Kamis, 17 Januari 2013

Natsir dan Gagasannya Tentang Negara


(dipublikasikan di website fimadani.com)
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/19218_4284443065699_1482487370_n.jpg
Pada tahun 1957 Mohammad Natsir menyampaikan pidato tentang Islam sebagai dasar negara di Majelis Konstituante. Pidato Natsir tersebut bertentangan dengan gagasannya sebelumnya tentang Pancasila. Di Iran, Natsir menegaskan bahwa Islam dan Pancasila akan harmonis bersama. Pancasila akan subur di atas pangkuan Al Quran. Tapi kemudian kali ini dengan tegas Natsir menjelaskan bahwa Pancasila tidak sepenuhnya layak menjadi dasar bagi Negara Indonesia ini. Justru Islam, yang menurutnya pantas untuk menjadi dasar Negara. Karena peristiwa ini, nama Natsir lekat distigmakan dengan cita-cita negara Islam, dan tokoh yang anti-pancasila [1].

Memiliki Nurani Setajam Abu Bakar

(dipublikasikan di website fimadani.com)

http://sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/74304_4309346568271_1410980681_n.jpg

Panggung langit di hari itu terpesona pada satu nama. Hari itu, Rasulullah yang tengah sakit mengajak seluruh ummatnya untuk berkumpul di sebuah lapangan yang luas terbuka. Ia menatap ummatnya yang sudah berjumlah puluhan kali lipat dibanding saat sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu saat baru menerima amanah dakwah. Entah seperti apa kondisi yang ada di dalam hatinya, tetapi wajahnya tetap menunjukkan semangat dan senyum cerah kepada ummatnya.
“Hari ini…” ucapnya dengan suara yang agak parau. “..telah Kusempurnakan bagimu agamamu. Dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai agamamu..”

Senin, 14 Januari 2013

Perlukah PREMAN untuk Menghadapi Kami, Pak?

Hari ini, ya tragedi itu terjadi lagi. Hari ini saya menjadi saksi atas ketidakadilan yang terjadi di bangsa yang besar ini. Bangsa besar yang mementingkan diri sendiri. Bangsa besar yang tidak peduli dengan penindasan rakyat kecil. Bangsa besar, yang aparatnya menyewa preman untuk memukuli rakyatnya. Bangsa besar? Cuih!

http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/20119_4775755523220_702259006_n.jpg

Hari ini, seperti biasa, saya berangkat ke kampus untuk bertemu dengan teman-teman di Fakultas. Ya, ada beberapa hal yang hari ini harus saya selesaikan dengan teman-teman. Saya mendapatkan kabar, rekan-rekan mahasiswa, dompet dhuafa, serta paguyuban pedagang Jabodetabek tengah melakukan aksi ke Istana negara. Beberapa waktu ke belakang ini, memang isu tentang penggusuran kios pedagang ekonomi kecil di stasiun Jabodetabek tengah menjadi isu sentral mahasiswa UI. Saya sendiri pernah ikut menyaksikan betapa pedihnya melihat setiap tetes air mata jatuh dari mata para pedagang yang ladang nafkahnya dihancurkan oleh egoisme keji tersebut.

Kamis, 10 Januari 2013

Novel Kemi : Cinta Kebebasan yang Tersesat

"... Islam ya Islam, jangan ditambahi kata liberal!"

http://3.bp.blogspot.com/-aQOkVND-v9A/UINnGluTAYI/AAAAAAAAAOs/LH6cM4MhcPo/s1600/Kemi.jpg

Kemi adalah nama panggilan seorang santri di pesantren ternama di daerah Jawa. Nama lengkapnya Ahmad Sukaimi. Pada suatu ketika, Kemi memohon izin kepada kyai-nya untuk dapat berkelana di daerah kota. Kemi ingin mendapatkan ilmu yang lebih luas, katanya. Ia ingin mengembangkan dirinya agar dapat bisa lebih mengembangkan pesantren, demikian dalih yang diberikannya kepada Kyai. Sang Kyai sebenarnya tidak begitu rela melepaskan Kemi. Ia adalah salah seorang santri terbaik di Pesantren tersebut. Tapi sang Kyai tidak bisa memaksa. Akhirnya, Kemi diizinkan untuk berkelana ke Jakarta.

Mimpiku, Semangatku, Inspirasiku!


Sobat, lama agaknya tidak kita bersua. Semenjak terakhir aku coba merangkai tulisan untuk menghidupkanmu, sekedar mengikat sejarah kehidupanku agar suatu hari menjadi pemantik senyumanku. Banyak sebenarnya kisah yang ingin aku sampaikan, terkait hitam-putih warna hidupku. Entah dari mana kita mulai berbagi.


Beberapa waktu yang lalu aku baru saja mengikuti sebuah training tentang kepemimpinan profetik, kawan. Sebuah training yang luar biasa yang sangat menginspirasi. Salah satu bahasan dari training tersebut adalah tentang Nabi Yusuf AS. Beliau adalah seorang Nabi yang memiliki kisah yang paling sempurna, disebutkan dalam Al-Qur’an. Sedikit berbagi tentang materinya, dalam training tersebut dijelaskan bahwa kisah Nabi Yusuf AS menjadi kisah yang paling baik karena sangat manusiawi. Hikmah perjalanan kisah tersebut masih sangat mungkin dialami oleh manusia biasa.

Semangat Masyarakat, Perbaikan PSSI


“… Masyarakat boleh membenci PSSI  dan KPSI… Tapi, jangan membenci timnas…” –Andik Vermansyah, dalam wawancara bersama Stasiun TV RCTI

http://sin.stb.s-msn.com/i/35/C5DE642896306F35A8B5B4123661B.jpg

Desah kekecewaan mungkin lahir dari jutaan pasang mata yang bersama-sama menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Malaysia beberapa waktu ke belakang. Dua gol tanpa balas, adalah salah satu alasan kekecewaan itu hadir. Indonesia, untuk ke sekian kalinya, harus mengubur ambisi untuk menjuarai kompetisi sepakbola antarnegara di Asia Tenggara tersebut.

Membersihkan Jakarta, Bersama-Sama!


Dimuat di MediaIndonesia.com pada tanggal 3 November 2012

http://www.thejakartapost.com/files/images2/JOKOWI-1.jpg

Hari ini adalah beberapa hari setelah resmi dilantiknya sepasang pemimpin baru Provinsi DKI Jakarta. Jokowi dan Ahok, kedua pemimpin baru Jakarta yang dilantik bersama dengan harapan-harapan baru dari masyarakat Ibukota. Secercah harapan tiba ketika Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut berani untuk turun ke lapangan secara langsung dan melihat kondisi masyarakat yang telah mempercayakan Jakarta ke tangan mereka. Secercah harapan bahwa Jakarta bisa menjadi lebih baik di tangan mereka berdua.

Semangat Pengabdian Negara kepada Masyarakatnya

(diterbitkan di Rubrik Suara Mahasiswa Seputar Indonesia bulan Desember 2012)

“Bumi, Air, dan Kekayaan Alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat..” –Pasal 33 UUD 1945 Kita dapat melihat semangat pengabdian ketika kita lihat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.





http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2013/01/11208297.jpg

Semangat tentang perjuangan membela rakyat, semangat tentang pengabdian untuk kesejahteraan masyarakat. Semangat itulah yang kemudian membuat para founding fathers bangsa ini ”rela”menyerahkan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk kemakmuran rakyat. Minyak dan gas alam adalah salah satu kekayaan alam Indonesia yang relatif butuh waktu yang lama untuk dapat diperbarui.