Agustus 2012

Dalam Dekapan Ukhuwah


Salim A. Fillah



Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang salig mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita : sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji. (Prolog : Dua Telaga, Hal 13)
Buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini adalah salah satu buku Salim A. Fillah yang populer. Sekali lagi, sebagaimana buku-buku sebelumnya, Ustadz Salim berhasil memadukan kisah-kisah dan sirah-sirah dengan hikmah yang mampu menyentuh hati siapapun yang membacanya dengan hati tanpa belenggu emosi. Di buku ini, demikian ucap Salim dalam prolognya, kita ingin meninggalkan bayang-bayang Narcissus. Kita ingin kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaba cinta. Dari Narcissus yang dongeng, kita menuju Muhammad yang menyejarah. Pribadi semacam Nabi ini yang akan menjadi telaga pembelajara kita. Pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, serta penyampai kebenaran.

Inti penyampaian dalam buku ini adalah tentang cinta. Tentang ukhuwah. Tentang bagaimana Islam yang begitu sempurna mengisyaratkan tentang kekuatan ukhuwah. Tentang nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada hati-hati yang saling berikatan dan saling mencintai karenaNya.

Dalam buku ini Ustadz Salim A. Fillah menggambarkan anugerah Allah bernama ukhuwah itu secara tersirat dalam paduan kisah, sirah, dengan hikmah yang menyegarkan dahaga intelektualitas jiwa seorang muslim. Semua itu dialirkan dengan tatanan bahasa yang  mempesona. Pilihan diksi yang sangat tepat serta menyentuh. Buku ini adalah kebenaran yang dipadu dengan karya sastra hingga menyuarakan keindahan Islam.

Dalam buku ini, Ustadz Salim memilah bahasan besar tentang ukhuwah menjadi beberapa bab dengan judul-judul yang sangat menggugah. Ambil Cintamu di Langit, Tebarkan di Bumi adalah bab pertamanya. Di bab ini beliau membagi lagi menjadi beberapa judul tulisan. Bab ini menjelaskan tentang  apa itu ukhuwah serta bagaimana kedudukannya di dalam Islam sebagai suatu risalah penuh cinta. Bab-bab selanjutnya berjudul Tanah Gersang, Sebening Prasangka, Selembut Nurani, Sehangat Semangat, Senikmat Berbagi, Sekokoh Janji, serta ditutup oleh epilog Gelap, Tapi Hangat.

Agak sulit membuat outline rangkuman dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini. Ustadz Salim A. Fillah menjamu para pembaca dengan arahan tulisan yang memutar, tidak sesederhana langsung pada nilai besar yang tertanam. Setelah membaca buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini, pembaca akan merasakan sebuah kenikmatan bernama ukhuwah yang mungkin tidak dia sadari. Atau bahkan mungkin ia akan sangat merindu nikmat bersaudara itu, di kala ia belum memilikinya saat membaca buku ini.

Dalam bab Tanah Gersang, Ustadz Salim menggambarkan beragam permasalahan jiwa seorang muslim, seorang mukmin, seorang pemimpin, seorang da’i. Dalam salah satu kisah yang diberikan oleh Ustadz Salim, dipaparkan bahwa salah satu permasalahan kecil umat adalah bahwa keadaan jiwa dan iman mereka berdiri sendiri. Ia tidak boleh begitu. Iman tidak berdiri sendiri. Itulah mengapa ketika Abu Dzar Al-Ghifari bertanya kepada Rasulullah apakah beliau akan mengangkatnya menjadi pemimpin atau tidak, Rasul yang mulia itu menjawab “Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, Abu Dzar..”

Bukan lemah iman, tentunya. Siapapun tahu bahwa iman Abu Dzar berdiri tegak sekokoh karang seteguh gunung. Tapi lemah, dalam membina hubungan. Abu Dzar memang terkenal sebagai sosok yang terkenal keras dalam mengucap kebenaran. “Katakanlah kebenaran,” ucapnya pada suatu ketika. “meskipun itu pahit”. Dan sekali lagi iman, ia tidak berdiri sendirian.

Bab berikutnya, Sebening Prasangka, kita mulai masuk kepada salah satu keajaiban bernama ukhuwah. Dalam dekapan ukhuwah, prasangka adalah satu bata cahaya dalam membangun menara ukhuwah. Prasangka adalah modal mutlak yang dibutuhkan dalam dekapan ukhuwah. Prasangka adalah cermin dari baiknya sebuah hubungan ukhuwah. Prasangka menjadi cermin dalam hubungan persaudaraan ini, karena yang tertarik itu menarik. Apa yang kita tarik, memperlihatkan hasil yang tertarik itu sendiri. Prasangka yang bening, akan menghasilkan kebeningan hubungan persaudaran yang direkatkan dalam dekapan ukhuwah.

Bahasan selanjutnya, Selembut Nurani, kita bicara tentang ruh-ruh yang diakrabkan iman. Kita bicara tentang cinta, tentang jiwa yang mendamba naungan Allah SWT dalam mencintai sesamanya. Kita bicara tentang ruh yang saling memahami perbedaan. Ruh yang saling seiringan dalam kesepakatan, dan saling menghormati dalam hal-hal yang tidak disepakati. Tentang keinginan luar biasa untuk saling menasehati. Bukan karena merasa diri sok pintar atau sok lebih baik, tapi keinginan luar biasa yang lahir dari sebuah ketulusan. Dalam dekapan ukhuwah, kerangka selembut nurani menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Sehangat Semangat, menjadi satu bata lainnya dalam menara cahaya ukhuwah ini. Semangat menjadi modal penggerak seorang yang dipersatukan dalam dekapan ukhuwah untuk terus bergerak menuju kebaikan. Semangat untuk saling berlomba dalam kebaikan, bahkan dalam kondisi yang sebenarnya bukan kompetisi. Sebagaimana Umar Radhiyallahu ‘Anhu yang tersengat hangatnya semangat karena Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memiliki amalan yaumiyah yang selalu melebihinya.

Ukhuwah yang sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat kemudian dilengkapi dengan batu cahaya bernama berbagi. Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengetahui persaudaraan yang Senikmat Berbagi. Dalam dekapan ukhuwah, berbagi adalah keajaiban. Berbagi adalah satu pendobrak kepercayaan hati, dimana simpati dapat terbangun.

Bata lain dalam menara cahaya ukhuwah ini adalah ikrar. Kita membangun menara ukhuwah ini Sekokoh Janji. Kita membangun kepercayaan kepada saudara kita, dalam dekapan ukhuwah. Kita menginsyafi perkataan Al-Kindi, bahwa saudara seiman itu adalah dirimu. Hanya saja, dia itu orang lain. Sebab kalian saling percaya, maka kalian adalah satu jiwa. Hanya saja kini sedang hinggap dalam jasad yang berbeda.

Akhir kata, kita dihadapkan dalam sebuah kondisi yang Gelap, Tapi Hangat. Kita tidak dapat melihat dengan pasti seberapa dalam ukhuwah itu tergali. Tapi tak seorangpun dari kita dapat mengelak dari kehangatannya, ketika ia menerpa kulit-kulit perasaan kita. Sebagaimana seorang buta mengatakan kepada kita bahwa matahari itu gelap, kita semua mafhum bahwa kehangatannya tidak dapat dielakkan oleh seorang buta sekalipun.

Muhammad Fathan Mubina

0 comments:

Posting Komentar