Rabu, 15 Agustus 2012

Ramadhan Ini, Ramadhan Pertamaku Tanpa Keluarga*


Hari itu adalah hari yang panas di bulan Ramadhan. Aku tengah berjalan ketika tiba-tiba salam itu menyejukkan telingaku. “Assalamu’alaykum..”, lantunnya syahdu. Suaranya diiringi tepukan ringan yang mendarat di bahuku. Aku menoleh, menyadarkan dari lamunan panjangku tentang segalanya. Sedapat mungkin aku tersenyum.

 sumber : http://3.bp.blogspot.com/_TZJu1J0kAL8/SjZZYFJ2kQI/AAAAAAAAAIU/k1s85O89FgE/s320/Sedih1.jpg

“Wa’alaykumussalam Warahmatullah..”

“Ente kenapa boy? Jalannya kok lesu gitu?” sapanya dengan semangat. Dia adalah salah seorang sahabatku. Teman sekamar, seperjuangan, seideologi, seorganisasi, dan sejurusan. Rama, namanya. Teman yang kutemui ketika awal masuk dunia perkuliahan. Kami senasib ketika itu : datang dari daerah yang cukup jauh dari kampus dan sendirian. Aku dari Surabaya, dia dari Aceh. Jadilah kami bertemu, dan menemukan banyak lagi kesamaan hingga hari ini.

“Ah, ente bikin kaget aja. Gak apa-apa kok.. Ane hanya lagi teringat keluarga saja..” ucapku. Ramadhan ini sangat berbeda dengan Ramadhan-Ramadhanku pada tahun-tahun sebelumnya. Tidak terlalu mengagetkan alasannya, mungkin alasan yang sama dengan ratusan orang mahasiswa perantau di tahun pertama lainnya : rindu keluarga. Ya, ini Ramadhan pertamaku tanpa keluarga.

Rama menatapku dan terdiam penuh arti. Goresan senyuman kecil terabadikan di wajahnya. Kami terus melangkah.

“Melalui Ramadhan dengan keluarga memang momen yang tak tergantikan akh..” ucapnya dengan senyum. “..tapi itu bukan alasan untuk membuat Ramadhan tanpa keluargamu jadi tidak bermakna..” lanjutnya dengan menepuk pundakku.

Aku cukup tersenyum kecil mendengar jawaban sederhananya. Tapi kata-kata itu tidak sepenuhnya dapat menghindarkanku dari rasa rindu ini. Bagaimanapun juga, ini Ramadhan pertamaku tanpa keluarga. Ya, aku melangkah sayu dengan sedikit semangat berkurang. Meskipun wajahku hadirkan senyuman sebagai tanda aku menghargai Rama yang ingin menghiburku, tadi. Oh, Ummi, Abi… Aku rindu..

***

“Kakak gimana Ramadhannya? Semuanya lancar kan?” ucap suara lembut di seberang telepon itu. Ba’da sahur itu aku menelepon keluargaku, sebagai sedikit pengobat rasa rinduku terhadap mereka.

“Iya, Alhamdulillah, Ummi.. Masih nggak bolong sampai sekarang.. Hehe” jawabku sedapatnya.

“Kok kayak yang nggak semangat gitu Kak?” tanya beliau dengan nada yang interogatif.

“Gapapa, Ummi.. Kakak hanya lagi kangen sama rumah..”

“Iya, kak.. Kami semua juga kangen sama kakak.. Makanya, momen Ramadhan ini harusnya kakak tambah dekat sama Allah, biar hati kita bisa tetap terhubung kak.. Adek juga lagi semangat-semangatnya nih.. Dia lagi belajar baca Al-Qur’an.. Sekarang udah Iqro 6..” jawab Ummi. Aku tersenyum mengingat adikku yang masih kecil. Terakhir aku bertemu dengannya, dia masih belajar Iqro 1. Tak kusangka sekarang dia sudah sampai di tingkat enam. Dia saat ini mesti sedang lucu-lucunya. Ah, aku semakin rindu dengan keadaan dan suasana rumah. Abi, Ummi, adik.. Aku rindu dengan berpetualang ke danau wisata dekat rumahku ketika waktu menjelang maghrib tiba bersama mereka. Aku rindu dengan suara-suara tilawah yang terdengar dari surau-surau kami menjelang Maghrib tiba. Disini ada danau, Ummi, Abi. Disini ada juga tilawah menjelang Maghrib. Tapi, disini tidak ada kalian..

***

“Ah, ngapain sih ente akh? Ane mau ngejar tilawah dulu nih.. Masih belum nyampe target..” ucapku ketika Rama mengajakku pergi di lepas Ashar itu. Sebenarnya hanya alasan. Aku malas keluar kamar kosan hari ini. Entah kenapa.

“Ya Allah.. Sekali aja akh.. Entar ane temenin deh ngejar tilawahnya habis tarawih.. Ayolah.. Ente mau nggak ngerasain Ramadhan yang berwarna?” ucapnya seraya menepuk pundakku.

“Lagian mau ngapain sih? Ente kagak bilang mau ngapain.. Mau kemana.. Ane jadi curiga..” ucapku. Semakin malas rasanya, ketika Rama tidak menyebutkan aku mau dibawa kemana dan untuk apa.

“Ayolah.. Ikut aja.. Ane janji yang kali ini akan sangat hebat!” jawabnya. Abstrak. Aku tidak terlalu suka, sebenarnya. Kalau dia bukan orang yang merawatku ketika aku sakit hebat di awal tahun kemarin, aku pasti tidak mau. Kalau dia bukan orang yang rela berbagi makanannya berdua denganku ketika uang bulanan belum dikirim dari kampung, aku pasti juga tidak mau. Kalau dia bukan orang yang setiap hari selalu sedikit mengobati rinduku terhadap keluargaku, aku juga pasti tidak mau.

“Yaudah, yaudah.. Sebentar, ane ganti pakaian dulu..” ucapku singkat. Aku melangkahkan kakiku, malas. Senyum kemenangan tergores di wajahnya. Aku hanya menggelengkan kepala dan melangkah lemas. Ya sudahlah, hitung-hitung membalas beberapa kebaikannya kepadaku semenjak dulu.

***

Di tepi sungai Ciliwung kami menanti Maghrib itu. Kami sudah membawa bekal kami masing-masing. Obrolan ringan tentang kehidupan mengalir begitu saja dari mulut-mulut kami. Dari satu hati ke hati yang lain. Dia banyak bercerita tentang keluarganya, begitu juga aku. Latar belakang keluarga kami tidak jauh berbeda, cukup Islami. Hal itu tampak dari kebiasaan-kebiasaan Ramadhan yang sering dilakukan oleh keluarganya yang tidak jauh berbeda dengan yang sering aku lakukan bersama keluargaku. Ah, aku jadi semakin rindu dengan keluargaku.

“Eh, kita mau ngapain di sini Ma?” tanyaku. Ya, kami sudah ngobrol panjang semenjak perjalanan sehingga aku baru sempat bertanya pertanyaan yang sebenarnya semenjak awal ingin aku lontarkan itu.

Rama hanya menjawab dengan senyuman. Wajahnya sendu penuh arti. Tapi, aku tidak dapat menangkap arti itu. Hanya saja, penuh wibawa. Sulit dijelaskan. Aku bingung.

Lima menit lagi, Maghrib datang. Senyuman Rama masih belum menjawab pertanyaanku. Aku hendak bertanya lagi ketika tiba-tiba berlarian beberapa orang anak kecil menuju ke arah kami. Wajah Rama berubah, menjadi sangat riang. Menyambut anak-anak itu dengan tawa yang lepas.

“Kakaak, hari ini aku dimarahin lagi sama Ibu.. Katanya Deni gak boleh minum kalau lagi puasa.. Emang iya ya kak?” tanya salah seorang di antara mereka. Rama tertawa lepas.

“Iya Den.. Puasa itu salah satunya kita menahan diri dari makan dan minum dari Subuh sampai Maghrib.. Kalau kita bisa menahan diri kita, Allah akan siapkan hadiah yang besar buat kita!” jawabnya. Deni kecil hanya mengangguk-angguk.

“Kak, tadi aku dimarahin sama bos.. Jadi waktu aku jualan air, aku lihat nenek-nenek yang kayaknya sangat kehausan.. Ya udah, aku kasih aja air yang aku jual ke nenek-nenek itu.. Kata kakak kan, kalau kita memberi kepada orang lain kita akan dapat balasan yang lebih banyak.. Eh, gak taunya aku malah dimarahin sama bos waktu cerita..” ucap yang lain. Rama tersenyum dalam.

“Hebat kamu Gi! Balasannya tidak selalu langsung kita rasakan, Gi.. Ada waktunya, pasti kebaikan kamu akan dibalas sama Allah..” jawabnya seraya menepuk ringan kepala anak kecil tersebut. Aku terdiam takjub dengan apa yang aku saksikan ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Adzan Maghrib berkumandang. Anak-anak itu tampak gembira. Rama mengeluarkan beberapa buah roti yang disimpan di dalam tas ranselnya. Kami mengakhiri shaum di hari itu dengan takzim. Anak-anak jalanan itu, terlihat kalem ketika Rama memimpin do’a. Aku tak bisa berkata.

“Akh, ente tau gak..” ucapnya ringan kepadaku. “Ramadhan terakhir yang ane lalui bersama keluarga ane, yang dari tadi ane ceritakan ke ente, itu terjadi sekitar lima tahun yang lalu. Semua keluarga ane meninggal saat Tsunami di Aceh waktu itu..”

Hancur hatiku mendengarnya. Tak tertahan air mata ini menetes bersama bungkamnya mulut ini untuk berkata-kata.

“Akh, yang membuat Ramadhanmu menjadi spesial bukanlah karena kau melaluinya dengan orang yang istimewa. Tapi, ia istimewa karena kau yang menyambutnya dengan melakukan hal-hal yang istimewa.” Ucapnya. Aku tersenyum dengan air mata yang meleleh.

Hari itu adalah hari yang sejuk di Ramadhan. Aku tengah menangis syahdu, kala di hadapanku ada sesosok pemuda hangat yang luar biasa dan anak-anak kecil yang riang menyantap sesobek roti. Di seberang sana, jauh di seberang sana, segenggam hati suci milik Ummi tengah tersenyum. Senyum keyakinan, bahwa anaknya di sini akan belajar banyak dari kehidupan. Ramadhan ini, ramadhan pertamaku tanpa keluarga.

*dikompetisikan dan menjadi karya terbaik dalam kegiatan Perahu Serambi FHUI Ramadhan 1433 H.

Muhammad Fathan Mubina, Staff biro PSDM FSI FISIP UI 2012 

0 comments:

Posting Komentar