Kamis, 10 Januari 2013

Novel Kemi : Cinta Kebebasan yang Tersesat

"... Islam ya Islam, jangan ditambahi kata liberal!"

http://3.bp.blogspot.com/-aQOkVND-v9A/UINnGluTAYI/AAAAAAAAAOs/LH6cM4MhcPo/s1600/Kemi.jpg

Kemi adalah nama panggilan seorang santri di pesantren ternama di daerah Jawa. Nama lengkapnya Ahmad Sukaimi. Pada suatu ketika, Kemi memohon izin kepada kyai-nya untuk dapat berkelana di daerah kota. Kemi ingin mendapatkan ilmu yang lebih luas, katanya. Ia ingin mengembangkan dirinya agar dapat bisa lebih mengembangkan pesantren, demikian dalih yang diberikannya kepada Kyai. Sang Kyai sebenarnya tidak begitu rela melepaskan Kemi. Ia adalah salah seorang santri terbaik di Pesantren tersebut. Tapi sang Kyai tidak bisa memaksa. Akhirnya, Kemi diizinkan untuk berkelana ke Jakarta.

Ternyata alasan Kemi berangkat ke Jakarta tidak sepenuhnya benar. Kemi terjebak hutang, dan dia mendapatkan salah seorang seniornya di Pesantren yang sudah tidak mondok di Pesantren lagi, mas Farsan namanya, menolongnya dari lilitan hutang tersebut. Namun Kemi harus pergi ke Jakarta untuk dapat menuntut ilmu di sebuah kampus di sana. Kemi akhirnya menurutinya. Dan ternyata, Mas Farsan tersebut adalah kader dari kelompok pejuang liberalisasi Islam di Indonesia. Kemi terjebak di dunia liberal tersebut. Tapi, lama kelamaan, Kemi menikmatinya.

Rahmat adalah sahabat Kemi. Rahmat juga merupakan salah satu santri terbaik di Pesantren yang sama dengan Kemi. Mendengar kabar bahwa Kemi terjerat dengan kelompok Islam Liberal, Rahmat menyesal. Dia sangat ingin membawa Kemi kembali ke jalan yang benar. Dia, yang telah banyak menguasai logika-logika liberal karena memang dikader oleh Kyainya untuk melawan liberalisme Islam, bertekad untuk membawa Kemi kembali ke Pesantren. Singkat kisah mereka berjumpa. Rahmat bersepakat untuk bergabung dengan teman-teman lingkungan Kemi, dengan tujuan jelas tadi.

Buku Novel ini bukanlah novel biasa. Buku ini menyingkap tabir dari gejolak batin para liberalis Islam. Ya, di tengah kenikmatannya menjalani hidup sebagai seorang liberalis Islam, Kemi merasa bahwa ada yang salah dengan yang dia perjuangkan ini. Tapi dia tidak ingin menyerahkan kehormatannya pada fakta bahwa dia membela hal yang salah. Dia tetap mencari pembenaran pada pendirian semunya.

Di tengah gejolak cerita yang cukup menarik, buku ini menyelipkan bantahan-bantahan atas beberapa logika berpikir para Islamis Liberal.

"... Cobalah renungkan, dalam Al-Qur'an dikatakan Nabi Isa itu utusan Allah, bukan tuhan atau anak tuhan. Al-Qur'an juga menegaskan bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Orang Kristen bilang, Yesus itu tuhan. Yesus mati di tiang salib. Dan manusia harus mengimani bahwa Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia. Dari dua pernyataan yang berbeda 180 derajat itu, pasti ada satu yang salah dan yang lain benar. Tidak mungkin dua-duanya benar!"

Bantahan itu adalah salah satu dialog Kemi dan Rahmat yang membahas tentang relativitas kebenaran sebuah Agama. Dialog itu memiliki kondisi dialektika antara muslim dengan muslim, sehingga kata-katanya seperti itu. Rahmat mencoba meluruskan bahwa, wajar bagi seorang muslim untuk mengatakan bahwa Islam-lah agama yang benar. Kalau misalkan kita menganggap bahwa semua agama benar, menurut yang menganutnya, maka itu bukanlah Muslim. Itu mencoba melihat Islam dari luar Islam itu sendiri. Dengan posisi dari luar, ya artinya bukan muslim yang bicara itu, tapi orang luar Islam. Kalau pakai sudut pandang di dalam Islam, harus berani untuk bilang bahwa Islam-lah yang benar.

Cerita ini kemudian berakhir dengan kemenangan di tangan Rahmat. Tapi akhirnya cukup menegangkan. Kemi dan beberapa orang yang mulai disadarkan oleh Rahmat akhirnya 'dilenyapkan' satu per satu oleh kelompok liberal tersebut. Buku ini sangat direkomendasikan bagi kalian yang ingin mengetahui gejolak antara Islam dengan Islam Liberal. Kenapa kemudian Islam Liberal menjadi sangat ditentang oleh masyarakat muslim? Disini kalian bisa dapat jawabannya.

Berikut adalah testimoni dari Taufiq Ismail, tentang karyanya Dr. Adian Husaini tersebut :
"Setelah wajah pesantren dicoreng-moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, Adian Husaini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih membendung gelombang liberalisme."


2 comments:

musaddad mengatakan...

telah lama aku menanti, novel semacam ini , sungguh luarbiasa. :)

Fathan Mubina mengatakan...

mantap kan? :D

Posting Komentar