About Me

“Aku dan Diriku”
     


Hidup, adalah suatu amanah besar yang telah diberikan Allah swt. kepada kita seluruh umat manusia. Apa yang kita lakukan dalam menjalankan amanah kita ini, tentu akan dipertanggungjawabkan ketika kita meninggal nanti. Dan itu merupakan suatu kepastian. Suatu kemutlakan. Setiap kita adalah pemimpin atas diri kita sendiri. Dan itu akan dipertanggungjawabkan kelak. Karena, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati.
Bandung, 30 Juli 1993. Suasana hari Jumat itu menjadi sebuah sejarah bagi keluarga kecil yang baru. Sesosok makhluk kecil yang penuh tangis dan tawa-tawa kecil akan menghiasi kehidupan sepasang suami istri di kota tersebut. Anak tersebut merupakan anak pertama mereka. Kelahirannya tentu akan memberikan suasana baru dalam keluarga kecil tersebut. Adalah pasangan Ismansyah dan Ida Rosdiana yang akan diberikan amanah besar tersebut. Mereka dikaruniai Allah seorang anak laki-laki yang kelak diharapkan akan menjadi tulang punggung keluarga mereka. Menjadi sosok anak yang dapat mereka andalkan dan mampu menjadi amalan yang terus mengalir bagi mereka.
Muhammad Fathan Mubina. Begitulah kedua orangtuanya memberikan nama pada sesosok bayi mungil nan gembul tersebut. Nama yang diambil dari kitab petunjuk abadi umat nabi Muhammad, Kitab Al-Qur’anul Karim. Pada surah Al-Fath (48) ayat pertama. Nama yang menunjukkan arti yang luar biasa. Kemenangan yang Nyata bagi Nabi Muhammad SAW.
Hari demi hari mereka lewati bersama. Semenjak kecil Fathan, begitu dia disapa, selalu diberikan asupan-asupan indah tentang islam oleh kedua orangtuanya. Mereka selalu menerangkan kepada sang anak, bahwa islam adalah indah. Dalam islam tidak ada pemaksaan. Karena, ketika kita telah mencintai islam, maka segala kewajiban bagi umat islam akan menjadi kebutuhan kita sendiri.
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat mutlak dimiliki oleh insan demi tergapainya kecerdasan intelektual mereka. Pendidikan sangat penting demi tercapainya generasi penerus masa depan yang berkualitas. Baik itu kualitas intelektual, emosional, spiritual dan nasionalisme mereka.
Itulah mengapa si kecil Fathan mulai disekolahkan semenjak usia dini. Ada yang berbeda. Sang anak mengawali masa pertama pendidikannya di Sekolah Dasar. Tidak seperti anak-anak lainnya yang melalui masa Playgroup atau Taman Kanak-kanak terlebih dahulu. Sang anak mulai beradaptasi dengan masa sekolahnya di SDIT Ummul Quro, Depok.
Namun, lagi-lagi tidak seperti anak-anak lainnya, sang anak harus melalui masa Sekolah Dasarnya di 3 sekolah : SDIT Ummul Quro, SD N 1 Panjalu, dan SD N Tugu 3 Tasikmalaya. Hal ini dikarenakan sang anak harus mengikuti kedua orangtuanya yang pindah dari Depok ke Ciamis, kemudian ke Tasikmalaya. Tapi tak apa. Sang anak mampu beradaptasi dan berprestasi di setiap sekolah yang dia masuki.
Ketika sang anak mengakhiri masa Sekolah Dasarnya di SD N Tugu 3 Tasikmalaya, dia mengalami suatu pengalaman yang tidak terlupakan. Bagaimanapun juga, kala itu adalah pertama kali baginya mengakhiri pendidikan di satu tahap sekolah. Meski perpisahan seringkali dia rasakan. Ketika kelas 6 di SD N Tugu 3, sang anak sempat menjadi pemeran utama drama angkatan dalam pementasan karya di acara perpisahan kelas 6.  Itu merupakan pengalaman indahnya ketika di Sekolah Dasar.
Beranjak dewasa, sang anak harus mulai mampu belajar memilih. Hal ini pertama dipicu ketika kedua orangtuanya, diberikan kemungkinan untuk pindah tempat tinggal lagi. Hal ini bertentangan dengan hati sang anak yang merasa sudah kerasan di Tasikmalaya. Akhirnya, sang anak mencoba berikhtiar untuk mengikuti tes potensi akademik seleksi kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Tasikmalaya. Kelas akselerasi merupakan kelas khusus di SMP N 1 Tasikmalaya, dimana para siswa di kelas tersebut hanya melalui masa SMP selama 2 tahun saja. Pertimbangannya, ketika orangtuanya memang harus pergi, dia mampu dengan cepat menyusul mereka.
Berbekalkan bismillah dan  niat yang kuat, sang anak mengikuti tes tersebut. Hanya sayang. Sang anak belum berhasil dalam tes pertamanya tersebut. Dia dengan terpaksa tidak mampu mengikuti kelas akselerasi. Tapi sang anak mampu masuk ke kelas PMDP, yaitu kelas spesial yang memiliki nilai IQ tertinggi kedua setelah kelas Akselerasi. Namun kegagalan tersebut terobati dengan kebatalan kedua orangtuanya untuk pindah tempat tinggal dari Tasikmalaya. Akhirnya, sang anak melalui masa SMP bersama kedua orangtuanya di SMP N 1 Tasikmalaya.
Masa-masa sekolah di SMP N 1 Tasikmalaya terasa sangat cepat. Pada masa SMP, sang anak mendalami islam dengan lebih mendalam. Dia mulai menyukai membaca buku-buku islam, dan mengkaji teorema dan fenomena-fenomena islam. Hal ini membuat sang anak cenderung berdiam diri dan menutup diri dari dunia luar. Mungkin karena banyak sikap dari teman-temannya di SMP tersebut yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai islam yang dia pelajari. Mungkin ada suasana berbeda yang dia rasakan. Ketidakcocokan dari nilai yang dia pelajari dan implementasikan semenjak dia kecil di lingkungan keluarganya dengan nilai yang berlaku di lingkungan SMP yang memang lingkungan heterogen.
Semasa SMP, sang anak yang kini telah menjadi seorang remaja tersebut mengikuti beberapa organisasi yang sesuai dengan minatnya. Bahkan, dia ditunjuk menjadi koordinator di beberapa ekskul pilihannya. Di Pasukan Keamanan Sekolah (PKS), dia menjadi wakil koordinator cabang SMP N 1 Tasikmalaya pada tahun 2006-2007. Dia juga menjadi Ketua Umum English Club SMP N 1 Tasikmalaya periode 2007.
Pada masa akhir SMP, sang remaja pemimpi tersebut lagi-lagi mendapatkan kepercayaan sebagai perwakilan kelas dalam pentas seni. Kali ini, dia menyumbangkan perannya sebagai vokalist dan guitarist di band kelasnya. Anak remaja ini memang memiliki perhatian tersendiri dengan dunia seni. Dia menyukai menggambar, bermusik, bernyanyi, berperan, dan lain sebagainya.
Menjelang masa SMA, lagi-lagi dia diharuskan memilih untuk masa depannya. Dia diharuskan memilih sekolah mana yang kelak akan mengantarkannya pada mimpi-mimpinya. Suatu hari, orang tuanya mengusulkan sebuah nama. SMA Al-Muttaqin. Sekolah swasta ini diusulkan kepada Fathan, karena mereka sudah tahu bahwa Fathan akan sulit berkembang ketika menuntut ilmu di sekolah menengah Negeri. Jadi, mereka mengusulkan Fathan untuk masuk ke SMA Al-Muttaqin, yang notabene merupakan sekolah islam yang terbaik di Tasikmalaya.
Dan akhirnya dia masuk ke SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya. Di sana, dia bertekad untuk merubah pribadinya yang pendiam menjadi seorang yang selalu ingin tahu. Dan memang, lingkungan mendukungnya untuk berubah. Dia terpilih menjadi KM kelas 10.2, dimana dia ditempatkan. Kemudian disusul dengan menjadi anggota pengurus OSIS, pengurus ROHIS, dan menjadi reporter di Jurnalistik Q-Smart di sekolahnya. Meskipun hanya sebagai anggota pengurus, dia memberikan pengaruh yang konsisten di setiap organisasi yang dia ikuti.
Menjelang kelas 11, kali ini dia diharuskan untuk memilih jurusan mana yang kelak akan membawanya menuju cita-citanya. Sudah menjadi permasalahan klasik, seseorang ingin memilih jurusan IPA atau IPS. Semua gurunya dan juga kedua orangtuanya menyarankannya untuk masuk ke jurusan IPA. Dan memang, dia memiliki kemampuan di bidang tersebut. Nilainya mencukupi untuk masuk ke jurusan IPA. Tapi, batinnya menginginkan untuk masuk ke jurusan IPS.
Akhirnya, dia memilih untuk masuk ke jurusan IPS. Di jurusan itu, memang dia mendapatkan lingkungan sosial yang berbeda dengan masa kelas 10. Situasi yang akan dia dapatkan memang akan lebih baik kalau dia memilih kelas IPA. Tapi, bagaimanapun juga dia telah memilih. Dan dia harus mempertanggungjawabkannya. Pada awal masa kelas 11, dia memang mengalami beberapa kesulitan dalam beradaptasi. Itu terbukti pada awal bulan, dia hanya mendapatkan rank ke-4 terbaik di kelas. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dia berhasil menunjukkan eksistensinya dan mendapatkan nilai terbaik di semester pertama. Itu berjalan seiring dengan banyaknya kegiatan-kegiatan ekstra yang dia ikuti.
Pada semester pertama kelas 11, dia mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden OSIS di SMA-nya. Namun, akhirnya dia kalah dalam pemilihan kampus dan malah diberikan amanat untuk menjadi Sekretaris Jenderal OSIS di sana. Di ROHIS, dia menjadi Ketua Divisi Internal yang berkewajiban untuk mengurusi berbagai hal mengenai kualitas keislaman siswa di wilayah internal SMA. Di Jurnalistik Q-Smart, dia menjadi Redaktur utama. Dan semester ini, dia menjadi anggota Divisi Hubungan Masyarakat di Koperasi Siswa.
Tidak hanya kegiatan-kegiatan internal sekolah saja yang dia ikuti. Dia juga mulai mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra di luar sekolah. Pertama, dia terpilih menjadi Pimpinan Redaksi di Citizen Journalism Forum. Itu merupakan forum jurnalistik pelajar-mahasiswa di Priangan Timur. Kemudian,dia terpilih menjadi Ketua II di Ikatan Pengurus OSIS Tasikmalaya (IPOSISTAS). Dua organisasi besar di wilayah Tasikmalaya tersebut berhasil dia taklukan. Dan itu tanpa mengurangi kualitas akademiknya di sekolah.

Waktu terus berlanjut. Perjalanan kehidupan terus mengalir seiring dengan waktu yang tiada pernah berhenti. Goresan cerita tentangnya, entah sampai pada titik mana akan terhenti. Namun yang pasti itu akan terhenti. Namun kini, kisah sang anak masih berlanjut. Kali ini dia mendapatkan sedikit ujian kecil dalam kehidupannya. Dalam membina integritasnya. Dalam membentuk karakternya. Di tengah gelombang kunci jawaban, kelonggaran sistem, serta beragam problematika UN, dia melaluinya dengan jujur. Satu sifat sederhana, namun penuh makna. Dan anak tersebut segera mendapatkan buah atas tekadnnya tersebut.
Sang anak mendapatkan sebuah kesempatan untuk dapat belajar, belajar, dan terus belajar lebih banyak. Ia mendapatkan satu tiket emas untuk dapat melanjutkan gores sejarah perjalanan kehidupannya di Universitas Indonesia. Universitas yang semenjak SMA ada di dalam benak dan impiannya. Ilmu Politik menjadi pilihannya.
Segala yang dia alami tentu dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Dan sosok bayi mungil yang kini beranjak dewasa tersebut adalah aku.