Senin, 14 Januari 2013

Perlukah PREMAN untuk Menghadapi Kami, Pak?

Hari ini, ya tragedi itu terjadi lagi. Hari ini saya menjadi saksi atas ketidakadilan yang terjadi di bangsa yang besar ini. Bangsa besar yang mementingkan diri sendiri. Bangsa besar yang tidak peduli dengan penindasan rakyat kecil. Bangsa besar, yang aparatnya menyewa preman untuk memukuli rakyatnya. Bangsa besar? Cuih!

http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/20119_4775755523220_702259006_n.jpg

Hari ini, seperti biasa, saya berangkat ke kampus untuk bertemu dengan teman-teman di Fakultas. Ya, ada beberapa hal yang hari ini harus saya selesaikan dengan teman-teman. Saya mendapatkan kabar, rekan-rekan mahasiswa, dompet dhuafa, serta paguyuban pedagang Jabodetabek tengah melakukan aksi ke Istana negara. Beberapa waktu ke belakang ini, memang isu tentang penggusuran kios pedagang ekonomi kecil di stasiun Jabodetabek tengah menjadi isu sentral mahasiswa UI. Saya sendiri pernah ikut menyaksikan betapa pedihnya melihat setiap tetes air mata jatuh dari mata para pedagang yang ladang nafkahnya dihancurkan oleh egoisme keji tersebut.

Hari ini berlangsung biasa saja, hingga pada sekitar jam 10 pagi seorang rekan menghampiri saya yang tengah berkumpul dengan teman-teman yang lain. Dengan mata yang agak berlinang air mata, keringat, serta wajah yang terengah-engah, dia berkata "Than, ayo bantuin Pocin! Pocin digusur! Cuma ada 4 mahasiswa disana!"

Kaget. Ya, massa aksi tengah terpusat ke Istana Negara. Dan jika kasusnya seperti ini, saya yakin tidak ada surat pemberitahuan bahwa hari ini akan terjadi pembongkaran di Pocin. Ya, kalau saja ada surat pemberitahuan, tentunya aksi ke Istana Negara pasti akan dibatalkan atau setidaknya ditunda. Tapi nyatanya tidak, Pocin dihancurkan. Tanpa pemberitahuan.

Saya dan teman-teman segera beranjak ke Pocin. Ada sekitar empat sampai lima orang bersama saya. Ketka kami tiba di lokasi, terlihat bapak-bapak tidak berseragam tengah menghancurkan kios-kios di Stasiun Pocin. Jujur, saya sendiri kaget bercampur bingung. Pikiran pertama yang terlintas di otak saya adalah, "ini aksi sindiran dari para pedagang dengan menghancurkan kiosnya sendiri..". Para petugas yang cukup banyak turun ke lapangan justru tidak berbuat apa-apa. Saya semakin bingung, harus berbuat apa.

Tapi ternyata orang-orang itu bukanlah pedagang, kawan. Ya, salah seorang pedagang yang ada di Stasiun tersebut berusaha untuk menghentikan orang-orang tidak berseragam yang berupaya menghancurkan Pocin. Belakangan kami mengetahui bahwa mereka adalah preman. Beberapa adalah Preman Pocin, dan yang lainnya adalah Preman Detos.

GILA! Baru kali ini saya menyaksikan aparat yang membiarkan preman menghancurkan kios rakyat. Terlebih, kemudian preman-preman tersebut menyerang kami, mahasiswa yang ada disana. Kami tidak banyak, hanya sekitar 10 orang. Kami juga hanya membawa badan kami, serta jeritan rakyat yang ada di tangan dan keringat kami. Preman bayaran tersebut banyak, lebih dari 15 orang. Mereka membawa balok-balok kayu, serta linggis. Ya, linggis.

Dan kalian tahu kawan, preman tidak seperti petugas. Preman tidak memiliki keterikatan yang kuat terhadap hukum. Saya yakin, amat yakin mereka dibayar. Dibayar untuk menghancurkan kios ini. Dan kalian tahu, kawan, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menangis di sekitar mereka. Ya meratapi atap-atap yang dihancurkan mereka. Kami, mahasiswa, mencoba menghalangi mereka. Tapi mereka adalah preman, kawan. Mereka tidak tahu, bahkan tidak peduli hukum!

Hasilnya apa, kawan? Kami dipukuli. Tidak hanya oleh tangan, kawan. Tangan-tangan mereka membawa balok kayu dan linggis. Ya, LINGGIS! Baru kali ini saya melihat, APARAT MENYEWA PREMAN PASAR UNTUK MEMUKUL MAHASISWA DENGAN LINGGIS! ya, perlu saya sebut sekali lagi? APARAT KEAMANAN MENYEWA PREMAN PASAR UNTUK MEMUKUL MAHASISWA DENGAN LINGGIS!

Sakit nggak tuh? Sebegitu takutnya kah Aparat sehingga harus menyewa Preman yang tidak peduli dengan hukum? Maaf, kawan. Jujur harus saya bilang, APARAT TIDAK MENGHALANGI PREMAN YANG MEMUKUL KAMI! Jujur, betapa sakitnya hati saya dan teman-teman saya di saat itu. APARAT KEAMANAN, lho! Mereka yang bertugas untuk mengamankan rakyat. Mengamankan mahasiswa. Sakit!

Kakak saya, Muhyi Nur FItrahanefi (Ketua BEM FKM 2013) jadi korban yang cukup parah. Kepalanya kena pukul linggis. Celananya robek, karena kena tusukan linggis yang bagian tajamnya. Bayangkan, celananya robek! Untungnya dia sempat menghindar sehingga yang kena itu hanya celanaya saja. Sahabat saya yang lain, Bima Muhammad Iqbal (FISIP 2011), beberapa kali kena pukul. Kepalanya benjol, kena reruntuhan atap yang diruntuhkan preman murahan itu ketika masih banyak orang di dalam kios. Sakit. Jujur, saya sangat sakit.

Hari itu memang menjadi sejarah. Mungkin media banyak bercerita tentang kami. Tentang mahasiswa yang menyerang kereta api-lah, membuat penumpang takut -lah, melempari batu-lah. Mereka tidak cerita tentang tragedi kemanusiaan itu, kawan. Tentang preman yang dibayar untuk melawan mahasiswa. Mereka tahu, kalau aparat yang harus memukul mahasiswa bisa jadi masalah. Mungkin mereka TIDAK MAU MENODAI TANGAN SUCINYA UNTUK MENYENTUH MAHASISWA, jadi mereka sengaja MEMBAYAR TANGAN KOTOR PREMAN UNTUK MEMUKUL MAHASISWA.

Sejujurnya, saya sendiri sebenarnya tidak setuju dengan langkah memblokir jalur rel kereta api yang diambil oleh mahasiswa dan pedagang dalam aksi tersebut. Tapi, jika kalian hadir di lokasi kawan, itu wajar. Banyak sekali pengkhianatan yang dilakukan. Kami sebenarnya hanya ingin dijelaskan hal yang sederhana. Kami hanya ingin mendapatkan penjelasan dari pihak yang sewenang-wenang melakukan penindasan ini. Ya, tidak lebih. JIKA KALIAN MEMANG MEMILIKI LANDASAN HUKUM YANG KUAT UNTUK MELAKUKAN INI, KENAPA HARUS TAKUT DAN TIDAK MENEMUI KAMI??? Itu yang membuat kami tidak habis pikir. Selama empat jam kami disana, tidak ada satupun itikad baik dari petugas KAI untuk berdiskusi dengan kami.

Sebegitu sulitkah? Sebegitu takutkah? Padahal kami tidak membawa linggis sebagaimana yang dibawa oleh orang-orang suruhan kalian, PT KAI! Padahal kami tidak membawa gas air mata sebagaimana yang dibawa oleh petugas-petugas yang melindungi ketiak kalian, PT KAI! Padahal kami hanya mahasiswa, yang membawa tangisan rakyat di pundak kami. Padahal kami hanya mahasiswa, yang mungkin kalian lebih berpendidikan daripada kami!

Tangis para pedagang mungkin sudah tidak ada artinya lagi di hati kalian. Perapihan yang kalian rencanakan memang bagus, tapi cari cara yang baik! Cari cara yang tepat, di saat yang tepat! Kenapa kemudian harus dengan cara paksa, bukan negosiasi? Kenapa kemudian kontrak yang sudah ditandatangani dan dibayar oleh para pedagang itu KALIAN LANGGAR? Kenapa kemudian harus memakai PREMAN UNTUK MEMUKUL KAMI? Tidak adakah cara yang lebih baik yang kalian miliki untuk memperbaiki bangsa ini?

Ya Allah, semoga setiap keringat dan air mata -bahkan darah- yang keluar di hari ini tidak sia-sia di hadapanMu. Semoga, mereka yang terdzhalimi dibesarkan hatinya olehMu agar tidak berdoa yang tidak-tidak kepadaMu. Besarkanlah hati mereka, untuk berdoa tentang masa depan bangsa ini ya Allah. Karena bukankah, doa orang yang terdzhalimi selalu Engkau ijabah, ya Rabb?

https://pbs.twimg.com/media/BAn1FYcCQAEwBkE.jpg:large

https://pbs.twimg.com/media/BAn0ylxCcAA4lTE.jpg:large


5 comments:

bbintang94 mengatakan...

MasyaAllah, ketika ngebaca postingan ini sama2 merasa sakit, miris, semuanya tak tentu...
aparat yang tidak berperikemanusiaan, suara mahasiswa yang tergadaikan, apa sebenarnya ini bangsa besar yang tersudut di satu gulita?

Anonim mengatakan...

semuanya itu kembali pada manusianya masing2

ekky dimas Prasetyo mengatakan...

Saya cukup salut dengan perjuangan kawan-kawan dari UI. Tapi yang saya pertanyakan, kenapa ya harus sampe memblokir jalur kereta? Maksud dan tujuan memblokir jalur kereta apa?

Anonim mengatakan...

Astagfirullah, apa pihak aparat itu nggak berpikir dosa yg mereka tanggung hingga hari pembalasan?

fahmi indra cahya mengatakan...

hmm, ada yang punya gak tan dokumentasi preman ada disana? :)

Posting Komentar