Selasa, 03 Februari 2015

Masjid Peradaban: Sebuah Cerita dari Jogokariyan

[Tulisan ini diterbitkan oleh portal Selasar.com]


“Islam beribadah dibiarkan. Islam berekonomi diawasi. Islam berpolitik, disingkirkan sampai ke akar-akarnya!” – Muhammad Natsir
Snouck Hurgronje adalah seorang peneliti asal Belanda yang cukup dikenal di Indonesia. Salah satu sumbangan ilmu pengetahuan terbesar sepanjang hidupnya adalah penelitian tentang komunitas Islam yang ada di Indonesia. Snouck sempat masuk Islam dan menikahi dua orang muslim di Hindia-Belanda untuk menyempurnakan penelitiannya. Snouck kemudian bekerja untuk pemerintahan Hindia-Belanda sebagai penasihat kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan umat Muslim di Indonesia. Snouck menghasilkan beragam konsep yang kemudian diimplementasikan secara kebijakan oleh Pemerintahan Hindia-Belanda untuk menghadapi masyarakat Muslim ketika itu.

Salah satu kesimpulan utama dari penelitian Snouck adalah bahwa “yang menjadi musuh dari kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama; melainkan Islam sebagai doktrin politik.” Tidak semua orang Islam di Indonesia harus dianggap musuh, karena memang tidak semua orang Islam di Indonesia memusuhi pemerintah Hindia-Belanda. Gagasan Snouck membagi Islam menjadi tiga fenomena; Islam sebagai agama, sebagai sosial-kemasyarakatan, serta sebagai doktrin politik. Kita kemudian mengenal bahwa pemerintah Hindia-Belanda banyak melakukan kebijakan yang sangat mendukung masyarakat Muslim untuk melakukan aktivitas ibadahnya; perbaikan masjid-masjid, kemudahan akses untuk naik haji, dan lain sebagainya. Tapi untuk kegiatan berpolitik, ditumpas habis sampai ke akarnya. Hal tersebut ternyata masih dirasakan oleh Muhammad Natsir, sebagaimana yang tergambar oleh kalimat pembuka yang saya cantumkan di atas tersebut.
Mari sejenak kita tinggalkan Snouck, lalu melihat kondisi di sekitar kita. Pernahkah kita coba menghitung bangunan Masjid yang ada di wilayah sekitar kita saat ini? Boleh penulis katakan, Indonesia hari ini punya banyak sekali Masjid. Boleh jadi bangunannya jauh lebih megah dari bangunan-bangunan Masjid yang ada di zaman dahulu. Jika melihat sejarah, budaya untuk memperbagus bangunan Masjid terjadi ketika zaman  kejayaan Islam. Umat muslim ketika itu mengekspresikan dan mengapresiasi bangunan-bangunan Masjid dan simbol-simbol lainnya untuk menunjukkan keagungan Islam. Tapi fenomena yang kita lihat hari ini tidak vis a vis dengan kondisi umat ketika itu. Hari ini bisa kita saksikan betapa banyak fakir miskin yang tidur tidak beratap; makan pun jarang; dan mereka ada di sekitar masjid-masjid yang megah berdiri. Mari kita kritisi; apa gunanya masjid yang megah jika hanya menjadi beban bagi masyarakat?
Pada zaman Rasulullah SAW, masjid merupakan pusat peradaban. Masjid tidak hanya sekedar rumah tempat masyarakat melakukan ibadah Shalat saja. Masjid berbeda dengan gereja, kuil, atau bangunan ibadah lainnya yang memang digunakan untuk tempat ritual ibadah dari masing-masing agama. Masjid adalah pusat peradaban. Rasulullah SAW banyak menggunakan masjid sebagai pusat pendidikan, tempat musyawarah, serta tempat berkumpulnya masyarakat jika ada hal-hal yang penting hendak diumumkan oleh Rasulullah SAW.
Jika kita renungkan dengan catatan sejarah Snouck di Hindia-Belanda, maka bisa kita lihat bahwa fenomena yang terjadi di Masjid-Masjid Indonesia hari ini merupakan warisan budaya hasil dari kebijakan Pemerintahan Hindia-Belanda. Masyarakat Islam tidak dilarang samasekali untuk melakukan ritual agama, tapi untuk aktivitas pendidikan, perekonomian, sosial kemasyarakatan, juga politik; dibatasi. Maka tidak heran ketika Masjid tidak hidup. Bahkan sangat jarang kita dapatkan masjid diisi penuh oleh jama’ah Shalat; kecuali pada Shalat Jum’at. Karena ruh dari Masjid itu tidak sampai; bahkan boleh jadi tidak memiliki ruh.  Tentu sangat jauh berbeda dengan hidupnya Masjid di zaman Rasulullah SAW; atau setidaknya di Jogokariyan.
Cerita Dari Jogokariyan
Masjid Jogokariyan namanya. Mungkin belum banyak pembaca mendengar tentang masjid ini, atau mungkin sebaliknya; sudah banyak yang pernah mendengar cerita tentang masjid ini. Namanya mungkin tidak terdengar Islami; tidak seperti Masjid-Masjid lain yang hadir dengan bahasa Arab dan arti yang sangat bagus. Tapi, takmir masjid ini mengklaim bahwa penamaan ini sesuai dengan Sunnah. Ya, Rasulullah menamai masjid yang beliau bangun dengan nama daerah tempat masjid itu dibangun.
Masjid Jogokariyan adalah sebuah masjid yang terletak di wilayah Jogokariyan, Yogyakarta. Tidak ada yang spesial dengan bangunannya. Masjid ini adalah masjid sederhana yang memiliki dua lantai. Tidak semewah Masjid Dian Al-Mahri atau yang biasa kita kenal dengan Masjid Kubah Emas. Tidak juga semegah Masjid Istiqlal yang memang sangat besar. Tidak juga se-istimewa masjid-masjid lain yang memiliki gaya arsitektur yang memikat dan memberikan kesan yang istimewa kepada siapapun yang mengunjunginya. Hanya masjid kampung yang bertingkat dua. Sangat sederhana.
Tapi ada yang luar biasa muncul dari sana. Sesuatu yang tidak akan kita sadari ketika  kita datang di luar waktu Shalat. Di Masjid ini, jama’ah shalat Subuhnya sebanyak separuh jama’ah Shalat Jum’at. Sangat ramai!
Hari ini di Jakarta, atau di banyak kota lainnya di Indonesia ini, rasanya sangat mudah bagi kita untuk menemukan Masjid. Jika waktu shalat tiba, banyak sekali terdengar suara adzan saling bersahutan. Tapi coba tanya kepada diri kita sendiri; berapa banyak Masjid yang menjadi beban untuk masyarakatnya ketimbang Masjid yang mampu memakmurkan masyarakat di sekitarnya? Berapa banyak Masjid yang sangat bergantung terhadap infak dan shadaqah dari jama’ahnya, jika dibandingkan dengan Masjid yang mampu melayani masyarakatnya dan mampu menjadi tulang punggung bagi masyarakat di sekitarnya.
Jogokariyan adalah satu dari sedikit Masjid yang tidak bergantung pada infak dan sedekah dari masyarakat sekitarnya; bahkan lebih dari itu menjadi salah satu yang sangat membantu kehidupan masyarakat sekitarnya.
Ustadz Jazir adalah salah seorang pengurus dari Masjid Jogokariyan, yang sudah merintis gerakan dakwah yang berpusat di Masjid ini semenjak beliau kecil. Sekitar 60 tahun yang lalu beliau tergabung dalam forum Remaja Masjid Jogokariyan (RMJ), dan sampai hari ini beliau masih setia mendampingi dakwah di Masjid Jogokariyan. Beliau juga merupakan salah satu perumus dari metode Iqra untuk belajar Al-Qur’an. Hal tersebut merupakan sendi pertama yang harus diperbaiki dari umat muslim; bisa membaca Al-Qur’an. Lalu sendi yang kedua adalah Masjid sebagai pusat peradaban. Karena itulah beliau bergerak untuk memakmurkan Masjid Jogokariyan.
Masjid ini memiliki kemandirian secara ekonomi. Pada awalnya, Ustadz Jazir memperkirakan pengeluaran tetap dari Masjid di setiap bulannya lalu dibagi menjadi empat kali Shalat Jum’at dan dihitung dengan jumlah total jama’ah Shalat. Ternyata, kebutuhan Masjid akan tertutupi seandainya setiap jama’ah menginfakkan 1.500 rupiah saja di setiap Jum’at. “Jika anda bersedekah 1.500 rupiah setiap bulan; berarti ibadah anda sudah tidak disubsidi. Tapi jika kurang dari 1.500 rupiah; berarti ibadah anda masih kami subsidi. Tapi kami samasekali tidak keberatan. Lalu jika anda menyumbang lebih dari 1.500 rupiah setiap Shalat Jum’at, berarti anda sudah membantu saudara-saudara anda untuk beribadah di Masjid ini.”, demikian beliau memberikan penjelasan kepada masyarakat. Hasilnya? Sedekah Shalat Jum’at jauh melebihi kebutuhan dari Masjid.
Uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tersebut tidak disalurkan untuk pembangunan masjid; melainkan dikelola untuk berbisnis. Bisnis tersebutlah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran Masjid; bahkan juga untuk masyarakat sekitar Masjid. “Kami tidak ingin Masjid Jogokariyan ini bentuk fisiknya bagus sekali, sedangkan di sekitar masjid ini masih ada warga yang kelaparan. Tidak perlu bentuk masjid bagus-bagus, tapi malah jadi beban bagi masyarakatnya. Masjid itu, zaman Rasul saja sangat sederhana. Pakai tenda pun jadi.” Demikian ungkapnya.
Melalui bisnis tersebut, disusunlah program-program kemasyarakatan yang diberikan untuk masyarakat sekitar Jogokariyan. Beberapa program yang tersedia untuk Masjid Jogokariyan saat ini adalah program umroh untuk empat jama’ah yang paling rajin untuk datang Shalat berjama’ah di Masjid tersebut. Selain itu, ada juga program yang disediakan untuk jama’ah Shalat Subuh. Pihak pengurus masjid memulainya dengan membuat sebuah undangan yang dibentuk seperti undangan pernikahan yang ditujukan kepada setiap masyarakat di Jogokariyan. Isinya adalah undangan untuk menghadiri agenda Shalat Subuh berjama’ah di Masjid Jogokariyan; jam 04.15 WIB. Kemudian mereka melanjutkan dengan program-program lainnya seperti kajian ba’da Subuh, bahkan sampai sarapan gratis bagi mereka yang Shalat Subuh berjamaah lalu melanjutkan aktivitas di Masjid sampai jam kantor tiba. Bahkan bagi anak-anak, disediakan uang jajan bagi mereka jika Shalat Subuh berjamaah di Masjid dan melanjutkan aktivitas sampai jam sekolah tiba. Setiap Ramadhan, Masjid menyediakan sahur dan buka puasa gratis bagi seluruh masyarakat Jogokariyan.
“Masjid tidak boleh menjadi beban bagi masyarakatnya, justru tegaknya Masjid di sebuah wilayah harus menjadi jaminan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itulah Masjid harus bergerak dengan jelas; dengan pemetaan yang jelas; dengan strategi yang juga jelas.”
Selain itu, Masjid Jogokariyan juga tidak melupakan visi jangka panjangnya; membangun pemuda-pemuda yang lahir dari Masjid dan mencintai Masjid. Hingga hari ini, RMJ sudah mengeluarkan banyak alumni yang datanya tersusun rapi di manajemen Masjid. Mereka tergabung dalam ikatan alumni Remaja Masjid Jogokariyan. Seiring berkembang waktu, lahir lagi “adik” dari RMJ yang bernama “Hamas” atau Himpunan Anak Masjid Jogokariyan. Di akhir tahun 2014 lalu, Ustadz Jazir menjelaskan bahwa Hamas baru saja mengadakan diskusi terkait dengan kebijakan BBM dari Pemerintah yang mengundang salah seorang Profesor ahli kebijakan publik dari UGM. “Kita punya sejarah bangsa yang dibangun oleh para pemuda. Soekarno, Natsir, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, mereka bersinar di usia muda! Saya sendiri sudah terbiasa membaca buku-buku sejarah dan ideologi sejak usia SMP”. Demikian jelas Ustadz Jazir.
Menanti Membangun Jogokariyan Lainnya
Setidaknya ada empat pelajaran penting yang penulis dapatkan dari fenomena yang terjadi di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta:
  1. Masjid pertama kali harus memenuhi fungsi untuk menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi para jama’ahnya. Tidak harus megah; tapi nyaman dan kondusif untuk beribadah.
  2. Masjid tidak boleh menjadi beban bagi jama’ah; justru harus mandiri bahkan menjamin kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
  3. Masjid menjadi  pusat kaderisasi kepemimpinan masyarakat; pusat pendidikan Islam untuk masyarakat. Tidak hanya bagi anak kecilnya saja, tapi bagi seluruh lapisan masyarakat.
  4. Masjid menjadi simbol kehidupan nuansa Islam di sebuah wilayah. Bukan dari megahnya Masjid, tapi dari seberapa jauh ia bisa hidup dan mempengaruhi masyarakat muslim di sekitarnya.
Apa yang terjadi di Masjid Jogokariyan tentu saja masih ada beberapa langkah di belakang kata idealita persatuan umat Muslim. Tapi setidaknya sudah ada beberapa langkah di depan. Membangunnya, tidak bisa semudah membalik telapak tangan. Maka; kapankah kita menanti lahirnya Jogokariyan-Jogokariyan yang lain di sudut Indonesia ini? Tidak. Bukan menanti. Apakah yang bisa kita lakukan, untuk membangunnya? Allahu’alam.

0 comments:

Posting Komentar