Rabu, 15 Agustus 2012

National Leadership Camp !

Awal bulan Juli ini ane mendapatkan sebuah nikmat yang luar biasa. Ane terdaftar sebagai salah seorang santri sekaligus penerima beasiswa Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri. Hanya ada tiga puluh orang di UI yang mendapatkan kesempatan luar biasa ini. Disini, kami akan dibina untuk menjadi pemimpin di masa depan, mengisi pos-pos strategis untuk Indonesia yang lebih baik, dengan selalu menggenggam erat empat jati diri di hati kami : Aktivis Islam, Aktivis Pergerakan, Mahasiswa Berprestasi, dan Menjunjung tinggi nilai-nilai Kebersamaan dan Kekeluargaan.

Pertengahan bulan Juli lalu, ane mendapatkan kesempatan luar biasa lagi dari PPSDMS. Bersama para Ksatria UI, ane mengikuti sebuah rangkaian kegiatan akbar tahunan PPSDMS : NLC atau National Leadership Camp. Dalam acara yang diselenggarakan selama satu pekan ini, ane mendapatkan kurang lebih dua belas materi formal dengan kurang lebih tiga belas pembicara nasional. Insya Allah, kali ini ane akan membagi hikmah yang tersirat dan tersurat dalam dua belas materi luar biasa tentang Indonesia yang lebih baik tersebut.


Transformasi Paradigma Pemimpin Masa Depan
Dr. Arief Munandar, Motivator Nasional


Materi ini adalah materi pertama yang diberikan dalam kegiatan akbar tahunan dari PPSDMS Nurul Fikri, National Leadership Camp 2012. Judul yang diberikan sangat erat dengan hasil yang tercermin setelah materi ini terselesaikan.

Dalam materi ini dijelaskan bahwa PPSDMS Nurul Fikri, semenjak awal dilahirkan hingga hari ini –bahkan hingga seterusnya– adalah sebuah sekolah kepemimpinan. Hanya yang terjadi banyak paradigma yang sedikit bergeser –utamanya terjadi pada peserta yang baru memasuki awal-awal menjadi peserta PPSDMS– yakni bahwa PPSDMS merupakan sekolah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi. Tidak salah, memang. Karena prestasi merupakan salah satu kriteria keberhasilan peserta PPSDMS. Tapi tidak sekedar itu. Yang dilahirkan dari rahim PPSDMS bukanlah sekedar prestasi, CV yang tebal, piala-piala yang besar, atau tumpukan sertifikat yang bergengsi. Tidak sekedar itu, yang dilahirkan dari rahim PPSDMS adalah pemimpin-pemimpin masa depan. Yang dibentuk bukanlah sekedar skill atau kemampuan untuk berprestasi, tapi karakter.

Salah satu paradigma utama dari peserta PPSDMS adalah bahwa setiap peserta PPSDMS adalah Da’i. Dan ketika seseorang menyebut dirinya adalah da’i, maka konsekuensi yang dihasilkan adalah totalitas dalam memberi warna. “Seorang Da’i”, demikian ucap Pak Arief Munandar dengan lantang, “adalah orang dengan impian untuk memberi dan tidak menyisakan apapun bagi dirinya!”, lanjutnya.

Paradigma bahwa setiap peserta PPSDMS adalah seorang muslim, dan ia menyadarinya dengan penuh kesadaran logis, membuat setiap peserta PPSDMS harus menjadi orang-orang terbaik di setiap tanah bumi yang dia pijak. Fakta bahwa Allah memerintahkan umat muslim untuk menjadi umat yang terbaik terlihat jelas pada surah Ali Imran ayat 110 yang menyebutkan : “Kamu sekalian adalah umat terbaik yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan beriman kepada Allah.” Ayat ini, bukanlah ayat motivasi yang diartikan bahwa setiap muslim adalah umat terbaik. Ayat ini samasekali tidak bicara tentang takdir. Tapi, ayat ini berbicara tegas tentang perintah!

Dalam konteks ke-Indonesiaan, salah satu cara menunaikan kewajiban muslim dalam perintah Allah untuk menjadi umat terbaik itu adalah dengan kekuasaan. “Qur’an itu,” ucap Pak Arief Munandar. “…membutuhkan pedang sebagaimana pedang itu membutuhkan Qur’an. Tapi di banyak kesempatan, Qur’an lebih membutuhkan pedang daripada pedang yang membutuhkan Qur’an.” Kita memaknai Qur’an sebagai syari’at Islam, dan pedang sebagai kekuasaan. Maka kita lihat di dunia ini, syari’at membutuhkan kekuasaan untuk membuktikan ke-rahmatan lil ‘alamin-annya. Ia lebih membutuhkan kekuasaan ketimbang kekuasaan membutuhkan syari’at.

Maka akhirnya, setiap peserta PPSDMS adalah mereka yang menyadari tentang perintah untuk menjadi orang-orang terbaik dimanapun dia berada. Mereka adalah orang-orang yang sadar bahwa mereka mengemban tugas untuk menunjukkan keistimewaan Islam, sehingga perintah tersebut dapat tercapai dan pada akhirnya umat muslim benar menjadi umat yang terbaik dengan segala keistimewaannya.

Kepemimpinan Dalam Visi PPSDMS
Drs. Musholi, Ideolog PPSDMS


PPSDMS dilahirkan dengan visi yang terukur, yakni untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman islam yang komprehensif, integritas, dan kredibilitas yang tinggi, berkepribadian matang, moderat, serta peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara. Di awal saja, visi tersebut sudah berbicara tentang kepemimpinan. Mimpi besar PPSDMS adalah tentang pemimpin masa depan. Maka itu, PPSDMS merupakan sebuah sekolah kepemimpinan.

Dalam pandangan visionernya, peserta PPSDMS dipersiapkan untuk menjadi pemimpin setelah dunia pasca-kampus dalam tiga sektor, yakni dalam sektor publik, sektor privat, dan sektor ketiga. Paradigma yang ditanamkan di benak dan jiwa para peserta PPSDMS selama masa pembinaan diharapkan dapat tertransformasikan ketika mereka menjadi sosok-sosok pimpinan di ketiga sektor tersebut. Ketika kita melihat kata berikutnya dari visi PPSDMS, kita akan mendapati kata ‘pemahaman Islam’. Artinya, PPSDMS adalah sebuah sekolah kepemimpinan yang bervisi untuk menyebarkan pemahaman Islam bagi para pemimpin di masa depan.

PPSDMS Nurul Fikri lahir dari banyak inspirasi. Salah satu inspirasi yang hadir dalam kelahiran PPSDMS Nurul Fikri ini adalah dari sistem pembinaan SDM di BPK Penabur serta strategi human development dari serikat Jesuit. Selain itu, untuk mendapatkan para pemimpin yang bersifat transformatif, PPSDMS juga banyak mengambil hikmah dari keberhasilan Islamisasi di Turki pasca-runtuhnya kekhalifahan. Dan tentu saja mimpi besar yang diharapkan terwujudkan adalah Islamisasi Indonesia, dengan cara mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Maka dari segala nilai yang membangun PPSDMS tersebut, PPSDMS menghimpunnya dalam 10 Aspek Pembinaan PPSDMS yang diejawantahkan melalui 20 Kriteria Keberhasilan Peserta PPSDMS. Tentu saja hal tersebut terikat dalam sebuah konsepsi dasar dalam visi PPSDMS serta misinya.

Hal lain, tentang kepemimpinan dalam visi PPSDMS, adalah tentang jama’ah. Konsepsi pembentukan SDM yang strategis yang dilaksanakan oleh PPSDMS ini mengedepankan kekuatan berjama’ah. Bahkan salah satu jati diri dari setiap peserta PPSDMS adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Dalam hal ini, PPSDMS banyak belajar dari implementasi amal jama’i yang diterapkan oleh Uni Eropa. Keberhasilan mereka mempersatukan negara-negara di Eropa menghasilkan entitas negeri-negeri yang superpower di dunia. Maka dengan itu, PPSDMS dengan penuh kesadaran membentuk keterikatan dengan alumni sehingga SDM Strategis yang ditelurkan oleh PPSDMS dapat berada dalam satu ikatan jama’ah dalam visi dan paradigma yang sama tentang Indonesia dan Islam.

Kepemimpinan Profetik
Bachtiar Firdaus, MPP., Ketua BEM UI tahun Reformasi : 1999


Kepemimpinan Profetik adalah kepemimpinan dengan nuansa kenabian. Dalam kepemimpinan Profetik ini, kita mengambil mutiara-mutiara hikmah dari kisah para nabi. Salah satu pertanyaan yang mungkin menggelitik adalah : kenapa semua nabi, tidak hanya Rasulullah Muhammad SAW? Padahal kita meyakini bahwa kehadiran Rasulullah Muhammad SAW melengkapi seluruh kisah para nabi tersebut. Padahal kita mengetahui bahwa pribadi Rasulullah Muhammad SAW adalah pribadi terbaik yang dijadikan qudwah hasanah bagi seluruh umat muslim di dunia.

Jawabannya sederhana. Bahwa kisah para nabi tersebut itu ada dalam Al-Qur’an. Dan dari setiap kisah tersebut, kita dapat mengeruk banyak mutiara yang terpendam hingga akhirnya terbentuk sebuah kepemimpinan yang berasaskan kisah-kisah para nabi tersebut. Dan lagi, setiap nabi itu punya keistimewaan yang berbeda dalam Al-Qur’an. Kisah nabi Yusuf, misalkan. Kisah tersebut didaulat Al-Qur’an sebagai kisah yang paling baik dalam Surah Yusuf ayat ke-3. Bahkan lebih baik dari kisah Nabi Muhammad SAW. Maka itulah, model dari kepemimpinan profetik ini adalah seluruh nabi meskipun kita memiliki porsi tersendiri bagi sang qudwah sejati, Muhammad SAW.

Satu paradigma awal yang perlu dicamkan, bahwa pemimpin profetik adalah sang Pembebas Peradaban. Ia adalah tipe kepemimpinan yang tidak sekedar efektif, efisien. Tidak sekedar membesarkan institusi. Ia lebih besar, jauh lebih besar, karena ia mengemban misi kenabian dalam kepemimpinannya. Misi kenabian, untuk menunjukkan Islam sebagai ideologinya yang rahmatan lil ‘alamin.

Ada tiga tugas besar para pemimpin profetik. Tugas besar para peserta PPSDMS. Tugas besar ini, lagi-lagi dilandaskan pada sebuah ayat perintah yang luar biasa, QS Ali Imran ayat 110. Bahwa umat terbaik, adalah mereka yang amar ma’ruf, nahi munkar, wa tu’minuna billah. Yang pertama adalah misi humanisasi. Misi ini tergambar dari perintah amar ma’ruf, dimana manusia di arahkan untuk mengamalkan amal-amal mulia, mengamalkan kerja-kerja kema’rufan. Selanjutnya, misi liberasi atau pembebasan manusia dari penghambaan selain Allah kepada penghambaan kepada Allah semata. Nahi munkar, mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak berafiliasi kepada Allah SWT. Lalu terakhir, misi transendensi. Ini yang paling berat, dimana tidak sekedar mengamalkan kerja-kerja kebaikan, mencegah tindakan-tindakan kemungkaran, tapi juga memberikan pencerahan bagi jiwa untuk melakukan semua itu dengan kelurusan niat : karena Allah.

PPSDMS, mencoba menafsirkan kepemimpinan profetik sehingga pada akhirnya setiap peserta PPSDMS memiliki empat jati diri : aktivis Islam, aktivis pergerakan, mahasiswa berprestasi, serta menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kekeluargaan.
Sharing Alumni
Purba Purnama, Alumni PPSDMS angkatan 2, Pemilik 3 Paten Internasional


Sesi ini merupakan salah satu sesi yang menjadi refreshing bagi para peserta NLC setelah disuguhi beragam sajian kontemporer yang sangat melatih otak untuk berpikir. Setelah beragam sajian yang memaksa otak untuk memikirkan tentang perubahan paradigma, serta pembentukan Indonesia di masa depan. Dalam sesi ini, Mas Purba Purnama menyajikan banyak kisah menarik dan inspiratif, peran besar PPSDMS dalam pembentukan dirinya, serta beragam cerita tentang kehidupan berasrama yang pastinya sayang untuk dilewatkan.

Mas Purba, demikian beliau dipanggil, merupakan lulusan terbaik dari FMIPA UI pada tahun 2004 yang juga merupakan Doktor pertama yang dilahirkan melalui rahim PPSDMS Nurul Fikri ini. Saat ini, beliau telah menyelesaikan S2 dan S3-nya di Korea dan memegang tiga hak paten di dunia atas karya besarnya. Beliau juga memegang tujuh publikasi jurnal Internasional bidang Polymer Chemistry.

Mengenai kehidupan berasrama, beliau telah mewanti-wanti tentang kenangan indah selama dua tahun di asrama. Kenangan-kenangan berharga yang dipenuhi dengan nilai yang luar biasa tersebut selalu memenuhi ruang hatinya, bahkan hingga hari ini. Maka beliau menyarankan kepada setiap peserta PPSDMS untuk terus mengambil pelajaran-pelajaran berharga dalam setiap momen berada di asrama PPSDMS. Tidak hanya ketika berada di dalam ruang-ruang formal, tapi juga ketika berada dalam sesi informalnya.

Perbankan Syari'ah dan Perekonomian Indonesia
Bambang Sutrisno, General Manager BNI Syariah


Permasalahan perekonomian hari ini sudah terasa di dunia. Di balik kemegahan dan hegemoni sistem ekonomi liberal dari barat, tersimpan satu permasalahan besar yang mereka pun mengakuinya. Krisis tersebut adalah krisis moralitas ekonomi. Sistem perekonomian yang sekarang tengah berkembang di dunia barat dan dunia global membesarkan ekonom-ekonom yang egois, bahkan cenderung licik dan mementingkan kebesaran sendiri. Jelas saja, hal tersebut akan merugikan perkembagan perekonomian dunia global.

Salah satu konsep solutif yang ditawarkan, harusnya tidak asing lagi di telinga kita. Di Australia, sebagian kita mungkin pernah mendengar ‘ethics banking’. Perbankan yang mengedepankan etika dalam berbisnis. Dan tentu saja, etika ekonomi itu sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah ekonomi syari’ah. Permasalahannya, banyak sekali muslim yang tidak menyadari bahwa syari’ah-lah mutiara yang terhimpun dalam pekatnya lumpur tersebut. Keprihatinan muslim terhadap riba, sebagai sebuah konsep ekonomi barat yang sebenarnya telah diharamkan oleh Islam, itu sudah sangat kacau. Samsasekali tidak tersimpan rasa khawatir terhadap hal tersebut.

Ada hal unik yang mungkin bisa kita spekulasikan sebagai penambah semangat kita, dari hadits tentang takluknya kota Konstantinopel dan Roma di tangan Islam. Ketika kita mengetahui bahwa Konstantinopel sudah ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih beberapa ratus tahun yang lalu, kita menginsyafi bahwa Roma belum pernah kita taklukan. Tapi pertanyaannya, haruskah penaklukan tersebut dilakukan dengan cara perang? Mungkinkah kita menaklukan mereka melalui perekonomian.

Satu hal yang perlu kita garisbawahi bahwa penerapan perbankan Islam akan membuktikan kebenaran Islam. Ia akan membawa Islam kembali ke tahta rahmatan lil ‘alamin di mata seluruh masyarakat dunia. Permasalahannya bukan bagaimana cara kita mengalahkan sistem ekonomi barat yang tengah menghegemoni tersebut. Tidak, bukan itu. Perlahan tapi pasti, sistem tersebut akan hancur. Cepat atau lambat, ia akan hancur dengan belitan konsepsi yang tidak sehat itu. Permasalahannya kini, sudah siapkah umat Islam hadir dengan membawa manhaj-manhaj perekonomian Islam di tengah kehancuran sistem barat tersebut?
Sepak Bola dan Martabat Indonesia
Widjajanto, S.IP., MA., PSSI


Materi yang satu ini pada awalnya banyak memicu pertanyaan tentang keterkaitan kepemimpinan masa depan dan sepak bola. Bahkan mungkin ada juga yang mengira bahwa agenda ini adalah agenda titipan dari salah satu dewan penyantun PPSDMS. Namun ternyata, kehidupan sepak bola memiliki pengaruh yang besar terhadap Indonesia secara masif. Dan pengaruh yang masif tersebut-lah yang seyogyanya dipahami oleh para pemimpin bangsa Indonesia ini di masa depan. Bagaimanapun, kemilut dunia sepak bola tidak dapat dipisahkan dari permasalahan Indonesia. Banyak masyarakat terlibat secara aktif di dalamnya. Ketidakberesan dari dunia persepakbolaan dapat mempengaruhi stabilitas negeri ini.

Satu fakta pemicu yang diberikan oleh pemateri cukup membuat kami berpikir tentang pentingnya bahasan sepak bola ini. Pak Widjajanto memaparkan salah satu contoh kasus di Makassar. Di kota rahim tempat kelahiran PSM Makassar tersebut ada klub sepak bola yang menghabiskan kurang lebih tiga puluh miliar rupiah (Rp 30.000.000.000,00) dari APBD per tahunnya. Sedangkan di daerah tersebut sekolahnya masih banyak yang perlu diperbaiki. Sedangkan di tempat tersebut fasilitas kesehatannya masih jauh dari kata nyaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa posisi sepak bola di Indonesia, setidaknya hingga saat ini, berada dalam tempat yang cukup menyedot uang rakyat. Dan hal tersebut sebenarnya dibayar dengan kepuasan dari rakyat itu sendiri.

Namun permasalahan terjadi ketika kemudian uang yang banyak disedot tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Banyak kekeliruan terjadi dalam pengelolaan persepakbolaan di Indonesia. Dan hal tersebut memicu kemarahan dari masyarakat luas, utamanya para penggemar sepak bola. Di Indonesia, ungkap beliau, selama delapan tahun ke belakang terjadi banyak sekali pengaturan skor. Hal tersebut membuat ratusan milyar uang yang dikeluarkan pemerintah menguap begitu saja, seiring dengan kekecewaan masyarakat.

Berkembangnya persepakbolaan Indonesia sebenarnya tidak semata hanya membawa kebahagiaan dan kepuasan dari masyarakat saja. Lebih dari itu, dunia sepak bola yang melaju pesat akan membawa nama Indonesia semakin harum di dunia internasional.

Mengapa semua permasalahan di dunia persepakbolaan itu terjadi? Banyak faktor, namun beberapa yang paling utama adalah tentang intelegensi dari objek-objek yang terkait dengan sepakbola kurang begitu tinggi. Selanjutnya adalah masalah gizi dari para pemainnya yang sangat rendah kualitasnya. Dan yang terakhir, yang paling berpengaruh cukup signifikan adalah tentang manajemen pengelolaan supporter sepak bola yang masih acak-acakan. Faktor terakhir ini bisa jadi sangat berbahaya, karena jika melenceng semakin jauh akan membuat fungsi dari sepak bola dalam integrasi sosial dalam lingkup nasional menjadi hilang. Sepak bola yang tadinya diharapkan akan menjadi pemersatu bangsa dalam satu semangat justru menjadi penghancur nasionalisme. Banyak kita temukan masyarakat Indonesia saling bertengkar satu sama lain hanya karena masalah klub sepakbola.

Akhirnya, permasalahan sepakbola merupakan permasalahan nasional yang perlu juga disiasati oleh para pemimpin bangsa di masa depan. Karena, jika dapat diolah dengan tepat dan strategis, keberadaan sepak bola dapat menghasilkan integrasi nasional yang cukup signifikan.

Syumuliatul Islam 
Drs. Musholi, Ideolog PPSDMS


Islam merupakan konsepsi yang bersifat syamil, kamil, wa mutakamil. Syumuliyatul Islam merupakan salah satu bentuk dari kesempurnaan Islam sebagai sebuah konsepsi yang rahmatan lil ‘alamin.  Sebagai landasan dari kepercayaan kita terhadap syumuliatul Islam, kita patutnya mengetahui rukun iman, rukun Islam, dan rukun ihsan. Lebih dari itu, sudah sepatutnya pula kita mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam syumuliatul Islam.

Jika kita mengibaratkan ketiga komponen tersebut sebagai sebuah bangunan, maka kita dapat menempatkan rukun iman sebagai pondasi dari bangunan tersebut. Pasalnya, ialah landasan moral dari Islam sebagai sebuah konsepsi dalam mengatur kehidupan manusia. Jika rukun iman adalah pondasinya, maka rukun islam adalah tiang-tiang penyangga dari bangunan tersebut. Rukun Islam, merupakan landasan operasionalnya. Sedangkan rukun ihsan dapat kita tempatkan sebagai atap dari bangunan tersebut. Ihsan (bersikap baik dan berkualitas), merupakan pelindung keislaman bagi seorang muslim, sebagaimana atap merupakan pelindung bagi bangunan. Melindungi agar bangunan tidak retak, tidak berlumut, tidak basah kehujanan atau terbakar karena kepanasan.

Sebagai manhaj, islam bersifat komprehensif, memudahkan, serta seimbang. Komprehensif, artinya Islam merupakan manhaj yang melingkupi segala permasalahan. Ia meliputi kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal. Ia melingkupi keterkaitan manusia dengan manusia yang lain. Ia melingkupi juga keterikatan manusia secara vertikal, dengan Rabb-nya. Seimbang, artinya Islam meruakan manhaj yang moderat. Ia berada di tengah, antara ruh dan jasad, antara akal dan qalbu, dunia dan akhirat, teori dan praktek, dan yang lain sebagainya. Memudahkan, artinya Islam merupakan manhaj yang memberikan keringanan, kelapangan, serta kemudahan bagi manusia.

Mengelola Hidup, Merencanakan Masa Depan
Tim MHMMD, Marwah Daud Ibrahim, Founder MHMMD


Setelah dipenuhi dengan materi-materi pemikiran selama beberapa hari ke belakang, NLC materi ke delapan ini tampil cukup berbeda. MHMMD bukan sekedar materi biasa. MHMMD adalah sebuah training aktif yang melibatkan seluruh peserta untuk membentuk dan merencanakan masa depan bagi setiap pesertanya.

MHMMD Training Centre diinspirasikan oleh sosok dan pemikiran bunda Marwah Daud Ibrahim tentang life goal. Pemikiran utama dari MHMMD ini adalah bahwa hidup manusia dapat menjadi lebih baik ketika mereka dapat merencanakan kehidupan mereka itu sendiri. Gagal dalam merencanakan artinya merencanakan kegagalan.

Dalam kegiatan MHMMD ini kami diberikan dua belas kunci keberhasilan dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan. Langkah besar ini dimulai dengan mengenali diri, mengenali potensi, dan mengenali arah kecenderungan untuk berkreasi. Hingga akhirnya peserta diberikan kesempatan untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Tidak sekedar mimpi, yang dituliskan oleh para peserta kemudian adalah rencana kehidupan atau life plan.

Training MHMMD ini tidak sekedar memerintahkan peserta untuk menuliskan impian-impian atau rencana hidupnya. Lebih komprehensif, MHMMD ini menuntun peserta untuk dapat membuat impian secara teratur dan logis. Jadi setiap yang dituliskan itu tidak sekedar himpunan kata yang akan menambah semangat saja, tetapi juga menjadi sebuah tuntutan yang harus kita laksanakan di masa depan.

Masa Depan Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Henry Febri, Indonesian Corruption Watch, dan Didie A. Rachim, Manager Diklat KPK


Selama tahun 2011, terdapat ratusan kasus korupsi yang melibatkan ribuan pelaku dan trilyunan kerugian. Demikian fakta yang dipaparkan oleh Bapak Hendri Febri di awal materinya. Dari ribuan pelaku tersebut, lebih dari dua ratus pelakunya adalah PNS kelas menengah ke bawah. Yang cukup menyedihkan lagi, sektor yang paling basah di Indonesia untuk dikorupsi oleh para koruptor tersebut adalah sektor pendidikan. Sedangkan kita sangat mengetahui bahwa pendidikan adalah pembawa kehormatan bangsa. Pendidikan adalah pembentuk negeri ini.

Materi Menuju Indonesia Tanpa Korupsi ini dimulai dengan disajikannya data-data yang cukup membuat para audience tertarik dan mungkin cukup mengelus dada. Keberadaan korupsi di Indonesia ini memang sudah jadi cerita lama. Tapi tetap saja, fakta-fakta dan data-data yang diberikan mampu membuat para audience merasa kaget. Kaget, bahwa ada manusia yang sekejam itu ada di dunia. Dan bahkan ada di Indonesia.

Dalam penyampaiannya, Pak Febri sempat memberikan sedikit political joke-nya. Dia berkata bahwa keberadaan KPK ini selayaknya pemburu di kebun binatang. Jadi tanpa perlu ada usaha pencarian yang tajam-pun, binatang ada di mana-mana. Sebagaimana di negeri ini, tanpa perlu ada usaha penyelidikan yang tajam, koruptor dan korupsi sudah ada di mana-mana.

Sedikit berbeda, bapak Dedi A. Rachim membuka penyampaian materinya dengan menceritakan Korea. Beliau bercerita, bahwa dahulu Korea dan Indonesia itu memiliki banyak kesamaan : kemerdekaan di momen yang hampir bersamaan, kemudian sama-sama terjadi perang saudara, dan yang satu lagi adalah sama-sama termasuk salah satu negeri termiskin di Asia. Tapi hari ini, Korea jadi negeri yang maju karena satu hal : memberantas korupsi.

Komisi Pemberantasan Korupsi, dalam bekerja sebenarnya tidak hanya dalam konteks pemberantasan saja. Satu visi besar KPK adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang sadar untuk menjadi tanpa korupsi : tidak sekedar terpaksa untuk tidak korupsi saja. Maka dari itu, KPK juga memiliki fungsi pencegahan korupsi yakni dengan melakukan edukasi ke masyarakat tentang korupsi itu sendiri.

Emotional and Spiritual Quotient
Tim ESQ Way 165


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kecerdasan yang digunakan oleh sebagian besar manusia sebagai standar dari kecerdasan adalah kecerdasan intelektual. Tapi sedikit yang menyadari bahwa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual juga memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan pribadi manusia. Dan sesungguhnya kecerdasan itulah yang penting ada di dalam pribadi seorang manusia.

Training ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) ini adalah pelatihan untuk menghadirkan dan mengelola kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dari manusia. Kedua kecerdasan tersebut, jika dapat dioptimalisasikan secara berjama’ah, akan membentuk suatu barisan sumber daya manusia yang mampu mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2020 sebagaimana yang tertera dalam impian besar ESQ 165 ini.

Dalam training ESQ ini, manusia dituntun untuk dapat menyadari satu kekuatan besar yang ada di luar dirinya, yang ternyata memiliki kuasa terhadap dirinya, yakni dzat Sang Maha Pencipta. Kesadaran tersebut dapat membawa manusia menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja dan dalam berkarya.

Belajar dari Al-Fatih
Agung Waspodo, MPP., Sejarawan Konstantinopel


Materi ini merupakan salah satu materi yang dapat menarik perhatian yang cukup banyak. Materi ini memberikan paparan sejarah yang luar biasa tentang penaklukan Konstantinopel oleh Islam berratus tahun yang lalu. Sejarah yang dipaparkan tidak sekedar sejarah penaklukannya saja, tapi juga sejarah bagaimana seorang Muhammad Al-Fatih dapat terinternalisasi sebagai sang penakluk. Sebagai sosok yang disebutkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai sebaik-baik pemimpin yang membawa sebaik-baik pasukan.

Muhammad Al-Fatih memiliki nama asli Mehmet. Dia lahir da besar dari bangsa dan kebudayaan Turki. Dan di Turki, ketika itu, ada satu hadits yang mereka yakini sebagai suratan takdir bagi bangsa Turki yakni hadits tentang penaklukan Konstantinopel. Hadits tersebut sebenarnya sudah dinanti-nanti oleh para sahabat untuk terwujudkan. Mereka juga melakukan banyak upaya untuk mewujudkannya. Pada era Khalifah Umar bin Khattab, sempat dikirim pasukan ke Konstantinopel tetapi berhenti di pulau tertentu saja karena alasan kendala teknis. Zaman bani Umayyah sempat dikirim 2 ekspedisi. Usaha terus berlanjut di dinasti-dinasti selanjutnya.

Muhammad Al-Fatih adalah sosok pemimpin yang dibentuk oleh lingkungan sekitarnya. Pada usia 14 tahun, dia menjadi Walikota Abbasiyyah. Pada usia 19 tahun, beliau sempat menjadi Sultan. Akan tetapi banyak umat yang tidak percaya kepada beliau sehingga akhirnya beliau digantikan. Namun hanya satu tahun setelahnya, beliau dipercaya untuk menjadi Sultan pada usia 20 tahun. Dan pada usia 21 tahun, Konstantinopel futuh di tangannya dan pasukannya.

Rahasia di balik penaklukan Konstantinopel tersebut terletak pada rencana perangnya yang sangat matang. Semenjak menduduki posisi Sultan, target pertama Mehmet ketika itu adalah Konstantinopel. Dan tidak sekedar impian, target tersebut langsung direalisasikan. Pembangunan menuju Konstaninopel diperbaiki, terutama pembangunan jalan. Kemudian logistik di beberapa daerah strategis diperbanyak sehingga dapat membantu pasukannya untuk beristirahat dan menambah senjata jika dibutuhkan. Strategi yang matang tersebut membawa optimisme keberhasilan di benak pasukannya.

Selain itu, Sultan Mehmet memiliki rencana cadangan. Mereka bahkan sempat menyeret perahu mereka menelusuri gurun pasir dalam waktu satu malam saja. Kemudian, mereka juga mengetahui kelemahan dari musuh mereka. Mereka sudah membuat titik-titik yang harus dihancurkan terlebih dahulu. Dan lagi, Mehmet tidak sungkan untuk mengajak bangsa lain untuk turut berjuang bersama sekalipun mereka berbeda alasan perjuangan dan berbeda aqidah. Di kala itu, pasukan muslim bersama dengan pasukan dari Serbia menyerang Konstantinopel. Dan satu hal yang paling penting, hubungan Mehmet dan pasukannya kepada Allah SWT tidak pernah terputus.

Program Pembinaan PPSDMS
Adi Wahyu Adji, Mantan Ketua LDK Nasional Salam UI, Manager Program PPSDMS


Materi ini menceritakan tentang latar belakang keberadaan PPSDMS dan kaitannya dengan program pembinaan yang kemudian akan dilaksanakan di PPSDMS ini sendiri. Berawal dari cita-cita pergerakan atau cita-cita perjalanan. PPSDMS ini diinspirasikan oleh setidaknya empat hal. Yang pertama adalah Jesuit. Jesuit adalah ordo minoritas di kalangan umat Kristen, tetapi mereka dididik dan diinternalisasikan nilai yang hebat sehingga memiliki pengaruh yang sangat besar. Nilai besar yang diambil adalah kualitas lebih penting dari kuantitas.

Yang kedua adalah HOS Cokroaminoto. Pada era penjajahan, ketika itu beliau memiliki sebuah rumah kos-kosan yang ternyata diisi oleh orang-orang hebat yang menjadi bapak-bapak negara Indonesia. Sebut saja Soekarno dan Muso. Mereka dulunya tinggal di rumah kos HOS Cokroaminoto. Satu hal yang diambil adalah bahwa seseorang akan bertambah nilai diri dan kualitasnya jika dikumpulkan dengan orang-orang yang berkualitas juga.

Selanjutnya adalah dari Islamisasi Turki. Proses Islamisasi di Turki setelah masa keruntuhan khilafah dirintis panjang oleh kaum Islamis di Turki. Mereka  berkumpul dan berstrategi jauh hari semenjak kemenangan pertama partai Islam di Turki pada era demokrasi. Dan hal yang mereka lakukan adalah menarik hati rakyat dengan toleransi-toleransi Islam, sehingga Islam tidak dipandang sebagai sesuatu yang sangat mengekang dan kaku.

Selanjutnya, tentu saja dari Idealisme Kami yang menjadi ruh bagi gerakan PPSDMS ini sendiri. Kepingan-kepingan mutiara tersebut dipersatukan dalam satu kalimat utuh pada akhir Idealisme Kami : Terbentuknya Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat, Serta Kebaikan Dari Allah-Pencipta Alam Semesta.

Mas Adi Wahyu Adji juga memaparkan bahwa dalam kehidupan berasrama para peserta harus menikah dengan PPSDMS. Menikah disini artinya berkumpul, bergabung, menggulung, dan menindih. Berkumpul artinya para pesert PPSDMS berasal dari beragam latar belakang. Tapi mereka harus bergabung, yang artinya dipersatukan dalam satu identitas keIslaman. Menggulung, artinya mereka paham dinamika yang ada di PPSDMS dan Indonesia dan mereka mau untuk membereskan permasalahan tersebut. Dan menindih, artinya mereka saling menopang satu dengan yang lain, bersinergi untuk tujuan besar yang sama tadi.

Selanjutnya, mas Adji selaku Manajer Program PPSDMS juga memaparkan beberapa program yang akan dilaksanakan di PPSDMS ini. Mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi.

MITI : Teknologi dan Produktivitas Bangsa
Dr. Warsito, Founder MITI


Dr. Warsito adalah Direktur Utama MITI yang membawa MPPPPI : Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia. Master Plan tersebut secara sederhana berencana membawa Indonesia pada tahun 2045 memiliki pendapatan per kapita mencapai 45.000 – 49.000 dollar. Kondisi Indonesia saat ini baru di titik 3.000 dollar per kapita. Maka akan muncul pertanyaan besar : bagaimana caranya?

MITI meyakini bahwa perkembangan teknologi akan sangat berpengaruh terhadap bargaining position sebuah negara di mata dunia global. Indonesia, memiliki Sumber Daya Alam yang sangat potensial yang hingga hari ini selalu menjadi ujung tombak bagi kemajuan dan perkembangan Indonesia ini sendiri. Tapi yang perlu disadari adalah bahwa Indonesia tidak bisa mengandalkan itu. Karena SDA, pada akhirnya akan mencapai titik tertentu dimana ia harus lebih dibatasi eksploitasinya.

Maka target besar MITI adalah menghasilkan kemampuan teknologi sebanyak mungkin untuk mencipta Indonesia yang lebih baik.Target MITI yang terdekat adalah mengalahkan perusahaa Google dengan menghasilkan empat milyar euro per tahun. Untuk itu, MITI sudah menghasilkan banyak paten di dunia. Salah satunya adalah baju kalkulus, yakni sebuah baju yang mampu mencairkan kanker menjadi urine, feses, atau bahkan keringat dengan metode kalkulus. Dan hal tersebut akan menjadi sangat fenomenal di dunia, karena belum ada yang mampu mencairkan kanker di tubuh manusia.

Pada akhirnya, semua itu akan terwujud dengan dua etos utama yakni kecerdasan dan kedisiplinan. Beliau menyebutkan bahwa permasalahan perihal target ini bukanlah masalah investasi, tetapi masalah kecerdasan.

2 comments:

heningsept mengatakan...

excellent. thanks for sharing :)

Fathan Mubina mengatakan...

ternyata ka hening.. .______. *barubaca*

Posting Komentar