Kamis, 10 Januari 2013

Mimpiku, Semangatku, Inspirasiku!


Sobat, lama agaknya tidak kita bersua. Semenjak terakhir aku coba merangkai tulisan untuk menghidupkanmu, sekedar mengikat sejarah kehidupanku agar suatu hari menjadi pemantik senyumanku. Banyak sebenarnya kisah yang ingin aku sampaikan, terkait hitam-putih warna hidupku. Entah dari mana kita mulai berbagi.


Beberapa waktu yang lalu aku baru saja mengikuti sebuah training tentang kepemimpinan profetik, kawan. Sebuah training yang luar biasa yang sangat menginspirasi. Salah satu bahasan dari training tersebut adalah tentang Nabi Yusuf AS. Beliau adalah seorang Nabi yang memiliki kisah yang paling sempurna, disebutkan dalam Al-Qur’an. Sedikit berbagi tentang materinya, dalam training tersebut dijelaskan bahwa kisah Nabi Yusuf AS menjadi kisah yang paling baik karena sangat manusiawi. Hikmah perjalanan kisah tersebut masih sangat mungkin dialami oleh manusia biasa.


Salah satu bagian yang paling menarik, menurutku, adalah tentang mimpi. Kawan, kau tahu, dalam surah tersebut kisah Nabi Yusuf AS dimulai dari sebuah mimpi. Disana diceritakan bahwa Yusuf kecil bercerita kepada ayahnya, Nabi Yakub AS, tentang mimpinya. Yusuf kecil bermimpi tentang alam semesta ; dia melihat sebelas bintang, bulan, dan matahari tersujud kepadanya. Dan kau tahu bagaimana perjalanannya, kawan? Nabi Yusuf AS kemudian melalui sebuah perjalanan kehidupan yang tak biasa. Aku yakin kau juga pasti mengetahui bahwa pada akhirnya Nabi Yusuf AS menjadi seorang negarawan : dia menjadi seorang bendaharawan di negeri Mesir.

Tapi bukan itu bagian yang asiknya, kawan. Akhir kisah tersebutlah yang paling membuatku merinding. Dengan wewenangnya, Nabi Yusuf AS kemudian berhasil memerintahkan keluarganya untuk menghadapnya. Disanalah momen indah tersebut terjadi. Nabi Yusuf AS memeluk ayahnya dan berkata, “… wahai ayahku, inilah ta’bir dari mimpiku yang dahulu.. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS Yusuf : 100)

Berawal dari mimpi. Satu pelajaran yang inspiratif aku dapatkan dari sana, kawan. Di akhir training, sang trainer memberitahukan kepada para peserta untuk membuat visualisasi mimpi yang konkret. Visualisasi mimpi tersebut dibuat dalam bentuk video untuk kemudian diperlihatkan kepada orang-orang tersayang. Nantinya, harapannya, di suatu hari kami akan memeluk orang-orang tersayang kami seraya berkata sebagaimana Yusuf AS berkata dalam kisah tersebut. “Wahai orang-orang yang kusayangi, inilah ta’bir dari ‘mimpi’ku yang dahulu.. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan..”

Kau tahu, kawan? Aku merinding ketika trainer tersebut mengucapkan hal tersebut. Aku merinding karena kemudian langsung terbayang sosok ayah dan ibuku. Aku langsung terbayang mimpi-mimpi yang baru aku tuliskan dalam goresan pena, lalu kemudian aku visualisasikan dalam sebuah video yang aku tunjukkan kepada mereka, lalu kemudian sepuluh, dua puluh, tiga puluh atau beberapa tahun lagi aku datang kepada orangtuaku dan berkata seperti demikian. Aku merinding.

Ini adalah video visualisasi mimpiku. Tidak terlalu bagus, sederhana saja.

Ini sekilas dari video itu :







Aku sudah memperlihatkannya kepada orangtuaku, kawan. Mereka sangat bahagia. Aku bahagia setidaknya bisa membuat mereka bahagia karena melihat mimpi-mimpiku yang sederhana ini. Aku tak sabar membuat mereka lebih bahagia lagi ketika aku mewujudkannya.

Dan aku sendiri melihatnya dalam banyak kesempatan. Aku melihatnya, terutama, ketika aku berada dalam titik semangat yang paling rendah. Ketika letih-letihku berada di puncaknya, ketika malas-malasku berada di permukaan hati, ketika perasaan untuk berhenti bergerak sudah mulai muncul dalam otakku. Dan hasilnya selalu sama, kawan. Hasilnya adalah dialog hati yang berbunyi, “Fathan, lo gak bakalan bisa mencapai mimpi-mimpi lo dengan sikap lo yang kayak gini! Mau mimpi-mimpi lo cuma diketawain aja karena gak ada yang tercapai?”

Itu satu inspirasi sederhanaku kawan. Senang rasanya bisa berbagi denganmu. Aku semakin sadar, semenjak hari itu, bahwa hidupku dipenuhi dengan orang-orang yang mencintaiku di sekelilingku. Dan aku juga memiliki banyak tugas untuk membalas cinta mereka ; membayarnya dengan semangat kehidupan yang memiliki arti. Berbahagialah ketika kita bisa membuat orang lain bahagia. Karena itulah yang akan membuat kita hidup dalam kenangan banyak orang, bukan karena kebahagiaan kita sendiri. Semangat!

0 comments:

Posting Komentar